MENDENGAR YANG MENGUBAH

Kejadian 25:19-34;Mazmur 119:105-112; Roma 8:1-11;Matius 13:1-9,18-23

Belum ada komentar 5 Views

Setiap hari kita mendengar begitu banyak hal: berita, percakapan, nasihat, bahkan firman Tuhan. Namun, tidak semua yang kita dengar mengubah hidup kita. Ada yang hanya lewat di telinga, ada yang kita simpan sesaat, lalu terlupakan. Ada pula firman yang benar-benar mengubah cara kita memandang Allah,diri sendiri dan sesama.

Pelayanan Yesus memperlihatkan kenyataan itu. Banyak orang mendengar pengajaran-Nya, menyaksikan mukjizat-Nya, bahkan melihat kuasa Allah bekerja secara nyata. Namun, tidak semua percaya. Orang Farisi memiliki pengetahuan yang luas tentang Kitab Suci, tetapi ketika Allah bekerja di luar cara yang mereka bayangkan, mereka justru menolak-Nya. Masalah mereka bukan kurang mendengar, melainkan mendengar untuk mempertahankan pemikiran sendiri.

Karena itu Yesus mulai mengajar melalui perumpamaan. Perumpamaan bukan sekadar cerita yang menarik. Melalui cerita, Yesus mengajak setiap orang berhenti sejenak, memeriksa hati dan bertanya: Apakah aku sungguh mau mendengarkan Allah atau hanya mencari pembenaran bagi pikiranku sendiri?

Perumpamaan tentang penabur menunjukkan bahwa benih yang ditaburkan selalu sama. Yang berbeda adalah tanah tempat benih itu jatuh. Demikian pula firman Tuhan. Firman-Nya tetap hidup dan penuh kuasa, tetapi respons setiap orang dapat berbeda. Ada yang menolaknya, ada yang menerimanya sebentar, ada yang membiarkan firman itu terhimpit oleh kekhawatiran hidup, dan ada yang memeliharanya hingga menghasilkan buah.

Kabar baiknya, Allah tidak pernah berhenti menabur. Kasih-Nya tidak bergantung pada kualitas tanah. Dengan kesetiaan-Nya, la terus berbicara, mengundang, dan memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mendengar serta mengalami pembaruan hidup.

Karena itu, pertanyaan bagi kita bukanlah, “Apakah saya sudah mendengar firman Tuhan?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apakah saya bersedia membiarkan firman itu mengubah cara saya memandang Allah, diri saya dan dunia?”

Kiranya setiap kali kita membaca Alkitab, mengikuti ibadah, atau mendengar firman Tuhan, kita tidak berhenti pada pengetahuan baru. Sebaliknya, kita memberi ruang bagi Roh Kudus untuk membentuk hati yang rendah, terbuka, dan siap diubah sehingga hidup kita semakin menghasilkan buah bagi kemuliaan Tuhan. Amin (DVA)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Khotbah Minggu