Stereotip yang Membutakan

Stereotip yang Membutakan

Belum ada komentar 34 Views

“Sex, drugs, and rock ‘n roll” adalah slogan yang kemudian menjadi sebuah stereotip yang melekat pada artis dan band rock.

Mereka diidentikkan dengan kehidupan seks bebas dan penggunaan obat-obatan terlarang. Tetapi stereotip buruk yang melekat pada musisi dan aliran musik ini tidak berhenti di situ saja. Seringkali rock disebut sebagai lagu setan karena tidak jarang lagu-lagu rock disuguhkan dengan lirik yang menggugah perilaku agresif, seperti membunuh, menghancurkan barang, membalas dendam, mengejek, dan lain sebagainya. Penampilan para artisnya di panggung pun menguatkan stereotip ini. Dandanan serba hitam dengan seting panggung yang menyeramkan, penampilan di panggung sangat energik dan seringkali diakhiri dengan penghancuran alat-alat musik.

Pada bulan Mei yang lalu, salah seorang pembicara di kebaktian pemuda menyinggung sesuatu yang berhubungan dengan masalah ini. Pada saat itu pembahasannya adalah “bagaimana hidup sebagai seorang Kristen dipandang tidak keren dan hebat oleh dunia.” Sang pembicara memberikan contoh kedua finalis American Idol, Adam Lambert dan Kris Allen, yang pada waktu itu sudah diumumkan siapa pemenangnya. Ia menyinggung bagaimana Kris Allen tinggal di sebuah kota kecil dan aktif di gereja, tetapi menjadi underdog dalam kompetisi itu (walaupun pada akhirnya menang). Sedangkan Adam Lambert dengan dandanannya yang serba hitam dan lagu-lagu bernuansa rock yang ia bawakan, justru dielu-elukan dan didukung oleh banyak orang.

Ketika mendengar contoh ini, saya hanya bisa tertawa kecil dalam hati. Menurut saya, ini penilaian yang tidak dewasa dan pada tempatnya.

Stereotip pada dasarnya hanyalah sebuah penilaian masyarakat terhadap beberapa orang, yang kemudian digeneralisasikan ke dalam suatu populasi. Sebagai seseorang yang mengaku mengerti, melaksanakan, dan bisa menyampaikan ajaran agama, seharusnya si pembicara ini bisa melihat apa yang ada di balik semua stereotip itu. Dan sebagai seseorang yang sudah dewasa, seharusnya kita bisa menilai sesuai pada tempatnya. Misalnya American Idol yang merupakan kompetisi bernyanyi. Yang pertama kali harus kita lihat di sini, apalagi kalau bukan suara para penyanyinya? Inilah alasan utama mengapa orang-orang lebih membela Adam Lambert, yang suaranya memang jauh lebih dashyat dibanding Kris Allen. Yang kedua, baru kita lihat lagu dan penampilannya di atas panggung. Yang ketiga, mungkin yang paling tidak relevan, adalah latar belakang kehidupannya.

Perlu kita ingat bahwa stereotip seperti ini justru menghambat pertumbuhan musik rohani. Stereotip ini seakan-akan membatasi aliran musik yang bisa dijadikan medium untuk memuji dan mengucap syukur kepada Tuhan. Stereotip ini seakan-akan mengatakan bahwa lagu rohani hanya boleh menggunakan aliran musik pop atau klasik, dengan penyanyi dan permainan musik yang halus atau melalui paduan suara. Maka dari itu tidak aneh ketika kita mendengarkan lagu-lagu rohani dan kemudian menemukan aransemen lagunya yang mirip. Atau ketika kita menonton konser lagu rohani di televisi atau secara langsung dan menemukan kemiripan nada dalam setiap lagunya. Karena semua kemiripan ini, saya pernah melihat musisi gereja yang salah memainkan chord lagu rohani karena terlalu banyaknya kemiripan antara satu lagu dengan lagu lainnya.

Perlu kita sadari bahwa saat ini sudah banyak musisi yang membuktikan kesalahan stereotip ini. Musisi-musisi ini mengekspresikan perasaan cintanya terhadap sesama manusia melalui medium musik rock, dan selama bertahun-tahun banyak musisi yang juga menaruh nilai-nilai rohani (Kristiani) ke dalam aliran musik ini. Sebagai contoh: POD, Switchfoot, Underoath, dan Blindside. Dan sebenarnya bukan aliran musik rock saja yang melawan stereotip ini dan digunakan untuk lagu-lagu rohani. Apakah Anda masih ingat film Sister Act 2? Pada adegan akhir film ini ditunjukkan bagaimana lagu-lagu rohani juga bisa dinyanyikan melalui aliran musik hip-hop, yang identik dengan kehidupan gangster yang juga dipenuhi dengan seks, drugs, dan kekerasan.

Memang sedekat apapun kita dengan Tuhan, atau seaktif apapun kita dalam kehidupan beragama, sebagai manusia kita cenderung menilai sesuatu berdasarkan stereotip yang berlaku di masyarakat. Tetapi sudah saatnya bagi kita untuk membuka diri terhadap hal-hal baru dan mengesampingkan stereotip tersebut. Positif atau negatifnya sebuah lagu tergantung pada pesan yang terkandung di dalamnya, bukan dari cara menyanyikannya. Dan perilaku musisi yang tidak senonoh tidak bisa kita jadikan alasan untuk membenci suatu aliran musik tertentu. Sebagai seorang Kristen, kita juga perlu melihat berbagai hal secara lebih positif dan mengurangi penilaian yang negatif terhadap orang lain.

Ernest D.M

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
  • Jangan Menyerah
    Bacaan: Lukas 18:1-8
    “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: Mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari...
  • Kejujuran, Kesantunan & Etika MAKIN PUDAR
    Jujur, santun dan beretika adalah tiga kata yang sangat menentukan dalam peringkat kehidupan seseorang atau sebuah bangsa. Negara-negara tanpa...
Kegiatan