Suami dan Ayah  Yang Berharga di Mata  Keluarga dan Allah

Suami dan Ayah Yang Berharga di Mata Keluarga dan Allah

2 Komentar 195 Views

“Äny man can be a father, but it takes a special man to be a daddy”

I. Panggilan, Harapan dan Tantangan

Momento mori. Ingatlah akan hari kematianmu. Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa sebagai ciptaan yang fana, hari-hari kita sudah ada angka jumlahnya yang hanya Tuhan yang tahu persisnya. Karenanya, yang penting bagi kita bukan berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita hidup. Bukan berapa banyak waktu yang kita punyai, tetapi berapa banyak yang telah dan dapat kita buat dan hasilkan di dalam waktu yang kita punyai itu.

Bagi kita, kaum laki-laki yang dianugerahkan Tuhan dengan istri dan anak, salah satu pertanyaan dan tantangan terbesar dalam hidup ini adalah, bagaimana anak-anak kita mengingat kita ketika kita sudah tidak lagi bersama mereka di dunia fana ini. Akankah anak-anak kita mengingat kita sebagai ayah yang telah menjalankan tugas dan panggilan ilahinya?

Neil Postman berkata “Children are the living messages we send to a time that we will not see.” Anak-anak kita, ketika mereka besar kelak, akan membawa pesan dan kesan pada lingkungan mereka nanti tentang bagaimana mereka dulu dibentuk ketika masih dalam asuhan orangtua mereka. Dapatkah kita berharap bahwa hidup mereka saat itu diberkati dan memberkati, sehingga membawa pesan dan kesan tentang andil kita sebagai orangtua dalam membentuk mereka secara benar?

Banyak jalan untuk mengukur kesuksesan seorang laki-laki, salah satunya melalui cara anak-anaknya menerangkan kepada teman-teman mereka tentang ayahnya. Inilah panggilan, harapan dan tantangan bagi para suami dan ayah yang masih Tuhan beri kesempatan saat ini untuk menjawab dan memenuhinya.

Jawaban itu banyak tergantung pada seberapa jauh para suami dan ayah memahami maksud dan panggilan Tuhan dalam menjalani peran-peran berikut ini:

Suami dan Ayah Sebagai Pemberi Identitas Keluarga

Selain bahwa dalam masyarakat patrilineal, anak membawa marga dan identitas hukum ayah, menurut hukum reproduksi manusia, kromosom laki-laki-lah yang lebih banyak menentukan jenis kelamin anak yang akan lahir. Perempuan membawa dua kromosom X, sedangkan laki-laki membawa X dan Y. Bila kromosom X laki-laki bertemu dengan kromosom X perempuan, maka yang lahir kemungkinan besar adalah anak perempuan. Sebaliknya, bila kromosom Y laki-laki bertemu dengan kromosom X perempuan, maka kemungkinan besar yang lahir adalah anak laki-laki.

Demikianlah seorang ayah sejak tahap paling awal pembentukan janin sudah sangat berperan menentukan identitas janin dan anaknya. Peran ini sungguh luar biasa di samping tentunya peran sang ibu yang harus menyempurnakan proses pertumbuhan janin tersebut selama sekitar 9 bulan. Peran ibu tidak kalah penting dan tidak dapat disangkal. Ibulah yang lebih banyak menanggung beban fisik dibanding sang ayah. Tetapi, tanpa mengurangi pentingnya peran ibu, dalam hal pemberian identitas jenis kelamin anak, Tuhan telah mempercayakan dan menugaskan peran tersebut kepada kaum laki-laki.

Namun, tugas ilahi tersebut tidak hanya dijalankan pada tahap paling awal pembentukan janin, tetapi tetap melekat sepanjang hidup sang ayah. Setiap ayah dipanggil untuk membentuk identitas anak-anaknya selama mereka hidup di dalam asuhan dan pengaruh orangtua.

Tugas tersebut bukan hanya salah satu tugas pertama yang Tuhan berikan bagi laki-laki, tetapi menjadi salah satu tugas utama. Tahukah kita bahwa krisis terbesar dunia saat ini sebenarnya berakar pada krisis identitas? Dunia saat ini mengalami krisis ekonomi, krisis politik, dan krisis kebutuhan hidup fisik. Tetapi semua krisis tersebut tidak ada taranya dibanding krisis identitas.

Hampir semua krisis berakar pada krisis idenditas.

Hanya dengan mengetahui siapa kita sebenarnya, maka krisis-krisis lain tersebut dapat diusahakan untuk dieliminasi, dicegah atau setidaknya diminimalkan. Seorang ayah perlu dan harus mengajarkan anak-anaknya bahwa kita semua mempunyai, setidaknya, tiga identitas utama, yakni selaku warga Kerajaan Surga, warga negara Indonesia (dan/atau negara lain yang relevan) dan warga umat manusia.

Sebagai warga Kerajaan Surga, anak-anak diarahkan untuk secara sadar menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka, dan selanjutnya untuk menempatkan Kedaulatan Allah dalam hidup mereka. Kerajaan Surga bukan sesuatu yang jauh di sana dan kelak, tetapi di sini dan kini, yakni saat kita tunduk pada Allah dalam keseharian kita. Dalam kehidupan bernegara, anak-anak diajarkan untuk menjadi warga yang menghargai hukum negara. Dan tidak kalah pentingnya, sebagai warga umat manusia, anak-anak dibukakan tentang kewajiban dan panggilan mereka untuk bergaul secara positif dengan sesama manusia dan menjadi berkat bagi lingkungan hidup sekitarnya.

Suami dan Ayah sebagai Pemimpin Keluarga

Kedaulatan Allah mendapat bentuk miniatur di dalam kedaulatan seorang laki-laki selaku kepala keluarga sebagaimana Kristus sebagai Kepala jemaat-Nya (Efesus 5:23). Anak-anak yang bergaul secara positif dengan ayah mereka dan menghargainya, akan lebih mampu untuk mengenal dan tunduk pada Allah.

Efesus 6:4 memanggil para ayah untuk tidak membangkitkan amarah di dalam hati anak-anak mereka, tetapi mendidik mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Seorang ayah dipanggil untuk secara harmonis mengombinasikan ketegasan dan kasih dalam mendidik anak. Selanjutnya, Efesus 5:25 mengajak para suami mengasihi isteri sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya bagi mereka.

Kepemimpinan laki-laki dalam keluarga yang dimaksudkan di sini tentunya bukan kepemimpinan diktatorial yang tidak mau mendengar dan mau menang sendiri saja, tetapi adalah kepemimpinan yang diliputi kasih dan kesediaan berkorban. Karena itu seorang laki-laki akan terlebih dulu membuat pertimbangan yang cukup sebelum membuat keputusan.

Sebagai seorang pemimpin, laki-laki dituntut untuk mengetahui, menunjukkan dan bersama keluarganya sekaligus menempuh jalan-jalan kehidupan.

Kehadiran suami dan ayah harus juga secara positif mengubah “temperatur” rumah sehingga membawa keluarga pada suatu kehangatan. Ketika suami dan ayah pulang dan memasuki rumahnya, ada suatu kewibawaan yang dibawanya dan membuatnya disegani (secara positif) oleh seisi rumah.

Suami dan Ayah Sebagai Pelayan Keluarga

Kekuasaan laki-laki sebagai kepala dalam suatu keluarga harus dilihat dalam terang bagaimana Kristus menjadi Kepala Gereja. Di dalam Efesus 1:20, Kristus berada jauh lebih tinggi dari segala pemerintah, penguasa, kekuasaan, kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Segala sesuatu telah diletakkan di bawah kaki Kristus yang diberikan kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.

Kepemimpinan Kristus tersebut tidak terlepas dari kasih dan pengorbanan-Nya sebagaimana dicatat dalam Filipi 2:6-11, “Yesus mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.“

Di dalam keluarga, seorang laki-laki juga melakukan pekerjaan rumah tangga yang membutuhkan kekuatan fisik serta aktivitas lain dalam melayani keluarganya. Alm. Jend. Sarwo Edhie, mertua Presiden SBY, pernah memberi kiasan tentang salah satu peran seorang ayah, yakni “untuk menyapu jalan yang akan dilalui anak-anaknya.” Pesan dari frase tersebut adalah bahwa ayah akan memastikan agar anak-anaknya dapat sebaik mungkin melalui jalan kehidupan mereka. Ungkapan tersebut mungkin mendapatkan hasil dan kebenarannya dengan melihat jalan yang terbuka bagi SBY untuk menjadi Presiden RI.

Suami dan Ayah Sebagai Imam

Dalam konteks selaku kepala rumah tangga, laki-laki juga menjalankan peran seorang imam, yakni membawa dan mewakili keluarga di hadapan Allah. Peran tersebut lebih menantang lagi bagi kita yang tinggal di kota besar dan penuh dengan kesibukan kerja. Banyak kali kita dapat menelantarkan peran ilahi ini karena dikalahkan oleh kesibukan kerja dan aktivitas sosial masing-masing. Di sinilah kita dituntut untuk memberi prioritas bagi hal-hal yang harus diutamakan.

Seorang laki-laki mungkin saja punya banyak aktivitas di berbagai tempat, tetapi pertanyaannya bukan apakah ia aktif (baca: hadir) di mana-mana, tetapi seberapa banyak ia mengaktifkan setiap tempat di mana ia hadir. Di antara semua tempat tersebut, keluarga adalah tempat terpenting. Suami dan ayah perlu menggerakkan dan mengaktifkan keluarganya dalam suatu pola ibadah keluarga. Family altar alters family. Mezbah keluarga akan mengubah keluarga.

Suami dan Ayah Sebagai Nabi

Selain selaku imam, seorang laki-laki dalam keluarga juga dituntut untuk menjalankan fungsi nabi. Sebagai nabi, seorang suami dan ayah menjadi wakil Allah terhadap keluarganya. Seorang nabi akan menyampaikan perintah Allah kepada umat-Nya.

Di dalam Kejadian 17:23, Abraham menyampaikan dan menjalankan perintah Allah untuk melakukan sunat atas semua laki-laki dari isi rumahnya. Melalui Ulangan 6:4, umat Israel diperintahkan Allah sebagai berikut: “TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Pembicara yang baik adalah juga pendengar yang baik. Sebelum seorang laki-laki berbicara kepada keluarganya tentang Firman Allah, ia terlebih dahulu harus dari waktu ke waktu meluangkan waktu pribadi bersama Allah dan mendengar Allah berbicara kepadanya secara pribadi, baik melalui pembacaan Alkitab, hati nurani, tulisan-tulisan bahkan alam sekitar.

Suami dan Ayah Sebagai Seorang Sahabat

Istilah Inggris husband mempunyai keterkaitan dengan istilah “house band”. Dari sini, kita bisa mengambil hikmah bahwa seorang laki-laki juga menjalankan peran sebagai tokoh yang merekatkan dan mengikat keluarganya menjadi satu. Ia menjaga kesehatian dan kesetiaan di antara anggota keluarga. Tugas ini berat. Kuncinya adalah dengan mengikuti teladan Kristus, yakni mengosongkan diri.

Seorang ayah dan suami, dalam sejumlah hal perlu menempatkan kepentingan dan kesenangannya di bawah kepentingan istri dan anak-anaknya. Unsur terpenting dalam pengosongan diri adalah kasih. Dengan mengasihi, kita dapat melakukan segala yang berat dengan sukacita. Di dalam kasih, pertanyaan yang mendorong suatu tindakan bukan lagi “apa yang harus saya lakukan”, tetapi “apa yang dapat saya lakukan.”

Dari perspektif di atas, selain sebagai pemimpin, pelayan, imam dan nabi, seorang suami dan ayah harus menjadi sahabat bagi istri dan anak-anaknya. Ia mendengarkan mereka, mengenal dan bahkan ikut bergaul dengan aktivitas mereka. Terlebih lagi, ia akan senantiasa memberi pujian dan pengakuan atas hal-hal yang memang patut dibanggakan yang dilakukan istri dan anak-anaknya.

Puji-pujian adalah lem perekat hubungan sosial. Orang yang memuji orang lain akan relatif lebih mudah mendapat tempat di hati orang yang dipujinya. Puji-pujian dapat menjadi pendorong dan ajakan kepada anak-anak kita untuk terus mengembangkan satu per satu potensi yang ada. Dan ini adalah salah satu karakter seorang sahabat. Kita tidak dapat berharap bahwa anak-anak kita akan bertumbuh secara positif, bila kita lebih banyak mengeluarkan kata-kata yang mematahkan semangat, menyangkal potensi mereka dan bersikap mendirikan tembok pemisah dengan anak-anak kita.

Michael Jackson adalah salah satu contoh tragis korban salah asuh ayahnya sendiri. Ayahnya sudah mampu mengangkat dan mengembangkan potensi kakak-beradik Michael sehingga mereka menjadi sangat terkenal dan berprestasi. Tetapi, sang ayah lebih banyak mengunakan pendekatan yang justru memberi teror bagi anak-anaknya. Inilah yang, antara lain, akhirnya membuat Michael Jackson mengalami krisis identitas. Karena itu ia kemudian menjalani banyak operasi plastik dan terjerumus dalam penyalahgunaan obat-obatan guna mencari identitas lain.

Michael Jackson sebenarnya mempunyai nama lengkap “Michael Joseph Jackson”. Walau ia ternyata mempunyai nama tengah “Joseph”, kisah hidupnya sama sekali berbeda dengan kisah Yusuf dalam Kejadian 37.

Kisah Yusuf yang diberi jubah maha indah oleh Yakub, ayahnya, menjadi model yang cocok tentang bagaimana karakter Yusuf terbentuk karena ia sangat dikasihi dan dipuji oleh ayahnya. Perhatian yang penuh kasih dari Yakub membentuk identitas Yusuf. Ia selalu melihat dirinya sebagai seorang yang sangat dikasihi, sehingga berani menjalani kehidupan, dan dengan penyertaan Tuhan, ia menjadi berkat bagi banyak orang. Yusuf membawa dan sekaligus menjadi pesan yang hidup ke lingkungan waktu dan tempat hidupnya sendiri tentang bagaimana ayahnya sungguh mengakui, memberi tempat dan mengasihi Yusuf ketika Yusuf masih muda.

Ketika seorang anak kecil dalam kelas Sekolah Minggu ditanya oleh gurunya apakah ia mau tinggal bersama Yesus, anak itu menjawab lugu dengan bertanya balik, “Apakah Yesus itu sama baiknya dengan ayahku?”

II. Tekad

Panggilan dan harapan untuk menjadi suami dan ayah yang berharga di mata keluarga dan Allah juga merupakan tantangan. Tantangan ini akan dapat dihadapi dan dijalani bila disertai dengan tekad untuk sungguh-sungguh melakukannya dan tentu saja dengan tetap mengandalkan Tuhan.

Puji syukur kepada Tuhan untuk segala berkat-Nya kepada kami melalui ayah saya, alm. Ferry Pascoal, dan ayah mertua saya, alm. Paulus Pangemanan, yang telah mewariskan ke saya dan Vonny, istri saya, warisan tidak ternilai dan kekal, antara lain iman teguh kepada Kristus, nama baik dan teman-teman mereka.

Sebagaimana kasih Yakub sungguh melekat pada Yusuf selama hidup Yusuf dan karenanya melampaui masa hidup Yakub sendiri, kasih kedua ayah kami tersebut melampaui masa hidup mereka sendiri dan telah menjadi teladan, nilai dan kekuatan bagi saya dan Vonny dalam melayani Tuhan dan sesama. Secara khusus, tulisan ini sekaligus juga sebagai refleksi dan pemicu bagi saya sendiri untuk menjadi suami dan ayah yang berharga di mata keluarga dan Allah. Inilah doa dan tekad saya. Bagaimana dengan Anda?

Tulisan ini dibuat sebagai persembahan dan kenangan penuh kasih bagi alm. Ferry Pascoal dan alm. Paulus Pangemanan

Fabian Buddy Pascoal

2 Comments

  1. Drs. Nithanel Pandie, MM

    Trims….. atas tulisan yang indah… ketika akan memimpin ibadah kaum bapak di jemaat kami .. saya berdoa … Tuhan berilah saya bahan refleksi untuk memimpin kebaktian nanti… ketika saya buka internet tidak sadar saya dituntun untuk membaca tulisan ini.. saya sangat terinspirasi… apalagi saya baru saja dipanggil kepala sekolah tempat putra kedua saya bersekolah karena buah hati saya itu memberi komentar yang kurang baik tentang gurunya/kepala sekolah ketika ada temannya yang apload foto gurunya di facebook… baru sadarlah saya … saya belum berperan sebagai ayah yang baik… sekali lagi Trims… atas tulisannya.. saya bertekad ketika anak saya ditanya .. Apakah ayahmu .. dapat mengkuti teladan Yesus .. dia harus menjawab …” Ayahku adalah .. gambaran hambanya dan sobatnya di dunia”

  2. ayub feoh

    tulisan ini sy baca saat sy sedang mempersiapkan Firman Tuhan Maz. 127 untuk khotbah di ibadah raya dan bersamaan dgn itu istri dan anak-anak sedang berlibur di rumah mertua….sy merasa mendapat inspirasi melalui tulisan ini… dan sy bertekat dan berdoa agar sy trs membawa keluarga berjalan mencari dan menemukan Allah serta hidup dalam hukum dan perintah Allah.. karena sy percaya menjadi suami dan ayah adalah tugas sekaligus panggilan yg mulia.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan