Mengajarkan Anak Usia Dini Berdoa

PojokParenting

Belum ada komentar 136 Views

“Mami, ajarkan aku berdoa…” (riajos.pdt)

Mengajarkan anak berdoa sangat bergantung pada usia anak kita. Mengajarkan anak usia di bawah 5 tahun, tentu berbeda dengan anak usia 12 tahun, karena gaya bahasa anak menentukan bagaimana mereka berbicara kepada Tuhan. Tidak tertutup kemungkinan bahwa anak usia 12 tahun berdoa bagaikan anak usia 5 tahun. Namun yang paling penting bukanlah usia mereka, melainkan cara mereka berkomunikasi dengan Tuhan.

APA ITU BERDOA?
Saya sering mendengar instruksi dari orangtua kepada anaknya saat menjelang makan, “Ayo berdoa dulu!” atau “Jangan lupa berdoa ya!” atau “Eh, jangan makan dulu! Doa! Doa!” Masalahnya, apakah anak kita tahu apa itu berdoa?

Ya betul! Berdoa adalah berbicara kepada Tuhan. Namun Tuhan seperti apa? Apa gunanya? Bagaimana caranya? Apa yang dibicarakan? Dan bagaimana menjelaskan itu semua, khususnya kepada anak berusia dini?

Bagi anak usia dini (di bawah 5 tahun), berdoa bukanlah hal yang mudah dimengerti. Terlalu abstrak baginya untuk berbicara kepada yang tidak dapat dilihat oleh mata. “Mana Tuhannya, Mami?” Saya segera menjawab, “Di hati kamu dan di hati Mami…” lalu saya memeluknya. Tanpa bertanya lagi, anak saya mulai berdoa mengikuti saya. Karena selalu berdoa sebelum makan, lama kelamaan ia jadi bisa berdoa sendiri dengan kata-katanya. Lagi-lagi, kata-kata yang sama seperti yang saya ucapkan bersamanya sebelum makan, “Tuhan Yesus, berkati makanan ini. Supaya saya sehat dan kuat. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin!”

Pengalaman tersebut bukan berarti anak saya mengerti adanya Tuhan yang tidak dilihatnya. Pengalaman berdoa baginya barulah pengalaman menarik yang dilakukan karena Mami, sebagai pendidik utamanya, melakukannya juga. Jadi berdoa adalah sebuah kegiatan yang anak kita lakukan karena pendidik utamanya melakukan juga.

Jika pendidik utama berdoa sambil berlutut, maka ia akan mengikuti model berlutut yang sama. Jika pendidik utama berdoa kepada Bapa di Surga, maka ia juga akan berdoa kepada Bapa di Surga. Jika pendidik utama tidak pernah menyebut nama Tuhan Yesus, maka anak pun tidak akan menyebut nama Tuhan Yesus.

Jadi berdoa bagi anak usia dini adalah kegiatan menirukan apa yang dilakukan pendidik utamanya. Anak mengetahui bahwa berdoa adalah berbicara kepada Tuhan, karena pen-didik utama mengatakan demikian kepadanya. Apakah ia sudah menyadari pentingnya berbicara kepada Tuhan? Dalam kapasitas kognitifnya, belum! Ia belum memahami pentingnya berbicara kepada Tuhan.

Namun demikian, jika dalam perjalanan pendidikan imannya, pendidik utama mengatakan, “Ayo kita berdoa agar hari ini tidak hujan, jadi kita bisa berenang!” Maka ia akan meniru sebab akibat yang dikatakan oleh pendidik utamanya. Sehingga saat seorang mengatakan, “Kenapa kamu berdoa sebelum berenang?” Jika dia mengingat apa yang dikatakan pendidik utamanya, dia bisa menjawab, “Supaya tidak hujan!”

Kalau begitu, bagaimana cara mengajarkan berdoa anak usia dini?

CARA MENGAJARKAN BERDOA
Mengajarkan anak usia dini berdoa bukan hanya sekadar mengucapkan kata-kata yang ditujukan kepada Tuhan. Namun formula atau kata-kata dalam doa yang diucapkan sangatlah berguna bagi anak untuk mengubah pengalaman berdoa menjadi bermakna.

Penting pula memahami perkembangan kognitifnya sehingga kita dapat me-ngetahui bagaimana cara mengajar-kannya berdoa. Berikut perkembangan kognitif anak usia dini.

1. Tahap Asimilasi
Tahap ini adalah tahap di mana anak mengumpulkan semua informasi yang didapat dari lingkungannya. Pengalaman itu berkesan baginya, maka informasi tersebut akan tersimpan, baik yang positif maupun negatif. Misalnya saat ia berada di mobil yang sedang mencari parkir. Saat seorang yang ada di dalam mobil berkata, “Ayo kita berdoa supaya dapat parkir!” dan setelah mendapatkan parkir, orang tersebut berkata, “Puji Tuhan, kita dapat parkir!” maka informasi itu menjadi sebuah masukan bagi kognitif anak.

2. Tahap Akomodasi
Tahap ini adalah tahap di mana anak menggunakan informasi yang ada di lingkungannya. Masih tentang mencari tempat parkir, jika anak tersebut duduk di sebuah mobil yang mencari tempat parkir lagi, impresi dan informasi yang diperoleh sebelumnya itu akan digunakan. Sekalipun orang yang pertama kali mengatakan tidak ada, ia akan mengulangi perkataan tersebut di mobil dan di tempat parkiran manapun. Saya pernah bertemu dengan anak seperti itu. Menakjubkan sekali men-dengarnya mengatakan, “Puji Tuhan kita dapat parkir!” Padahal tidak ada seorangpun di mobil tersebut yang mengajarkannya. Lalu saya bertanya kepadanya, siapa yang mengajarkanmu? Dia menjawab, “Tante Fie…”

3. Tahap Ekuilibrium
Tahap ini adalah tahap penyesuaian antara asimilasi dan akomodasi. Saya kira jika anak tidak mengalami pujian atau konfirmasi positif dari apa yang dilakukannya, lambat laun ia akan berhenti melakukannya. Namun jika hal itu terjadi secara berulang dan apa yang dilakukannya mendapatkan pujian, maka ia akan meneruskan kebiasaannya itu. Ini bisa dialami oleh anak-anak yang memiliki orangtua yang bekerja. Saat orangtua ada di rumah, anak diajarkan berdoa. Tetapi saat orangtua bekerja, dia nihil pengalaman dan impresi untuk berdoa. Tentu saja akhirnya ia tidak dapat secara konsisten berdoa.

Lalu apa yang dapat kita lakukan jika kita menghendaki anak kita memiliki kebiasaan berdoa? Impresi sangatlah penting dari pendidik utama. Pendidik utama di sini adalah pendidik yang senantiasa berada bersama anak pada 5 tahun kehidupannya. Maaf, bisa jadi pendidik utamanya adalah baby sitter-nya, helper-nya, atau opa-omanya. Jadi tidak selalu seorang ibu atau seorang ayah menjadi pendidik utama jika mereka tidak berada bersama-sama dengan anak pada saat-saat efektif mereka dalam bermain dan belajar. Itu sebabnya pelajaran berdoa akan terlewatkan jika pendidik utama tidak menjadikan pelajaran berelasi dengan Tuhan sebagai pelajaran penting dan utama dalam hidup anak.

Sebaliknya, jika orangtua menitipkan pendidik utama untuk mengajarkan anak berdoa, barulah anak belajar berdoa. Inipun jika berdoa menjadi sebuah impresi yang menyenangkan hati anak. Namun jika pelajaran berdoa menjadi sebuah pengalaman yang menekan anak secara negatif, alih-alih senang berdoa, ia malah menghindar untuk berdoa.

Jadi, penting sekali mengondisikan suasana menyenangkan saat berdoa atau sebelum berdoa agar anak tahu bahwa pengalaman berdoa adalah pengalaman yang menyenangkan. Lalu, isi doa pun juga penting baginya. Jika isinya sangat panjang dan tidak mudah dimengerti, maka doa menjadi kegiatan yang sangat menjenuhkan baginya. Ketiga, suasana hati dan cara pendidik utama berdoa pun menjadi contoh yang menentukan suka atau tidak sukanya anak berdoa.

ISI DOA
Karena masa usia dini adalah masa peletakkan dasar, maka isi doa merupakan dasar yang penting bagi pembelajaran anak tentang doa. Dan karena anak belajar berdoa melalui pengulangan, maka penting bagi orangtua untuk juga mengatakan isi doa yang sama pada peristiwa yang sama dan berulang setiap harinya.

Doa makan
“Tuhan Yesus, saya*) mau makan. Berkati makanan ini, agar tubuh saya sehat dan kuat. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.”

Doa sebelum tidur
“Tuhan Yesus, saya mau tidur. Berikan mimpi yang indah dan tidur yang nyenyak. Bangunkan saya besok pagi dengan hati yang gembira. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.”

Doa bangun tidur
“Tuhan Yesus, terima kasih untuk tidur semalam. Berkati saya hari ini, dengan hati yang bersukacita. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.”

Doa saat bepergian
“Tuhan Yesus, saya mau pergi. Jaga dan lindungi saya. Berikan damai di hati. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.”

SUASANA BERDOA & SUASANA HATI
Hanya dua hal yang anak-anak usia dini ikuti dalam hidup mereka: pengalaman yang berkesan yang positif dan pengalaman berkesan yang negatif. Jika berdoa menjadi pengalaman yang berkesan negatif, ada dua kemungkinan yang mereka akan lakukan: mereka akan melakukannya dengan kesal hati, atau mereka tidak mau lagi melakukannya.

Seperti seorang yang berbicara dengan ayahnya, suasana berdoa perlulah membuat anak senang hati, santai dan penuh dengan kasih sayang. Bagai seorang ayah yang memeluk anaknya, menimang dan bercakap-cakap dengan intim, demikian pula pengalaman anak berdoa kepada Tuhan Yesus.

Itu sebabnya orangtua atau pendidik utama perlu memperlihatkan suasana menyenangkan itu sebelum atau pada saat berdoa.

Saya ingat bagaimana seorang ayah memeluk anaknya dan mengelus kepalanya sebelum berdoa menjelang makan siangnya. Lalu sang anak memejamkan matanya dengan sangat serius tetapi melakukannya dengan rela dan senang hati.

Saya juga pernah mengalami bagaimana ibu saya memeluk saya saat sakit. Ia takut saya meninggal karena waktu itu musim demam berdarah. Sambil memeluk saya dia berkata, “Tuhan sembuhkanlah Riani!” Selanjutnya, saya tidak ingat lagi kata-katanya. Tapi cara dia memeluk saya dengan khawatir, membuat saya merasa saya sangat disayang olehnya.

Suasana apakah yang Saudara bangun saat berbicara kepada Tuhan bersama anak? Tuhan memberkati kita sebagai pendidik utama anak!
________________
*)Kata “Saya” sebagai kata ganti pertama penting diucapkan karena anak belum memahami konsep “kami” atau “kita”. Baik juga mengganti kata “Saya” dengan nama anak.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan