“Hamba-Ku Musa telah meninggal. Sebab itu, bersiaplah sekarang, seberangi Sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini…. (Yosua 1:2)
Apakah ada batas waktu bagi seseorang untuk berduka? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Sebab, bukan tidak mungkin, sekalipun seseorang telah berpulang cukup lama dan kita telah menerima kenyataan tersebut, kenangan tentangnya tetap membuat mata kita berkaca-kaca. Rasa kehilangan dirinya terasa seperti baru terjadi kemarin.
Rasa kehilangan yang mendalam semacam inilah yang tampaknya dirasakan umat Israel saat Musa tiada. Terlebih lagi, ketika Yosua mulai memimpin, kematian Musa masih tergolong baru (sekitar 30 hari; bdk. Ulangan 34:8). Saat duka dan kesedihan masih pekat menyelimuti umat Israel, TUHAN justru meminta mereka bersiap melanjutkan perjalanan. Apakah mereka sungguh siap untuk mulai berjalan lagi? Apakah Yosua sungguh yakin memimpin umat Israel? Apakah perjalanan ke depan akan baik-baik saja tanpa Musa bersama mereka?
Hidup ini adalah serangkaian perubahan yang terjadi terus-menerus. Kita tidak akan pernah benar-benar siap untuk merespons dan menghadapinya. Bisa jadi, kita melangkah sambil terisak-isak. Mungkin jalan di depan kita tampak kabur karena air mata masih menggenang. Namun, sebagaimana dulu TUHAN menguatkan Yosua dengan mengatakan, “… Janganlah gentar dan kecut hatimu, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau ke mana pun engkau pergi” (ay. 9), demikian pula Tuhan meyakinkan kita untuk terus melangkah. [Pdt. Timur Citra Sari]
REFLEKSI:
Saat merasa sedih, khawatir, atau ngeri, kita bisa terus melangkah karena Tuhan yang memimpin.
Ayat Pendukung: Yos. 1:1-9; Mzm. 72; Ibr. 11:32-12:2
Bahan: Wasiat, renungan keluarga.


Komentar Anda
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.