Mengenang Kematian  Lebih Penting daripada  Mengenang Kebangkitan?

Mengenang Kematian Lebih Penting daripada Mengenang Kebangkitan?

Belum ada komentar 1195 Views

Yang terhormat Bapak Pendeta Rudjak,

Sebagai jemaat GKI PI saya bersyukur atas penyelenggaraan rangkaian ibadah Paska(h) yang semakin baik dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini, di mana rangkaian peringatan dari Rabu Abu ke Pentakosta telah semakin dihayati oleh jemaat. (Hal ini saya ukur dari peningkatan keterlibatan dan kehadiran jemaat).

Saya memahami bahwa peningkatan atau perbaikan tersebut di atas sebagai salah satu bentuk reformasi gereja, yang selalu berusaha memperbaharui dirinya. Namun demikian, satu hal yang masih mengganjal bagi saya, mengapa GKI PI belum (atau tidak?) menyelenggarakan Perjamuan Kudus (PK) pada hari Paska (h) yaitu hari Minggu sebagai hari peringatan Kebangkitan, namun tetap menyelenggarakannya pada hari Jumat Agung, yaitu hari di mana Yesus disalibkan dan wafat.

Sebagai awam, saya memahami penyelenggaraan PK pada hari Jumat sebagai peringatan akan penderitaan dan kematian Yesus. Namun bila dilakukan pada hari Minggu, diperingati sebagai pengucapan syukur atas Kristus yang bangkit. Mengapa mengenang kematian lebih penting daripada mengenang kebangkitan? Tentu ada alasan yang mendasarinya.

Terima kasih atas pencerahannya.
(PNTL)

Saudara PNTL yang baik,

Saya sungguh bersyukur bila ada jemaat yang sungguh punya perhatian dan mengamati perkembangan gereja kita tercinta ini.

Khususnya pembaharuan-pembaharuan yang terjadi di bidang ibadah gerejawi. Apa yang Anda ungkapkan sebagai bentuk pengamatan Anda, sungguh menyemangati kami (khususnya Mabid Ibadah) untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadah gerejawi kita.

Nah, menjawab pertanyaan Anda, mengapa GKI PI masih menyelenggarakan Perjamuan Kudus di hari Jum’at Agung dan bukannya hari Paskah? Menurut pemahaman saya, tidak ada yang perlu dipertentangkan di antara ke dua hari raya gerejawi tersebut, bahkan dengan hari raya gerejawi lainnya.

Memang peristiwa kebangkitan Kristus adalah dasar utama iman kristiani kita. Itulah sebabnya Rasul Paulus berkata: “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu…” (1 Kor. 15:14). Karena itu harapan anda bahwa kita mengadakan perjamuan Kudus di hari raya Paskah sungguh layak dipertimbangkan. Tetapi tidak berarti bahwa menyelenggarakan perjamuan Kudus di hari raya Jum’at Agung adalah keliru. GKI PI masih mempertahankan perjamuan Kudus di hari raya Jum’at Agung dengan beberapa alasan:

  1. Rangkaian karya keselamatan Allah yang kita peringati dalam hari-hari raya gerejawi adalah sebuah rangkaian yang utuh. Melihat hari raya Paskah terpisah dari hari raya gerejawi yang lain, menurut pemahaman saya kurang tepat, meskipun betul, landasan iman kita adalah peristiwa Paskah. Tetapi bukankah tidak akan ada Paskah tanpa Jum’at Agung atau bahkan tanpa Natal? Karena itu merayakan perjamuan Kudus di semua hari raya gerejawi tersebut tidaklah salah (termasuk merayakan perjamuan Kudus di hari Natal).
  2. Secara ekumenis di Indonesia, banyak gereja yang seasas dengan GKI masih menyelenggarakan perjamuan Kudus di hari raya Jum’at Agung.
  3. Secara kultural, kondisi bangsa Indonesia (atau Asia) yang senang dengan laku keprihatinan, nampaknya lebih dekat dengan suasana (teologi) salib, meskipun benar, bahwa salib tetap kita lihat dalam terang kebangkitan Kristus.
  4. Dalam terang kebangkitan Kristus, kita tidak hanya memperingati kematian Kristus di hari raya Jum’at Agung, namun juga karya penebusan Allah melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Dalam hal ini, simbolisasi perjamuan Kudus melalui roti dan air anggur menurut pemahaman saya lebih dekat dengan peristiwa penyaliban Kristus.

Nah, itu sebagian alasan mengapa GKI PI masih mempertahankan perjamuan Kudus di hari raya Jum’at Agung.

Menurut pemahaman saya, daripada mempertentangkan apakah perjamuan Kudus sebaiknya diadakan pada hari raya Jum’at Agung atau Paskah, saya justru menganjurkan agar perjamuan kudus diadakan di kedua hari raya gerejawi tersebut (bahkan juga hari Natal/malam Natal). Bukankah selayaknya perjamuan Kudus diadakan dalam setiap ibadah gerejawi kita?

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Persembahan Bagi Tuhan
    Yth. Pak Pendeta, Mengapakah ragi dan madu dilarang digunakan bangsa Israel pada saat membakar hewan-hewan korban di Kemah Suci,...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
  • ALLAH Sang Sutradara?
    Bapak Pendeta Yth. Saya sedang membaca kitab Yehezkiel dan di sana terdapat banyak segala nubuatan, baik bagi bangsa Israel,...
  • Manusia Purba
    Pak Pdt. yang baik, Bolehkah saya meminta penjelasan tentang pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, yang mengusik hati saya: Siapakah manusia...
Kegiatan