Menjadi Manusia Seutuhnya

Menjadi Manusia Seutuhnya

Belum ada komentar 194 Views

Banyak suami atau isteri masih dikendalikan oleh keadaan atau sesuatu yang terjadi pada masa lalu mereka; trauma, sakit hati dan dendam menguasai pikiran mereka. Dengan demikian, suasana hati menjadi kacau, berubah-ubah, dan pikirannya tidak menentu yang mengakibatkan jiwanya tertekan. dan tidak mengalami damai sejahtera. Orang yang memiliki suasana hati yang kacau dan berubah-ubah, tidak dapat berpikir positif dan manusia batiniahnya tidak berkuasa mengendalikan pikirannya.

Alangkah baiknya bila Pasutri mulai menyingkirkan bayang-bayang masa lalu, karena Allah tidak pernah membiarkan kita terpuruk ke dalam masa lalu kita, Dia menghendaki agar kita menyadari bahwa masa lalu itu sudah berakhir dan sudah mati. Masa lalu sudah dikuburkan bersama Kristus, dan diserahkan kepada kuasa Salib, masa depan kita sudah siap dibangkitkan bersama Kristus (Galatia 2:19b-20). Pasutri terus bergerak maju dan melangkah ke masa depan yang penuh harapan.

Apabila metafora dunia masih menguasai diri Anda, segera ingat akan nasehat Paulus dalam 2 Korintus 10:4-5, “Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang dilengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu-kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus”. Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia batiniah Paulus dapat mengendalikan pikirannya dengan menggunakan pikiran Kristus. Dan pada Filipi 4:8 Paulus mengajarkan pula bahwa kita perlu memikirkan segala sesuatu yang baik untuk memastikan bahwa manusia batiniah kita dapat mengendalikan pikiran-pikiran kita, “Jadi akhirnya, sudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu”. Sedangkan ayat:7, Paulus menyatakan bahwa damai sejahtera Allah akan diam dalam kehidupan kita apabila segala pikiran kita dipusatkan pada perkara-perkara yang tepat dalam Kristus Yesus. Untuk itu Pasutri harus dapat memahami diri sendiri (Manusia Batiniah) sebaik-baiknya.

MEMAHAMI DIRI SENDIRI

Mengenal dan memahami diri sendiri sangat penting bagi Pasangan suami-isteri pengikut Kristus, karena dengan memiliki pengenalan diri, mereka dapat berkomunikasi dengan diri sendiri, yaitu manusia batiniah (roh) yang ada di dalam dirinya, sehingga dapat bersekutu dengan Allah di dalam roh, karena “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:24). Persekutuan manusia dengan Allah hanya dapat terjadi bila manusia itu mengenal, menghargai dan menilai diri sendiri dengan benar dan alkitabiah. Manusia batiniahnya harus dapat difungsikan sesuai rancangan Tuhan dalam menciptakan manusia (Kejadian 2:7).

Fungsi manusia batiniah itu tidak dapat digantikan oleh pikiran atau perasaan yang berasal dari jiwa, bahkan manusia batiniah itu harus dapat menguasai pikiran, perasaan dan keinginan yang berasal dari jiwa. Manusia batiniah kita memiliki fungsi untuk melakukan jalinan hubungan dengan Allah. Jalinan hubungan merupakan persekutuan dengan Allah dalam bentuk doa dan pujian untuk memulyakan Allah. Persekutuan dengan Allah dapat dilakukan secara langsung di dalam roh atau manusia batiniah, bukan hanya di dalam jiwa atau dengan manusia lahiriah saja. Perintah Allah dalam Markus 12:30 mengatakan, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu (roh atau manusia batiniah) dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu”. Jadi kita mengasihi Tuhan harus dengan segenap manusia seutuhnya, yaitu : roh, jiwa dan tubuh.

Manusia batiniah kita memiliki fungsi untuk membangun persekutuan dengan Allah, dan memiliki kekuatan yang dapat mengendalikan pikiran, perasaan dan keinginan di dalam jiwa. Sebagai Pasutri yang sudah dilahirkan kembali, maka roh kita tidak akan tersekat dengan hayat Allah, bahkan Roh Kudus tetap tinggal di dalam manusia batiniah kita, dan kita di hidupkan menjadi bejana Roh Kudus.

Sebelum seseorang dilahirkan kembali, fungsi roh itu berbaur menjadi satu dengan jiwanya sehinga fungsi roh terhadap Allah menjadi lemah, bahkan telah mati dan dikendalikan oleh jiwanya. Dia tidak dapat mengenali manusia batiniahnya sendiri, sehingga tidak dapat memberdayakan fungsi roh dengan baik. Roh itu menjadi gelisah dan tidak mampu mengendalikan pikiran, perasaan dan keinginan dalam jiwanya. Dalam kondisi demikian, kita segera menggunakan firman Tuhan untuk memahami dan mengenali diri sendiri, dengan cara: memisahkan manusia batiniah dari kungkungan jiwa. “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12). Kita bukan saja harus dapat memisahkan roh dari kungkungan jiwa, tetapi sebaliknya roh kita harus dapat mengendalikan jiwa kita. Alkitab dengan firmanNya mampu menegur kita bila menyimpang dari jalan yang telah ditentukanNya (2 Timotius 3:16).

Dengan mengembalikan fungsi manusia batiniah, maka Pasutri dapat hidup rukun dalam rancangan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan dapat memahami tentang pengenalan diri, “siapa manusia batiniah kita”. Melalui doa, kita juga dapat membuka diri agar Roh Kudus mengajar kita untuk mehahami, mengenal, menghargai dan menilai diri sendiri dengan benar, sehingga kita dimampukan untuk memberdayakan fungsi manusia batiniah kita untuk mengendalikan pikiran, perasaan dan keinginan dengan benar.

MENJAGA HARGA DIRI

Harga diri merupakan kebutuhan dasar pribadi manusia pada umumnya, seperti: penampilan, pendidikan, kedudukan, jabatan, kekayaan materi dan apa kata orang dalam masyarakat. Akan tetapi pengertian “harga diri yang alkitabiah” adalah harga diri yang menyangkut status kita sebagai pengikut Kristus, yang diciptakan menurut gambarNya, sebagai anak-anak tebusan Allah yang menjadi pewaris Kerajaan Surga, dan sebagai anak-anak yang mentaati perintah Kristus. Maka Pasutri dapat memandang dan menghargai diri sesuai dengan pola pikir Allah, bukan menurut pikiran diri sendiri atau menurut keinginan orang lain.

Tuhan Yesus memiliki gambar diri “Congruent”, suatu kesempurnaan yang dapat memperhitungkan diri sendiri, memperhitungkan orang lain, dan memperhitungkan keadaan. Dalam kondisi dapat memperhitungkan diri sendiri, Yesus mengenali diri sendiri dan memberi penghargaan yang patut pada diriNya, sehingga Dia sanggup melakukan sesuai kehendak Bapa di surga. Dia sanggup “mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:7-8). Menghargai diri identik dengan menyangkal diri, semakin tinggi tingkat penghargaan diri seseorang terhadap dirinya, maka dia dapat melakukan tindakan yang semakin efektif dan bermanfaat dalam hidupnya dan mendatangkan berkat bagi orang lain. Yesus menyangkal diri, “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Filipi 2:5), untuk memperhitungkan manusia, dan demi keselamatan manusia, yang sejalan dengan kehendak Bapa yang mengutus Dia. Oleh karena itu Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23).

Menyangkal diri adalah kebebasan untuk mengutamakan orang lain lebih dari kepentingan diri sendiri, agar kita tidak berpusat untuk memikirkan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan orang lain juga. Menyangkal diri bukan menghilangkan identitas diri atau menghina diri sendiri, melainkan bermegah atas kasih karunia yang Tuhan telah anugerahkan dalam hidup kita, dan kita dapat melakukan rancanganNya dalam kehidupan kita.

Yesus memerintahkan kepada kita untuk mengasihi sesama manusia seperti dirinya sendiri (Matius 19:19), berarti Yesus mengajar kepada kita untuk mengasihi diri sendiri, bukan membenci diri dan juga bukan “mengasihani” diri sendiri. Sebab orang yang mengasihani diri sendiri selalu memandang dirinya sebagi pusat perhatian, dan memposisikan dirinya hebat atau sebaliknya berada dalam penderitaan dan kekurangan, untuk menarik perhatian orang lain agar mereka memujinya atau bahkan mengasihaninya. Sangat berbeda apabila seseorang mengsihi dirinya, ia akan menghargai dirinya juga. Ketika ia menghargai dirinya, ia akan menyangkal dirinya, dan ketika ia menyangkal diri, berarti dia tidak mementingkan diri sendiri, tetapi memperhatikan kepentingan orang lain. Inilah suatu keseimbangan yang dia dilakukan, yaitu : Menghargai diri namun tidak sombong; mengasihi diri namun tidak mengasihani diri atau menyiksa diri; menyangkal diri namun tidak mementingkan diri sendiri. Jadi, menghargai diri tidak identik dengan kesombongan diri, melainkan memiliki kemampuan untuk mengenal dan menyadari kelemahan dan kekuatan diri sendiri serta menerima dirinya sebagaimana adanya. Namun harga diri yang berdasarkan kesombongan harus disingkirkan.

Allah menciptakan manusia menurut gambarNya, berarti manusia merupakan makhluk yang mulia dan sangat berharga di mataNya, milik kepunyaanNya dan menjadi biji mataNya (Yesaya 43:4; 49:14-16; Keluaran 19:5; Zakaria 2:8). Walaupun manusia telah jatuh dalam dosa, namun Allah tidak membiarkan manusia tetap terpuruk karena pelanggarannya, Kristus datang dengan karya penebusanNya untuk mengembalikan harga diri manusia. Setelah diselamatkan kita perlu meresponi dan berhati-hati menjaga keselamatan dan harga diri kita yang telah ditebus dengan darah yang mahal. Harga diri kita jangan sampai tercela oleh perilaku dan tindakan yang tidak benar, tetapi tetap menjaga nama baik dengan melakukan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang alkitabiah dalam kehidupan pernikahan.

Kesombongan, keangkuhan dan kecongkakan harus disingkirkan, agar kita dapat menyadari bahwa kemampuan, kepandaian dan kekayaan adalah pemberian Tuhan, sehingga dapat menjaga harga diri yang merupakan anugerah Allah melalui Penciptaan, Penebusan dan ketaatan akan peritah Kristus. Mempertahankan harga diri berarti menghormati dan menghargai nama Kristus yang berdiam di dalam manusia batiniah kita. Karena kita adalah saksi Kristus, maka kita harus bersaksi tentang Dia, tidak hanya melalui perkataan saja, melainkan juga dalam perilaku dan perbuatan yang sesuai dengan rancanganNya.

Agar dapat mempertahankan harga diri, Pasutri perlu terus mengucap syukur atas kasih Allah yang begitu besar dan sempurna, meresponi serta membina hubungan yang intim denganNya dalam doa dan puji-pujian. Namun masing-masing tetap memperhatikan kepentingan pasangan dan peka akan kebutuhan mereka (Filipi 2:3). Hal itu merupakan salah satu tujuan untuk mengikut Kristus dan menyangkal diri. Sebagai pengikut Kristus, Pasutri juga harus mengembangkan talenta dan karunia rohani untuk mengasihi serta melayani Tuhan dan sesama yang merupakan tindakan iman untuk mempertahankan dan menjaga harga diri sesuai rancangan Allah.

MENYADARI PERAN MANUSIA DI HADAPAN ALLAH

Pasutri perlu menghayati peran manusia di hadapan Allah, yaitu: Pertama: Menyadari bahwa Allah adalah Pencipta dan manusia adalah hasil ciptaanNya, yang harus bertanggung jawab kepada Sang Pencipta; Kedua: Allah adalah Sumber Kehidupan yang menguasai alam semesta, sedangkan manusia bergantung kepadaNya dan hanya menguasai diri sendiri; Dan Ketiga: Allah adalah Hakim kehidupan, menciptakan kehidupan dan menetapkan aturan-aturan di dalamnya, sedangkan manusia hanya menjadi pelaku kehidupan dan mematuhi aturan-aturan yang Allah tetapkan dan hidup sesuai rancanganNya.

Suami dan isteri harus kembali mengikuti aturan-aturan sesuai rancangan Allah:

  1. Berhenti memiliki sikap kemandirian di hadapan Allah: Berpusat kepada Allah untuk menetapkan arah dan tujuan hidup sebagai dasar perilaku serta tindakannya demi kemuliaan Allah. Sehingga dapat menghayati hubungan yang dekat dengan pasangan, jujur dan penuh tanggung jawab.
  2. Berhenti mencoba menguasai hal-hal yang tidak dapat dikuasai: Mengembangkan sikap hidup berserah kepada Allah serta mempercayai pengaturanNya. Dia yang mengendalikan dan memberdayakan kehidupan.
  3. Berhenti menjadi hakim bagi sesama dan diri sendiri: Menghentikan sikap mental yang suka mengadili, menghukum, cepat marah, rasa malu yang berlebihan, dan lain-lain. Sehingga mereka dapat bergaul dengan diri sendiri dan sesama seperti yang Allah rencanakan, untuk menjadi manusia seutuhnya sesuai “gambar” Allah.
  4. Berhenti membuat aturan-aturan baru: Kembali pada aturan-aturan dan peran yang Allah berikan kepada manusia. Khusus dalam pernikahan, masing-masing Pasutri harus mengikuti aturan-aturan dan peran sesuai rancangan Allah, yaitu : Suami sebagai pemimpin dan Imam dalam keluarga, sedangkan isteri sebagai penolong yang sepadan.

LIMA LANGKAH MENJADI MANUSIA SEUTUHNYA

Secara alami, manusia pada umumnya berpikir tidak benar, bahkan cenderung berpikir jahat. Oleh karena itu Pasutri perlu waspada akan kondisi pikiran yang “alami” itu, dan segera membangun kembali pikiran-pikiran dengan memasukkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai alkitabiah dalam akal budi kita. Pasutri tidak akan pernah terlepas dari pikiran-pikiran yang tidak benar bila tetap membiarkan tanpa ada proses pertumbuhan terjadi dalam kehidupan mereka. Untuk menguasai pikiran-pikiran kita yang “liar” itu tidak mudah, tetapi juga tidak terlalu sulit dilakukan.

Tuhan memberi perlengkapan senjata firman bagi orang-orang percaya untuk melakukan proses pembaharuan, “Dankita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak terselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambarNya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18). Apabila kita memiliki ketaatan, ketulusan dan kejujuran di hadapan Allah, pasti manusia batiniah kita akan mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam “proses kehidupan” yang semakin menjadi serupa Kristus.

Roh atau manusia batiniah harus berkuasa atas pikiran kita; karena Pola Pikir (the way to think) dapat menentukan Pola Rasa (the way to feel) dan Pola Rasa itu akan membangun Pola Tindak (the way to act), sehingga kita dapat bertindak benar. Oleh karena itu Pasutri harus membangun pikiran dengan roh yang sudah dibaharui dengan pikiran Kristus. Maka roh kita akan menguasai pikiran-pikiran dan dapat berpengaruh positif pada jiwa dan tindakan tubuh kita, dan semuanya akan saling berkaitan dalam satu sistem manusia seutuhnya. Pasutri akan mengalami proses menjadi manusia seutuhnya sesuai rancangan Allah, dengan melakukan Lima Langkah:

  1. Dilahirkan kembali dalam roh (Be Reborn in Our Spirit). Pasutri harus lahir baru, yaitu: percaya (believe) kepada Yesus Anak Allah yang telah mati di Kayu Salib untuk menyelamatkan kita semua; mempercayakan (trust) setiap celah kehidupan kita kepadaNya; dan menerima (receive) Roh Kudus agar mengendalikan dan memberdayakan kehidupan kita. Manusia batiniah kita harus selalu beradaptasi dengan Roh Kudus agar dapat mengendalikan pikiran kita, menaklukkan keangkuhan dan kesombongan serta menggantikan dengan sikap rendah hati dan ketaatan. 2 Korintus 10:5 mengatakan, “Kami mematahkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus”. Pasutri harus memiliki perhatian khusus untuk mendisiplinkan diri dan berani mengembangkan otot-otot rohani, membuang segala pikiran yang tidak benar dan menggantikannya dengan pikiran Kristus. Berhasil dan tidaknya tergantung sejauh mana kita dapat berserah dan mempercayakan kepada Roh Kudus guna memusnahkan musuh-musuh yang berasal dari dalam diri sendiri, yaitu keangkuhan dan kesombongan yang dapat ditunggangi dan dimanfaatkan oleh Iblis untuk menghancurkan pernikahan kita. Kolose 3:5 mengatakan, “Karena itu matikanlah dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa napasu, nafsu jahat, dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”. Bila daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya sudah mati, kita menjadi milik Kristus (Galatia 5:24), dan manusia batiniah kita akan mengendalikan Jiwa dan tindakan tubuh kita.
  2. Membangun kembali Pola Pikir (Rebuild our Thoughts). Roh adalah elemen yang paling mulia, maka untuk menjadi “manusia seutuhnya”, pikiran harus menundukkan diri dan menghormatinya. Manusia batiniah yang beradaptasi dengan Roh Kudus, akan mengendalikan Pikiran dalam jiwa kita dengan pikiran Kristus, yaitu dengan cara sebagai berikut:
    • Mengumandangkan pikiran Tuhan, yaitu prinsip-prinsip dan nilai-nilai dari Alkitab dalam pikiran kita, maka akan timbul pemahaman dan penghargaan Pola Pikir Tuhan dalam akal budi kita.
    • Mengguyur akal budi kita dengan firman Tuhan terus-menerus dan mengingat kembali setiap saat, sehingga firman Tuhan itu akan terekam dalam akal budi kita, dan pikiran-pikiran yang berlawanan dengan firman Tuhan pasti terlempar jauh dari akal budi kita. Maka pikiran kita seutuhnya dikuasai oleh Pola Pikir Tuhan, melalui manusia batiniah kita.
  3. Memusatkan kembali Perasaan (Refocus Our Emotions). Pikiran yang seutuhnya dikuasai oleh Pikiran Kristus, akan membangun perasaan positif, yang sejalan perasaan Kristus, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus” (Filipi 2:5).
  4. Mengatur kembali keinginan (Redirect Our Will). Apabila Pasutri sudah memiliki pikiran dan perasaan Kristus, maka keinginan mereka akan terkendali dan berjalan selaras dengan pikiran, dan perasaannya. Pikiran dan perasaan harus mengendalikannya sehingga dapat mewujudkan tindakan tubuh (manusia badaniah) sesuai pembaharuan roh yang kita lakukan.
  5. Berbuah kembali dalam kehidupan dengan sesama (Reproduce Our Life in Others). Memiliki keselarasan dan keseimbangan dalam roh, jiwa dan tubuh akan menghasilkan buah dengan sesama. Maka Pasutri akan menjalani kehidupan pernikahan mereka sesuai rancangan Allah.

Menjadi manusia seutuhnya akan menghasilkan hidup yang benar dan pasti Anda akan berpikir: “semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Filipi 4:8). Dan menghasilkan buah roh dengan sesama, “ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri” (Galatia 5:22-23).

Pasutri Tjuk – Maureen

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan