“… aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam lubuk hatiku.” (Mazmur 40:9)
Coba diingat-ingat: Sejak kapan kita terbiasa berkata “tolong” dan “terima kasih”? Sejak kapan kita terbiasa menawarkan bantuan kepada orang lain? Sejak kapan kita terbiasa mengerjakan tugas yang dipercayakan kepada kita dengan sebaik-baiknya? Dan sejak kapan kita terbiasa mendoakan orang lain dalam doa-doa kita? Sekarang, sebagai orang dewasa, hal-hal ini menjadi bagian dari keseharian kita. Kita melakukannya begitu saja, nyaris secara otomatis.
Padahal, saat masih kanak-kanak, kita diajari dan dilatih oleh orangtua. Kita sering lupa dan perlu diingatkan berulang kali. Mungkin orangtua kita berkata, “Ayo, bilang apa setelah menerima kue?” atau mungkin juga, “Kalau mau tidur, jangan lupa doakan Nenek, ya!” Jika hal-hal ini terus dilakukan selama bertahun-tahun, tentulah kita menjadi terbiasa. Itulah yang dialami oleh pemazmur. la melakukan firman Allah dengan senang.
Menariknya, hal-hal sederhana yang telah menjadi kebiasaan ini merupakan bagian dari melakukan kehendak Tuhan. Ternyata, jika dijalankan sejak kecil dan dijadikan kebiasaan sejak dini, melakukan kehendak Tuhan bisa terasa biasa saja—bahkan menyenangkan. Kita tidak menganggapnya sebagai beban berat yang dikerjakan dengan susah payah atau terpaksa. Apakah kita sudah terbiasa melakukannya? Jika belum, mulailah menjadikan kehendak Tuhan sebagai kebiasaan dalam hidup kita. [Pdt. Timur Citra Sari]
REFLEKSI:
Saat sudah terbiasa, melakukan kehendak Tuhan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan kegembiraan.
Ayat Pendukung: Yes. 22:15-25; Mzm. 40:1-11; Gal. 1:6-12
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.