“Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu. Tetapi, Dia yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari Dia, itulah yang Kukatakan kepada dunia.” (Yohanes 8:26)
Pernahkah Saudara diminta menyampaikan pesan penting dari atasan kepada orang lain? Tentu, dalam situasi seperti itu, kita akan sangat berhati-hati. Kita tidak boleh menambah atau mengurangi isi pesan, karena tanggung jawab kita adalah menyampaikan apa yang kita dengar dengan setia. Sedikit kesalahan saja dapat menimbulkan kesalahpahaman yang besar.
Yesus menunjukkan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Yesus berkata bahwa apa yang la dengar dari Allah Bapa, itulah yang la katakan kepada dunia. Ayat ini menunjukkan sikap Yesus yang sangat taat dan setia kepada Bapa. la tidak berbicara atas kehendak-Nya sendiri, melainkan menyampaikan dengan tepat apa yang berasal dari Allah. Hal ini bukan hanya menunjukkan keintiman antara Yesus dan Bapa, tetapi juga otoritas rohani yang sejati, yang berasal dari ketaatan, bukan dari kepentingan pribadi. Penolakan terhadap Yesus berarti penolakan terhadap Allah yang mengutus-Nya.
Firman Tuhan ini menjadi pengingat bahwa dalam menyuarakan iman, kita dipanggil untuk mewakili suara Tuhan, bukan suara ego atau kepentingan pribadi. Dalam pelayanan, percakapan sehari-hari, maupun kesaksian hidup, marilah kita menyampaikan kebenaran yang kita dengar dari firman Tuhan dengan penuh kasih dan kejujuran. Dunia telah dipenuhi oleh suara-suara yang menyesatkan dan membingungkan; oleh karena itu, suara kebenaran harus terdengar dengan jernih melalui hidup orang percaya. [Pdt. Natanael Setiadi]
REFLEKSI:
Ketepatan berkata-kata lahir dari kedekatan dengan Sang Kebenaran.
Ayat Pendukung:
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.



Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.