Tuhan Datang Menjenguk

Tuhan Datang Menjenguk

1 Komentar 5 Views

“Mas… masih belajar? Sudah hampir tengah malam…”

Bimo mengangkat pandangnya dari buku yang sedang ditekuninya. Arimbi, istrinya, berdiri di pintu ruang kerjanya yang sempit. Di sekitar Bimo buku-buku berserakan di meja dan di rak-rak di sepanjang dinding. Ia tersenyum melihat ketidakrapian kamar kerjanya yang pasti membuat Arimbi mengerutkan alis. Karena sudah kerap kali Arimbi memintanya untuk merapikan kamar kerjanya itu.

“Aku belum selesai Dik… tinggal satu buku ini… Tidurlah dahulu… aku menyusul,” jawab Bimo sambil kembali menujukan pandangnya pada buku di hadapannya.
“Ujiannya jadi besok pagi Mas…?”
“Ya. Tadi pagi aku mendapat surat kepastiannya dari kantor universitas…”

Bimo dan Arimbi adalah pasangan muda yang telah sekitar empat tahun menikah. Belum lama mereka tinggal di kota Salatiga karena Bimo diangkat menjadi kepala sekolah di sekolah guru Kristen di situ. Walau amat berbeda dengan kota Jakarta, kehidupan di kota Salatiga yang sejuk dan tenang amat mereka nikmati. Apalagi Arimbi juga segera mendapat pekerjaan untuk mengajar di salah satu dari dua sekolah menengah pertama Kristen di kota itu. Dan mereka beruntung karena Arimbi mendapatkan jam-jam mengajar yang membuatnya dapat membagi waktunya mengajar dengan mengurusi Gatot, putra mereka yang berusia hampir dua tahun.

Yang juga membuat Bimo tanpa ragu-ragu menerima tawaran pekerjaan di Salatiga adalah adanya sebuah universitas Kristen yang belum lama dibuka. Dan atas seijin pengurus yayasan, sejak setengah tahun terakhir ini Bimo terdaftar sebagai mahasiswa tingkat lanjutan di fakultas pendidikan. Bimo masih ingat betul kata-kata ketua pengurus yayasan yang mengelola sekolah yang dipimpinnya:

“Kami amat senang Pak Bimo mau terus mengembangkan diri. Dan melihat bagaimana Bapak bekerja selama ini, kami yakin Bapak akan dapat membagi waktu dengan baik. Hanya… maafkan kami bila dalam soal biaya kami tidak bisa membantu….”

Tentang pembiayaan kuliah Bimo dan Arimbi sudah merundingkannya sebelum Bimo mengajukan permohonan untuk studi sambil bekerja. Mereka sudah siap berhemat selama Bimo studi. Bahkan mereka sudah menyusun rencana studi bahasa Inggris bagi Arimbi bila Arimbi mendapatkan tambahan jam mengajar di tahun ajaran yang akan datang. Dan hingga saat ini mereka dapat mengatur keuangan mereka dengan baik walau tidak mudah. Hanya memang oleh karenanya mereka hampir tidak pernah berjalan-jalan ke jalan Solo untuk melihat-lihat dan berbelanja barang-barang sekunder.

“Tidak apa-apa Mas… bajuku masih cukup kok…”
“Tetapi sebentar lagi hari Natal, Dik…. Sebagai seksi acara kan kamu harus kelihatan rapi?”
“Ah, tenang saja. Percayalah…. istrimu akan bisa berimprovisasi…”

Tersenyum sendiri Bimo mengingat percakapan itu. Terkadang ia kasihan pada Arimbi dan agak menyesali keputusan mereka tentang studinya. Tetapi mereka telah bertekad untuk mengembangkan diri demi masa depan.

“Lho kok tersenyum sendiri…?”
“Ah… iya,” jawab Bimo sambil tertawa.
“Mudah-mudahan Mas bisa mempersiapkan diri dengan baik, walau waktunya agak mepet ya…?”

Bimo mengangkat mukanya, memandang wajah istrinya yang amat dicintainya dan yang kelihatan kuatir.

“Terima kasih…. Bagaimana si Gatot?”
“Ia tidur dengan nyenyak.”
“Sudah tidak panas…?”
“Sudah sejak sore tidak. Obat yang dari rumah sakit masih dilanjutkan. Rupanya manjur.”
“Tidurlah dulu, Dik…”
“Baik Mas…”

Beberapa bulan terakhir ini si kecil Gatot sering mencret-mencret. Untung tak jauh dari rumah mereka tinggal seorang dokter yang tak segan-segan menolong mereka. Sehingga setiap kali mereka dapat membawa Gatot kepadanya. Tetapi seminggu yang lalu Gatot panas tinggi.

“Sebaiknya Gatot dibawa ke rumah sakit, karena temperaturnya terlalu tinggi.”
“Diopname Dok…?” tanya Arimbi dengan suara tersekat.
“Jangan kuatir Ibu Bimo… Gatot tidak apa-apa. Tetapi panasnya ini harus diatasi.”

Enam hari Gatot dirawat di rumah sakit. Enam hari yang melelahkan. Bahkan amat melelahkan. Terutama bagi Bimo yang tidak bisa sepenuhnya meninggalkan tugasnya sebagai kepala sekolah, dan yang juga masih harus belajar untuk menghadapi ujian-ujian. Dan enam hari itu adalah juga enam hari yang mahal. Terutama mengingat keadaan keuangan mereka. Tetapi syukur Gatot yang mengalami gejala tipus, sembuh.

Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya dan bertanya-tanya apakah Arimbi masih mempunyai cukup uang, setelah pengeluaran besar yang tak terduga akibat sakitnya Gatot itu. Dengan menggigit bibir Bimo menyelesaikan tugasnya membaca buku di depannya. Sekitar jam satu dini hari ia selesai, mematikan lampu dan masuk ke kamar mandi.
Arimbi belum tidur ketika Bimo masuk ke kamar.

“Mas… besok ujiannya jam delapan?”
“Jam tujuh, karena salah satu penguji harus berangkat ke luar negeri… Kenapa, Dik?”
“Ah…besok saja lah…”

Merekapun tidur. Bimo yang kelelahan langsung pulas. Namun Arimbi yang juga letih itu belum bisa tidur. Walau hatinya bergalau ia tersenyum ia mendengar dengkur halus suaminya. Dan akhirnya lama-lama tanpa disadarinya sendiri Arimbi tertidur juga.

Pagi harinya Bimo sudah siap sejak jam enam. Ia telah mengilas kembali beberapa buku yang harus dibacanya. Ia telah siap.

“Aku mau berangkat agak awal, supaya tidak tergesa-gesa.”
“Baik…” jawab Arimbi.
“Ada apa sih sebenarnya… kamu kelihatan begitu tegang Dik?’
“Eh… Mas ujian saja dulu…. konsentrasi pada yang paling mendesak… begitu kan Mas mengajar para murid?”
“Masalah keuangan kita ya…?”
“Eh…ya…. tetapi nanti saja…”
“Tetapi sesudah ujian aku harus menemui ketua pengurus yayasan tentang calon guru biologi dari Yogya itu…”
“Oh kalau begitu… bisakah Mas mengajukan pinjaman kepada beliau…?”
“Begitu parahkah keadaan kita?”
“Sudahlah Mas… ujian dulu… maafkan aku. Seharusnya aku tidak mengatakannya sebelum Mas berangkat ujian….”

Bimo pun mengeluarkan sepedanya dan berangkat dengan kayuhan gontai. Sedangkan Arimbi duduk sambil berpikir keras bagaimana memecahkan persoalan mereka saat itu. Untung Gatot masih tidur dengan pulas. Tak lama kemudian Arimbi kelihatan mengangguk-angguk. Ia bergegas masuk ke kamar tidur, mengambil kunci, membuka lemari pakaian dan menarik laci.

“Dik…dik….diik?” seru Bimo yang dengan terengah-engah menyandarkan sepedanya lalu memasuki rumah.

Ketika tidak dilihatnya Arimbi di ruang tengah, ia masuk ke kamar tidur mereka. Dengan tertegun ia melihat Arimbi duduk di tempat tidur. Laci lemari terbuka dan di tangannya Arimbi memegang sebuah kalung emas. Satu-satunya kalung yang dimilikinya, pemberian ibunya ketika mereka menikah.

“Mas…? Ada apa kok kembali?”
“Mau kau apakan kalung itu, Dik?”

Arimbi tersenyum sedih, lalu dengan mantap ia menjawab:

“Mau kubawa ke kantor gadai Mas….”
“Belum perlu Dik…. Lihat ini…!”

Bimo dengan hati-hati merogoh saku bajunya dan mengeluarkan selembar uang yang basah.

“Aku menemukannya di tepi jalan.. Rupanya jatuh dan kehujanan….”
“Wah kasihan yang kehilangan uang itu…”
“Memang… tetapi cukupkah ini untuk sementara…?
“Cukup sekali. Terus terang aku tidak bisa belanja hari ini karena uang sudah kupakai membeli obat buat Gatot kemarin…”
“Kenapa tidak bilang dari kemarin Dik…?
“Aku tak mau mengganggu persiapanmu. Mas…”

Kedua suami istri itu berpandangan lalu berpelukan dengan penuh syukur. Tiba-tiba terdengar tangisan Gatot yang bangun dari tidurnya. Mereka pun berpisah. Arimbi mengurus Gatot. Bimo mengayuh sepedanya menuju ke universitas. Masing-masing dipenuhi rasa haru. Apa pun yang terjadi Natal kali ini akan menjadi amat istimewa. Tuhan telah menjenguk mereka…

Pdt. Purboyo W. Susilaradeya

1 Comment

  1. Hermawan

    Pak, saya share ya kisahnya. Menarik banget. Tersentuh hati saya. terima kasih banyak

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Refleksi
  • YESUS Kalah Voting
    Ingar bingar pesta politik di Jakarta sudah dimulai. Pilkada Gubernur DKI Februari 2017 mendatang sudah mulai gaungnya dengan masa...
  • Menjadi Saksi Bagi Sang Terang
    Kegaduhan dalam menyiapkan sukacita Natal sudah terasa sejak memasuki masa penantian pada Adven pertama. Mal dan toko-toko sekitar perumahan,...
  • Nasib Baik, Nasib Buruk, Siapa Tahu?
    Nasib Baik, Nasib Buruk, Siapa Tahu?
    Kumar Kashyap yang biasa dipanggil Prince — seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun—mengalami musibah. Ia terjebak di sumur sedalam...
  • Bermimpilah yang Besar
    Bermimpilah yang Besar
    “Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu.” (Amsal 16:3) Pada suatu hari yang panas tahun 1984, orang-orang di...
  • Apel-apel Yang Memar
    Apel-apel Yang Memar
    Beberapa tahun yang lalu, sekelompok wiraniaga menghadiri suatu pertemuan penjualan di Chicago. Mereka telah meyakinkan istri-istri mereka bahwa mereka...
Kegiatan