Orang Tua yang Berbahagia, Orang Tua yang Mendekatkan Anak Balitanya Sejak Dini Kepada Tuhan

Orang Tua yang Berbahagia, Orang Tua yang Mendekatkan Anak Balitanya Sejak Dini Kepada Tuhan

Belum ada komentar 109 Views

Apakah anda seorang single parent (orang tua tunggal)? Atau sepasang orang tua yang sibuk bekerja? Atau seorang opa-oma yang dititipkan cucu oleh anak-anak anda? Sering kali kita bingung dengan anak-anak zaman ini. Anak-anak kita bahkan terasa lebih cepat matang sebelum waktunya. Dunia seakan-akan memaksa (atau mengondisikan) anak-anak kita berubah menjadi lebih dewasa dari usianya. Misalnya saja, seorang ibu pernah bercerita bahwa anak perempuannya yang berusia 4 tahun sudah berpikir untuk menikah dengan teman sekelasnya. Seorang ibu lainnya, bercerita bahwa cucunya minta diantar ke rumah teman prianya setelah mandi dan berdandan dengan rapinya. Belum lagi orang tua-orang tua yang kewalahan dengan argumen anak-anak mereka. Seperti, “Yesus itu ada di hati! Tapi waktu Dia disalib, siapa yang ada di dalam hati kita?” Zaman begitu cepat berubah. Anak-anak kita semakin kritis, bahkan tidak menutup kemungkinan anak-anak kita berbalik dari Tuhan.

Pertanyaannya, apa yang dapat kita tinggalkan buat anak-anak kita di zaman yang semakin menuntut mereka untuk menjadi anak-anak yang dewasa, mandiri dan kritis?

Ada banyak bekal yang dapat kita berikan, namun bekal yang sangat berharga dan kekal adalah ketika kita melangkahkan kaki mendekatkan anak-anak kita kepada Tuhan sehingga mereka suka berada dekat dengan Tuhan. Itulah juga yang dilakukan oleh orang tua Yesus sewaktu Ia masih kecil. Sehingga di usia 12 tahun Ia dapat mengatakan kepada ayah dan ibunya,“…Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49). Sehingga semakin besar, Yesus bukan hanya bertambah besar secara fisik tetapi semakin bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi Allah dan sesama” (Luk 2:52).

Menurut Pam Galbraith dan Rachel C. Hoyer, untuk membangun hubungan kita dengan Allah, salah satunya diperlukan kecerdasan emosional. Memang ada upaya lain yang dapat kita lakukan senantiasa, seperti memerkenalkan anak-anak kepada Kristus, membawa mereka ke Sekolah Minggu, dan sebagainya. Namun Roh Kudus juga dapat berkarya melalui pembelajaran mengenai pengungkapan dan pengolahan emosi yang baik dan benar.

Setidaknya ada 7 cara untuk mencerdaskan anak kita secara emosi. Cara-cara itu dapat menjadi jembatan bagi anak dan kita, semakin dekat dengan Tuhan. Tiga di antaranya adalah:

Pertama, MENGHORMATI OTORITAS

Orang yang menghormati otoritas tidak identik dengan menghormati orang yang otoriter. Menghormati otoritas berarti menghargai jalan yang patut dilaluinya. Amsal 29:17 mengatakan, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” Pendidikan orang tua kepada anak merupakan modal dasar bagi seorang anak. Melalui pendidikan orang tualah anak-anak dapat menyepelekan atau justru menghargai otoritas kelak (sekalipun lingkungan juga berpengaruh bagi perkembangan anak).

Seorang anak yang menghormati otoritas akan:

  • Berbicara dan menjawab secara sopan kepada orang yang diajak atau mengajaknya bicara.
  • Menatap mata orang yang diajaknya bicara secara sopan dan mendengarkan dengan baik saat orang lain berbicara kepadanya.
  • Menunjukkan sikap memperhatikan/menolong orang yang ada di sekitarnya.
  • Taat tanpa berkeluh kesah melainkan melakukannya dengan sukarela (bahkan sukacita).

Tentu saja teladan orang tua sangatlah penting dalam hal ini. Sebab teladan lebih mudah ditularkan daripada sekadar kata-kata belaka. Apalagi jika kita menggunakan kata-kata rohani sebagai senjata untuk mendisiplin anak. Maksudnya di sini, jangan pernah menegur anak atas nama ayat-ayat dalam Alkitab. Bukan berarti kita tidak boleh memerkatakan ayat-ayat Alkitab untuk mengajarkannya kepada anak, namun demikian ayat-ayat Alkitab bukanlah cara untuk menegur anak pada waktu mereka melakukan kesalahan. Donald E. Sloat, seorang psikolog dari Michigan memberi contoh kalimat yang sebaiknya dihindari saat anak melakukan kesalahan, seperti: “Apa kata Yesus kalau Dia melihatmu begitu?” Mengapa pertanyaan ini patut dihindari? Karena tindakan seperti ini hanyalah merusak gambaran anak mengenai Allah yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana dan kapan kita dapat menjelaskan otoritas kepada anak? Penting bagi kita membangun pengertian dasar mengenai otoritas, di saat anak-anak siap untuk diajar. Misalnya, saat menjelang tidur. Kita dapat mengatakan kepada mereka melalui cerita atau kisah-kisah yang menarik. Salah satunya kita dapat mengatakan, “Agar dunia ini dapat berjalan dengan baik tanpa kekacauan dan kerusuhan, dunia ini memerlukan seorang pemimpin. Pemimpin itulah yang akan bertanggung jawab dalam sebuah kumpulan untuk menciptakan keteraturan dan perdamaian. Nah, tentu kita pun perlu belajar mendukungnya!”

Orang tua yang bersikap otoriter tentu akan mengalami kesulitan dalam hal ini. Karena tuntutan mereka hanyalah ketaatan anak atas standar yang telah mereka tetapkan, tanpa menghargai keberadaan anak. Sedangkan orang tua permisif, tidak memberi batasan kepada anak. Mereka hanya akan menghasilkan anak-anak yang tidak disiplin, anak yang agresif. Itu sebabnya yang diperlukan untuk membangun kecerdasan emosional dalam diri anak adalah bersikap sebagai orang tua yang otoritatif. Di mana orang tua menghargai anak dan mengajarkan anak untuk menghargai orang tuanya. Dalam pola seperti ini, orang tua akan menetapkan batasan-batasan kepada anak, tetapi juga menjelaskan alasan di balik batasan-batasan tersebut.

Memang orang tua otoritatif tetap memberikan pilihan kepada anak-anak mereka, tetapi sebelum ia menawarkan pilihan itu, ia sudah cukup membekali anak-anaknya untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas keputusannya itu. Berkaca pada kisah Yesus kecil, Yesus tahu bahwa konsekuensi berada di bait Allah saat rombongan pulang, Yesus akan tertinggal dan terpisah dari rombongan. Namun Ia dengan sadar mengetahui bahwa pilihan-Nya adalah pilihan yang lebih baik. Itu sebabnya orang tua Yesus tidak marah kepada Yesus. Sebaliknya, orang tua Yesus tidak begitu saja meninggalkan Yesus di bait Allah. Kecerdasan seperti inilah yang diperlukan oleh anak untuk nantinya menghargai otoritas Allah yang berfirman kepada manusia, dan kepada diri anak juga. Sehingga akhirnya, tanpa orang tua pun anak-anak dapat hidup di jalan yang baik dan benar. Bersamaan dengan itu, anak-anak kita pun belajar menjadikan Allah sebagai orang tuanya di kemudian hari. Tentu kita berharap, berdoa dan berupaya agar mereka menghargai otoritas dengan sukacita dan bukan dengan terpaksa.

Kedua, MENUNDA KEPUASAN

“Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya” (Amsal 25:28). Seorang anak sudah mengerti dan mengalami apa yang disebut dengan PUAS. Mereka sangat puas jika dapat bermain seharian, berenang dari pagi sampai sore, makan ice cream sampai kenyang, atau marah-marah sampai menendang semua barang dan orang yang ada di dekatnya.

Kita dapat mengajarkan anak balita kita untuk menunda kepuasan sejak dini. Misalnya saja, bagi seorang anak balita (bayi di bawah 5 tahun) pekerjaan menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Bagi mereka, menunggu selama 20 menit, sama seperti seorang dewasa menunggu seabad lamanya. Menunda kepuasan akan mengarahkan anak balita kita untuk belajar menunggu dalam keseharian mereka. Misalnya saja, mereka dapat belajar menunggu ibu menyiapkan susunya. Mereka juga dapat diajar untuk menunggu tanggal 25 untuk membuka hadiah Natal mereka. Sikap menunggu seperti ini, secara langsung juga melatih anak-anak kita untuk menguasai diri mereka, sebagai salah satu dari buah roh.

Apa saja yang dapat kita latih untuk anak-anak kita dalam hal penguasaan diri? Di satu sisi, kita dapat mengajarkan mereka untuk menolak keinginan. Dan di sisi lain kita juga dapat mengajarkan mereka untuk menunda kepuasan.

Untuk anak-anak yang lebih besar, kita dapat melakukannya berkaitan dengan penguasaan dalam hal mengambil makanan, dalam hal penggunaan uang dan fasilitas yang ada di rumah seperti telpon, internet, TV atau komputer. Bisa juga meredam amarah dan perkataan kotor yang keluar dari mulut mereka.

Masalahnya, apa alasan yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita saat mengajarkan mereka untuk menunda kepuasan mereka yang negatif atau yang bertentangan dengan kehendak Tuhan? Alasannya adalah mereka perlu tahu bahwa mereka tidak BERHAK melakukannya. Mereka tidak BERHAK makan sepuasnya (ingat doa “Bapa Kami”-berikan kami hari ini makanan… secukupnya), mereka juga tidak BERHAK marah-marah meluapkan emosinya secara berlebihan, termasuk juga mereka tidak BERHAK menikmati semua berkat Tuhan semau mereka, bahkan menyia-nyiakannya. Berkat Tuhan adalah titipan yang juga perlu disalurkan, bukan ditimbun apalagi dibuang seenaknya.

Alasan kedua, menunda kepuasan berarti melepaskan rencana kita sendiri karena kita menyadari, ada kebaikan yang lebih besar dari keinginan kita sendiri. Memang proses pelatihan seperti ini adalah proses seumur hidup. Itu sebabnya, seumur hidup pun, kita sebagai orang tua perlu juga belajar dan meneladaninya.

Alasan ketiga, menunda kepuasan adalah melatih diri untuk menghindar sakit hati. Maksudnya, saat kita menunda kepuasan kita, sering kali kita sakit hati, kesal bahkan merasa menderita. Padahal menunda kepuasan demi ketaatan kepada Kristus merupakan sebuah anugerah, berkat dan bahagia. Saat anak dapat merasakan sukacita dalam menunda kepuasan mereka, saat itulah mereka sedang semakin dekat dengan Tuhan dan kehendak-Nya.

Ketiga, KESADARAN DIRI

Allah telah membuat otak kita bekerjasama antara otak yang membuat kita dapat merasakan sesuatu (Otak Emosi) dan otak yang membuat kita dapat berpikir (Otak Berpikir). Mereka bekerja saling mendukung sehingga kita dapat merasakan kepuasan saat mengalami sesuatu.

Kesadaran diri adalah peduli pada apa yang kita rasakan dan kita pikirkan tanpa meninggalkan salah satunya. Itu sebabnya dalam membangun kecerdasan ini kita perlu melatih anak-anak kita untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka secara seimbang.

Perasaan mereka kepada Tuhan dan pikiran mereka tentang Tuhan pun dapat menjadi salah satu topik bahasannya. Misalnya, apa yang mereka rasa saat seorang meninggal dunia? Atau apa yang mereka rasa saat mereka melakukan kesalahan? Pikiran dan perasaan yang bekerjasama dengan baik, dapat melatih kepekaan anak-anak terhadap diri, sesamanya dan Tuhan.

Ada anak-anak yang dibiarkan menonton film kekerasan oleh orang tuanya, padahal film itulah yang menumpulkan kesadaran diri mereka yang sesungguhnya memiliki kepekaan sosial secara alami. Apa yang kita lakukan saat mereka menyaksikan tayangan di TV, lalu mereka menutup mata sambil mengatakan, “Aku takut!” jika jawaban kita sebagai orang tua, “Ah, itu-kan hanya film!” sebenarnya kita sedang merusak kesadaran diri mereka akan perasaan yang sedang mereka alami.

Setidaknya ada 2 hal yang dapat kita lakukan untuk menajamkan kesadaran diri mereka. Pertama, biarkan mereka mengalami, menyaksikan atau mendengarkan hal-hal yang nyata. Pilihlah pengalaman yang layak dikonsumsi mereka. Kedua, biarkan mereka membahasakan emosi atau perasaan mereka berkaitan dengan apa yang mereka alami, dengar atau lihat itu. Untuk anak-anak balita, kita dapat melatihnya dengan memberikan 2-3 pilihan, seperti: apakah kamu malu? sedih? Atau takut?

Kesadaran diri seperti itu, adalah pelatihan yang baik dan alami untuk membantu anak-anak kita mengungkapkan dirinya di hadapan Tuhan secara jujur, termasuk mengaku dosa di hadapan Tuhan, selain belajar meminta maaf kepada orang tua atau orang lain.

Saya jadi teringat Hana, Ibu Samuel yang mengungkapkan perasaannya kepada Tuhan. Sekalipun Penina memerlakukannya dengan kasar, Hana dapat berbicara kepada Allah dengan sepenuh hati. Sama seperti Maria yang selalu menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya.

Bukankah hal itu yang dipelukan anak-anak kita saat berada jauh dari kita sebagai orang tua? Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan mereka kepada Allah dan mendengarkan jawaban Allah melalui kepekaan mereka kepada kehendak Tuhan. Orang tua yang memiliki anak-anak seperti itu tentu akan sangat berbahagia/diberkati! Apa yang kita takutkan lagi ketika mereka berada jauh dari kita kelak, dengan kecakapan untuk selalu dekat dengan Tuhan? Mari kita latih anak kita sejak dini!
Tuhan memberkati!

Pdt. Riani Josaphine

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan