Seseorang yang meninggal, akan melewati Api Penyucian?

Seseorang yang meninggal, akan melewati Api Penyucian?

Belum ada komentar 1693 Views

Pak Pendeta,

Umat Katolik meyakini bahwa setelah seseorang meninggal, ia akan melewati Api Penyucian, namun Api Penyucian tidak diajarkan kepada umat Protestan. Meskipun demikian, ada aliran Protestan yang mengatakan bahwa orang tersebut akan dikumpulkan di Hades sampai kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya, dan ada pula yang mengatakan bahwa ia akan langsung pergi ke Firdaus, seperti janji Yesus kepada penjahat yang berada di samping-Nya ketika Ia disalibkan.

Bagaimana pendapat GKI tentang hal ini?
Terima kasih atas pencerahannya.

(Adri)

Jawab:

Saudara Adri yang baik,

Kesalahan banyak orang ketika berpikir tentang surga, neraka dan api penyucian adalah, pertama-tama mereka berpikir tentang ‘tempat’. Padahal Alkitab ketika berbicara tentang hal-hal tersebut, pertama-tama berbicara tentang ‘keadaan’. Keadaan macam apa?

  1. Surga: adalah keadaan di mana Allah hadir secara utuh dan penuh. Orang yang ‘masuk surga’ adalah orang yang mengalami persekutuan dengan Allah secara utuh dan penuh. Karena itulah, ketika Yesus datang kembali untuk menjemput umat-Nya, yang ditekankan adalah sebuah keadaan di mana umat percaya mewujudkan satu persekutuan yang utuh dan penuh dengan Kristus (bersama selamanya dengan Tuhan–1 Tesalonika 4:17-18). Karena Surga itu pertama-tama adalah sebuah keadaan, maka Surga itu bukan sesuatu yang akan kita alami di masa datang, tetapi sudah dan sedang kita alami, ketika Kristus hadir secara utuh dan penuh dalam kehidupan kita (Ef. 2:4-7)
  2. Neraka adalah keadaan di mana hidup kita terpisah secara utuh dan penuh dari Allah. Oleh karena itulah orang yang masuk neraka dijelaskan keadaannya sebagai orang yang dijauhkan dari hadirat Tuhan (2 Tesalonika 1:9). Jadi kembali kita melihat gambaran neraka sebagai sebuah keadaan, bukan tempat. Dalam bagian Alkitab yang lain kita menjumpai gambaran neraka sebagai ‘lautan api’ (Wahyu 20:14-15). Gambaran ‘lautan api’ lebih menunjukkan sebuah keadaan ketimbang sebuah tempat.
  3. Begitu juga dengan ‘api penyucian’ yang ada dalam tradisi Katolik. Sama seperti gambaran ‘lautan api’ dalam Wahyu 20:14, lebih mengacu pada sebuah keadaan ketimbang tempat, yaitu keadaan di mana jiwa seseorang itu dimurnikan (dibakar dengan api seperti emas) agar dapat mewujudkan persekutuan dengan Allah secara utuh dan penuh.

Kalaupun pada akhirnya Alkitab mau tidak mau harus berbicara tentang ‘tempat’ maka tempat itu tidak pernah disebutkan secara pasti, tetapi tempat itu disebutkan berdasarkan keadaannya. Dalam Wahyu 20:15, orang yang namanya tidak ada dalam kitab kehidupan dilemparkan ke dalam lautan api. Sesuatu ‘yang dilemparkan’ pasti harus jatuh di suatu tempat. Tetapi tempat itu di mana? Tidak dijelaskan, yang penting keadaan tempat itu yaitu: lautan api.

Lalu apakah ada ‘tempat penantian’ yang bernama Hades? Pemahaman mengenai Hades ini berangkat dari pemahaman Perjanjian Lama mengenai Syeol, yaitu dunia orang mati. Satu dunia tersendiri yang amat berbeda dari dunia orang hidup. Umat Perjanjian Baru tidak menemukan padanan yang tepat dalam bahasa Yunani mengenai Syeol. Karena itu mereka memakai nama Hades, yang sesungguhnya adalah nama dewa yang menguasai ‘dunia bawah’ dalam mitologi Yunani. Apapun itu, yang mau diberitakan pertama-tama adalah adanya ‘sebuah realitas lain’ dari orang yang sudah meninggal, bukan tempat. Baru dalam perkembangannya, Hades atau Syeol itu dipahami sebagai sebuah tempat penantian dari roh orang yang sudah meninggal.

Nah, bagaimana kita memahami semua ini? Pertama-tama, marilah kita berpikir bukan dari sisi tempat, melainkan keadaan. Orang beriman yang meninggal itu keadaannya adalah ada dalam persekutuan dengan Kristus. Kematian (maut) tidak dapat memisahkan orang tersebut dari kasih Allah dalam Kristus Yesus (Roma 8:37-39). Berdasarkan keadaan itu, tidaklah salah kalau kita mengatakan bahwa orang tersebut ‘sudah masuk ke Surga’, yaitu mengalami persekutuan yang utuh dan penuh dengan Allah. Yesus juga menjanjikan ‘sebuah keadaan’ kepada penjahat yang bertobat di kayu salib. “Hari ini engkau bersama dengan Aku di Firdaus” (Lukas 23:43). Jadi ‘Firdaus’ harus kita pahami pertama-tama sebagai ‘keadaan bersama Kristus’.

Jika kita berpikir berdasarkan ‘logika keadaan’, maka ‘logika tempat’ lalu menjadi relatif. Yang penting adalah ‘bersama Kristus’. Di manapun kita berada, asalkan bersama Kristus, maka itu adalah Surga/Firdaus. Ketika orang meninggal, maka ia memasuki sebuah realitas lain yang disebut sebagai Hades atau Syeol. Apapun namanya, yang penting adalah apakah orang itu bersama Kristus atau terpisah dari Kristus. Ketika ia bersama Kristus, maka Hades atau Syeol itu menjadi Surga/Firdaus. Sedangkan ketika ia terpisah dari Kristus, maka Hades atau Syeol itu menjadi Neraka.

Logika penantian muncul (dan karena itu perlu ada tempat untuk menanti), karena ada kebangkitan orang mati. Tetapi kembali, logika penantian menjadi relatif, ketika kita berpikir dari sisi logika keadaan. Keadaan orang beriman sama saja, selalu bersama Kristus. Berapa lama pun ia menanti tidak masalah, yang penting adalah bersama Kristus. Ada atau tidak ada tempat penantian itu (menurut pemahaman saya: ada), tidak masalah, yang penting bersama Kristus! Demikian jawaban saya, semoga membantu.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Persembahan Bagi Tuhan
    Yth. Pak Pendeta, Mengapakah ragi dan madu dilarang digunakan bangsa Israel pada saat membakar hewan-hewan korban di Kemah Suci,...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan