Mencintai Firman Tuhan, Pembiasaan Sejak Balita

Mencintai Firman Tuhan, Pembiasaan Sejak Balita

5 Komentar 243 Views

Bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang bertumbuh dalam iman dan kedewasaannya? Satu jawaban yang dialami juga oleh Yesus adalah bahwa Ia makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

Banyak orang tua berpikir bagaimana anak-anaknya semakin dikasihi oleh manusia dengan 3 hal:

Pertama
Mereka membekali anak-anak dengan keahlian sesuai dengan kecerdasan mereka, sehingga sejak anak dapat berbicara, orang tua sudah memikirkan kursus yang cocok baginya. Mulai dari les piano, biola, balet, bahasa Inggris, berenang, dan sebagainya. Di satu sisi anak bertumbuh menjadi anak yang berdisiplin dalam melatih diri mencapai sebuah prestasi, tetapi di sisi lain ia juga sedang belajar mengenai harga diri yang dibangun melalui keahlian. Tidak jarang orang tua membanggakan anak-anak mereka berdasarkan prestasi tersebut dan akhirnya banyak orang mengatakan kepada anak-anak, “Kamu hebat!”

Kedua
Anak dikasihi manusia lainnya saat ia memiliki banyak hal yang sesuai dengan minat dunianya. Saya tertegun saat menemukan bahwa di mal dijual asesoris dewasa untuk anak-anak. Mulai dari lipstik, deodoran, minyak wangi dan asesoris lainnya yang tadinya hendak saya ajarkan kepada anak saya bahwa semua itu baru dapat dimilikinya jika ia sudah dewasa. Yang menyedihkan, semakin orang tua memiliki uang, semakin mereka merasa layak untuk melengkapi anak-anaknya dengan barang-barang luxuries seperti itu, sehingga anak-anak jadi belajar bagaimana hidup dari kecil sebagai konsumeris dan hedonis (mencintai materi). Herannya, anak-anak yang memiliki semua itulah yang dicintai oleh teman-temannya. Tidak heran jika anak-anak SD bercita-cita dan menabung untuk mendapatkan Communicator semahal-mahalnya. Bahkan ada orang tua yang dengan senang hati membelikannya bagi anak-anak mereka.

Ketiga
Anak-anak belajar bahwa kasih manusia kepada mereka bergantung kepada siapa orang tua mereka dan apa yang orang tua mereka miliki. Saya pernah bertemu dengan seorang anak yang enggan sekali naik Bajaj. Mengapa? Karena baginya naik Bajaj sangat memalukan dan menurunkan harga dirinya. Anak-anak balita sudah mengetahui siapa orang yang dapat diperintahnya dengan keras, mengambil bahkan memakaikan sepatunya, bahkan mereka tahu apa saja yang dimiliki oleh orang tuanya. Seorang remaja di Jakarta yang masih sangat muda pernah mengatakan kepada temannya untuk menembak temannya yang tidak disukainya dengan pistol ayahnya. Anak-anak berteman dengan anak-anak yang orang tuanya memiliki kehidupan sosial ekonomi yang sama. Memang di satu sisi karena mereka berada di satu sekolah, tetapi di sisi lain mereka juga tidak mau bergaul dengan teman-teman yang tidak berada di lingkungan sekolahnya. Seorang anak mengatakan alasannya tidak bergaul dengan anak lain di Sekolah Minggu, “They don’t speak English!” Ada pula seorang anak yang mengetahui bahwa orang tuanya dihormati karena jabatan jendral, direktur bahkan pendeta.

Apa yang kita harus lakukan menghadapi anak-anak yang semakin hari dicintai manusia karena prestasi, materi dan reputasi orang tua mereka? Tentu kita tidak menghendaki anak-anak hanya dicintai oleh manusia karena hal-hal yang sangat sementara dan semu itu. Sebab harga diri mereka tidaklah bergantung pada semua itu, bukan?

Itu sebabnya, pembelajaran anak-anak perlu diimbangi dengan bagaimana mereka dikasihi oleh Tuhan. Semakin anak-anak besar seharusnya mereka juga semakin dikasihi Tuhan. Setidaknya ada 3 hal yang dapat kita lakukan kepada anak-anak balita (bayi di bawah 5 tahun) jika kita benar-benar ingin membawa anak-anak kita dicintai oleh Tuhan.

Pertama, Latihlah anak untuk mendengarkan suara Tuhan saja.

Seseorang dapat peka mendengarkan suara Tuhan jika ia terlebih dahulu mengetahui kehendak Tuhan yang ada di dalam firman-Nya. Seorang remaja tidak mau melakukan hubungan seks di luar nikah karena hati nuraninya berbicara sangat tegas melarangnya. Larangan itu bukan karena ada orang tua yang selalu menelponnya di manapun ia berada, larangan itu juga bukan karena alasan malu terhadap sesama, tetapi karena ia tahu bahwa Tuhan tidak menghendakinya.

Jika seorang anak mengetahui alasan di balik sebuah tindakan berdasarkan firman Tuhan, maka alasan manusiawi apapun tidak dapat mengalahkannya. Di satu sisi, karena alasan Ilahi adalah alasan tertinggi dari semua alasan manusiawi. Di sisi lain, karena otoritas yang dia pegang tidak dapat terbantahkan oleh hal-hal yang sementara. Seorang anak juga tidak akan memukul temannya, bukan karena ia dilarang orang tua untuk memukul. tetapi karena ia tahu bahwa Tuhan tidak menghendakinya menyakiti sesama. Seorang anak balita membagikan mainannya kepada teman bermainnya. Ia sangat bangga melakukannya. Lalu ibunya memujinya. Pujian seperti apa yang dikatakan ibunya? Bagus! Kamu telah membuat Tuhan senang dan Mama bangga kepadamu. Di satu sisi, tampak pujian manusiawi dari sang ibu, tetapi di sisi lain, anak mengetahui bahwa ia mendapatkan penilaian rohani.

Menjadikan Tuhan sebagai alasan utama dari sebuah tindakan, melatih anak untuk hidup berdasarkan standar kacamata Tuhan, dan bukan penilaian manusia yang sangat bergantung situasi.

Untuk melatih anak mengetahui kehendak Tuhan, tentu orang tua harus merencanakannya. Sekolah Minggu GKI PI berinisiatif untuk merangkul GKI lainnya guna terlibat dalam proyek “Mencintai Firman Tuhan” melalui STAR (Saat Teduh Anak Raja). Saat Teduh Anak Raja adalah bacaan harian yang sangat ringan bagi anak. Namun setiap alasan yang dibangun dalam setiap cerita berasal dari nilai-nilai yang terkandung dalam firman Tuhan. STAR ditulis oleh orang-orang yang juga mencintai firman Tuhan dan memiliki motivasi kuat untuk meneruskannya kepada generasi yang akan datang.

Dengan mengacu pada kurikulum karakter Suluh Sekolah Minggu terbitan Bina Warga-GKI Jabar, STAR mengembangkan karakter itu dalam model cerita sehari-hari. Sebuah keluarga Bintang, keluarga yang mencintai Tuhan dipakai untuk menjadi model keluarga yang mencintai firman Tuhan. Firman Tuhan berbicara melalui mama Bintang, papa Bintang maupun Saat Teduh yang mereka baca setiap hari. STAR dibuat berdasarkan tingkat daya serap anak. Ada STAR untuk Kelas Besar, Kelas Kecil, namun juga STAR Balita, sehingga orang tua mau tidak mau haruslah menjadi orang kunci yang melatih anak membaca, memahami dan menangkap pesan firman Tuhan setiap hari.

Kedua, Latihlah anak untuk menjadikan Tuhan sahabat terbaiknya.

Tokoh Bintang dan Bulan dalam STAR adalah dua orang kakak-beradik yang dihadiahkan Tuhan seorang adik bernama Baby/Bayi Mentari. Bintang adalah seorang tokoh antagonis yang seringkali lupa akan nilai-nilai hidup yang berdasarkan firman Tuhan. Namun ia mudah sekali berbalik atau bertobat setelah diingatkan mengenai firman Tuhan yang harus menjadi landasan hidupnya. Bulan adalah tokoh penurut yang selalu mau hidup baik dan benar, namun ia hidup di tengah anak-anak atau teman-teman yang tidak menggunakan firman Tuhan sebagai nilai hidup mereka.

Para penulis STAR berusaha menjadikan tokoh Bintang dan Bulan bukan hanya model dalam kehidupan sehari-hari anak-anak Sekolah Minggu GKI PI, tetapi juga mencitrakan mereka sebagai anak-anak yang menganggap Tuhan sebagai sahabat terbaik mereka. Itu sebabnya diceritakan bahwa pada saat Bintang melakukan kesalahan atau mengalami kesulitan, ia senantiasa mencari, mengadu dan minta ampun kepada Tuhan. Atau Mama Bintang yang senantiasa mengingatkan anak-anaknya untuk mengatakan perasaan mereka kepada Tuhan dalam doa.

Seorang ibu bercerita kepada saya bahwa anak-anaknya sejak kecil selalu diajarkan untuk berbicara kepada Tuhan. Suatu kali anak laki-lakinya mengalami peristiwa pahit di sekolahnya. Dengan bijaksana ibu itu mengatakan, “Kamu harus katakan itu kepada Tuhan dalam doamu.” Begitu menakjubkan, beberapa saat sang ibu tidak menemukan anaknya karena ternyata anak laki-lakinya itu sedang berada di dalam kamarnya dan berdoa. Pelatihan itu sungguh membawa hasil. Setelah anak laki-lakinya menikah, ia menjadi contoh ayah yang berdoa di hadapan anak-anaknya. Setiap pagi saat anggota keluarga bangun, mereka melihat ayah mereka sedang duduk berdoa. Model ini sangat berkesan bagi anak-anak itu, sehingga mudah sekali mengajarkan mereka untuk datang kepada Tuhan setiap waktu.

Ketiga, Latihlah anak untuk melakukan firman Tuhan.

STAR bukan hanya mengajarkan anak untuk mendengarkan firman Tuhan dan berbicara kepada Tuhan, tetapi terlebih dari itu STAR melatih anak untuk menerapkan firman Tuhan dan memperkatakan firman Tuhan dalam hidup kesehariannya. Saat Teduh yang dikemas dalam formula aktivitas yang berbeda-beda setiap hari itu dirancang agar anak-anak juga dapat berdiskusi, melakukan proyek karakter, bahkan menghafal ayat hafalan. Salah satu metode Saat Teduh yang dilakukan oleh STAR adalah memasukkan situasi sulit (sticky situation). Anak-anak dilatih secara nalar untuk melakukan tindakan di saat sulit.

Sticky situation juga dapat terjadi di dalam keseharian anak-anak. Bukan hanya STAR, tapi gereja juga dapat mengajak orang tua pembaca Kasut untuk melatih anak-anak mengambil keputusan dalam situasi-situasi yang sulit berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam firman Tuhan. Misalnya, saat anak balita kita dipukul oleh temannya. Berikan penjelasan singkat mengenai apa yang Tuhan kehendaki, kemudian berikan minimum 2 pilihan tindakan yang dapat dilakukan oleh anak dalam situasi sulit tersebut. Memang bagi anak balita, pilihan bukan merupakan cara yang paling tepat untuk mengajarnya melakukan firman Tuhan dengan membandingkan pilihan yang benar itu dengan pilihan yang tidak benar. Sebab gudang nilai yang dimiliki anak-anak balita belumlah cukup untuk membuat mereka mengambil keputusan yang baik dan benar. Itu sebabnya, pilihan bagi anak balita lebih cenderung pada pilihan yang sama-sama benar. Hanya caranya saja yang dapat mereka pilih. Misalnya, saat mereka mengantuk, mereka dapat memilih berdoa bersama papa atau mama. Namun ajaran yang diberikan tetaplah mendukungnya untuk berdoa. Atau saat anak kita memukul anak lain, pilihannya adalah minta maaf kepada anak itu sendirian atau ditemani orang tua. Atau juga, saat anak kita tidak mau memakan sarapan pagi yang sudah disiapkan sebelum ke sekolah, kita dapat memintanya untuk tetap taat menghabiskan sarapannya bersama ibu atau pengasuhnya.

Ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk melatih anak menjadi pelaku firman, namun cara yang sangat berkesan dalam hidup anak adalah ketika kita sebagai orang tua terlebih dahulu memberi contoh kepada mereka. Itu sebabnya proyek mencintai firman Tuhan juga secara serempak didukung oleh gereja, khususnya majelis bidang pembinaan kategorial dengan menyediakan Saat Teduh bagi warga jemaat GKI Pondok Indah secara gratis mulai dari Saat Teduh untuk anak (termasuk Balita), Remaja maupun Dewasa. Berapa usia Anda? Anda tinggal pilih Saat Teduh yang sesuai dengan usia Anda setiap akhir bulan di tempat-tempat yang disediakan. Selamat mencintai firman Tuhan. Gereja yang mencintai firman Tuhan semakin dikasihi Tuhan dan sesama. Mari bertumbuh bersama! Tuhan memberkati.

Pdt. Riani Josaphine

5 Comments

  1. ruthi

    Program STAR ini sangat baik,namun apakah anak-anak yang lahir dari orang tua yang tidak dibangun /ddibesarkan dengan pengajaran tersebut dapat melatih anak-anak mereka dengan program tersebut ?

  2. Pdt. Riani J

    Thanks untuk komentarnya Ruthi.

    Tentu saja mencintai Alkitab harus dimulai dari orangtua. Orangtua yang mencintai ALkitab dapat mengajarkannya kepada anak-anak mereka. Sayangnya tidak semua orangtua Kristen memiliki cara pandang yang sama seperti ini, itu sebabnya tugas gereja mengajarkannya kepada para orangtua, atau kepada anak-anak sekolah minggunya.

    Saya pernah mendengar, seorang anak membawa alkitabnya dan minta dibacakan oleh orangtuanya. bukankah berarti anak-anak juga diberi kesempatan oleh TUhan untuk “menegur” orangtua mereka?

    Mari kita doakan agar orangtua di gereja kita masing2 menyadarinya… GBU

  3. roy martin parulian hutagaol

    terimakasih STAR…sungguh sangat mengharukan bagi hidup saya setelah membaca judul:mencintai firman tuhan, pembiasaan sejak balita.saya dulu waktu kecil senang baca alkitab.tetapi setelah saya umur 13 sampai saat ini umur 29 tahun lupa akan alkitab.apakah saya bisa merubah nya?coba jelaskan secara rinci…terimakasih

  4. ayub feoh

    terimakasih sy sangat diberkati dgn tulisan mencintai firman Tuhan… sebenarnya kami sdh melakukan beberapa hal dgn anak kami.. namun sy merasa kami hrs trs tekun melakukannya krn ini memberi nilai yg kekal bagi anak2 kami.. Thanx dan BGU… solideo gloria.

  5. Murni Dorkas

    Sebagai orang tua dan sebagai PJA (Pelayan Jemaat Anak) yang sudah saya jalani lebih dari 20 tahun melayani anak-anak sekolah minggu, memang sulit jika belum kita jalani, tetapi cinta akan Tuhan yang membuat campur tangan Tuhan kepada kita semua dan saya khususnya dapat menolong atau menyaksikan kepada anak-anak bagaimana jika kita me nomorsatukan Kristus dalam kehidupan kita, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita semua.
    Sudah terbukti.
    Selamat bekerja diladang Tuhan.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan