Tepuk Tangan dalam Ibadah

Tepuk Tangan dalam Ibadah

2 Komentar 509 Views

Tepuk Tangan dalam ibadah

Pak Pdt yang baik,

Belakangan ini, jemaat sering bertepuk tangan di dalam ibadah setelah sebuah lagu pujian dipersembahkan oleh sebuah paduan suara, grup kolintang atau penyanyi tunggal, sebagai apresiasi terhadap indahnya lagu tersebut. Akibatnya, beberapa anggota paduan suara merasa kecewa apabila jemaat tidak memberi apresiasi dengan tepuk tangan, karena merasa bahwa lagu yang dinyanyikannya itu tidak bagus.

Sebenarnya, lagu pujian itu ditujukan kepada siapa? Kepada Tuhan atau kepada jemaat? Dan bagaimana seharusnya sikap jemaat di dalam mengapresiasi lagu pujian tersebut?

(Deny-Jkt)

Penghormatan pengantin terhadap Paduan suara

Pak Pdt. Rudianto Yth.,

Saya memperhatikan bahwa di dalam beberapa ibadah sakramen pernikahan yang saya ikuti akhir-akhir ini, pengantin berdiri dan menghadap paduan suara, ketika paduan suara melantunkan sebuah lagu pujian, sebagai bentuk penghormatan pengantin atas persembahan lagu tersebut. Apakah hal itu tidak keliru?

Di dalam pengertian saya, lagu-lagu pujian di dalam sebuah ibadah dipersembahkan kepada Tuhan dan bukan kepada pengantin, sehingga pengantin seharusnya tidak berdiri dan hanya mengamininya di dalam hati. Benarkah pengertian saya itu?

(Elsa-Cinere)

Jawab:

Deny dan Elsa yang baik,

Karena pertanyaan kalian hampir sama, saya jawab bersamaan saja ya… Dalam iman Kristiani, relasi manusia dengan Tuhan itu tidak bisa dipisahkan dari relasinya dengan sesama. Dan sebaliknya, relasi manusia dengan sesamanya seharusnya berdasarkan relasinya dengan Tuhan. Ini berlaku untuk semua jenis relasi, baik relasi suami-istri, orangtua–anak, pendeta–umat termasuk juga relasi antara umat dengan sesamanya dalam hal ini kelompok paduan suara. Kita selaku berada dalam segitiga antara Allah dan manusia:

Itulah sebabnya dalam Alkitab disaksikan, bahwa apa yang dilakukan manusia buat sesamanya sesungguhnya adalah yang dia lakukan buat Tuhan (Matius 25:40). Kita juga diajak untuk melakukan segala sesuatu (termasuk buat sesama kita) di dalam nama Tuhan dan untuk kemuliaan Allah (Kol. 3:17; I Kor. 10:31).

Dalam rangka itu, kita sebagai anak-anak Tuhan memang harus berhati-hati dalam menjaga perilaku kita. Kadang-kadang apa yang kita lakukan bisa saja menjadi batu sandungan buat orang lain sehingga mereka tidak bisa memuliakan Allah, meskipun maksud kita sesungguhnya baik. Bahkan kadang-kadang kita dipanggil untuk mengorbankan kebebasan kita demi menjaga hati nurani orang lain (1 Kor. 10:29-31). Sungguh berat ya? Tidaklah! Sepanjang kita menghayatinya untuk Tuhan!

Nah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan kalian. Sebenarnya lagu pujian dalam ibadah itu ditujukan buat siapa? Jelas buat Tuhan, namun kembali kita harus ingat bahwa apa yang kita lakukan buat Tuhan itu proyeksinya adalah kepada sesama kita, dalam hal ini umat yang mendengarkan. Oleh karena itu sangat wajar bila umat atau pengantin kemudian memberikan apresiasinya, apa pun bentuknya. Tetapi sekiranya tidak ada apresiasi pun kelompok paduan suara tidak perlu kecil hati karena mereka melakukannya untuk Tuhan. Justru kekecewaan kelompok paduan suara ini, meskipun dapat dipahami secara manusiawi, secara imani perlu dipertanyakan. Apa yang mereka cari? Dan kepada siapa mereka mempersembahkan pujian itu?

Seharusnya mereka melakukan yang terbaik buat Tuhan dan ketika mereka sudah melakukan hal itu, maka tidak ada tepuk tangan pun tidak ada masalah. Yang perlu mereka tangisi adalah ketika mereka belum memberikan yang terbaik buat Tuhan!

Dari sisi umat, sikap yang membeda-bedakan memang bisa menjadi batu sandungan. Karena itu lebih baik umat tidak memberikan tepuk tangan, tetapi masukan entah dalam wujud pujian atau kritikan kepada kelompok paduan suara, seusai ibadah. Masukan semacam itu sesungguhnya lebih bermanfaat ketimbang tepuk tangan.

Lalu bagaimana dengan pengantin yang berdiri menghadap paduan suara yang sedang menyanyi? Benar kelompok paduan suara itu menyanyi buat Tuhan, tetapi kembali proyeksinya adalah kepada sesama, dalam hal ini selain umat, khususnya pengantin. Karena itu bagi saya, wajar saja bila pengantin mengapresiasi dengan berdiri, meskipun tidak salah juga bila pengantin duduk dan mengamini lagu tersebut. Toh, pada kenyataannya, tidak pada semua momen ibadah pernikahan pengantin dapat berdiri menghadap paduan suara. Karena itu, saya tetap menasihatkan, bahwa bentuk apresiasi yang terbaik adalah sebuah masukan, entah pujian atau kritikan yang membangun.

Oleh karena itu mari kita membiasakan memberikan masukan kepada paduan suara, bahkan kepada semua pendukung ibadah, seperti pendeta, prokantor, pemusik, lektor dan banyak lainnya. Sesungguhnya, sebuah masukan konkret dan membangun lebih berguna ketimbang ribuan tepuk tangan! Dan buat seluruh pendukung ibadah, lakukanlah yang terbaik, siapkanlah yang terbaik, karena Anda melakukannya buat Tuhan!

2 Comments

  1. Tiyo

    Sudah saatnya kita belajar memberi masukan dengan baik. Salah-salah, masukan kita salah dimengerti.. Kalau ada jemaat memberi masukan utk Pendeta misalnya seperti ini, “Kotbahnya tadi bagus sekali, biasanya kalo bapak kotbah bikin saya ngantuk..” (Kalo pak Rudi diberi masukan spt itu akan senyum atau ngernyit? hehe)

    Kadang pendukung ibadah tidak diperlakukan sama, contoh: PS diapresiasi dengan tepuk tangan, tapi soundman (operator sound system) disapa pun tidak. Apakah yang dilakukan Paduan Suara itu “pelayanan” sedangkan soundman itu “cuma mengerjakan tugas”?

    Salam,
    Tiyo dari GKI Bintaro (ditulis biar keliatan exist hehe)

  2. Jocelyn

    Menurut saya segala bentuk ekspersi perasaan kita secara khususnya didalam sebuah kebaktian seperti
    terharu, mengeluarkan air mata,bersyukur , berterima kasih ataupun tepuk tangan tidak bertentangan dengan ajaran Calvein .asal dilakukan dengan cara yg tidak menganggu kebaktian yg sedang berlangsung. Seorang yg mengerti akan hal ini dapat bertepuk tangan pelan-pelan tanpa suara dan apakah hal dilarang ? Saya kira tidak. Saya khawatir jika tepuk tangan inipun tidak boleh maka nantinya orang juga tidak boleh menangis , terharu dll.
    Jadi menurut saya fokusnya bukan pada tepuk tangan akan tetapi lebih pada menjaga ketertiban dalam sebuah ibadah
    Salam
    Jocelyn

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Persembahan Bagi Tuhan
    Yth. Pak Pendeta, Mengapakah ragi dan madu dilarang digunakan bangsa Israel pada saat membakar hewan-hewan korban di Kemah Suci,...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan