Gereja Sampah

menyaksikan kebaikan Tuhan dari kekumuhan dan sampah

Belum ada komentar 13 Views

Simon The Tanner Church Kairo Tersembunyi di balik pemukiman kumuh di Mesir,di terdapat sebuah gereja yang disebut dengan Gereja Sampah. Penamaan itu terkait dengan letaknya yang tidak jauh dari pemukiman kumuh. Namun, gereja itu juga indah. Unik!

Simon The Tanner Church adalah nama resmi Gereja Sampah. Simon The Tanner sendiri adalah seorang santo yang hidup pada abad ke- 10. Ia berperan penting dalam menghadirkan keajaiban Tuhan memindahkan Gunung Mokattam (tempat dibangunnya Gereja Sampah sekarang) sejauh 3 km sebagai jawaban atas tantangan kepada orang Kristen zaman itu agar membuktikan kebenaran iman mereka. Simon juga merupakan seorang penyamak kulit. Pemberian nama Simon The Tanner Church sendiri didedikasikan kepada Santo Simon si penyamak kulit itu.

Gereja Sampah, atau yang juga biasa disebut Gereja Mukjizat di bukit Mokattam ini, merupakan Gereja Koptik tua atau Koptik Ortodoks dengan sejarah yang sangat menarik. Ia terletak di daerah yang dikenal sebagai ‘kota sampah’ karena populasi besar pemulung sampah atau Zabbaleen yang tinggal di sana. Puluhan ribu pemulung itu hidup di sana dengan mengais sampah dan hidup dari sampah. Namun bagi penduduk sekitar, Gereja Sampah ini memancarkan ‘bau harum’. Keharuman Kristus terpancar lewat kehadiran dan kesaksiannya. Pelayanan jemaatnya telah membawa banyak pemulung mengenal Kristus dan mendapatkan pegangan hidup. Setiap Minggu mereka beribadah di sana untuk memuliakan Tuhan di tengah impitan kemiskinan dan teladan kasih yang ditunjukkan lewat berbagai bantuan, baik moral maupun material, yang diberikan bagi mereka.

Zabbaleen
Zabbaleen ( نيلابز‎ Zabbalīn) adalah kata dalam bahasa Arab Mesir yang secara harfiah berarti ‘orang sampah’, atau dalam bahasa kontemporernya berarti ‘pengolah sampah’. Zabbaleen adalah keturunan petani yang mulai bermigrasi dari Mesir Hulu ke Kairo pada tahun 1940-an. Hasil panen yang buruk dan kemiskinan membuat mereka kabur dari nasib itu. Mereka datang ke kota untuk mencari pekerjaan dan membangun pemukiman sementara di sekitar kota.

Awalnya, mereka berpegang pada tradisi memelihara babi, kambing, ayam, dan hewan lainnya, tetapi akhirnya mereka beralih menjadi pemulung dan pengolah limbah yang mereka rasa lebih menguntungkan. Zabbaleen akan memilah-milah sampah rumah tangga, menyimpannya dan menjual barang-barang yang dinilai masih berharga, sementara sampah organik akan diolah kembali menjadi pakan ternak mereka. Sebenarnya, hal tersebut berjalan dengan sangat baik, di mana gelombang migran datang dari Mesir Hulu kemudian menetap dan bekerja di desa-desa khusus pengepul sampah yang baru didirikan di Kairo.

Selama beberapa generasi, Zabbaleen menghidupi diri mereka sendiri dengan mengumpulkan sampah dari pintu ke pintu penduduk Kairo tanpa biaya. Zabbaleen mendaur ulang hingga 80 persen dari limbah yang mereka kumpulkan, sedangkan sebagian besar perusahaan pengumpul sampah Barat hanya dapat mendaur ulang 20 hingga 25 persen dari limbah yang mereka kumpulkan.

Selama bertahun-tahun, pemukiman sementara Zabbaleen dipindahkan untuk menghindari peraturan ketat kota. Pada tahun 1969, gubernur Kairo memutuskan untuk memindahkan semua pemulung ke Mokattam. Pada tahun 1987, ada sekitar 15.000 orang yang tinggal di desa orang Zabbaleen. Kini jumlah mereka bahkan sudah mencapai 50.000 orang. Jumlah itu membuat mereka menjadi komunitas pemulung terbesar di Kairo.

Hubungan Zabbaleen dengan Gereja Sampah
Mesir merupakan negara mayoritas muslim, tetapi 90 persen Zabbaleen merupakan penganut Kristen Koptik. Komunitas Kristen jarang ditemukan di Mesir, sehingga Zabbaleen lebih suka tinggal di Mokattam dalam komunitas agama mereka sejak pemerintah memindahkan mereka ke daerah itu pada tahun 1969. Setelah gereja pertama di desa Mokattam didirikan pada tahun 1975, Zabbaleen yang pernah merasakan penggusuran di Giza pada 1970, merasa lebih aman di lokasi mereka. Padahal, meskipun pekerjaan mereka memulung sampah, banyak dari mereka sebenarnya mampu membeli rumah. Ketika mereka sudah merasa lebih aman dan nyaman di lokasi mereka itu, barulah kemudian mereka mulai menetap dan menggunakan bahan bangunan yang lebih permanen seperti batu bata untuk bahan fondasi rumah mereka. Karena alasan keberadaan mereka itulah Simon The Tanner Churh nantinya disebut Gereja Sampah.

Pembangunan Simon The Tanner Church
Pada tahun 1976, kebakaran besar terjadi di Manshiyat Nasir, yang memicu pembangunan awal gereja pertama yang berlokasi di bawah pegunungan Mokattam dengan luas 1.000 meter persegi. Beberapa gereja telah dibangun di dalam gua-gua yang ditemukan di Mokattam, di mana Gereja Sampah adalah yang terbesar dengan kapasitas 20.000 kursi.

Fargmen-fragmen kisah Alkitab yang dipahat dan diukir di dinding-dinding cadas gereja adalah buah keterampilan tangan Mario, seorang seniman muda Polandia yang berkunjung ke Mesir dan tinggal di sana untuk sementara waktu. Penasihat gereja yang tahu bahwa dia memiliki keterampilan melukis, meminta Mario untuk mulai mengukir/memahat di atas batu cadas gereja itu daripada sekadar melukisinya. Mario menerima tawaran ini dan telah membuat sekitar 76 fragmen di area biara.

Untuk mencapai gereja yang besar dan luas itu, kita harus melewati pemukiman kumuh tempat tinggal para Zabbaleem, sang pemulung sampah. Namun, begitu sampai di sana kita akan terkagum-kagum karena gereja ini terbuat dari gunung batu yang dipahat, yaitu gunung Mokattam. Mereka bisa dikatakan suatu kalangan yang tak tersentuh. Penduduk mereka sekitar 50.000 orang, dan hampir seluruhnya memeluk keyakinan kristiani. Mereka benar-benar hidup dalam kesedihan.

Lokasi yang berpenduduk 50.000 orang ini beraroma bau sangat busuk yang luar biasa karena dihasilkan dari kumpulan sampah dari seluruh kota. Sampah-sampah itu ditumpuk bersama dan disinari terik matahari dalam suhu yang amat panas. Namun para pemukim di situ, yang mayoritas kristiani, menyelesaikan pekerjaan mereka, sebagian besar dengan senyum di wajah mereka.

Tata Ruang Gereja
Gua Gereja Sampah ini terdiri atas 3 set gua berbentuk tribun stadion dengan atap batu gunung. Yang terbesar dikatakan dapat menampung 10.000 orang, yang di tengah berkapasitas sekitar 2.000 orang, dan yang terkecil sekitar 200 orang. Gereja yang terletak di sebelah tenggara Kairo ini merupakan bukti mukjizat yang pernah terjadi pada zaman lampau. Sebuah tantangan pada perjuangan iman untuk membuktikan kebenaran Firman Tuhan. Sebuah kejadian yang menyaksikan kebaikan Tuhan: Gunung Mukattam berpindah tempat sejauh 3 km.•

|SUJARWO
#diolah dari berbagai sumber

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • Antara SI BADU & HULDA
    Seorang presiden pasti dikelilingi orang-orang terbaik di bidangnya masing-masing. Salah satu menteri sudah bekerja dan berjasa baginya. Namun ia...
  • TAKUT
    Pandemi virus COVID-19 masih belum berakhir, malah di beberapa negara jumlah penderita yang positif makin banyak. Walaupun pemberian vaksinasi...
  • Gegara COVID-19
    Pandemi yang sudah hampir satu tahun ini telah memorak porandakan dunia. Belum ada satu negara pun yang betul-betul bebas...
  • Cerita Seputar Natal
    bukan sebuah upaya mengubah pemahaman, sekadar pelurusan fakta
    Tahun Kelahiran Yesus Di samping tanggal 25 Desember, banyak orang beranggapan bahwa Yesus lahir pada awal tahun 1 Masehi....
  • REMEH
    REMEH
    Sebagai manusia, kita kerap kali meremehkan atau menganggap remeh sesuatu, apakah itu benda, pekerjaan, atau orang. Menganggap remeh adalah...