Mendampingi orang tua yang sakit dan Akhirnya Pulang ke Rumah Bapa

Mendampingi orang tua yang sakit dan Akhirnya Pulang ke Rumah Bapa

Sungguh saya sangat terpukul pada waktu itu, di saat kami tidak punya pembantu dan di rumah orang tua pun tanpa pembantu, Papi sakit stroke dan harus dirawat di rumah sakit (RS). Bisa dibayangkan betapa repotnya. Terpaksa Mami harus tinggal di rumah kami, meskipun Mami agak keberatan. Suami saya mengatakan, bahwa segala sesuatu harus berjalan seperti biasa, baik yang bekerja (suami dan adik saya) maupun kedua anak kami yang masih kuliah. Walaupun begitu semua akan saling mendukung.

Selama tiga minggu, setelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, saya ke RS. Sore hari saya pulang sebentar untuk mandi dan Mami menggantikan saya di RS. Hal ini membuat Mami batuk-batuk, sehingga sehari sebelum Papi pulang ke rumah, Mami harus berobat. Selama kurang lebih satu bulan setelah itu Mami dalam keadaan sehat, alerginya pun tidak pernah kambuh.

Di rumah, Papi didampingi seorang pemuda yang kurang bisa ngemong Mami. Sedangkan Papi sendiri dalam keadaan belum sembuh betul, sehingga seringkali rewel misalnya tidak mau tidur di kamar. Kadang kami bingung harus berbuat apa. Suatu ketika dalam keadaan seperti itu saya menyanyikan lagu ”Bersyukur kepada Tuhan sebab Ia baik” (Kidung Jemaat 299), ternyata lagu tersebut membuat Papi terkejut dan tidak rewel lagi. Hal ini menyadarkan saya bahwa pujian kepada Tuhan amat penting untuk orang sakit.

Sementara Papi dalam proses penyembuhan, Mami mengeluh tentang tubuhnya yang lemah, susah tidur sehingga tidak bisa menyiapkan makan pagi buat Papi serta mengeluh soal pemuda yang mendampingi Papi. Tiap sore kami berkumpul, membaca Firman Tuhan dan renungannya (dari Saat Teduh) dan berdoa. Setiap Sabtu-Minggu, pemuda yang mendampingi Papi minta ijin untuk pelayanan di gerejanya sehingga kami lebih bebas. Mami sangat menikmati saat-saat seperti itu. Saya bagikan apa yang saya dapat di kebaktian, semampu saya. Saya ingin agar kedua orang tua saya mempunyai iman yang tetap teguh sekalipun dalam keadaan yang terjepit. Saya tekankan bahwa “apapun yang Tuhan kehendaki atas hidup kita, kita harus menang sampai pada akhirnya. Kita harus saling dukung supaya kuat, tidak berantakan, sehingga Nama Tuhan tetap dimuliakan. Di balik semua yang tidak enak ini, pasti Tuhan mempunyai maksud yang baik sehingga kita harus tetap bersyukur”.

Memang ada banyak hal yang patut disyukuri, antara lain kembalinya pembantu lama yang tidak betah bekerja di tempat majikan barunya, yaitu dua orang tua yang sakit (masing-masing didampingi seorang suster), sehingga secara tidak langsung ia belajar bagaimana meladeni orang sakit. Kami yakin ini bukan hanya kebetulan, tetapi Tuhan yang telah mengaturnya. Tak lupa kami juga memuji–muji Tuhan.

Saya ingat betul, hari itu hari Pentakosta. Dalam saat teduh kami nyanyikan lagu “Ya Yesus t’rang dan kuat kami, b’rikanlah-b’rikanlah api-Mu. Dan masuk dalam hati kami, b’rikanlah-b’rikanlah api-Mu. Supaya oleh api itu hati yang dingin dinyalakan. Kasih yang mati dihidupkan, b’rikanlah-b’rikanlah api-Mu”. Dengan berbaring Papi begitu bersemangat menyanyikan lagu ini, tapi Mami sama sekali tidak bereaksi. Pandangan matanya sudah berbeda. Menurut saya, Mami depresi. Tidak ada minat lagi untuk mengisi teka-teki silang yang menjadi kesukaannya atau menonton telenovela di TV.

Tubuh Mami makin lemah, makannya sangat sedikit. Itupun harus disuapin. Malamnya kejang-kejang. Dalam keadaan bingung, saya nyanyikan lagu doa “Yesus, Tuhan dengar doaku. Jangan Tuhan jalan lalu, b’rilah berkat-Mu”. Aneh dalam keadaan seperti itu, Mami dapat ikut menyanyi. Mami dibawa dengan ambulans ke RS, tapi diperbolehkan pulang setelah dirawat di Ruang Gawat Darurat. Esok malamnya terjadi lagi hal serupa dan Mami kembali dibawa ke RS dengan ambulans. Mami dirawat inap dan saya harus mendampingi di RS.

Pagi-pagi sekali di hari yang kelima Mami bangun setelah banyak bicara sampai jauh malam. Mami ingin mandi, keramas, sikat gigi dan ganti pakaian. Katanya akan ke gereja, padahal hari Sabtu. Akhirnya setelah saya bantu sikat gigi, Mami makan sepotong kue sembari duduk di kursi seperti permintaannya. Setelah naik ke tempat tidur lagi, Mami bertanya “apakah Mami sudah hampir ajal?”. Saya jawab ”tidak ada yang tahu ajal seseorang, tapi Mami harus dekat sekali dengan Tuhan”. Rupanya hari itu Mami berusaha dekat dengan Tuhannya, penuh pergumulan.

Baru saja saya sampai di rumah untuk istirahat karena malamnya tidur di RS, ada telepon agar saya cepat kembali ke RS karena Mami perlu didampingi. Sorenya Mami berkata ”kita harus menang, ayo berdoa!” Setelah saya berdoa, Mami tenang. Ketika hal ini saya ceritakan pada Papi, Papi menangis bahagia karena menurutnya Mami mencapai kemenangan imannya. Malamnya Mami masuk ke ICU.

Pada hari ketiga di ICU, saya dipanggil oleh dokter jaga yang menceritakan kondisi Mami dan saya diminta untuk berdoa. Lalu saya persiapkan Mami agar menuju ke Rumah Bapa dengan perasaan lega, tenang, tidak takut dan sukacita. Akhirnya saya menyerahkan Mami ke tangan Tuhan dalam doa. Tidak berapa lama kemudian dokter memberitahu bahwa Mami telah tiada. Saya dan adik saya menyaksikannya. Sesuai dengan permintaan Mami, jenazahnya dikremasi. Kata-kata terakhir Mami pada saya adalah “mana peti matinya?”

Setelah Mami tiada, saya terbeban oleh janji saya pada Mami di ICU untuk mengurus Papi. Saya juga ingin membantu agar iman Papi tetap terpelihara. Karena sudah ada Suster yang mendampingi dan pembantu yang mengurus rumah, maka saya mengkhususkan waktu pada sore hari untuk dapat bersaat teduh dan berbincang-bincang dengan Papi. Sore hari merupakan waktu yang tepat karena Papi sudah tidur siang dan mandi, pikirannya segar.

Setiap sore kami bersaat teduh, berdoa dan memuji Tuhan. Papi suka menyanyi dan masih ingat lagu-lagu rohani, bahkan lagu-lagu dalam bahasa Belanda yang diajarkan waktu sekolah dulu. Selain itu memperbincangkan Firman Tuhan, mengingat pengalaman iman dan hidup yang menyenangkan, yang lucu, keberhasilan/kegagalan dan mengingat kembali berkat-berkat Tuhan. Papi bisa tertawa terpingkal-pingkal tapi juga dapat menangis karena terharu.

Kesehatan Papi semakin baik. Berkat kesabaran suster yang mendampingi, Papi sudah dapat berjalan beberapa langkah dengan dibantu tongkat. Papi juga mau ke gereja dengan kursi roda. Ketika tubuh terasa enak, Papi merasa yakin bahwa Tuhan akan menyembuhkannya dan akan dipakai Tuhan sebagai alat untuk memuliakan-Nya. Saya mendukungnya agar tetap mempunyai semangat hidup, tetapi saya juga mengingatkan bahwa Tuhan yang berkuasa atas diri kita. Jadi harus siap menerima dengan rasa syukur apapun yang terjadi. Yang penting belajar hidup kudus dan benar di hadapan-Nya.

Selama kurang lebih dua tahun sakit, Papi hampir tidak pernah marah-marah. Kalaupun marah, cepat minta maaf. Begitulah yang dikatakan oleh empat orang yang pernah merawatnya.

Memasuki tahun kedua sakitnya, kesehatan Papi mulai menurun. Semangatnya untuk dapat berjalan lagi mulai mengendur. Ada perasaan takut jika ditinggal sendirian, sehingga yang mendampingi harus ada di dekatnya. Mengalami halusinasi yang amat mengganggu hidupnya, mungkin disebabkan oleh kaburnya penglihatan Papi. Setiap hari diperdengarkan lagu-lagu rohani yang menguatkan dan menghiburnya. Saya menganjurkan agar Papi mengatakan perasaan dan pergumulannya kepada Tuhan dalam bahasa Belanda, sehingga tidak ada yang mengerti, sambil memuji-muji Tuhan. Setelah melakukan hal itu, menurutnya ada perasaan lega dan damai.

Ketika saya menangkap adanya keprihatinan Papi terhadap adik saya yang belum menikah, saya menyanyikan lagu “Tak kutahu kan hari depan namun langkahku tetap… .semua Tuhan yang pegang”. Saya ingatkan Papi bahwa pada waktu peringatan Pernikahan Perak Papi-Mami, saya dan kakak saya berduet lagu ini. Pada waktu itu kakak dan saya masih sekolah, tapi yakin bahwa masa depan kami dipegang oleh Tuhan. Dan sekarang Papi bisa menyaksikan bagaimana keadaan kami. Sebagai anak Tuhan kehidupan adik saya akan dipimpin Tuhan. Sama sekali tak perlu dikuatirkan, apalagi dia tidak membebani siapapun. Papi mengeluarkan air mata, lalu tenang.

Setiap sore Papi yang menaikkan doa syafaat untuk negara kita, untuk perdamaian dunia, untuk GKI PI yang sedang mencari Pendeta (wanita) agar pelayanan di gereja kita menjadi lebih baik, untuk keluarga besarnya dsb. Papi merasa sangat senang ketika saya beritahu bahwa hasil ujian anak-anak saya bagus, berkat doa Papi. Saya mengingatkan bahwa dalam keadaannya, Tuhan memakai Papi sebagai pendoa syafaat. Tuhan amat mengasihi Papi. Ia selalu menangis bila mendengar lagu bahwa kita adalah biji mata Tuhan. Papi pernah mengatakan bahwa Papi mau mengalami semua karena Tuhan amat mengasihinya.

Sesuai permintaan Papi, kakak saya datang (tinggal di luar kota), namun suara Papi tak terdengar jelas. Yang terdengar hanya “Puji Tuhan” dan ingin tidur. Saya memberanikan diri, duduk di sampingnya sambil mengelus-elus saya katakan: “Papi sudah lelah dan ingin tidur saja? Minta pada Tuhan untuk pindah tempat ke Yerusalem baru (Papi dulu mengatakan bahwa Mami pergi ke Yerusalem baru)”. Papi terkejut tapi wajahnya berseri-seri. Setelah itu kami berdoa.

Seminggu sebelumnya Papi minta potong rambut karena akan ada tamu, katanya. Seperti biasa pemangkas rambut yang disediakan Tuhan datang mencukurnya. Sejak kondisi tubuh Papi makin merosot kami menemui kesukaran membawanya ke tempat pangkas rambut. Tiba-tiba di dekat rumah ada papan bertulisan “Pangkas rambut Pria dan Wanita”. Setelah dihubungi, wanita pemangkas rambut itu malah menyediakan diri untuk datang ke rumah. Puji Tuhan!

Papi makin lemah, walaupun begitu Papi berusaha untuk setenang mungkin. Seminggu setelah kakak saya datang, kesehatan Papi menurun secara drastis dan sore itu di samping Papi, saya membaca sebuah ayat emas, lalu memuji Tuhan. Saya lakukan beberapa kali lalu berdoa. Seperti biasa setelah berdoa saya menyanyikan lagu; ”Yesus, Tuhan dengar doaku … … B’rilah berkat-Mu”. Papi ikut menyanyikan lagu ini padahal sejak pagi sangat lemas dan tidak bicara. Akhirnya Papi dibawa ke RS dengan ambulans. Setelah cukup lama nenunggu di Ruang Gawat Darurat akhirnya masuk ke kamar. Esok harinya Papi kritis, kemudian harus masuk ICU.

Meskipun tidak dapat bicara tapi Papi masih dapat mengerti apa yang saya katakan, Papi memandang saya terus. Saya merasa bahwa waktu Papi untuk pindah tempat sudah dekat dan saya mempersiapkan Papi. Terakhir saya ajak berdoa “Bapa kami”. Itulah saat terakhir saya dapat berkomunikasi dengan Papi. Sorenya Papi berada di Ruang Isolasi, saya hanya menyanyi berulang-ulang “Papi berserah, Papi berserah pada Engkau, Juruslamat/ Tuhan Yesus. Papi berserah”

Malam itu ketika berjaga di depan Ruang ICU, saya dipanggil untuk segera masuk dan berdoa. Waktu sangat mendesak, saya hanya menyerahkan Papi ke tangan Bapa di surga. Saya tutup mata kirinya yang masih terbuka. Dokter mengatakan bahwa Papi telah pulang ke Rumah Bapa-Nya. Kali ini saya menyaksikan seorang diri.

Kedua orang tua saya meninggal dengan tenang dan damai di Ruang ICU dalam usia di atas 80 tahun. Walau Papi tidak pernah mengatakan apa-apa, jenazahnya dikremasi seperti jenazah Mami. Saya bersyukur boleh mendampingi mereka. Semuanya menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan. Selain doa dari banyak orang dalam mengalami semua itu saya mendapat kekuatan dari Firman Tuhan, yaitu Kolose 3:23: “Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia”

N.S

Bookmark and Share

Komentar

One Response to “Mendampingi orang tua yang sakit dan Akhirnya Pulang ke Rumah Bapa”
  1. rima ervina milala says:

    luar biasa kesaksiannya, Terpujilah Tuhan Yesus

Sampaikan Pendapat Anda

Berikan komentar Anda...
dan sertakan avatar anda. Dapatkan disini!

(*) wajib diisi