perasaan

Perasaan

Belum ada komentar 17 Views

Kalau yang dipikirkan ‘kan bisa bohong, tetapi kalau yang dirasakan tidak bisa bohong. (Sultan Hamengku Buwono X)

Hari Minggu tanggal 11 Februari 2018 yang lalu, kita semua dikejutkan oleh berita penyerangan di gereja Santa Lidwina, Sleman, Yogyakarta. Penyerangan itu dilakukan oleh seseorang yang membawa pedang pada saat misa berlangsung dan melukai seorang pastor dan dua jemaat lainnya. Akhirnya si penyerang dapat dilumpuhkan dengan cara ditembak oleh polisi.

Ketika menjenguk pastor yang terluka di RS Panti Rapih, Sultan Hamengku Buwono X menyatakan sedih dan menyesal kenapa ini harus terjadi. Sultan meminta segenap masyarakat Yogyakarta mengedepankan roso atau rasa dalam bertindak. Sebab, kata Sultan, bila masyarakat mengedepankan rasa, maka tindakan intoleransi dalam bergama tidak akan terjadi.

“Khususnya orang Yogya itu kalau bicara opo seng dirasake (apa yang dirasakan), ora seng dipikirke (tidak yang dipikirkan). Budaya kita kan itu. Karena kalau yang dipikirkan kan bisa bohong, kalau yang dirasakan tidak bisa bohong”, demikian kata Sultan.

Pernyataan Sultan ini menarik karena beliau mengungkapkan tentang perasaan. Kita semua pada umumnya lebih mengutamakan pikiran kita ketimbang perasaan. Mengungkapkan pikiran lebih terkesan pandai, hebat, intelek, rasional, sedangkan mengungkapkan perasaan lebih terkesan lemah, feminin, emosional, kurang cerdas. Akibatnya kita cenderung mengutamakan pikiran-pikiran kita untuk melandasi tindakan kita.

Mengutamakan perasaan jangan ditafsirkan bahwa kita tidak boleh mengutarakan pikiran-pikiran kita. Dalam banyak hal kita perlu mengutarakan pikiran, tetapi ketika akan bertindak sebaiknya kita juga mempertimbangkan perasaan kita. Apakah yang kita pikirkan itu sudah sesuai dengan perasaan kita? Perasaan adalah yang ada dalam lubuk hati kita, yang tidak bisa dibohongi. Pikiran sering kali kita gunakan untuk merekayasa perasaan kita, supaya kita terlihat kuat, pandai dan hebat.

Kalau tindakan kita selalu didasarkan pada pikiran, akibatnya banyak peristiwa seperti yang akhir-akhir ini terjadi. Mulai dari tindakan-tindakan kekerasan, intoleransi, narkoba, korupsi dan lain sebagainya.

Ada seorang suami yang tega membunuh istri dan dua orang anaknya, hanya karena istrinya tidak mampu membayar angsuran kredit mobil. Kalau masih ada roso, mana mungkin si suami melakukan ini semua.

Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga. Tingginya angka peceraian salah satunya disebabkan oleh tidak adanya roso atau rasa dalam relasi pasangan suami istri. Bagaimana mungkin dua orang yang berbeda bisa bersatu dalam jangka waktu yang lama kalau tidak ada perasaan-perasaan yang mengikat mereka. Kalau tidak ada ikatan perasaan, maka hubungan mereka adalah hubungan yang semu dan sangat rentan untuk pecah. Tidak ada roso dalam kehidupan rumah tangga, dapat menimbulkan kebohongan, tidak ada roso dalam relasi suami istri, dapat menimbulkan perpecahan. Bayangkan sepasang suami istri yang sudah menikah selama 21 tahun, konon sang istri telah berselingkuh selama 7 tahun dan setelah itu sang suami baru mengajukan gugatan cerai. Adakah roso dalam kehidupan perkawinan mereka, atau roso itu sudah hilang dalam 7 tahun terakhir.

Apakah roso yang sudah lama hilang itu dapat dihadirkan kembali? Bersama Tuhan dan kerendahan hati serta menurunkan ego masing-masing, dengan bersedia untuk saling memaafkan dan saling mengampuni, sangat mungkin roso itu dihadirkan kembali. Pernyataan ini mudah ditulis, tetapi tidak mudah dilakukan. Akan tetapi, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin, dan sepanjang ada kemauan dan bersama Tuhan, tidak ada hal yang mustahil.

Di GKI Pondok Indah ada wadah pembinaan tentang bagaimana tetap menghadirkan roso dalam kehidupan dan relasi suami istri, sebagai upaya agar pasangan-pasangan suami istri Kristen menjadi pasangan-pasangan yang bersaksi. Salam damai.

>> Sindhu Sumargo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • Penjara
    Ada sebuah artikel di kompas.com yang sangat menarik, yaitu tentang lansia di Jepang yang kerap melakukan kejahatan ringan dengan...
  • Diaspora Menjadi Perhatian Banyak Negara
    Beberapa tahun terakhir, diaspora menarik perhatian banyak negara untuk dimanfaatkan. Kata “diaspora” dalam bahasa Ibrani adalah tefutzah, yang artinya:...
  • beli banyak
    Beli Banyak, Lebih Murah?
    Kebiasaan di dunia tawar-menawar biasanya dikaitkan dengan jumlah. Dalam transaksi tawar-menawar sering kita dengar, “Kalau beli banyak harganya berapa?”...
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
Kegiatan