Gegara COVID-19

Belum ada komentar 9 Views

Pandemi yang sudah hampir satu tahun ini telah memorak porandakan dunia. Belum ada satu negara pun yang betul-betul bebas dari COVID-19. Australia saja, yang katanya sudah berhasil mengatasi virus ini, baru-baru ini kembali me-lockdown negara bagian Victoria selama lima hari. Padahal di kota Melbourne saat itu sedang berlangsung turnamen tenis Grand Slam Australian Open 2021. Akibatnya, meskipun turnamen itu boleh dilanjutkan, tetapi tidak boleh ada penonton, padahal tiket sudah terjual.

Hampir semua aspek kehidupan terkena imbas COVID-19. Yang paling terasa adalah dalam aspek finansial dan keuangan. Banyak perusahaan yang tidak dapat meneruskan kegiatan usaha mereka, hotel dan restoran mendadak sepi, occupancy rate hotel-hotel menurun drastis. Demikian pula dengan usaha di bidang pariwisata seperti biro-biro perjalanan. Mal, yang biasanya ramai saat weekend, tiba-tiba harus tutup atau membatasi pengunjungnya hanya 50% dari kapasitas. Akibatnya, Banyak restoran dan kafe yang ada di mal mengalami kerugian dan menutup gerai mereka. Tidak heran banyak pekerja yang terkena PHK.

Aspek sosial juga terganggu. Kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan sosial yang biasanya bertatap muka lagi. Walaupun pertemuan sudah dapat digantikan dengan teknologi seperti zoom dan sebagainya, tapi tetap saja dirasa kurang pas.

Kegiatan ibadah pun terkena imbasnya. Gedung-gedung gereja mendadak sepi. Saat ini kegiatan ibadah di gedung gereja sangat dibatasi. Ibadah, pertemuan pertemuan dan rapat-rapat dibuat secara on-line, padahal tidak semua orang nyaman dengan cara seperti ini.

Kegiatan fisik dan olahraga juga terkena imbasnya. Kegiatan olahraga di gym dan olahraga berkelompok seperti sepakbola dan basket, sangat dibatasi. Kondisi seperti ini mengakibatkan banyak orang beralih ke olahraga luar ruang seperti bersepeda, lari, jogging, dan sebagainya. Kegiatan olahraga yang dalam kelompok, tidak dimungkinkan mengundang banyak penonton, seperti pertandingan sepakbola, juga dihentikan. Belakangan pertandingan diperbolehkan, tetapi tanpa penonton.

Aspek kesehatan paling terdampak dalam masa pandemi ini. Para tenaga kesehatan seperti dokter, perawat dan tenaga medis lainnya, menjadi orang-orang yang paling sibuk, dan sekaligus pekerjaan mereka paling berisiko terpapar virus. Mereka paling banyak berkorban dalam membantu dan menolong orang lain. Ketika angka penambahan kasus terkonfirmasi COVID-19 makin hari makin banyak, rumah-sakit rumah-sakit penuh, maka orang-orang yang bukan positif COVID dan membutuhkan bantuan dokter atau rumah sakit, menjadi tidak terlayani.

Aspek lain yang terimbas oleh pandemi ini adalah aspek keluarga. Kehidupan keluarga menjadi “tidak normal”. Banyak keluarga yang merasa pertemuan dengan anak, menantu dan cucu yang tidak serumah, amat dibatasi bahkan tidak disarankan, karena pertemuan tersebut bisa menimbulkan penularan COVID-19. Akibatnya, pertemuan keluarga yang biasanya terjadi minimal seminggu sekali, sekarang tidak ada lagi. Tidak ada lagi cucu yang bermain ke rumah nenek dan sang nenek pun menjadi kesepian.

Dulu, pada waktu pacaran, rasanya selalu ingin bersama dengan pacar atau kekasih, tidak ingin berpisah. Bahkan ada yang terus menempel seperi perangko. Namun anehnya, selama masa pandemi di mana banyak orang bekerja dari rumah, baik suami maupun istri lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, malah timbul banyak masalah. Nah, inilah yang menjadi soal. Keinginan untuk terus bersama-sama seperti yang diidam-idamkan dulu, sekarang menjadi masalah. Bahkan bukan sekadar masalah berbeda pendapat, melainkan malah menjurus kepada perceraian. Agak ironis ya?

Namun, beberapa sumber mengatakan bahwa angka perceraian selama masa pandemi ini tidak meningkat secara signifikan, relatif sama dengan masa-masa sebelum pandemi. Hemat saya, mengingat bahwa sebelum menikah mereka mempunyai hasrat atau keinginan untuk terus bersama, maka dalam masa pandemi, di mana kebersamaan pasangan mendapatkan waktu yang panjang, angka perceraian seharusnya menurun.

Dari asumsi di atas, ternyata ada perbedaan yang cukup besar antara sebelum dan sesudah menikah. Mungkin sebelum menikah pasangan belum mengetahui atau belum menyadari kelebihan dan kekurangan, sifat-sifat asli, kebiasaan dan lain sebagainya dari orang yang dinikahinya itu. Sesudah menikah pun masih banyak hal yang belum diketahui oleh pasangan masing masing. Jadi tidak heran ketika mereka memiliki banyak waktu di rumah, makin banyak surprises yang dialami. Dalam kondisi “normal” sebelum pandemi, sifat asli dan kebiasaan yang kurang berkenan mungkin dapat tereliminasi dengan tidak banyaknya waktu bersama. Mereka hanya bertemu malam hari dan di akhir minggu saja, sedangkan di hari kerja mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kantor atau di luar rumah.

Ternyata benar bahwa kita tidak dapat mengenal pasangan kita seratus persen. Banyak hal yang belum kita ketahui walaupun usia pernikahan kita sudah lanjut. Pdt. Agus Susanto, dalam berbagai kesempatan, ketika memperbincangkan relasi pasangan suami dan istri, selalu mengatakan bahwa pernikahan adalah sekolah seumur hidup, tidak pernah selesai. Karena itu, kalau mau membangun relasi yang baik dengan pasangan, kita harus terus belajar mengenalnya sampai maut memisahkan kita. Masa pandemi ini sesungguhnya adalah kesempatan yang sangat baik untuk saling mengenal pasangan kita. Manfaatkanlah waktu dengan sebaik baiknya, jangan sampai menyesal ketika sudah tidak mempunyai waktu lagi. Salam damai.•

|SINDHU SUMARGO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • Antara SI BADU & HULDA
    Seorang presiden pasti dikelilingi orang-orang terbaik di bidangnya masing-masing. Salah satu menteri sudah bekerja dan berjasa baginya. Namun ia...
  • TAKUT
    Pandemi virus COVID-19 masih belum berakhir, malah di beberapa negara jumlah penderita yang positif makin banyak. Walaupun pemberian vaksinasi...
  • Gereja Sampah
    menyaksikan kebaikan Tuhan dari kekumuhan dan sampah
    Simon The Tanner Church Kairo Tersembunyi di balik pemukiman kumuh di Mesir,di terdapat sebuah gereja yang disebut dengan Gereja...
  • Cerita Seputar Natal
    bukan sebuah upaya mengubah pemahaman, sekadar pelurusan fakta
    Tahun Kelahiran Yesus Di samping tanggal 25 Desember, banyak orang beranggapan bahwa Yesus lahir pada awal tahun 1 Masehi....
  • REMEH
    REMEH
    Sebagai manusia, kita kerap kali meremehkan atau menganggap remeh sesuatu, apakah itu benda, pekerjaan, atau orang. Menganggap remeh adalah...