cradle

God Cradles Me

Belum ada komentar 24 Views

Berjuang Dalam Demam
Sejak hari Jumat, 13 Maret 2020, selama 11 hari saya mengalami demam 38-39°C terus menerus. Diagnosis pertama adalah infeksi saluran kemih (ISK). Ditemukan bakteri dalam urine saya dan saya harus minum antibiotik. Namun setelah lima hari demam tidak turun, dugaan bergeser ke arah demam berdarah (DBD). Meskipun sejak awal hasil tes NS1-nya negatif, trombosit saya sempat menunjukkan tren menurun selama beberapa hari. Setelah beberapa hari pemantauan dan tren trombosit saya kembali naik, dokter menyatakan bahwa antisipasi DBD sudah bisa dilewati.

Karena demam saya tidak berhenti, tanggal 23 Maret siang (pada hari ke- 11 saya mengalami demam), dokter memutuskan agar saya menjalani CT scan paru-paru. Saya berdoa agar Tuhan membebaskan paru-paru saya dari flek apa pun. Saya sadar, kalau ditemukan flek, maka ada rentetan panjang pemeriksaan yang harus saya lalui.

Tanggal 23 Maret sore dokter menelepon saya dan menjelaskan bahwa ada pneumonia di paru paru kanan saya, sehingga saya segera diminta ke rumah sakit untuk melakukan serangkaian tes laboratorium, termasuk di antaranya swab test. Saat itu saya merasa berada di ruang hampa… badan dan pikiran melayang-layang.

Rangkaian tes laboratorium tidak dilakukan di dalam rumah sakit. Saya harus berjalan ke belakang rumah sakit, dan masuk ke tenda peleton. Memasuki tenda pemeriksaan untuk melakukan swab test itu seperti memasuki lorong kematian. Bayang-bayang maut seolah-olah menyertai langkah-langkah saya. Swab test dilakukan, dan dokter IGD menginformasikan bahwa hasil akan keluar dalam 5 hari. Malam itu, dokter menyatakan bahwa saya harus diisolasi di rumah, dan status saya adalah PDP: Pasien Dalam Pengawasan.

Malam itu, di dalam demam saya, saya bergumul bersama Tuhan dan membicarakan kematian. Saya juga sudah menulis dua surat kematian saya untuk Janice dan Jethro. Saya bilang kepada Tuhan. Saya tidak takut mati karena saya tahu ke mana saya pulang. Saya hanya tidak bisa membayangkan Janice, Jethro dan Thomas, yang akan saya tinggalkan.

Saya bilang, kalau diizinkan, saya tetap mau ada kesempatan kedua… sambil saya merenungkan Mazmur 94:19, “Whenever I am anxious and worried, you comfort me and make me glad” (Psalms 94:19 GNBDK). Malam itu tidak terasa, saya tidur.

Tanggal 24 Maret, saya bangun dan mulai mengirim WA kepada beberapa orang yang saya pikir perlu mengetahui kondisi saya. Setelah selesai, saya ukur temperatur badan saya. Saya kaget, suhu badan saya sudah di bawah 37°C. Saya pikir pasti ini salah. Saya ukur lagi, tetap di bawah 37°C. Saya ukur hampir tiap jam, dan selalu di bawah 37°C.

Hari itu Tuhan menitipkan sebuah ayat dalam hati saya untuk saya renungkan: “Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan bersukaria orang orang yang mengasihi nama-Mu. Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya Tuhan; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai” (Mazmur 5: 12-13 TB).

Tanggal 25 dan 26 Maret, saya ukur lagi suhu tubuh saya. Saya tidak demam lagi! Namun apa artinya ini Tuhan? Saya positif COVID-kah? Saya akan sesak napaskah? Bayang-bayang maut masih terus mengiringi setiap tarikan napas yang saya ambil. Beberapa kali memang tersendat. Batuk kecil masih dirasakan beberapa kali. Lebih dari itu, semua kelihatan baik-baik saja.

Tanggal 26 Maret malam, melalui video call, Thomas dan saya berdiskusi tentang apa yang harus kami lalukan ketika saya akan mengalami sesak napas. Tidak ada jalan keluar yang jelas. Semua opsi yang kami pikirkan tidak menjamin bahwa saya bisa selamat. Akhirnya kami mengakhiri diskusi kami dengan berdoa bersama.

Sehabis diskusi dan doa yang sangat melelahkan dan menakutkan, saya tertidur. Saya baru sadar, malam itu saya tidur paling nyenyak dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya, sejak tanggal 13 Maret yang lalu. Malam itu saya tahu bahwa Tuhan menjaga, memeluk, dan menimang saya hingga saya tertidur. Dia tidak meninggalkan saya.

Hari ini, 28 Maret, hasil swab test saya belum juga keluar. Namun saya tahu bahwa Tuhan sudah menyembuhkan saya. Saya tidak lagi demam. Saya tidak pernah sesak napas satu detik pun. Saya tidak demam, bukan karena saya minum obat penurun panas. Selama demam 11 hari ini, saya tidak minum obat penurun panas. Kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang bisa membuat demam saya turun?

Pagi tadi saya bilang ke Thomas, kalaupun nanti hasil swab saya keluar dan positif, itu adalah hasil tanggal 23 Maret. Darah Yesus sudah menghapus semua sakit saya. Tugas saya hanya disiplin mengisolasi diri dan terus menjaga kesehatan agar keluarga dan sahabat di sekitar saya tidak tertular.

Tuhan, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. (Mazmur 30:3 TB)

Jakarta, 31 Maret 2020 Negatif!
Sore ini, pukul 17.00, saya mendapat kabar dari rumah sakit, bahwa hasil swab saya dinyatakan negatif. Puji Tuhan! Air mata saya mengalir tak terbendung. Terima kasih untuk mukjizat-Mu, Tuhan. Saya tetap akan melakukan isolasi diri selama 14 hari.

Doa dan air mata saya tetap tercurah bagi orang-orang yang saat ini tengah berjuang dalam demam, batuk, dan sesak napas mereka. Jangan pernah menyerah! Tuhan memelukmu. Tuhan menimangmu.

Sekali lagi, terima kasih seribu untuk Thomas, Janice, Jethro, untuk Papi Mami, Papa-Mama, untuk semua sahabat doa, untuk teman-teman yang tidak pernah lelah mendukung saya dengan cara mereka masing-masing. Tuhan menjaga kalian sama seperti Tuhan menjaga saya.

We are Fearfully and Wonderfully Made
Selama masa isolasi kamar, saya secara rutin melakukan TRE 2x sehari, latihan pernapasan 3-4x sehari dan yoga 2 hari sekali. Asupan yang masuk ke dalam tubuh juga saya usahakan sesehat mungkin. Ritual harian keluarga kami, sebelum ini, minum green juice hanya pagi hari, maka selama masa isolasi ini, kami usahakan lebih dari 2x sehari, ditambah dengan buah potong. Menu makanan utama tetap sama dengan menu makan sehari-sehari. Sejak 6 tahun lalu, kami sekeluarga cenderung memilih mengonsumsi makanan berbasis tumbuhan.

Salah satu insight yang saya dapat dalam demam 11 hari ini adalah bahwa kesehatan itu seperti tabungan. Sewaktu-waktu ketika kita memerlukannya, maka kita ambil tabungan itu [withdraw]. Saya bersyukur bahwa sejak 6 tahun lalu, kami sekeluarga berusaha hidup sehat. Itulah tabungan saya ketika saya mengalami demam 11 hari ini. Tuhan menjaga saya melalui tabungan kesehatan ini.

Tidak melulu soal kebiasaan makan sehat. Namun juga kebiasaan untuk melakukan olah badan, olah napas. Ketakutan kami —saya dan Thomas— adalah bahwa saya mendapatkan serangan sesak napas. Kalau soal demam, masih bisa dikontrol dengan sesering mungkin mengukur suhu tubuh dengan termometer. Namun soal napas bagaimana? Puji Tuhan, saya telah berlatih olah napas setiap hari, jauh sebelum masa pandemi ini, sehingga dalam masa-masa ini, saya bisa mencatat performa napas saya untuk mengetahui ada penurunan atau tidak.

Selain itu, saya mengusahakan se sering mungkin melakukan latihan keseimbangan pernapasan dan paru-paru. Hari ini, 4 April, saya baru mengerti, melalui webinar yang saya ikuti tadi pagi, bahwa ketika kita melatih keseimbangan paru-paru, hal itu juga berfungsi ganda untuk meregulasi suhu tubuh kita, artinya dapat menurunkan demam. Inilah bentuk lain dari tabungan kesehatan saya.

Sungguh Tuhan menciptakan tubuh kita ini dahsyat dan ajaib. Tubuh kita diciptakan lengkap, sempurna. Ada bagian-bagian yang sudah Tuhan sediakan untuk meregulasi dan menyeimbangkan kesehatan kita. Namun itu bukan kejadian seketika, kita perlu mengusahakannya sedini mungkin.

Saya juga mengatur berita-berita yang masuk ke dalam otak saya. Sengaja saya mengurangi paparan berita tentang COVID-19. Saya tahu itu pasti akan mengganggu mental saya di tengah kondisi demam saya. Saya lebih memilih untuk mendengarkan khotbah-khotbah online, membaca buku kesukaan, mendengarkan lagu lagu rohani. Apa yang saya lakukan ini adalah bagian dari spiritual religious coping. We are cautious, but we are not fearful.

Hal lain yang saya lakukan adalah menulis, mengikuti banyak pendidikan online. Masa-masa ini sangat baik dimanfaatkan untuk kedua hal ini. Biasanya saya tidak punya terlalu banyak waktu untuk itu. Ini juga bagian dari emotional coping.

Dalam masa pandemi COVID-19 ini, saya belajar untuk tidak saja menjaga kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental dan emosi. Ya, sebab Tuhan menciptakan saya bukan hanya fisik belaka. Saya juga perlu bertanggung jawab atas kesehatan mental dan emosi saya. We are fearfully and wonderfully made.

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. (Mazmur 139:13)

Mari menabung kesehatan fisik, mental dan emosi!•

Jakarta, 28 Maret 2020
| JOYCE HERYANTO

Lagu ini diberikan oleh seorang sahabat saya, dan menjadi lagu pengantar tidur di malam malam penuh ketakutan akan serangan sesak napas, di tengah ketidaktahuan saya akan apa yang bakal terjadi pada hari-hari selanjutnya.

CRADLE ME [Bernadette Farrell]

God eternal, cradle me
Love me till the end
Give me now your understanding
Let me be, let me be, let me be a good friend.

Lord Jesus, cradle me
Walk with me always
Let me know true love and justice
Love me through, love me through, love me
through all my days.

Holy Spirit, cradle me
Guide me from above
Let me see You, see Your power
Cradle me, cradle me, cradle me in Your love.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Pernyataan & Penyertaan
    Pernyataan & Penyertaan
    Dua tahun lalu saya mengalami gangguan mata kiri, mulai buram dan ada di sebelah kiri. Cukup blank spot mengganggu,...
  • adikku
  • Semua Karena Anugerah-Nya
    Salam kasih dan damai sejahtera dalam Kristus, kiranya hikmat Tuhan Yesus dan Roh Kudus menuntun pengungkapan kesaksian hidup saya...
  • kesaksian
    Kesaksian Iman
    Dalam nama Kristus, kutulis kesaksian imanku dengan sejujur-jujurnya. Aku dilahirkan, dibesarkan dan dididik dalam keluarga yang tidak percaya kepada...
Kegiatan