Sudahkah Kita Melakukan Kontak Fisik dengan Anak-anak Kita?

Sudahkah Kita Melakukan Kontak Fisik dengan Anak-anak Kita?

Belum ada komentar 6 Views

Apakah kita pernah mengungkapkan cinta kepada anak-anak kita melalui sentuhan fisik? Sebuah studi tentang orang tua dan anak menunjukkan bahwa sentuhan fisik yang dilakukan orang tua kepada anak-anaknya hanya terjadi saat mereka melakukan hal-hal yang diperlukan saja. Misalnya, orang tua hanya menyentuh anak-anak mereka saat memakaikan pakaian mereka atau membuka pakaian mereka, atau saat orang tua membantu anak keluar dari mobil. Padahal sentuhan fisik diperlukan lebih dari sekadar itu.

Dr. Ross Campbell mengatakan bahwa sentuhan fisik adalah salah cara untuk menunjukkan cinta kepada anak-anak kita. Karena dengan sentuhan fisik, orang tua memiliki kesempatan yang luar biasa untuk mengajarkan banyak hal kepada anaknya. Beberapa pelajaran yang diterima oleh seorang anak saat ia mengalami sentuhan fisik dari orang tuanya:

1. Memberi Keamanan secara emosional

Ada beberapa keadaan di dalam hidup anak-anak kita, di mana mereka merasa tidak nyaman dan aman. Misalnya saat mereka menghadapi tes atau ulangan. Ada ketakutan di dalam hati mereka, jangan-jangan mereka gagal. Setelah itu, banyak juga memikirkan akibat dari kegagalan yang bisa mereka alami. Misalnya, mereka akan malu di depan teman-temannya, mereka dimarahi oleh orang tuanya, atau mereka mengalami seleksi sosial di mana teman-temannya menyingkirkan keberadaannya.

Dalam keadaan seperti itu, orang tua perlu memberikan dorongan dan pengukuhan bahwa mereka akan merasa aman jika berada di dekat orang tua. Peganglah bahunya sambil mengatakan, “Papa mendoakan kamu. Lakukan yang terbaik, Tuhan akan menolongmu!” atau saat anak-anak kita akan pergi meninggalkan kita untuk sejangka waktu karena harus mengikuti program sekolah atau gereja, seperti retret atau rekreasi. Sebagai orang tua kita dapat mengusap punggungnya sambil berkata, “Hati-hati di jalan ya. Bersenang-senanglah bersama temanmu.” Bahkan ketika seorang anak akan berhadapan atau berjumpa dengan orang yang memusuhinya, dari kendaraan kita mengatakan sambil memegang tangannya dan mengatakan, “Papa tahu, Tuhan akan menolongmu untuk mengampuninya dan bermain kembali bersamanya!”

Saat gejolak emosi anak mulai meninggi, kata-kata dan sentuhan fisik membantu anak untuk menetralkan perasaannya. Di titik itulah juga kita sebagai orang tua menjadi sangat efektif menyentuh hati mereka dan masuk ke dalam jendela hatinya. Apapun yang kita katakan akan menjadi lebih efektif karena mereka sedang membutuhkannya.

2. Membangun harga diri anak

Ada kalanya anak-anak kita gagal dalam menjalani “kompetisi” hidup. Mereka merasa tidak seperti anak-anak lain atau teman-teman mereka. Mereka lebih lemah dan tidak berhasil melakukan sesuatu yang membanggakan. Apa yang akan kita lakukan saat mereka mengalami hal tersebut?

Suatu kali seorang ayah memeluk bahu anaknya dalam sebuah pertandingan baseball. Ia bukan hanya memeluk bahu anaknya yang baru saja selesai bertanding, tetapi ia sesekali menepuk-nepuk bahu anaknya dan memberikan pandangan yang dalam ke arah mata anaknya. Entah apa yang dikatakannya, namun saat ia mengatakan hal yang lucu, mereka tertawa bersama dan ayah itu memeluk anaknya.

Apakah kita juga melakukan itu kepada anak-anak kita? Ada saat di mana anak-anak kita diberi kesempatan oleh sekolah atau gereja untuk menunjukkan talenta yang mereka miliki. Usahakanlah hadir bagi mereka bukan hanya sekadar menyaksikan mereka, tetapi datangilah mereka dan berikan komentar-komentar yang membuat anak-anak kita tahu, bahwa kita sungguh menghargai usahanya. Perkataan yang membangun menurut Amsal 12:25 menggembirakan hati. Anak-anak yang gembira karena orang tuanya, secara tidak langsung belajar bahwa mereka berharga di mata orang tua.

Penghargaan itu bukan semata-mata karena mereka sudah melakukannya dengan sempurna, tetapi karena mereka mau dan berani menunjukkan kemampuan mereka. Sehingga apapun hasilnya, bukan hasil dari pertunjukan mereka yang menjadi tolak ukur penilaian dan penghargaan kita kepada mereka. Tetapi upaya mereka untuk menunjukkan kemampuan mereka, apapun risikonya, itulah yang membuat kita sebagai orang tua, bangga terhadap mereka. Kebanggaan kita sebagai orang tua sangatlah membangun kesadaran anak akan harga dirinya.

3. Membantu anak memahami kasih Kristus

Banyak anak, sulit memahami kasih Kristus karena mereka seringkali dipukul oleh orang tuanya. Saat kita atau gereja mengatakan bahwa Bapa di Sorga mengasihi mereka, mereka langsung teringat akan bapak mereka yang kadangkala marah, memukul, atau sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

Menurut Bruce Power (1982) dalam tahap pertumbuhan iman, di usia 0-6 tahun anak-anak dapat belajar tentang kasih Kristus atau tentang imannya melalui pengalaman saat mereka diperhatikan dan dipedulikan. Perhatian dan kepedulian yang dilakukan secara konsisten dan berulang itulah yang akan membuat anak-anak kita tahu bahwa mereka dikasihi. Bersamaan dengan kasih yang kita berikan itu juga, kita dapat membisikkan kepada mereka bahwa Tuhan Yesuspun mengasihi mereka.

Suatu kali Ela berteriak dan membentak. Dia kesal karena keinginannya tidak terpenuhi. Lalu ibunya mengelus dadanya sambil berdoa, “Tuhan Yesus, tolong supaya Ela sabar.” Sambil menangis Ela menjawab, “Aku tidak mau sabar!” Untuk kedua kalinya sentuhan fisik dilakukan sang ibu dengan memeluk dia erat-erat sambil mengelus punggungnya dan mengatakan, “Aku menyayangimu… Ela! Tuhan Yesus, tolong beri kesabaran kepada Ela!” Ela berontak berkali-kali namun pelukan ibunya lebih kuat dari elakan tangannya. Sampai akhirnya kekuatannya habis, ia lemas dalam pelukan ibunya dan diam-diam ia memeluk balik ibunya sebagai respon kenyamanannya. Dalam keadaan tidak berdaya seperti itu, sang ibu justru menciumi dia dan mengatakan, “Terima kasih Tuhan Yesus. Ela memang kesal dan lelah, berikan terus kesabaran kepada Ela!”

Dr. Ross menyetujui bahwa sentuhan fisik serta tatapan mata orang tua kepada anak, haruslah terjadi setiap hari. Hal ini semestinya terjadi secara alami, tanpa paksaan dengan tujuan memberikan kenyamanan buat anak. Mengapa? Karena sentuhan fisik adalah hadiah terindah yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anaknya.

Sayangnya ada banyak orang tua tidak memahami hal ini. Misalnya orang tua dari Tom. Ia tidak menyadari bahwa hal ini penting bagi anaknya. Ia hanya tahu bahwa seorang anak laki-laki harus diperlakukan seperti pria dewasa. Mengapa? Karena iapun mendapatkan perlakuan ini dari ayahnya. Atau orang tua lainnya, mereka lebih memilih menonton TV sementara penjaga anaklah yang meninabobokan anak-anak mereka di pelukannya. Padahal saat seorang anak tidur dalam genggaman dan pelukan seseorang, mereka merasa nyaman karena mendapatkan kehangatan dan mendengarkan detak jantung penggendongnya. Itu sebabnya, anak-anak akan ketagihan dengan orang-orang yang meninabobokannya sehingga banyak dari mereka hanya bisa tidur jika orang yang biasa meninabobokannyalah yang melakukannya.

Beberapa kebutuhan sesuai tingkat perkembangan usia anak menurut Dr. Ross:

Para Bayi sampai usia 7 tahun, mereka membutuhkan sentuhan fisik dengan cara dipeluk, tidur berdekatan, ditimang dan dicium. Survei membuktikan bahwa bayi perempuan membutuhkan 5 kali sentuhan fisik lebih banyak dibandingkan bayi laki-laki.

Untuk anak-anak yang lebih besar dari itu, apalagi anak laki-laki, mereka tidak lagi terlalu membutuhkan ciuman dan pelukan penuh. Yang mereka perlukan adalah sentuhan fisik yang lebih sesuai dengan gaya seorang anak laki-laki “Boy Style” seperti bergulat bersama, saling mendorong, tepukan di punggung, sebab hal itu sudah bermakna sama seperti pelukan dan ciuman. Itu sebabnya, waktu yang sangat efektif untuk memberikan sentuhan fisik bagi anak laki-laki adalah saat usianya 12-18 bulan. Berbeda dengan anak-anak perempuan, justru semakin usia mereka beranjak dewasa, mereka justru tetap memerlukan cinta kasih dalam bentuk sentuhan fisik yang mendalam, termasuk dari ayah mereka.

Mengapa bagi anak perempuan, hal sentuhan fisik lebih diperlukan? Karena hal itu merupakan persiapan mereka menuju usia dewasa. Melalui hal tersebut, anak-anak perempuan membangun gambaran dirinya dan mendapatkan identitas seksualnya. Maksudnya, ia semakin yakin bahwa ia adalah perempuan yang berharga dengan pengalaman yang dihargai oleh orang tuanya melalui sentuhan fisik yang diungkapkan dengan penuh cinta kasih.

Seorang pemudi, Ani, mengatakan bahwa satu-satunya orang yang mengatakan bahwa dia berharga adalah ayahnya. Ia ingat bahwa ayahnya seringkali mengatakan bahwa ia cantik. Itu sebabnya, sekalipun tidak ada seorangpun yang pernah mengatakan demikian kepadanya, harga dirinya terbangun saat ia mengingat kata-kata ayahnya.

Pertanyaannya, apakah kita sudah melakukannya terhadap anak-anak kita? Jangan biarkan mereka mengalami hadiah terindah ini dari orang lain selain orang tuanya. Karena kesempatan itu diberikan Tuhan kepada kita, orang tua mereka.

Pdt. Riani Josaphine

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan