Umur Panjang, Tidak ditentukan oleh Manusia, tapi oleh Kondisi Kesehatannya

Umur Panjang, Tidak ditentukan oleh Manusia, tapi oleh Kondisi Kesehatannya

Belum ada komentar 45 Views

Setiap kali seseorang berulang tahun, lagu “Panjang Umurnya” selalu dinyanyikan. Hidangan mi pun wajib disajikan, karena mengandung harapan agar usia yang bersangkutan akan panjang seperti mi. Pada saat seperti ini, berbagai perasaan berkecamuk di hati. Ada perasaan sedih, karena makin tua berarti makin mendekati kematian. Namun bagi orang beriman, kesedihan ini bukan karena takut mati, tetapi karena keberadaannya di dunia untuk menyembah dan memuji Sang Pencipta belum sempurna dilakukan.

Setiap senior “bergulat” di dalam hatinya untuk memanfaatkan sisa umurnya dalam dunia yang akan ditinggalkannya. Namun ia pun mempersiapkan hari akhirnya sebelum kembali menghadap Sang Pencipta. Kapan hari kematian ini datang, tidak satu pun manusia mengetahuinya dan tetap menjadi misteri kehidupan. Yang dapat dilakukan hanya menjaga kesehatannya. Salah satu cara yang sangat umum dianjurkan adalah untuk terus beraktivitas (keep moving). Hal ini bukan berarti bahwa ia harus terus mencari nafkah, tetapi dalam arti aktivitas secara fisik. Salah satu kegiatan yang umum dilakukan adalah berjalan kaki. Dengan berjalan kaki, fungsi otak, jantung, ikatan sendi dan tulang, tetap bekerja. Manfaat lain adalah menekan risiko serangan jantung dan stroke, serta mencegah timbulnya penyakit kencing manis dan osteosporosis. Untuk dapat melakukan aktivitas fisik ini, diperlukan spirit dan kedisiplinan yang harus dipersiapkan sejak usia muda. Berolah raga jalan kaki saat subuh secara teratur dengan ritme sedang dan cepat akan banyak memberi faedah untuk kebugaran tubuh. Hal ini akan bertambah “nikmat” jika dapat dilakukan berdua oleh suami dan istri. Selain memelihara kekompakan, juga akan saling memberi semangat. Hal ini telah kami lakukan secara teratur selama lebih dari 40 tahun. Jika per tahun dilakukan 200 hari dengan jarak rata-rata 3,5 km, maka kami telah menempuh 28.000 km.

Agar tidak membosankan, maka aktivitas fisik ini dapat diselingi dengan acara wisata ke berbagai tempat. Lama waktu dan objek wisata yang dituju sebaiknya diprogramkan sendiri dan disesuaikan dengan berbagai manfaat tambahan yang akan diraih. Objek Tujuan Wisata (OTW) dapat berupa pemandangan alam, lintas alam sambil mendaki gunung, menjelajah gua, hot spring, pantai/desa nelayan dan perkampungan penduduk. Untuk membantu kelancaran wisata ini, kita dapat menggunakan jasa pemandu perorangan di daerah setempat yang akan membantu menyewa kendaraan dan pemesanan hotel. Usahakanlah menginap di hotel/resor yang berlokasi di pinggir kota yang bersentuhan langsung dengan alam dan kehidupan penduduk sekitarnya. Dengan cara ini, selain biaya lebih irit, kita juga dapat mengenal aneka ragam kehidupan di daerah tersebut. Berwisata dapat dilakukan di dalam dan di luar negeri, serta dikaitkan dengan melepas kangen kepada anak/cucu yang belajar/bermukim di lokasi yang berbeda dengan para senior. Dengan banyak melakukan wisata berpasangan, kita tidak saja memelihara kekompakan suami-istri, tetapi juga banyak mendapatkan pengalaman/pelajaran dari kehidupan rakyat di pedesaan. Sifat dan karakter yang lugu dan ramah di pedesaan selalu kita temui, dan hal ini berbeda dari apa yang kita alami di perkotaan. Keindahan dan keberagaman ciptaan-Nya yang kita kunjungi dan jumpai saat berwisata, akan mempertebal iman dan kepercayaan kita kepada-Nya.

Saat berwisata, kerinduan untuk memuji dan berdoa kepada Sang Pencipta harus tetap dilaksanakan. Namun untuk hal ini, mungkin terkadang kita mengalami berbagai kesukaran sebagai anggota Gereja Kristen Indonesia. Untuk berwisata di pulau Jawa hal ini tidak dirasakan, karena hampir di setiap pelosok ada gereja sealiran GKI, terutama setelah ketiga GKI (Jatim/1934-Jabar/1940-Jateng/1945) bersatu dalam Sinode Am GKI pada tanggal 26 Agustus 1988. Namun hal ini berbeda jika kita berkunjung ke berbagai pulau di luar Jawa. Apa lagi saat kita berada di luar negeri dan ingin mencari gereja yang bermitra dengan GKI, misalnya Protestant Church di Belanda, Uniting Church di Australia dan Presbyterian Church di Amerika Serikat. Pada umumnya para senior mencari gereja yang dekat tempat tinggal mereka agar tidak merepotkan anak/cucu untuk antar/jemput. Tentu lebih menyenangkan lagi jika kita dapat beribadah di gereja sesama orang Indonesia dan yang sealiran dengan GKI. Sebagai contoh, beberapa tahun silam, jika ke California kami beribadah di GKI Lake, di kota Pasadena. Namun entah apa sebabnya, pendetanya kabur dan jemaatnya terpaksa mencari tempat beribadah dan gembala lain. Dengan menjelajahi dunia maya, kami bertemu gereja sealiran GKI Jateng (Dutch Gereformeerd Kerk) di Cerritos, California. Tata cara kebaktiannya mirip GKI dan ternyata mayoritas jemaatnya keturunan Belanda yang berimigrasi ke Amerika.

Namun sulitnya, tempat itu terlalu jauh dari rumah serta berbeda gereja dengan anak/cucu. Lain halnya jika kami berada di Houston, Texas. Meskipun gereja First Presbyterian Church di Main Houston jauh dari rumah, tetapi anak/cucu kami adalah anggota jemaat gereja tersebut dan beribadah di sana. Kesukaran para senior ini, akhirnya mencari jalan pintas; ikut ke gereja bersama anak/cucu, meskipun pada mulanya canggung dan bengong. Liturgi jauh berbeda dan dentuman musik, terutama drum, di atas angka normal “50-70 desibel”. Bahkan ada pendeta tamu yang langsung menanyakan ketersediaan perangkat musik, terutama drum, sebelum ibadah dimulai. Terdengar beliau berkata: “Saya tidak bisa beribadah, jika tidak tersedia/dimainkan drum dalam suatu kebaktian.” Selama berkelana beribadah ini, banyak hal-hal yang menarik. Ada gereja yang bersifat sangat formal, misalnya harus menggunakan pakaian lengkap/jas dengan warna hitam saat musim dingin. Ada pula gereja yang sangat “santai”, demikian pula pendetanya berpakaian baju kaos oblong, celana jeans dan kadang-kadang bertopi koboi. Gereja ini banyak diminati oleh jemaat yang “trauma” formalitas, seperti bekas tentara perang Irak dan Afganistan serta kalangan yang nasibnya kurang beruntung. Jika kita pernah mendengar “Christal Church” di Anaheim, California, kita dapat beribadah dengan tetap berada di mobil, karena di lapangan parkir tersedia tiang/mikrofon untuk mengikuti ibadah gereja. Sayang gereja ini bangkrut dan saat ini telah dijual dan dijadikan sekolah Katolik. Banyak gereja yang para pendetanya berpenampilan laksana selebriti dengan pakaian/sepatu/ikat pinggang yang harus “branded’. Kendaraan yang digunakan pun harus bermerek terkenal dan jika bepergian selalu ingin di “First Class”.

Giant/Mega Churches banyak terdapat di Amerika Serikat dengan kampus dan fasilitas yang sangat luas/lengkap. Kebaktian dilakukan dalam berbagai cara, dan untuk berbagai klasifikasi jemaat. Ada yang untuk kalangan remaja dengan musik berirama “hot”. Ada yang untuk kalangan eksekutif muda dengan latar belakang musik “jazz” serta ada untuk kalangan senior dengan latar belakang irama musik lembut tahun 1960-an. Saat khotbah, semua tempat beribadah ini terpusat pada satu pendeta yang memberi khotbah melalui layar TV terpusat. Yang membuat Pendeta ini sangat sedih adalah jika jemaat berlomba pulang saat khotbah berakhir sebelum nampan kolekte (di GKI kantong dengan mulut makin sempit) diedarkan.

Dengan melakukan gerakan fisik dan mengisi spirit dengan beribadah, maka umur panjang tidak ditentukan oleh manusia, tetapi oleh kondisi kesehatan fisik dan spiritualnya.

Harry Tanugraha

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan