Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak. (Mazmur 66:10)
John tidak menyangka bahwa rekan sekerjanya ternyata terlibat dalam persekongkolan untuk menyingkirkan dirinya. Padahal, rekan tersebut dahulu dibimbing oleh John hingga akhirnya diangkat sebagai karyawan tetap. Situasi itu membuat John sangat terluka. Sahabat John berkata, “John, tidak mudah menjadi orang baik. Maknailah situasi ini sebagai ujian, seperti perak yang dimurnikan.” Kata-kata sahabatnya tersebut memang tidak serta-merta menghilangkan kekecewaan dalam diri John, tetapi cukup memberikan kelegaan.
Pemazmur mengajak bangsa-bangsa untuk memuji Allah. Ajakan itu lahir bukan karena aneka berkat materi yang diterimanya, melainkan justru karena ujian yang diizinkan Allah untuk dialaminya. Bagi pemazmur, ujian tersebut ibarat proses memurnikan perak. Proses tersebut akan menghilangkan kotoran yang dapat mengurangi kekuatan dan keindahannya, serta meningkatkan kadar kemurniannya sehingga nilai jualnya menjadi lebih tinggi. Pemazmur bersyukur kepada TUHAN karena kualitas dirinya semakin meningkat melalui ujian yang dialaminya.
Saudara, ujian dapat datang dalam berbagai bentuk: pengkhianatan, penolakan, upaya penyuapan, atau hal-hal lainnya. Menghadapi ujian bukanlah hal yang menyenangkan. Sebagai pengikut Yesus, hal yang perlu kita upayakan adalah memaknai ujian tersebut. Ujian dapat dimaknai sebagai proses pemurnian yang membuat kualitas diri kita semakin terasah dan terbentuk. [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Ujian bukan tanda Tuhan meninggalkan kita, tetapi bukti bahwa la sedang membentuk kita menjadi pribadi yang layak bagi-Nya.
Ayat Pendukung: Kej. 6:5-22; Mzm. 66:8-20; Kis. 27:1-12
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.