Oleh-Oleh dari Hobart

Oleh-Oleh dari Hobart

Belum ada komentar 72 Views

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kali inipun GKI Pondok Indah menyelenggarakan Bulan Peduli pada bulan Mei, dan salah satu fokus kepedulian kita ialah sebuah jemaat di daerah Hobart, kabupaten Sorong Selatan, Papua. Keterangan mengenai masyarakat Kristen di pedalaman Papua itu diperoleh Pdt. Riani Josaphine dari temannya, Pdt. Jeanne dari Gereja Kristen Injili Klasis Sorong.

Tak beberapa lama setelah rencana dibuat, dibentuklah sebuah tim yang akan melakukan perjalanan ke Hobart. Rencana pelayanan kami ini mendapat dukungan penuh dari GKI Pondok Indah dan GKI Klasis Sorong. Jemaat GKI PI bersatu-padu menyumbang buku dan baju untuk warga Hobart, sehingga terkumpul 80 koli.

Tim GKI PI yang akan ke Papua ini terdiri atas 11 orang: Ibu Augry Monica sebagai ketua tim, Pdt. Riani Josaphine, Bapak Barito Rivera, Bapak Kukun Sutardjana, Bapak Tjahjadi Kamadjaja, Ibu Hanny Kamadjadja, Ibu Susie Lewarissa, Charissa Tobing, Theresia Indrawati, Riyanto Dwihatma dan Metta Niham. Tim juga mengajak Bapak Sinyo sebagai tim advance, yaitu orang yang pergi terlebih dahulu untuk melihat keadaan tempat dan kebutuhan warga di Hobart. Bapak Sinyo sangat berpengalaman dalam pelayanan yang langsung terjun ke lapangan. Setelah segala persiapan selesai, tim GKI PI berangkat ke Papua pada tanggal 1 Juni 2010.

Hari Pertama

Kami berkumpul di Bandara Soekarno Hatta pada pukul 03.30, karena harus terlebih dahulu mengurus bagasi. Bagasi yang masuk tidak hanya barang-barang pribadi kami, tapi juga barang-barang yang belum sempat dikirimkan sebelumnya ke Papua. Setelah melalui proses penimbangan, ternyata kelebihan bagasi kami mencapai 193 kilogram sehingga kami harus membayar denda hampir 8 juta rupiah.

Kami berangkat pukul 05.00 dengan Merpati. Pesawat menuju Makassar terlebih dahulu dan sampai di sana sekitar pukul 08.15 WITA. Setelah transit selama setengah jam, kami lalu meneruskan perjalanan selama kurang lebih dua jam menuju Sorong dan tiba di sana pada pukul 13.00 WIT.

Begitu tiba di Bandara Domine Eduard Osok, kami langsung dibawa ke ruangan VIP Bandara. Ada beberapa orang dari GKI Klasis Sorong dan tentunya juga Pak Sinyo, yang sudah menunggu kami di sana. Begitu masuk ke ruang VIP dan hendak menuju mobil, kami dikejutkan oleh sambutan yang begitu meriah dari para remaja dan pemuda gereja setempat yang menyajikan tarian dan lagu-lagu khas Papua, lengkap dengan baju daerah mereka.

Setelah itu kami pergi ke Gereja Kristen Injili Shallom dan bertemu dengan Pdt. Jeane dan Bapak Ketua Klasis Sorong, Pdt. Mofu. Di sana kami diminta untuk memperkenalkan diri kepada jemaat dan kemudian dijamu makan siang. Usai makan siang, kami pergi ke Hotel Cendrawasih, tempat kami menginap selama di Sorong. Sekitar pukul 18.30 WIT, kami makan bersama di sebuah warung seafood di daerah Tembok Berlin, yang merupakan salah satu kawasan paling terkenal di kota Sorong. Beberapa anggota tim lalu pergi ke kantor Klasis untuk kembali menyortir barang-barang, sementara yang lain pulang ke hotel untuk mempersiapkan diri menghadapi perjalanan panjang ke kampung Hobart yang akan ditempuh keesokan harinya.

Hari Kedua

Kami sepenuhnya menyadari bahwa hari ini akan menjadi hari yang berat dan melelahkan, namun kami semua menghadapinya dengan penuh semangat. Pada pukul 08.00 WIT kami tiba di kantor Klasis untuk kembali mengurus bawaan yang akan dibawa ke Hobart, dan akhirnya pada pukul 10.00 WIT kami berangkat ke Hobart dengan tujuh mobil. Enam di antaranya juga digunakan untuk mengangkut barang bawaan kami. Sebelumnya kami sudah menerima informasi bahwa perjalanan menuju Hobart ini akan ditempuh dengan mobil dan setelah itu dengan berjalan kaki. Kira-kira pukul 15.30, kami sampai di sebuah desa yang bernama Batu Payung dan memberikan sejumlah sumbangan kasih berupa makanan (biskuit) dan perlengkapan mandi kepada penduduk desa itu.

Perjalanan kembali diteruskan dengan mobil. Kali ini jalan yang kami lewati sudah sangat berbatu-batu dan naik-turun. Menjelang sore, kami akhirnya sampai di desa Wilti. Di sini kami menitipkan sebagian barang bawaan kami, untuk nantinya kembali dibawa ke Hobart. Karena hari sudah semakin sore dan mendung, kami memutuskan untuk menyuruh tiga mobil kembali ke Sorong.

Mulai dari Wilti, jalan yang kami lalui kian sulit. Beberapa kali mobil yang kami gunakan terperosok ke dalam lumpur dan tidak dapat keluar. Kami sangat terkesan pada kecekatan penduduk di sana untuk menolong kami. Begitu melihat mobil kami terjebak dalam lumpur, warga Wilti dan sebagian warga Hobart yang sedang berada di Wilti langsung mengambil tali, mengikatkannya pada mobil dan bersama-sama menarik mobil yang kami tumpangi. Di antara orang-orang yang menarik mobil kami juga terdapat beberapa wanita dan anak kecil. Perjalanan kamipun diwarnai dengan off road, di mana ketrampilan mengemudikan mobil sangat diperlukan oleh sopir yang membawa kami, karena jalan yang kami lalui amat licin dan berlumpur.

Setelah jalan-jalan penuh lumpur itu berhasil kami lalui, akhirnya kami sampai di suatu tanjakan yang sangat terjal, sehingga sangat sulit bagi mobil untuk naik. Di tempat itu pula, semua mobil kembali terperosok ke dalam lumpur dan sama sekali tidak dapat keluar. Kala itu kira-kira pukul 6 sore WIT. Sebagian dari tim kami yang ada di mobil pertama dan kedua akhirnya berjalan kaki menuju base camp. Tempat berteduh ini sudah disiapkan oleh warga dan terbuat dari bambu yang disusun menjadi semacam dipan besar dengan terpal biru sebagai atapnya, sehingga kami juluki “Tenda Biru.” Memasuki daerah ini, kami menyadari bahwa kami sudah benar-benar berada di tengah hutan. Dalam waktu sekejap, semuanya menjadi gelap dan hujanpun turun. Penerangan kami hanya sebuah senter kecil yang tersisa, sambil menunggu anggota tim lain yang belum sampai.

Selama kurang lebih dua jam kami menunggu di base camp. Akhirnya, setelah semua anggota tim berkumpul dan mobil berhasil naik sampai di depan tenda, kami melihat bahwa semua warga kampung Wilti dan Hobart yang membantu menarik mobil, sudah dalam keadaan terlalu lelah. Kamipun memutuskan untuk membagi-bagikan biskuit, air minum dan makan malam kami berupa nasi boks kepada mereka. Sungguh terharu rasanya melihat mereka meminum satu gelas air mineral untuk berempat.

Akhirnya, kami meneruskan perjalanan kami dengan berjalan kaki. Saat itu hari sudah sangat gelap, dan jumlah senter sangat terbatas. Mula-mula kami harus mendaki sebuah bukit kapur yang cukup licin. Lalu kami diantar penduduk setempat untuk memasuki daerah Hobart. Kami diberitahu bahwa Hobart sudah dekat, tinggal sedikit lagi, namun faktanya, kami harus kembali menembus kedalaman hutan dan naik turun melewati tiga bukit. Jalan yang kami lalui sangat sempit, licin, dan diapit oleh jurang. Untunglah penduduk Hobart telah membangun pegangan bagi kami dari bambu, agar kami tidak mudah terperosok.

Pukul dua pagi, akhirnya kami sampai di desa Hobart. Di sana kami belum dapat mandi, karena airnya belum ada, jadi kami memutuskan untuk membersihkan badan sebisanya (dengan tisu basah) dan pergi tidur.

Hari Ketiga

Pukul 9 pagi kami bangun dengan sangat kehausan, karena belum minum sama sekali sejak malam harinya. Sebelum air minum tersedia, kami bergantian mandi di kamar mandi yang sudah dibuat oleh warga. Kamar mandi ini sangat terbuka, dan menggunakan terpal sebagai pintunya. Warga Hobart mengambil air dari sungai dan menaruhnya dalam jerigen untuk kami pakai. Setelah mandi, kami menikmati sarapan yang sudah dibuat oleh Ibu Hanny, Ibu Susie dan Pak Tjahjadi. Setelah itu kami mengadakan Sekolah Minggu kecil. Kami mengajak anak-anak kampung Hobart untuk berkumpul dan kami bermain, membacakan cerita, dan mengajarkan nyanyian kepada mereka. Satu lagu yang paling digemari anak-anak adalah “Happy Ya Ya Ya.”

Setelah acara dengan anak-anak selesai, tim bagian perlengkapan menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk acara Nonton Bersama yang akan dilaksanakan pada malam harinya. Sesudah itu, semua anggota tim ikut menyortir barang-barang yang akan dibagikan keesokan harinya. Film yang kami putarkan pada malam itu adalah “Denias” dan “The Passion of The Christ.” Kami memutarkan film ini di bawah tenda biru. Warga sangat menyukai film “Denias” terutama karena setting film ini juga di Papua. Sementara ketika film kedua diputar, warga mulai terlihat bosan dan karena sudah larut malam, banyak yang kembali ke kediaman mereka masing-masing.

Hari Keempat

Hari ini kami membagikan sumbangan–sumbangan yang sudah terkumpul kepada para warga. Sebelum itu, pada pukul 9 pagi, kami melaksanakan serah-terima sumbangan kepada Pdt. Rein dan Guru Jemaat, dan dilanjutkan dengan sambutan dari Pdt. Jeane dan Pak Nico, Kepala Distrik Wilti.

Ketika hendak memberikan sumbangan, mula-mula kami menghitung jumlah barang yang ada secara terperinci, karena nantinya dibutuhkan untuk membuat laporan pertanggungjawaban. Kemudian kami membuat formasi supaya warga yang dipanggil tinggal berjalan menyusuri formasi itu dan menerima barang yang disumbangkan. Peraturannya adalah, satu kepala keluarga yang mewakili keluarganya harus membawa tempat untuk menaruh barang seperti keranjang, karung, atau kardus yang mereka miliki, dan memperoleh satu paket shampo, satu Alkitab, satu paket sikat dan pasta gigi, satu paket sabun, baju dewasa dan baju anak-anak. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang ada, yang datanya kami peroleh dari Guru Jemaat.

Sore harinya, dr. Theresia memberi penyuluhan kesehatan kepada warga, dan membagi-bagikan vitamin anak, vitamin untuk orang dewasa, obat mata dan obat untuk telinga. Sebelum pembagian, warga diajari tentang cara mengonsumsi obat dan vitamin tersebut serta aturan pakainya.

Malam harinya, warga juga kembali diberi penyuluhan kebersihan oleh Pdt. Riani, salah satunya adalah tentang kebersihan gigi. Kemudian Ridho, salah satu warga Klasis Sorong, memberi penyuluhan tentang HIV dan AIDS kepada warga. Acara ini kembali dilanjutkan dengan nonton bareng. Kali ini film yang diputar adalah “Laskar Pelangi” dan “Garuda di Dadaku.” Acara nonton itu berlangsung hingga larut malam. Kemudian kami semua pergi tidur, menyiapkan energi untuk perjalanan esok harinya.

Hari Kelima

Sabtu 5 Juni 2010. Hari ini kami akan pergi meninggalkan kampung Hobart. Pada pagi hari, sebagian besar anggota tim berencana untuk mandi di sungai. Untuk mencapai sungai, kami harus berjalan kaki kurang lebih 15 menit. Air sungai itu mengalir langsung dari gunung dan sangat jernih.

Selesai mandi, kami kembali ke rumah dan bersiap-siap untuk berangkat ke Sorong. Sebelum berangkat, Ibu Augry selaku ketua tim memberikan sumbangan kasih kepada masyarakat yang rumahnya kami tempati, dan juga kepada ibu-ibu yang membantu kami memasak dan mencuci pakaian. Kami juga diberi buah tangan oleh warga Hobart berupa seekor ayam hidup, yang akhirnya kami berikan kepada Agus, salah satu pemuda Klasis Sorong.

Pukul 11 siang, kamipun berangkat. Bersama beberapa warga, kami berjalan kaki melewati tiga bukit sebelum akhirnya naik mobil. Sama seperti waktu berangkat, untuk pulangpun kami menggunakan tiga mobil. Perjalanan dengan mobil ini juga tidak mulus. Mobil harus mendaki beberapa tanjakan yang sangat terjal dan masih berurusan dengan lumpur. Di antara ketiga mobil ini, ada satu mobil yang berjalan paling depan. Ketika dua mobil lainnya masih cukup jauh di belakang, mobil ini terperosok ke lumpur yang cukup dalam. Sopir yang mengendarai mobil ini tidak berhasil mengeluarkannya kembali. Ketika itu kami hendak pergi ke Wilti, desa yang sempat kami singgahi sewaktu berangkat ke Hobart. Pak Sopir menyarankan kami untuk turun dan meneruskan perjalanan ke Wilti dengan berjalan kaki. “Sudah dekat, jalan kaki saja, Wilti tinggal satu kilometer,” katanya. Akhirnya 6 orang anggota tim ini, Ibu Augry, Bapak Barito, Bapak Tjahjadi, Ibu Hanny, Ibu Susie dan Metta bersama-sama berjalan kaki ke Wilti. Jalan yang harus dilalui ternyata sangat berlumpur, naik turun dan sangat licin. Ibu Hanny bahkan sempat tiga kali terpeleset. Dan ternyata jalan itu bukan sejauh satu kilometer seperti yang dikatakan oleh Pak Sopir, melainkan kira-kira empat kilometer dan ditempuh selama dua jam.

Kira-kira pukul setengah dua siang, keenam orang ini sampai di Wilti. Kami datang dengan sepatu dan celana yang penuh lumpur, kehausan dan kelaparan. Sepatu kami langsung diambil oleh para ibu untuk dicucikan. Kami juga disuguhi minum dan jagung bakar oleh Bapak Kepala Distrik, yang kami terima dengan senang hati. Setelah kurang lebih satu jam di Wilti, akhirnya anggota tim yang lain tiba juga dengan mobil. Setelah itu kami melaksanakan serah terima bantuan berupa uang sebesar dua juta lima ratus rupiah kepada Guru Jemaat di Wilti, yang akan dipergunakan untuk menyelesaikan pembangunan toilet di rumah Pastori. Bantuan ini diserahkan oleh Ibu Augry.

Pukul empat sore, kami melanjutkan perjalanan ke Sorong dengan mobil. Kali ini keadaan jalan yang dilalui sudah jauh lebih baik. Salah satu mobil yang semi pick-up, selain diisi oleh anggota tim dan beberapa orang dari Klasis, juga ditumpangi oleh beberapa warga Hobart yang perlu pergi ke Sorong.

Perjalanan menuju Sorong dari Wilti memakan waktu cukup lama. Kira-kira pukul 10 malam, kami baru tiba di sana. Bersama-sama dengan beberapa orang Klasis dan warga kampung Hobart, kami makan malam di restoran “Gaya Baru.” Enam orang yang sepatunya masih basah, terpaksa pergi makan tanpa alas kaki. Selesai makan, kami pun berpisah dengan pengurus Klasis dan warga Hobart yang turut serta. Kami dan Bapak Sinyo kemudian menuju Hotel Cendrawasih untuk bermalam di sana.

Hari Keenam

Minggu, 6 Juni 2010. Hari ini tim kami berkurang lima orang, karena tiga di antaranya: Ibu Augry, Bapak Barito dan Bapak Kukun akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain, sedangkan dua orang lainnya: Sdri. Theresia dan Sdri. Tissa akan pulang ke Jakarta lebih awal. Anggota tim yang tersisa kemudian bersama-sama pergi ke gereja setempat (Gereja Kristen Imannuel) untuk beribadah. Sepulang dari gereja, kami kembali ke Hotel Cendrawasih dan bersiap-siap untuk check out, karena kami ingin pindah ke Hotel Royal Membrano yang terletak tidak jauh dari sana dan tempatnya lebih nyaman dan bersih. Setelah kami check in ke Hotel tersebut, kami makan siang di sana bersama Pdt. Jeanne dan suaminya, Bpk. Yongki. Usai makan siang, kami diantar ke toko suvenir di Sorong untuk berbelanja. Karena harga-harga barang di Papua rata-rata cukup mahal, kami harus pintar menawar. Sesudah berbelanja, kami pergi ke Pantai Tanjung Kasuari yang tidak terlalu ramai dan cukup bersih. Pasirnya putih dan airnya sangat jernih. Di pantai ini kami naik kano dan minum air kelapa.

Setelah puas berjalan-jalan, kami kembali ke hotel untuk mandi dan berisitirahat sejenak. Pukul setengah tujuh, kami berangkat dari hotel untuk makan malam. Sesudah itu Pdt. Riani dijemput oleh Pdt. Jeanne untuk rekaman khotbah di stasiun RRI. Sementara Pdt. Riani rekaman, anggota tim yang lain pergi mencari oleh-oleh keripik khas Sorong untuk dibagikan kepada Panitia Bulan Peduli yang ada di Jakarta. Setelah itu, kami kembali ke hotel untuk mendiskusikan kebutuhan utama yang diperlukan oleh masyarakat Hobart. Tak lama kemudian, Pdt Riani tiba di hotel dan ikut serta dalam diskusi ini. Pada pukul 11 malam, kami semua pergi tidur.

Hari Ketujuh

Hari Senin, 7 Juni 2010, adalah hari kepulangan kami ke Jakarta. Sebelum kami pulang, kami diundang makan siang oleh ketua Klasis Sorong di sebuah restoran seafood yang menghadap ke pantai. Sambil makan siang, Pdt. Riani mengutarakan kepada Bapak Pdt. Mofu, keinginan kami sebagai anggota tim dan segenap panitia yang ada di Jakarta, untuk terus membantu warga Hobart dengan berusaha membangun sebuah sumber air yang layak bagi warga di sana. Dari hasil diskusi kami sebelumnya, kami menyadari bahwa warga Hobart sangat membutuhkan sumber air yang layak sebagai langkah awal untuk menjadi sebuah komunitas yang bersih dan sehat. Pdt. Riani juga secara resmi menyerahkan sebuah rancangan awal sumber air kepada Bapak Ketua Klasis. Dari pembicaraan yang dilakukan selama jamuan makan siang ini, telah disepakati bahwa Klasis Sorong bersedia bekerja sama dengan GKI Pondok Indah untuk terus membantu warga Hobart.

Setelah makan siang, kami mampir ke beberapa toko suvenir lain di Sorong. Dari sana, sopir yang membawa kami menanyakan apakah kami ingin mampir ke toko batik Papua. Ketika itu, kami berpikir bahwa kami masih punya cukup waktu, karena pesawat kami akan berangkat pukul 14.25 WIT. Namun di tengah-tengah belanja kami, Bapak Sinyo mendapat telepon dari Pdt. Jeanne yang mengatakan bahwa pesawat kami sudah akan berangkat. Pdt. Jeanne dan Pdt. Rein yang sudah menunggu di bandara sangat kuatir bahwa kami akan tertinggal pesawat. Akhirnya, begitu kami tiba di bandara, kami tidak sempat lagi mengobrol panjang lebar lagi dengan mereka dan langsung naik pesawat. Di pesawat, baru kami menyadari bahwa ternyata kami seharusnya berangkat pukul 13.20 WIT dan tiba di Makassar pada pukul 14.25. Kami beruntung karena pesawat ini memang sedikit terlambat tiba di Sorong dan Pdt. Rein berhasil mengontak salah satu petinggi Merpati Airlines untuk meminta sang pilot sedikit menangguhkan keberangkatannya.

Pada pukul 15.30 WITA kami tiba di Makassar untuk transit. Karena kedatangan kami dari Sorong terlambat, kami harus segera pindah ke pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta. Perjalanan dari Makassar ke Jakarta kira-kira tiga jam. Pukul 16.30 WIB, kami tiba di Bandara Soekarno Hatta. Kami hanya sempat berkumpul sebentar sebelum akhirnya pulang ke rumah kami masing-masing.

Perjalanan selama tujuh hari ini merupakan sebuah perjalanan iman, di mana kami belajar untuk lebih bersyukur atas semua karunia Tuhan. Terkadang kami terlena oleh segala kenyamanan yang kami miliki. Namun setelah pengalaman ini, kami menyadari bahwa banyak hal kecil yang sering kami anggap sudah sewajarnya diterima, ternyata merupakan berkat Tuhan. Kami bersyukur atas angin yang bertiup, karena ada tempat yang hampir selalu panas. Kami bersyukur atas tanah yang rata, karena di tempat lain, orang-orang harus melintasi lumpur dengan berjalan kaki. Kami bersyukur karena mengenakan alas kaki dan baju, karena ada banyak sekali orang yang tidak memiliki kedua-duanya. Dan ada begitu banyak hal lain yang dapat patut disyukuri. Kiranya laporan kami ini berguna bagi pembaca sekalian. (Metta Niham)

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan