Tangan yang Berdoa

Tangan yang Berdoa

Belum ada komentar 23 Views

Pada abad kelima belas, di sebuah desa kecil di Nuremberg, hiduplah sebuah keluarga dengan delapan belas anak. Delapan belas! Hanya untuk menyediakan makanan di meja untuk mereka, sang ayah dan kepala rumah tangga yang berprofesi sebagai tukang emas, bekerja hampir delapan belas jam sehari dan melakukan setiap pekerjaan lain yang dibayar, yang bisa diperolehnya di lingkungannya.

Meskipun kondisi mereka tampaknya tidak ada harapan, dua anak Albrecht Durer the Elder memiliki impian. Keduanya ingin mengembangkan bakat mereka di bidang seni, tapi mereka tahu betul bahwa ayah mereka secara finansial tidak pernah akan dapat mengirim salah satu dari mereka ke Nuremberg untuk belajar di Akademi.

Setelah berdiskusi panjang di malam hari di tempat tidur yang padat, kedua anak laki-laki itu akhirnya mengadakan kesepakatan. Mereka akan melemparkan sebuah koin. Yang kalah akan pergi ke pertambangan di dekat rumah mereka dan dengan penghasilannya, akan mendukung saudaranya untuk belajar di Akademi. Kelak, empat tahun kemudian, kalau saudara yang memenangkan lemparan koin itu menyelesaikan studinya, ia akan mendukung saudara lainnya untuk belajar di Akademi, baik dengan penjualan karya seninya atau, jika perlu, juga dengan bekerja di pertambangan.

Mereka melempar koin pada hari Minggu pagi setelah gereja. Albrecht Durer memenangkan lemparan itu dan berangkat ke Nuremberg. Albert pergi bekerja di pertambangan yang penuh bahaya dan selama empat tahun membiayai saudaranya, yang karyanya di akademi segera meraih sensasi besar. Etsa-etsa Albrecht, ukiran-ukiran kayu, dan lukisan-lukisan minyaknya jauh lebih baik ketimbang kebanyakan profesor, dan pada saat ia lulus, ia mulai mendapatkan biaya yang cukup besar untuk karya-karyanya yang dipesan orang.

Ketika seniman muda itu kembali ke desanya, keluarga Durer mengadakan makan malam meriah di halaman mereka untuk merayakan kepulangan Albrecht yang gemilang itu. Setelah makan malam yang panjang dan berkesan, diselingi dengan musik dan tawa, Albrecht bangkit dari posisi terhormatnya di kepala meja untuk bersulang bagi tahun-tahun pengorbanan saudara tercintanya yang telah memungkinkan Albrecht memenuhi ambisinya. Kata-kata penutupnya ialah, “Dan sekarang, Albert, saudaraku yang diberkati, sekarang giliranmu. Sekarang kamu dapat pergi ke Nuremberg untuk mengejar impianmu, dan aku akan mengurusmu.”

Semua kepala menoleh dengan penuh harapan ke ujung meja di mana Albert duduk, dengan air mata bercucuran di wajahnya yang pucat, dan sambil menggeleng-gelengkan kepala ia menangis dan berulang-ulang berkata, “Tidak… tidak… tidak…”

Akhirnya Albert bangkit dan menyeka air mata dari pipinya. Ia memandang ke meja panjang itu pada wajah-wajah yang dicintainya, dan kemudian, sambil mengangkat tangan-tangannya di dekat pipi kanannya, ia berkata lirih, “Tidak, saudaraku. Aku tidak bisa pergi ke Nuremberg. Sudah terlambat bagiku. Lihatlah… lihat apa yang telah dilakukan kerja empat tahun di pertambangan bagi tangan-tanganku! Setiap tulang di jari-jariku sekurang-kurangnya sudah hancur satu kali, dan belakangan ini aku menderita rematik yang begitu buruk di tangan kananku sehingga aku bahkan tidak bisa memegang gelas untuk kembali bersulang denganmu, apalagi membuat garis halus pada perkamen atau kanvas dengan pena atau kuas. Tidak, saudaraku… bagiku hal itu sudah terlambat.”

Lebih dari 450 tahun telah berlalu. Sekarang, ratusan lukisan potret sangat indah yang dibuat oleh Albrecht Durer, etsa pena dan silver point, cat air, arang, ukiran kayu, dan ukiran tembaganya, tergantung di setiap museum besar di dunia, tapi besar kemungkinannya Anda, seperti kebanyakan orang, hanya akrab dengan satu karya Albrecht Durer. Bahkan mungkin Anda memiliki reproduksinya yang tergantung di rumah atau di kantor Anda.

Pada suatu hari, untuk memberi penghormatan kepada Albert bagi semua hal yang telah dikorbankannya, Albrecht Durer dengan susah payah menggambar tangan saudaranya yang rusak itu dengan telapak tangan yang tertangkup dan jari-jari tipis yang mengarah ke langit. Ia hanya menamakan lukisan yang indah itu ‘Tangan,’ tetapi seluruh dunia segera membuka hati mereka untuk karyanya yang luar biasa itu dan mengganti nama bagi penghargaan cintanya tersebut ‘Tangan yang Berdoa.’

Lain kali, jika Anda melihat reproduksi ciptaan yang menyentuh hati ini, pandanglah sekali lagi. Biarlah hal itu mengingatkan Anda, bahwa tak seorang pun, ya tak seorang pun yang membuatnya seorang diri!

(Sumber Tak Diketahui)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan