SLOW LIVING

Belum ada komentar 1 View

Setelah purna tugas, saya kadang-kadang merindukan suasana pedesaan seperti kehidupan masa kecil saya. Hidup tenang, sepi, tidak ada yang dikejar, semuanya berjalan sak madya, yang berarti hidup dengan yang ada, sederhana dan secukupnya. Selama tiga puluh tahun lebih hidup di Jakarta, kota metropolitan yang serba cepat dan bergegas, sepertinya banyak yang harus dikejar. Sewaktu saya bekerja di bagian marketing, setiap hari mobil saya mengantarkan saya sekitar 100 km untuk mencari sesuap nasi. Benarkah sesuap nasi? Kalau cuma sesuap nasi, mestinya tidak begitu cara kerjanya. Bisa lebih santai.

Alkisah sepasang suami istri, yang tinggal dan bekerja di Jakarta yang bising dan ruwet lalu lintasnya, memutuskan untuk pindah dan tinggal di lereng pegunungan di daerah Cianjur. Suasana di sana sejuk, sepi dan tenang. Mereka membangun rumah mungil di tengah perkebunan yang cukup luas. Mereka hidup dengan berkebun, menanam sayuran, buah-buahan, berbagai bunga, dan beternak lebah madu. Cara hidup demikian, mereka sebut ‘Slow living’. Menurut mereka, kunci kebahagiaan dengan hidup slow living adalah menjaga hati dan pikiran agar selalu bersyukur dan merasa cukup. Hati yang merasa cukup ini gampang diucapkan, tetapi sangat sulit didaratkan ke kehidupan nyata. Bukankah sebagian koruptor yang tertangkap KPK adalah orang kaya yang sudah sangat berlebihan hartanya, tetapi masih tega untuk korupsi?

Salah satu daerah di benua Afrika mempunyai cara unik untuk menangkap monyet. Mereka membuat alat jebakan dari tempurung kelapa yang ditanam di tanah, diberi lubang di atasnya yang cukup untuk memasukkan tangan seekor monyet. Di dalam tempurung diisi segenggam kacang. Jika monyet mengambil kacang di genggamannya, maka tangan tersebut tidak bisa keluar. Untuk melepaskan diri dari jebakan tersebut sangatlah gampang, tinggal melepaskan kacangnya, maka tangan bisa ditarik keluar. Namun anehnya, tidak ada satu monyet pun yang rela melepaskan genggamannya dan akhirnya mereka terjebak dan ditangkap. Monyet kehilangan kemerdekaannya demi segenggam kacang. Apalah artinya memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawa?

Pandemi COVID-19 telah berlangsung lebih dari setahun dan mengubah kehidupan manusia di dunia. Jalan jalan keliling dunia sudah tidak bisa kita lakukan. Makan malam di rumah makan beserta keluarga atau kolega untuk sementara ditunda. Mondar mandir di jalan raya dikurangi, shopping dibatasi. Memakai masker dan menghindari bersalaman sudah menjadi kewajiban. Berpelukan, cipika-cipiki ditiadakan. Kebiasaan baru ini tidak saja untuk menjaga diri, tetapi juga untuk menyelamatkan orang lain. Barang-barang branded dari mobil, tas, jam tangan dan sebagainya tersimpan di garasi dan lemari. Semuanya mengajarkan kepada kita, bahwa tanpa benda-benda itu pun kita masih bisa hidup. Ternyata hidup kita itu simpel dan sederhana. Kemewahan kemarin ternyata hanya artifisial, tidak hakiki. Tuhan mencelikkan mata rohani kita, yang selama ini telah salah memprioritaskan hal-hal yang semu. Dia juga membuka hati kita untuk hidup bermanfaat bagi orang lain. Banyak celah dibuka untuk kita masuki dan berbagi berkat.

Pandemi ini semestinya mencelikkan mata rohani kita. Selama ini ternyata kita sudah salah memprioritaskan sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu penting. Hidup kita sudah memboroskan energi dan emosi untuk memperjuangkan hal yang tanpa itu pun kita masih bisa hidup dengan baik. Hidup sehat dan bahagia ternyata sederhana. Oleh karena itu tepat jika kita diminta untuk memprioritaskan kerajaan surga, maka hal-hal lain akan dicukupkan. Dicukupkan! Bukan dilebihkan. Masalahnya adalah: Untuk menjalani kehidupan dengan rasa cukup tidaklah gampang. Tuhan tahu kebutuhan kita. Seberapa cukup kita, sebetulnya sudah disediakan Nya. Namun nafsu serakah kita yang merusak kebahagiaan kita. Merasa kurang terus akan menggerus rasa syukur dan akhirnya menjauhkan kita dari rasa bahagia.

Marilah sebagai orang percaya, kita belajar dari pandemi ini. Mungkin Tuhan sedang menguji iman kita dan memurnikan motivasi kita di dalam mengikut Dia. Mari kita makin mendekatkan diri dalam pelukan kasih Tuhan, sehingga hidup kita melimpah dengan kasih-Nya, dan orang-orang di sekitar kita merasakan kasih itu. Hiduplah berbagi, karena dengan berbagi kita mencukupkan orang lain. Jika kita mengambil secukupnya, semua orang akan tercukupi, karena Tuhan menyediakan segala sesuatu cukup. Sebaliknya, keserakahan akan mengambil hak orang lain. “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan” (2 Korintus 8:14).

|EDDY NUGROHO

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Refleksi
  • Apakah Aku Domba Yang Baik?
    sebuah refleksi diri setelah lama mengikuti Sang Gembala Yang Baik
    Gembala Yang Baik “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba dombanya,” adalah ungkapan Yesus yang...
  • SESAMI vs LIYAN
    Sesami dan liyan. Sesami, yang saya bahas di dalam tulisan ini, tidak ada hubungannya dengan wijen, tetapi masalah sesama...
  • LEGACY
    Sebagai bangsa Indonesia, sejarah mencatat bahwa para pemimpin bangsa meninggalkan legacy atau warisan kepada generasi setelah mereka. Tidak usah...
  • Seribu Waktu
    Seribu Waktu
    Entah, kenapa terlintas di benakku banyak hal tentang waktu. Karena banyaknya, kusebut saja seribu … padahal satu pun tak...
  • QUO VADIS . . . .
    Dua kata latin di atas mengingatkan kita pada satu peristiwa yang amat menyedihkan dan menggores tajam di hati, suatu...