Pemain Cadangan

Pemain Cadangan

Belum ada komentar 5 Views

JANGAN pernah menganggap mereka tiada. Kalimat tersebut sering dilontarkan para pelatih yang bijak untuk mengingatkan para pemainnya terhadap lawan yang tidak menonjol. Sepak bola adalah permainan kolektif. Pemain bintang memang sangat dibutuhkan. Tetapi, pemain lain bukannya tidak berarti. Diego Maradona tidak akan bisa melewati lima pemain Inggris sebelum menaklukkan kiper Peter Shilton di bawah mistar dalam Piala Dunia kalau tidak ada pemain lain yang melakukan gerakan tanpa bola mengikuti gerakannya menusuk pertahanan lawan.

Pemain yang tidak menonjol juga kerap menjadi “senjata” pemukul, pada saat pemain andalan mengalami kesulitan membongkar pertahanan lawan atau mencetak gol. Shaun Wright-Phillips adalah salah satu contoh terakhir di kubu Chelsea. Dua golnya ke gawang West Ham United mengawali kemenangan telak Chelsea (4-1) pertengahan pekan ini, di Liga Premier.

Ia sering dibangkucadangkan oleh Jose Mourinho, pelatih Chelsea. Bermain sebagai gelandang, tugas yang baru dilakoninya dalam beberapa pertandingan terakhir, karena sebelumnya sebagai penyerang sayap, ia ternyata sanggup menjawab tantangan yang diberikan oleh pelatihnya (Kompas, 20 April 2007).

Memang tidak enak kalau pemain sepak bola sering dibangku cadangkan, karena tidak bisa membuktikan prestasinya, dan akibatnya menjadi pemain yang tidak menonjol. Tetapi, Wright-Phillips tidak putus asa, begitu ia diberi kesempatan, ia tidak menyia-nyiakan kepercayaan itu. Ia membuktikan bahwa ia bisa diandalkan.

Demikian juga pelayanan di gereja. Ada motor penggeraknya, tetapi juga ada pemeran pembantu. Kita tidak boleh berkecil hati kalau peran kita kecil dan tidak menonjol.

Tuhan Yesus pernah berkata, siapa saja setia dengan perkara kecil, ia akan diberikan perkara yang besar. Dia juga memberikan pujian dan penghargaan yang sama, baik yang mengembangkan lima talenta maupun yang dua talenta. Tuhan Yesus marah kepada yang dipercayakan satu talenta, karena yang diberi kepercayaan tidak mengembangkannya. Oleh karena itu, pakailah talenta yang telah kita terima, sekecil apa pun, untuk pelayanan kepada sesama demi kemuliaan Allah.

Di suatu gereja yang cukup besar di Amerika Serikat, ada yang memohon kepada Pak Pendeta untuk dapat melayani di gereja tersebut dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah. Karena keterbatasan bahasa, ia disuruh mengurusi antarjemput anak Sekolah Minggu, yang berjumlah 50 armada.

Tiap minggu ia turun naik dari bus satu ke bus yang lain untuk mengurus anak-anak. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap melayani di bus nomor tujuh, karena ia melihat seorang anak yang terlihat tertekan dan ketakutan. Ia hanya memeluk anak itu, sambil berbisik, “I love you, and Jesus love you too.” Hal ini dilakukannya tiap minggu, sampai suatu saat anak itu membalas berbisik, “I love you, and I love Jesus too.” Beberapa hari kemudian, anak ini ditemukan meninggal dunia karena dianiaya oleh ibunya yang menderita sakit jiwa.

Jangan pernah berpikir seberapa besar peranan kita, tetapi berpikirlah, bagaimana kita bisa berguna untuk orang lain, sekecil apa pun, yang pada akhirnya untuk kemuliaan Allah. “Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar” (Lukas 16:10).

Selamat melayani!

*) Diambil dari buku: MENATA DIRI, MENGGAPAI ESOK, Eddy Nugroho, Penerbit: Gloria Graffa, Januari 2008

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan