Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea

Ruth K. Trijoso: Tantangan Menghadapi Transplantasi Kornea

Hidup tanpa tantangan dapat membuat kita lemah, tidak tangguh, dan tidak tahan uji. Namun bila tantangan itu datang bertubi-tubi, kita pun merasa lelah dan putus asa.

Lalu bagaimanakah jika kita menghadapi tantangan ini bersama Tuhan?

Berulang-ulang saya berdoa: “Tuhan, tolong ingatkan aku bahwa tak sesuatu pun terjadi padaku hari ini yang tak dapat Engkau dan aku tanggulangi bersama-sama,” karena “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Fil. 4:13).

Saya memiliki kelainan bawaan (hereditary) pada kornea mata yang disebut Fuchs’ endothelial dystrophy. Endothelium adalah lapisan tipis pada bagian sebelah dalam kornea yang tugasnya ‘mendehidrasi’ kornea (mengeluarkan cairan dari kornea). Apabila fungsi dari lapisan ini terganggu, maka kornea mata menahan terlalu banyak cairan sehingga transparansinya menurun, yang mengakibatkan ketajaman penglihatan pun menurun. Kelainan mata ini sudah terdeteksi sejak 8 tahun yang lalu (2004) ketika saya akan menjalani operasi katarak di Singapura. Ketika itu dokter mengatakan bahwa obatnya adalah transplantasi kornea, namun tidak perlu tergesa-gesa dilakukan, karena bukan dalam kondisi darurat! Saat itu hati saya belum siap. Saya mohon pada Tuhan untuk mendapat mukjizat kesembuhan tanpa perlu dioperasi, tetapi Tuhan rupanya punya rencana lain.

Lima tahun berlalu. Pada tahun 2009, ketajaman penglihatan mata kanan saya menurun menjadi 40% dan yang kiri menjadi 50%. Saya memeriksakan diri ke dokter mata spesialis kornea di Jakarta, dan hasilnya sama: saya harus menjalani transplantasi kornea. Saat itu metodenya DSEK (descemet stripping endothelial keratoplasty), yaitu lapisan bagian dalam kornea dan sebagian posterior stroma diganti dengan jaringan donor. Ketebalan yang ditransplantasi 100 mikron dan kornea donor dipesan di Asia dengan pembiusan total 3 jam.

Hati saya tetap belum siap!

Tiga tahun kemudian, pada awal tahun 2012, saya disarankan untuk berkonsultasi ke seorang profesor doktor ahli transplantasi kornea yang terkenal di Singapura, dan pada tanggal 29 Februari saya memeriksakan mata saya kepadanya. Ternyata kemampuan mata kiri masih 50% namun mata kanan tinggal 30%, bahkan stromanya sudah mulai terkena dampak (affected). Dokter menganjurkan agar dalam waktu dua atau tiga bulan lagi saya menjalani operasi agar kondisinya tidak memburuk (urgent). Metode operasinya DSEK dengan pembiusan total kira-kira 1½ jam. Membuat janji untuk operasi membutuhkan waktu paling cepat satu atau dua bulan, karena mesti pesan kornea donor yang cocok agar tidak ditolak tubuh dan menyesuaikan dengan jadwal waktu yang padat dari sang dokter.

Saya sedih dan bergumul untuk mencari solusi dan membuat keputusan secepatnya.

Suami saya dan saya terus berdoa sambil mempertimbangkan pendapat anak kami yang kebetulan sedang tugas kerja di Jerman. Ia kurang mantap bila saya ditangani oleh dokter di Singapura dan berusaha mencari dokter ahli transplantasi kornea di Jerman. Tuhan mengingatkan kami untuk segera menghubungi adik ipar saya yang berprofesi sebagai dokter di negeri Belanda. Ternyata Tuhan memakai adik ipar tersebut untuk menemukan seorang dokter ahli transplantasi kornea yang mengembangkan metode paling mutakhir, DMEK (descemet membrane endothelial keratoplasty) dan memiliki klinik pribadi khusus untuk kornea (Melles Hoornvlieskliniek /CorneaClinic) di Rotterdam. Dokter ini, Gerrit Melles, reputasinya bagus sekali dan ternyata sekitar dua tahun yang lalu, profesor di Singapura yang telah saya sebutkan tadi, telah mengikuti pelatihan di klinik kornea ini! Pada metode DMEK ini, hanya lapisan dalam kornea (endothelium saja tanpa stroma) yang diganti dengan jaringan donor dan tebalnya hanya 25 mikron. Waktu untuk operasinya 3 jam dengan pembiusan lokal dan tanpa jahitan, tetapi dengan air bubble (gelembung udara). Insisi pada sclera pun kecil. Metode ini lebih aman, lebih cepat dan lengkap untuk rehabilitasi penglihatan, juga lebih sedikit komplikasi jangka pendek dan jangka panjang, serta membutuhkan perawatan pasca operasi yang lebih sedikit.

Saya masih bertanya pada Tuhan dalam doa, apakah benar ini jalan yang Tuhan tunjukkan.

Saya tahu bahwa suami, anak-anak dan menantu-menantu saya semua mendukung saya untuk dioperasi oleh Dr.Melles, dan dananya pun telah disiapkan oleh anak kami yang di Jerman. Sebagai catatan, biaya operasi di Singapura 30% lebih tinggi dari di Rotterdam! Hati nurani saya mengatakan, bahwa dari begitu banyak tanda yang kami terima, saya harus yakin bahwa inilah jalan yang Tuhan pilihkan. Kami lalu membuat janji melalui adik ipar saya untuk menentukan tanggal pemeriksaan dan sekalian tanggal operasinya, dan diperoleh jadwal tanggal 9 dan 29 Mei 2012.

Dengan berbekal doa-doa yang dinaikkan oleh keluarga, saudara-saudara seiman dan pendeta-pendeta kami di GKI Buaran, suami saya dan saya berangkat pada tanggal 6 Mei ke Amsterdam dan tinggal di rumah adik ipar saya di Moordrecht, yang hanya berjarak 30 menit naik mobil ke klinik Dr. Melles.

Pada tanggal 9 Mei saya diperiksa di klinik pribadi Dr. Melles, yang dilengkapi dengan berbagai peralatan yang canggih. Ia dibantu oleh staf dan dokter-dokter asisten yang ahli di bidang-bidang tertentu, untuk melakukan berbagai jenis pemeriksaan. Sesudah itu Dr. Melles sendiri melakukan pemeriksaan dan menjelaskan kondisi mata saya dan metode operasi yang disarankan. Kemampuan membaca mata kiri saya 45% dan mata kanan 20%. Ia mengatakan bahwa sudah tiba waktunya bagi saya untuk dioperasi, tetapi keadaan saya tidak gawat darurat. Ia menyerahkan keputusan tentang tempat dan waktu operasi itu kepada saya sendiri, dan bukan karena ia yang mengharuskannya.

Saya menjumpai seorang dokter yang ramah, rendah hati, sabar dan terus terang menjawab berbagai pertanyaan saya. Untuk pertanyaan saya tentang berapa rasio kesuksesan operasi ini, ia menjawab: “Seperti menabur benih, tidak semua benih dapat tumbuh dengan baik, begitu juga donor kornea yang ‘ditanam’, apalagi ada faktor perbedaan ras.” Menurut pengalamannya, dari 100 pasien pertama yang dioperasi dengan metode DMEK, 16 pasien perlu dioperasi ulang. Kini tingkat keberhasilannya sudah makin tinggi. Saya bertanya lagi: “Kapan saya dapat mengetahui bahwa kornea donor itu ‘ditolak’ oleh mata saya?” Ia menjawab: “Sampai satu tahun.”

Sampai di sini saya menyimpulkan: “Tuhan, hanya Engkau yang sanggup melakukan yang terbaik bagiku. Betapapun ahlinya sang dokter, mutakhirnya metode, dan canggihnya peralatan, semuanya tidak dapat menjamin kesembuhanku, kecuali Engkau!” Inilah saatnya saya mengambil keputusan! Saya teringat pada ayat di Filipi 4:13 yang dikirimkan oleh sahabat saya, dan yakin bahwa dokter akan melakukan hal yang terbaik dan Tuhan akan memberkati semuanya. Akhirnya saya berkata: “Saya mau dioperasi.”

Pada tanggal 10 Mei dilakukan tindakan pra-operasi yang disebut iridotomy, yaitu dengan sinar laser dibuat ‘lubang-lubang kecil’ melingkar pada selaput iris agar setelah operasi transplantasi tidak terjadi kenaikan tekanan bola mata atau glaukoma.

Keesokan harinya, setelah diperiksa dokter dan hasilnya bagus, lalu kami segera pergi ke Jerman dan tinggal di sana sampai tanggal 26 Mei. Selama masa menunggu, saya sering terombang-ambing dalam ketakutan dan kekuatiran membayangkan proses operasi dan kemungkinan penolakan kornea donor. Namun pada saat yang sulit itu Tuhan tidak tinggal diam. Dia mengulurkan tangan-Nya melalui teman-teman segereja, sahabat-sahabat, hamba-hamba Tuhan dan keluarga yang mengirim SMS, e-mail, menelepon dan berdoa bersama dengan jemaat gereja di Dresden.

Seorang teman dekat yang sepelayanan dengan saya di PSAI (Paduan Suara Anak Indonesia), menulis pengalaman pribadinya menghadapi operasi dengan menyanyi lirih sepanjang operasi dan Tuhan sungguh menolongnya. Ia pun berjanji untuk mendukung saya dalam doa. Terima kasih Tuhan, saya akan terus memuji nama-Mu!

Seorang saudara yang juga mantan teman sekerja menulis: “Karena engkau hidup melayani dan taat pada Tuhan, pasti Tuhan menolongmu! Aku mendukungmu dalam doa.” Amin. Terima kasih, Tuhan!

Seorang sahabat yang pendeta emeritus, tiga hari sebelum hari H memberi nasihat: “Dia tidak akan mengecewakan anak-Nya yang sudah berserah kepada-Nya. Dia akan menggunakan siapa pun dan apa pun untuk menanganimu. Bagi-Nya tidak ada yang terlalu remeh sehingga Dia tidak mau memakai anak-Nya, dan tidak ada yang terlalu besar sehingga sulit menggunakannya untuk kepentinganmu. Bukankah engkau sangat dikasihi-Nya dan selama hidup engkau telah memiliki hubungan dekat dengan-Nya. Karena itu, percayalah dan berserahlah! Kami mendukungmu di dalam doa.” Saya tertegun. Tuhan, ampuni aku yang kurang percaya ini. Terima kasih jika Engkau mau memakai aku apa adanya. Aku mau bangkit dan pasrah kepada-Mu, Tuhan.

Seorang penginjil, yang dahulu sepelayanan di sebuah Kursus Musik Gerejawi dan sering berbagi pergumulan dengan saya, tiba-tiba terbayang wajah saya. Ia berdoa dan bertanya kepada Tuhan: “Ada apa dengan Bu Ruth?” Lalu ia mengirim SMS dan saya meneleponnya dari Jerman. Ia mendoakan saya dan kemudian mengirim SMS lagi: “Bacalah Yesaya 41:10. Jangan takut,… jangan bimbang!” Tuhan, aku sudah mantap dan berserah, sekarang aku tidak takut lagi karena Engkau menggandengku dengan tangan-Mu yang membawa kemenangan.

Pada tanggal 27 Mei, di kebaktian gereja All Nation Christian Assembly di Dresden, Reverend Mike Hobbs berkhotbah: “Siapa yang menjadi anak Tuhan itu memiliki Roh Kudus dan setiap anak-Nya dimeteraikan, disertai ke manapun ia pergi. Jangan takut!” Mike dan Gabi, isterinya, berjanji akan terus mendukung saya dalam doa. Siang hari itu juga kami berangkat ke negeri Belanda. Aku merasa sangat bahagia Tuhan, karena aku dihantar dengan Firman dan doa-doa yang tak berkeputusan… menuju kamar operasi. Hatiku kini sudah tenang dan damai.

Pada hari H, 29 Mei 2012 pukul 7.00 pagi, sesuai instruksi dokter, mata saya ditetesi antibiotika chloramphenicol lalu kami segera berangkat ke Klinik. Hati saya tenang dan tidak takut karena yakin bahwa Dia akan memegang saya dengan tangan kanan-Nya yang membawa kemenangan.

Pukul 8.30 saya diberi dua tablet penenang untuk diminum, kemudian mata saya ditetesi obat oleh perawat dan saya dibawa ke kamar operasi. Di sana telah menunggu Dr. Melles dan 3 dokter anggota timnya. Saya duduk di kursi dalam posisi tegak. Kemudian Dr. Melles menyuntik kelopak mata saya dan berkata: “This is uncomfortable.” Memang terasa sakit yang menusuk sampai ke bola mata. Pandangan saya menjadi gelap. Dokter memijit-mijit daerah sekitar mata sampai terasa kebal. Lalu saya direbahkan, dipasangi monitor jantung dan tensimeter. Dari kepala sampai kaki, saya ditutupi lembaran plastik steril dengan lubang di atas mata kanan dan kemudian didorong ke bawah mikroskop, di mana dokter bekerja. Selama kira-kira tiga jam tim bekerja dan saya sedikit pun tidak tidur, sehingga mendengar berbagai dentingan alat. Sesekali Dr. Melles bertanya: “Are you okay?” Saya menjawab: “Okay!” Lalu ia bertanya: “Are you in pain?” Saya menjawab: “No!” Ia melanjutkan: “Please, don’t squeeze your eyes.” Saya bercerita kepadanya bahwa banyak teman saya berdoa baginya untuk operasi ini. Ia mengucapkan terima kasih seraya menanyakan apakah agama saya. Ketika saya bertanya tentang tekanan darah saya, ia menjawab:”Good, like a young lady!” dan menurut dia, denyut jantung saya juga prima. Saya lega karena saya tahu bahwa Tuhan bekerja di dalam saya.

Dr. Melles menerangkan bahwa ia mengerjakan mata saya dulu, baru mata donor. Sesudah itu ia akan kembali lagi ke mata saya. Akhirnya kornea donor ditempelkan dengan air bubble dan saya tetap berbaring selama sekitar 15 menit. Kemudian Dr. Melles datang lagi untuk mengatakan bahwa operasi sudah selesai dan “you have done a great job!” (karena saya telah bekerja sama dengan baik dan tenang). Di dalam hati saya berkata: “Tuhan, Engkaulah yang telah melakukan perkara yang besar, bukan aku! Engkau sungguh ajaib dan perkasa.” Beban saya terangkat, lega! Terima kasih Tuhanku, Engkau memberi mukjizat melalui Dr. Melles. Saya pulang dengan mata kanan ditutup pelindung dan diplester.

Malam hari itu saya ditelepon oleh dokter Melles untuk mengecek kondisi mata saya. Keesokan harinya saya diperiksanya lagi dan sudah boleh melihat. Kemampuan melihat saya sudah 30% dan sewaktu diperiksa kembali seminggu kemudian sudah menjadi 50%! Puji Tuhan! Tiga minggu kemudian ketajaman penglihatan atau visual acuity telah mencapai 60%! Tanggal 3 Agustus 2012, sebelum terbang kembali ke Jakarta, saya diperiksa lagi dan kemampuan melihat saya sudah mencapai70 %!

Dengan penuh rasa syukur saya berdoa:

Terima kasih, Tuhan, Engkau begitu ajaib campur tangan pada waktu hamba-Mu menghadapi tantangan berat, sehingga boleh membawa “kemenangan”!

Terima kasih, donor kornea, karena telah menolongku untuk dapat melihat warna-warna yang indah dan cemerlang serta membaca dengan lebih jelas!

Terima kasih saudara-saudara, teman-teman dan sahabat-sahabatku yang dengan setia mendoakanku!

Saya baru saja kembali dari Jakarta Eye Center, dan menurut pemeriksaan, kemampuan melihat saya sudah mencapai 80%. Puji Tuhan!

Jakarta, Oktober 2012

Bookmark and Share

Komentar

3 Responses to “Ruth K. Trijoso: Tantangan Menghadapi Transplantasi Kornea”
  1. chatrin says:

    Syaloom bu… Saya mau tanya,,biaya cangkok kornea d belanda brp ya kira2? Soalnya saya juga sedang mencari informasi ttg cangkok kornea untuk bayi saya,,pada saat dia berumur 1 tahun nanti… Trma kasih..GBU

  2. Iwan Sugiono says:

    Selamat malam Ibu Ruth, saya sangat membutuhkan bantuan informasi lebih lanjut mengenai operasi transplantasi kornea di Belanda (mama saya juga mengalami keadaan yang mungkin sama dengan Ibu)…mohon sekiranya ibu bersedia membantu memberi informasi pada saya…terima kasih..GBU.

  3. Yuliana Tendean says:

    Dear Ibu Ruth

    Syalom, mohon di infokan no kontak Ibu Ruth supaya saya bisa memperoleh informasi mengenai cangkok kornea di Belanda. TKS GBU

Sampaikan Pendapat Anda

Berikan komentar Anda...
dan sertakan avatar anda. Dapatkan disini!

(*) wajib diisi