Bersukacita Dalam Kelemahan

Pasutri Bertha Eta & Anung

Belum ada komentar 13 Views

Bulan Juli merupakan bulan yang sangat berat bagi kami berdua, terutama bagi suami saya, Anung. Pikiran dan hati kami campur aduk rasanya. Tidak pernah terbersit di benak kami bahwa keadaan akan seperti ini, meskipun Jakarta berada di zona merah pandemi dengan banyaknya jumlah penderita yang positif terkena COVID-19.

Bermula pada hari Minggu tanggal 26 Juli tengah malam, ibu mertua saya pingsan dan sakit, sehingga Anung dihubungi melalui video call oleh keluarga yang tinggal bersama Ibu. Malam itu juga, Ibu dibawa ke RSAU Halim, walau dengan perasaan khawatir karena adanya COVID ini. Ternyata gula darahnya sangat rendah sehingga beliau harus dirawat. Kami tidak sempat memberitahukan Bapak tentang keadaan Ibu, karena Bapak sudah tidur dan kondisi kesehatannya tidak baik.

Keesokan malamnya, kondisi Bapak memburuk. Beliau tidak bisa bicara dan tidur pun harus miring karena sesak napas. Kami membawanya ke RS Harapan Kita karena dokter jantung yang merawat Bapak ada di sana, dengan harapan agar beliau bisa mendapat tindakan yang tepat. Ternyata selama masa pandemi ini, proses penerimaan di RS Harapan Kita harus melewati protocol COVID. Pasien harus diisolasi dulu selama 4 hari, mengikuti rapid test dan tingkatan-tingkatan yang merujuk pada masalah COVID, dan setelah hasil lab keluar dan negatif, baru mendapat tindakan. Meskipun hasil tersebut negatif, pihak RS tetap meminta agar pasien diisolasi.

Kami lalu berembuk dengan keluarga dan keponakan kami yang menjadi dokter di RS Fatmawati. Akhirnya Bapak dibawa ke RS Fatmawati malam itu juga agar cepat ditangani. Sesampai di sana, beliau dimasukkan ke ruang ICU dan memulai pengobatan jantung.

Kami bingung dan takut, karena anak kami —Gwen— masih kecil, apalagi ada juga pasien COVID di RS Fatmawati. Setiap kali Anung pulang dari sana, ia menjalani protokol kesehatan dengan ketat dan tidak berani dekat dengan Gwen.

Selasa pagi, saya siap berangkat dinas ke Merak, tapi merasa ragu ragu. Beberapa kali saya bertanya kepada suami saya, apakah sebaiknya saya mengurungkan keberangkatan saya. Namun ia meyakinkan saya, “Berangkatlah supaya masalah pekerjaanmu itu cepat beres.” Tiba tiba ada telepon dari keponakan kami di RS Fatmawati —tempat Bapak dirawat— yang meminta agar seluruh keluarga secepatnya datang ke sana. Saya lalu membatalkan semua janji pekerjaan saya, dan kami pergi menjemput ibu mertua yang siang itu boleh keluar dari RSAU Halim.

Dalam perjalanan ke RS Fatmawati bersama Ibu, kami baru memberitahukan kepadanya tentang kondisi Bapak yang sebenarnya. Beliau terdiam dan hanya memandang keluar jendela mobil, entah apa yang berkecamuk di pikirannya. Beberapa kali telepon masuk untuk menanyakan posisi kami sudah sampai di mana, tapi akhirnya berita yang menyedihkan kami terima. Bapak sudah pergi pada pk.12.54 tanpa sempat bertemu lagi dengan Ibu yang sudah mendampinginya selama 54 tahun.

Semua proses kami jalani satu per satu: Mulai dari Bapak masuk RS Fatmawati sampai—melalui bantuan dr. Arnold—mendapat izin transit 1 hari menyemayamkan jenazah Bapak di Rumah Duka Fatmawati. Pihak GKIPI, melalui Pdt. Riani, Pdt, Vera dan Majelis Gereja, berkenan melayani kedukaan ini dan mendampingi kami sampai seluruh proses selesai, meskipun selama masa pandemi ini selalu ada ketakutan terjadi penularan COVID.

Kejadian tersebut membawa hikmah buat kami, terutama Anung:

  • Kami melepas kepergian ayah tercinta ke rumah Bapa di surga dengan rela, dan dengan iman bahwa Tuhan memberinya tempat yang baik di sana, setelah hampir dua tahun bergumul dengan sakit jantung, terutama di klep jantungnya.
  • Dalam kondisi sangat sulit dan takut, Tuhan memberi kekuatan kepada kami melalui para pendeta, anggota majelis, sahabat-sahabat di GKIPI, terutama Kak Naning, Kak Jo, Kak Marie, kak Erly pg3, dan Om Parlin yang selalu memberikan dukungan melalui doa, telepon dan WA, agar lorong gelap ini dapat kami lewati dengan baik (matur nuwun banget ya?)
  • Apa yang kita rencanakan atau pikirkan sebagai manusia dalam pekerjaan, kesehatan, atau apa saja tidak selalu seturut dengan rencana Tuhan, dan bisa berubah tanpa kompromi. Namun kita harus tetap beriman bahwa Dia akan memberi kita pertolongan sehingga kita bisa melalui kesulitan itu dengan baik.

Terima kasih untuk keluarga besar MM GKIPI atas dukungannya dalam gelombang kehidupan yang telah kami hadapi. Puji Tuhan, semua kini sudah reda. Tuhan memberkati kita semua.•

 

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Ayahku Yang Sederhana
    Ayahku Yang Sederhana
    Bila kukenang kembali, ah… keindahan itu telah berumur 54 tahun yang lalu. Waktu itu aku meninggalkan kampung halamanku dan...
  • Rasika Wiyarti: BERGUMUL DENGAN KANKER
    Aku seorang Katolik sejak dibaptis pada tahun 1998 dan pengetahuanku tentang Alkitab sangatlah sedikit. Sebelumnya ingin kuperkenalkan siapa diriku....
  • cradle
    God Cradles Me
    Berjuang Dalam Demam Sejak hari Jumat, 13 Maret 2020, selama 11 hari saya mengalami demam 38-39°C terus menerus. Diagnosis...
  • Pernyataan & Penyertaan
    Pernyataan & Penyertaan
    Dua tahun lalu saya mengalami gangguan mata kiri, mulai buram dan ada di sebelah kiri. Cukup blank spot mengganggu,...
  • adikku
Kegiatan