“… karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” (Matius 3:15)
“… tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak- Mulah yang terjadi.” Kata-kata Tuhan Yesus yang dicatat dalam Injil Lukas 22:42 ini telah menginspirasi banyak film, lukisan, tarian, khotbah, pemahaman Alkitab, diskusi, dan sebagainya. Bagaimana Dia bisa setaat itu? Bagaimana Tuhan Yesus bisa seberserah itu? Apalagi jika memperhatikan penderitaan yang dialami-Nya sebagai dampak dari kata-kata tersebut. Waduh…
Yang jarang kita sadari, tindakan Tuhan Yesus di Taman Getsemani saat melepaskan kehendak-Nya dan mengikhlaskan kehendak Sang Bapa yang berlaku, bukanlah yang pertama kali. Peristiwa menjelang pembaptisan-Nya di Sungai Yordan, yang menjadi bacaan hari ini, kerap luput dari perhatian banyak orang. Saat Yohanes Pembaptis menunjukkan sikap “tahu diri” dan berkata, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu,” jawaban Tuhan Yesus adalah, “Biarlah hal itu terjadi. karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dari jawaban ini kita tahu betapa sejak awal pelayanan-Nya, Tuhan Yesus sudah selalu memprioritaskan Allah dibandingkan dengan diri-Nya sendiri. Episode di Taman Getsemani menegaskan dan menuntaskan apa yang telah la mulai di Sungai Yordan.
Melalui tindakan Tuhan Yesus, kita diingatkan bahwa hidup yang memprioritaskan Dia tidak bisa begitu saja terjadi. Dibutuhkan latihan, dimulai dari hal-hal sederhana dan sehari-hari. Kapan kita mau mulai berlatih demikian? [Pdt. Timur Citra Sari]
REFLEKSI:
Berlatih untuk memprioritaskan Tuhan mulai hari ini.
Ayat Pendukung: Yes. 42:1-9; Mzm. 29; Kis. 10:34-43; Mat. 3:13-17
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.




Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.