Apakah Aku Domba Yang Baik?

sebuah refleksi diri setelah lama mengikuti Sang Gembala Yang Baik

Belum ada komentar 1 View

Gembala Yang Baik “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba dombanya,” adalah ungkapan Yesus yang sangat terkenal, seperti yang dicatat dalam Yohanes 10:11. Pernyataan itu melegakan orang-orang yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat dan Tuhan mereka. Melalui pernyataan-Nya itu, Yesus tidak sekadar menggambarkan atau menjanjikan, tapi benar benar membuktikan bahwa Dia merelakan nyawa-Nya bagi kebaikan, keselamatan, dan bahkan kehidupan abadi ‘domba-domba’-Nya.

Bahwa Yesus adalah Gembala yang baik tak perlu diragukan lagi. Kasih, pemeliharaan, dan pengorbanan-Nya lebih dari membuktikan kebaikan itu. Kesediaan Nya untuk berinkarnasi menjadi manusia, meninggalkan takhta-Nya di surga mulia dan turun ke dunia guna menebus dosa manusia melalui kematian-Nya, adalah kebaikan tertinggi yang tidak ada bandingnya. Siapakah dan apakah manusia sehingga layak menerima kebaikan, kasih, dan bahkan pengorbanan-Nya?

Apakah yang diharapkan Yesus dari manusia melalui pengorbanan-Nya itu? Manusia dibebaskan dari belenggu dosa, ditebus dari hukuman kematian kekal karena dosa, kembali dalam persekutuan yang baik dan benar dengan Allah, dan bahagia dalam menjalani hidup dalam tuntunan dan terang Allah. Semua dilakukan-Nya demi kebaikan manusia.

Domba-domba Sang Gembala

Siapakah domba-domba Sang Gembala yang baik itu? Semua orang yang mendengar suara-Nya, datang kepada-Nya, percaya dan mengikuti Nya serta melakukan perintah-Nya. Gembala yang baik menghendaki dan menuntun domba-domba-Nya untuk menjadi domba yang baik. Apa pun dilakukan-Nya agar mereka menjadi domba yang baik, apakah itu bagi diri mereka sendiri, bagi kawanan domba yang lain, atau agar mereka tidak merepotkan Sang Gembala. Ia menjaga agar mereka tidak tersesat, terhindar dimangsa binatang buas, mendapat makanan sehat dan air minum yang menyegarkan, serta perlindungan dari cuaca panas, hujan, dingin, dan malam yang berbahaya.

Mereka yang mengaku pengikut Kristus seyogyanya adalah ‘domba domba’ yang baik, karena Kristus adalah Gembala yang baik. Dia telah mengupayakan kebaikan bagi seluruh umat-Nya melalui nasihat dan petunjuk-Nya, teladan hidup Nya, bahkan pengorbanan nyawa Nya. Dia menghendaki agar mereka memperoleh keselamatan sejak masih hidup di dunia serta tidak menjadi korban dari kondisi dan keadaan dunia sekitarnya.

Domba yang Tidak Paham

Namun, apakah dengan menjadi domba Yesus Kristus yang adalah Gembala yang baik, kita otomatis adalah domba yang baik? Ternyata, tidak demikian. Banyak yang tidak mengerti atau mengenal Sang Gembala dengan baik. Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami —Yohanes 14:8-9. Inilah domba yang tidak mengenal Gembalanya dengan baik.

Domba yang Berkhianat

Ada pula domba yang mengkhianati Nya. Tidak saja menyangkali, tapi bahkan menyerahkan kepada musuh Nya. Waktu Yesus masih berbicara, datanglah serombongan orang, sedangkan murid-Nya yang bernama Yudas, seorang dari kedua belas murid itu, berjalan di depan mereka. Yudas mendekati Yesus untuk mencium-Nya. Maka kata Yesus kepadanya: “Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?”—Lukas 22:47-48. Domba ini berpura-pura mengasihi, tapi malah menyerahkan Sang Gembala kepada musuh-musuh Nya untuk ditangkap, dihakimi, bahkan dibunuh. Yudas adalah domba yang diberi kewenangan mengatur kas dan keuangan kelompok, tapi membalasnya dengan sebuah pengkhianatan.

Domba yang Menyangkali

Selain itu ada juga domba yang menyangkali-Nya, bahkan hingga tiga kali pada saat yang berdekatan. Domba ini senantiasa menggembar-gemborkan bahwa ia siap berkorban bagi Sang Gembala. Bahkan menyatakan akan memberikan nyawanya bila ada yang mencelakakan-Nya. Tetapi Petrus menyangkal, katanya: “Bukan, aku tidak kenal Dia!” ….. Tetapi Petrus berkata: “Bukan, aku tidak!” ……. Tetapi Petrus berkata: “Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan.” Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.”—Lukas 22:57-61. Sebuah respons yang sangat kontras dengan idealisme, tekad, dan sesumbar yang dinyatakan dengan tegas di hadapan banyak orang.

Domba yang Menuntut Bukti

Bahkan ada domba yang tidak percaya pada kebangkitan-Nya sebelum ia mencucukkan jarinya pada tangan dan lambung yang terbuka karena luka itu. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: “Kami telah melihat Tuhan!” Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya. “ —Yohanes 20:25. Tomas lupa bahwa Sang Gembala pernah berkata akan bangkit pada hari yang ketiga setelah kematian-Nya. Ia tidak saja lupa, bahkan tidak percaya pada berita yang mengingatkannya pada perkataan Sang Gembala itu.

Domba yang Tidak Baik

Mereka adalah domba-domba dalam kawanan yang berada di lingkaran pertama Sang Gembala; berjalan, duduk, makan, minum, istirahat, bercengkerama, mendapatkan pengajaran, mendengarkan penjelasan, menjadi saksi perbuatan perbuatan kasih-Nya, bahkan ada anggota keluarga mereka yang disembuhkan dari sakit. Namun, tidak semuanya otomatis menjadi domba yang baik sesuai harapan Sang Gembala. Ketidakpahaman mereka adalah gambaran kesia siaan bergaul dekat dengan-Nya dalam waktu lama. Pengkhianatan dan penyangkalan mereka adalah kesia-siaan upaya untuk saling memercayai dan membangun loyalitas. Ketidakpercayaan mereka pun adalah manifestasi kesia-siaan untuk melihat, menyaksikan, memahami, dan mengendapkan semuanya dalam pikiran, hati, dan jiwa. Jadi, jika dilihat dari sudut pandang Sang Gembala yang telah berupaya sebaik-baiknya membuat dan mengarahkan domba domba-Nya kepada kebaikan, toh ada domba-domba yang hanya menyerap dan menelan kesia-siaan.

Apakah Aku Domba yang Baik?

Bagaimana dengan kita? Dikenal sebagai domba-domba seperti apakah kita oleh sang Gembala?Apakah kita layak disebut sebagai domba yang baik? Kita tidak berkhianat, kita tidak menyangkal, kita cukup paham siapa Sang Gembala, dan kita percaya bahwa Dia menolong, memelihara, bahkan mengorbankan nyawa-Nya bagi kita. Artinya, kita tidak seperti para ‘domba nakal dan bodoh’ yang dimiliki Sang Gembala dulu.

Respons yang Menyalibkan Kembali

Kita memang tidak berkhianat atau menyerahkan Sang Juru Selamat ke tangan musuh-Nya untuk ditangkap, dihakimi, dan dibunuh. Namun, apabila pola interaksi, cara hidup dan respons kita tak mencerminkan kasih Sang Gembala dalam hidup kita, dan bahkan benar-benar berlawanan dengan tuntunan-Nya sehingga banyak dicibir orang: “Wooow orang Kristen kok begitu? Jadi begitu rupanya pengikut Yesus ya?” bukankah kita ‘mencoreng’ nama-Nya, memberikan label buruk pada pengajaran-Nya, dan menyia-nyiakan pengorbanan Nya? Dan bukankah itu sama artinya dengan kita mengkhianati-Nya dan menyerahkan-Nya kepada musuh-Nya untuk dihakimi?

Menjadi orang Kristen tidak otomatis menjadi domba yang baik. Ketika kita mengisi hidup dengan ritual ritual yang menunjukkan diri sebagai orang Kristen—rajin ke gereja, suka memuji Tuhan melalui nyanyian nyanyian rohani, bersekolah di sekolah Kristen, senang mengikuti persekutuan-persekutuan, bahkan rajin membaca Alkitab—tapi nyata nyata mempraktikkan kerakusan, kecurangan, kejahatan, manipulasi, korupsi, penyelewengan kekuasaan, dan bahkan kesombongan —sekalipun dilakukan dalam nama Tuhan— bukankah perbuatan kita justru lebih menikam dan mengkhianati Tuhan dari belakang? Bukankah kita justru memperburuk nama Tuhan melalui perilaku kita? Sebab bukan melalui perkataan kita membawa orang kepada Tuhan, melainkan melalui perbuatan kita. Jika kita melakukan perbuatan perbuatan tercela, sebenarnyalah kita sedang mengkhianati Tuhan dan menyerahkan-Nya kepada orang-orang yang menyaksikan perilaku hidup kita yang buruk agar dihakimi dan disalibkan untuk kesekian kalinya.

Pelayanan yang ‘Membunuh’

Sering kali kita berkata bahwa kita mengasihi-Nya dan mewujudkannya dalam pelayanan kita. Kita menyibukkan diri dengan pelayanan ini-itu yang kemudian mendominasi waktu kita. Kita menjadikan gereja sebagai rumah kita yang kedua, dan bahkan lebih banyak berada di sana daripada di rumah sendiri. Tak jarang hal itu membuat anggota keluarga kita—pasangan, anak, orangtua— kehilangan kehadiran kita dan banyak tugas rumah tangga tidak tertangani dengan baik. Meskipun bergiat dalam pelayanan itu baik, tapi tanggung jawab kepada keluarga tidak boleh ditelantarkan. Tuhan mengingatkan kita di dalam Wahyu 2:4 – “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” Meninggalkan kasih yang semula berarti mengalihkan perhatian dan kasih pada sesuatu yang baru, dan meninggalkan hal-hal lama yang masih membutuhkan perhatian dan kepedulian.

Demikian juga jika kita pelayanan hanya berfokus pada pikiran kita sendiri dan kita menggunakan segala cara untuk menyingkirkan orang lain atau melakukan pembunuhan karakter demi menggolkan maksud kita, apakah kita tidak melakukan pengingkaran dan mencuri kemuliaan Tuhan? Bagaimana si korban akan bersukacita dalam pelayanannya? Tidak jarang ia menjadi kapok, atau bahkan angkat kaki karena tidak merasakan kasih dan kebersamaan dengan anak-anak Tuhan.

Dipercaya Melalui Penampilan Saja

Kita pasti juga mengatakan bahwa kita percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat. Kita tidak menyangsikannya seperti halnya Tomas, yang bahkan meminta bukti. Ketika Yesus mengatakan kepadanya dalam Yohanes 20:29 – Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Siapakah yang Yesus katakan sebagai orang yang bahagia, yang meskipun tidak melihat tapi percaya? Kita, yang percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat yang telah mengalahkan maut dan bangkit dari kematian-Nya, meskipun tidak melihat peristiwa itu. Namun apa benar kita lebih berbahagia daripada Tomas yang peragu itu? Apakah yang membuktikan iman kita kepada Yesus? Apakah dengan mengakui dan percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat yang menebus dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita dari hukuman maut yang kekal? Apakah dengan mengakui bahwa Dia adalah Juru Syafaat kita di hadapan Allah? Mari kita perhatikan Mat. 7:21 – “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga.” Jadi, bukan orang yang sekadar percaya dan menyebut nama Tuhan yang dikatakan berbahagia, melainkan yang juga melakukan perintah perintah Tuhan dalam hidup-Nya, yang mempraktikkan keyakinannya dan menghidupi iman itu dalam hidupnya.

Jika orang yang percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamatnya—termasuk yang menyebut diri hamba Tuhan— tidak melakukan pekerjaannya dengan kasih—sesuai hakikat Allah yang dilayaninya—maka ia adalah domba yang tidak baik, bahkan asisten gembala yang tidak baik. Hal ini seperti nenek sihir dalam cerita Snow White yang seolah-olah menawarkan kebaikan, padahal sedang merencanakan kehancuran dan penyesatan. Mengedepankan politik untuk melakukan pelayanannya dengan cara melemahkan bahkan mematikan gerak orang yang tak disukainya dalam pelayanan itu. Apalagi jika untuk meyakinkan orang lain ia sampai menghasut, memfitnah, dan menyebarkan saksi dusta atasnya.

Penampilan yang rohani dan penuh senyum tidak akan menutupi pandangan sang Gembala bahwa ia bukanlah domba yang baik. Meskipun sang Gembala tetap mengasihinya tetapi domba yang tidak baik sering jatuh pada pilihan tindakan yang salah sehingga akan membuatnya tidak sejahtera, bahkan ketika ia berada dalam kawanan domba yang digembalakan oleh Sang Gembala yang Baik. Ialah domba yang tersesat itu. Suka mereka-reka dengan pikiran dan perasaannya sendiri dan bukannya mengikuti tuntunan dan pemeliharaan sang Gembala. Ia memang tetap akan dicari, ditemukan, dan diselamatkan, namun ia sudah merasakan penderitaan yang disebabkan oleh ketidakbaikannya itu.

Bagaimana jika ia tidak ditemukan bahkan menolak untuk ditemukan oleh sang Gembala dalam kesesatannya itu? •

|SUJARWO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Refleksi
  • SLOW LIVING
    Setelah purna tugas, saya kadang-kadang merindukan suasana pedesaan seperti kehidupan masa kecil saya. Hidup tenang, sepi, tidak ada yang...
  • SESAMI vs LIYAN
    Sesami dan liyan. Sesami, yang saya bahas di dalam tulisan ini, tidak ada hubungannya dengan wijen, tetapi masalah sesama...
  • LEGACY
    Sebagai bangsa Indonesia, sejarah mencatat bahwa para pemimpin bangsa meninggalkan legacy atau warisan kepada generasi setelah mereka. Tidak usah...
  • Seribu Waktu
    Seribu Waktu
    Entah, kenapa terlintas di benakku banyak hal tentang waktu. Karena banyaknya, kusebut saja seribu … padahal satu pun tak...
  • QUO VADIS . . . .
    Dua kata latin di atas mengingatkan kita pada satu peristiwa yang amat menyedihkan dan menggores tajam di hati, suatu...