Ayahku Yang Sederhana

Ayahku Yang Sederhana

Belum ada komentar 1 View

Bila kukenang kembali, ah… keindahan itu telah berumur 54 tahun yang lalu.

Waktu itu aku meninggalkan kampung halamanku dan pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan. Dana sudah terkumpul untuk membayar kediamanku di tempat yang jauh. Sumbangan ayahku lebih berupa semangat ketimbang harta, sebab ia warga bumi yang hidup sangat sederhana. Masa kecilku bersamanya penuh kebahagiaan. Kami sering menyusuri kampung, berjalan beriringan. Di jalan-jalan kampung yang kecil dan di sana-sini rusak itu, ia terkadang menggendongku ketika melewati batu-batu tajam yang bisa melukai kaki telanjang, atau kalau hujan turun, melalui jalan berlumpur yang licin dan sulit dilintasi.

Pergumulan hidup yang berat harus ditelannya dengan sabar meski senantiasa menguji semangatnya. Namun apa pun kesulitan yang dihadapinya, ia tetap gigih bertahan. Itulah yang membuat aku sangat menghormatinya. Ayahku yang sederhana, bahkan sangat sederhana, juga tidak pernah ragu mengulurkan tangan untuk menolong orang lain yang membutuhkan bantuan. Ia kukuh dalam pendirian, jujur dan tulus.

Dalam menghadapi banyak tantangan kehidupan, ayahku tetap beriman kepada Tuhan. Ia selalu menyatakan kemenangan, karena ia bukan tipe yang pesimis. Ia penganut Kristen yang berpengharapan. Satu pesannya yang tidak pernah kulupakan adalah, “Hidup ini penuh ketidakpastian. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi atau akan kita alami nanti. Satu-satunya hal yang pasti hanyalah Allah yang kekal. Dialah Panduan kita. Kepada-Nyalah kita memercayakan hidup kita. Karena itu jangan menyeleweng, jangan juga terjebak pada moralitas dan agama yang tidak berdasarkan firman Allah, karena akan selalu ada hal baru yang ditawarkan. Sebenarnya tidak ada yang baru di muka bumi ini, meskipun kelihatannya baru.”

Ayahku benar. Adakah jaminan dalam kehidupan ini? Kenyataannya, memang segala sesuatu sama bagi semua orang, apakah ia benar atau fasik, baik atau jahat, tahir atau najis, taat kepada Tuhan atau tidak. Tidak seorang pun dapat mengendalikan masa depannya. Tidak seorang pun punya kekuasaan terhadap jiwanya sendiri.

Jika kita ingin mencari arti dalam kehidupan, kita harus memikirkan kebenaran. Dan sekali menemukannya, kita harus mengakui wewenangnya. Itulah sebabnya iman merupakan persyaratan untuk menyerahkan hidup kita dalam kebenaran Yesus Kristus, dan hanya kepada-Nya.

Mau tak mau usia tua harus dijalani, walau didampingi kerapuhan. Rapuh, karena sudah tidak banyak lagi memberikan kesenangan, bahkan menghadapi berbagai kesulitan, baik tubuh maupun pikiran. Kita mulai tergantung pada orang lain yang tidak selalu memedulikan kita. Akan selalu ada alasan baru yang membuat kita khawatir.

Tangan mulai gemetar, gigi tanggal sendiri, mata mulai kabur karena katarak, dan organ tubuh lainnya antre bermasalah. Aktivitas orang lanjut usia secara alami berkurang, bahkan tidur pun tidak sebanyak dulu lagi.

Orang lanjut usia selalu bangun bersama nyanyian fajar, walaupun nyanyian itu hanya samar terdengar, karena umumnya ia mengalami penolakan ganda. Tidak bisa tidur, telinga mulai tuli. Berbicara pun sering dengan cara sugesti. Perlahan ia mulai takut ketinggian dan enggan melakukan perjalanan. Uban menjadi kebanggaan yang memahkotai kepalanya.

Waktu kuperhatikan kesadaran ayahku makin menurun, akupun merenungkan soal kehidupan ini dan tujuannya. Aku menyadari bahwa salah satu hari bisa menjadi saat terakhirnya sebelum menapaki jalan kekal dan mulia itu. Kusingkirkan rasa keputusasaan di hatiku. Aku dan Ayah berbisik perlahan mendiskusikan kematiannya. Ayahku sudah berusia 89 tahun, dan kami menyepakati banyak hal.

Maut sudah mendekat dan juga akan dialami semua umat manusia. Namun bagi orang percaya, hal itu tidak menakutkan, karena Yesus menyambut kita dalam kehidupan yang kekal.•

| HILMAN MANURUNG, Sahabat PDP

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Rasika Wiyarti: BERGUMUL DENGAN KANKER
    Aku seorang Katolik sejak dibaptis pada tahun 1998 dan pengetahuanku tentang Alkitab sangatlah sedikit. Sebelumnya ingin kuperkenalkan siapa diriku....
  • cradle
    God Cradles Me
    Berjuang Dalam Demam Sejak hari Jumat, 13 Maret 2020, selama 11 hari saya mengalami demam 38-39°C terus menerus. Diagnosis...
  • Pernyataan & Penyertaan
    Pernyataan & Penyertaan
    Dua tahun lalu saya mengalami gangguan mata kiri, mulai buram dan ada di sebelah kiri. Cukup blank spot mengganggu,...
  • adikku
  • Semua Karena Anugerah-Nya
    Salam kasih dan damai sejahtera dalam Kristus, kiranya hikmat Tuhan Yesus dan Roh Kudus menuntun pengungkapan kesaksian hidup saya...
Kegiatan