Membentuk Hati yang Taat

Membentuk Hati yang Taat

1 Komentar 720 Views

Saat menyadari bahwa pinsil barunya tertinggal di gereja, Ela (6 tahun) berteriak keras menyalahkan semua orang di mobil. Ia tidak tahu bagaimana caranya meminta dengan baik-baik agar Pak Sopir kembali ke gereja dan Ibu membantu mencarikan pinsilnya. Ia hanya berteriak keras, menendang dan menangis seakan-akan orang telah melakukan hal buruk kepadanya. Tiba-tiba dengan tegas Ibu berkata kepadanya, “Kontrol dirimu, Ela!” Secara spontan Ela menjawab, “Aku tidak mau mengontrol diri!”

Tentu saja membentuk hati anak menjadi hati yang taat bukanlah pekerjaan semenit, sejam atau sehari. Chip Ingram berkata bahwa anak-anak tidak belajar ketaatan secara kebetulan. Sebagai orangtua, kitalah yang harus berusaha dan berkomitmen untuk mencapainya.

Apa yang harus dilakukan oleh orangtua Ela agar Ela dapat mengontrol dirinya, seperti nasihat ibunya itu? Sebelum kita membahas mengenai ketaatan, sebaiknya kita melihat dahulu dimensi yang tidak terpisahkan dari ketaatan.

Dimensi pertama adalah pengalaman

Orang yang taat adalah orang yang sudah mengalami pentingnya ketaatan itu sendiri. Ada sebagian anak yang hanya satu atau dua kali diperintahkan untuk mencuci kaki sebelum tidur, dan seumur hidup ingat untuk melakukannya. Ada juga sebagian anak yang memerlukan penjelasan ekstra sampai benar-benar paham, mengapa hal itu perlu dilakukan. Tetapi ada anak-anak lainnya yang tidak dapat diberi perintah atau penjelasan untuk menaati sebuah perintah. Mereka butuh pengalaman buruk agar memahami dan meyakini pentingnya ketaatan itu.

Sebut saja Andre. Sejak usia 6 bulan ia selalu mendekati dan ingin menjamah stop contact di rumahnya sambil merangkak ke arah itu. Ibunya berkali-kali mengangkat dan mengingatkan bahwa memukul tangannya sambil mengatakan, “No!” saat ia berusaha memegang stop contact itu. Juga beberapa stop contact di rumah mereka ditutup kuat-kuat agar ia tidak tertarik untuk mendekati dan memasukkan jarinya ke sana. Namun sampai usia tiga tahun, Andre tetap senang bermain-main di dekat stop contact. Sampai suatu saat di sebuah kamar hotel tempat bermalam keluarganya, Andre diam-diam mendekati stop contact dan memegangnya. Ia terkejut, lalu berteriak dan baru saat itulah orangtuanya tahu bahwa ia benar-benar telah memegang stop contact. Dalam hal ini, Andre adalah orang yang belajar ketaatan dari pengalamannya sendiri, sebab sejak itu, ia justru menjauhi stop contact di manapun ia berada.

Dimensi kedua dari ketaatan adalah iman

Orang yang taat perlu percaya bahwa apa yang dilakukannya membawa kebaikan. Ia tidak dapat secara konsisten dan sukarela untuk taat jika ia tidak meyakini hal itu. Atau setidaknya, orang yang mengarahkannya untuk taat adalah orang yang dapat dipercayainya.

Saya kira, ada juga orang Kristen yang memberikan persembahan atau perpuluhan tanpa tahu apa maksud Tuhan dengan persembahan itu. Mereka memberi karena memang gereja menyediakan amplop untuk itu, atau mereka memberi karena memang ada kantong kolekte yang diedarkan. Ironisnya, jikalau mereka menyadari bahwa perpuluhan mereka sudah terlalu besar jumlahnya, mungkin dapat dibelikan TV atau alat-alat mewah lainnya, barulah mereka mulai bertanya-tanya dan ingin lebih mengetahui tentang tujuan dan manfaat dari persembahan perpuluhan.

Tentu saja anak-anak kita perlu memiliki iman yang benar saat mereka melakukan ketaatan. Salah satunya, mereka perlu mengetahui alasan penting, mengapa Tuhan menyediakan gereja dan sesama orang beriman, juga berbagai kegiatan gereja seperti pelayanan, persekutuan dan pembinaan. Anak-anak perlu tahu, apa yang Tuhan harapkan dari semua ketaatan itu!

Dalam Ulangan 6:4 dikatakan bahwa sumber ketaatan itu adalah Allah. Tuhan-lah Allah kita dan Ia esa. Untuk itulah kita menaati-Nya dengan cara mengasihi-Nya dan melakukan kehendak-Nya.

Hanya orang beriman yang dapat melakukan ketaatan di luar kesanggupan manusia. Kekuatan untuk taat, di satu sisi berasal dari Allah yang berkuasa, dan di sisi lain dari Allah yang penuh cinta. Seorang anak yang belajar taat akan mencapai suatu titik di mana ia menyadari bahwa ia tidak sanggup untuk taat. Setelah itu, ia tahu bahwa upayanya untuk taat hanyalah karena kuasa dan kasih Tuhan. Saat itulah Roh Kudus bekerja membantu dan memberkatinya untuk mencapai ketaatan.

Dimensi ketiga adalah pengulangan

Ketaatan tidak akan terjadi di dalam diri anak jika kita tidak menyediakan sebuah rencana untuk mengajarkannya secara konsisten dan berulang-ulang. Dalam Ulangan 6:4-9 ada kalimat kunci untuk mendukung hal itu, “…haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya.”

Kapan kita dapat mengajarkan ketaatan kepada anak-anak?

  1. Saat kita berada di rumah. Kita mengajarkan ketaatan saat mereka nonton TV, main PS, membaca, bermain, bahkan makan.
  2. Saat kita berada di perjalanan, ketika kita berada di pesawat, di restoran, di mobil, di tempat olah raga, di tempat bermain umum, atau di manapun kita bersama mereka.
  3. Saat kita berada di tempat tidur. Menurut Gary Ezzo, anak-anak memiliki jendela hati. Saat menjelang tidur adalah saat yang tepat bagi kita untuk mengajarkan mereka mengenai ketaatan dan memuji ketaatan yang telah mereka lakukan. Saat menjelang tidur adalah saat yang paling istimewa bagi orangtua untuk bercakap-cakap dengan anak-anak yang merupakan pemberian Tuhan.
  4. Saat mereka bangun. Tidak heran jika setiap anak dapat diajak untuk mencari Tuhan pada saat ia bangun. Karena waktu ia membuka mata, ia dapat mengambil keputusan untuk apa ia hidup dan dengan cara apa ia hidup. Kesempatan terindah bagi anak-anak adalah ketika mereka mengambil keputusan untuk taat sepanjang hari.
  5. Saat anak-anak mengalami hal baik maupun hal buruk. Hal buruk yang dialami anak saya ialah ketika ia harus menjalani operasi amandel. Namun saat itu justru menjadi saat yang paling baik untuk mengajarkan kasih Tuhan dan sekaligus ketaatan. Ia harus taat untuk makan dan minum dengan teratur agar memiliki kondisi prima menjelang operasi. Ia juga tahu bahwa akibat operasi yang menyakitkan itu, ia sekarang dapat minum es dengan lebih bebas dibandingkan sebelum operasi. Kasih dan ketaatan menyatu dalam pengalaman baik dan sekaligus pengalaman buruk yang dialaminya.

Tentu saja untuk setia mengajarkan ketaatan diperlukan ketekunan dan komitmen dari orangtua. Ada seorang ayah yang mengatakan kepada saya, “Saya sampai lelah mengingatkan anak saya untuk tidak bermain-main saat berdoa.” Lalu saya menjawab, “Memang Tuhan mengatakan bahwa kita harus mengajarkannya berulang-ulang, bahkan sampai kita lelah, bosan dan bersemangat kembali.” Rupanya dimensi lain yang sering kali tidak dilihat oleh kita sebagai orangtua adalah dimensi pengajaran. Maksudnya, saat kita mengajarkan anak kita untuk taat, rupanya Tuhan juga mengajar kita untuk menjadi orangtua yang taat juga.

ORANGTUA YANG SETIA UNTUK TAAT

Orangtua yang setia untuk taat adalah orangtua yang menjalani ketaatan hidupnya di dalam takut akan Tuhan. Seorang ayah yang menghendaki anaknya pergi ke Sekolah Minggu, perlu menyadari seutuhnya bahwa Sekolah Minggu adalah salah satu cara Tuhan untuk membina iman anaknya. Seorang ibu yang menghendaki anak-anaknya hidup sejalan dengan firman Tuhan adalah ibu yang menyadari betapa pentingnya membaca firman Tuhan setiap hari, sama seperti anak-anak membaca buku pelajaran sekolah mereka.

Ada seorang ibu setengah baya yang berkata kepada ibu lainnya, “Saya ingin sekali anak-anak saya melayani di gereja seperti anak-anak Ibu. Bagaimana caranya?” Ibu yang diajak bicara itu hanya bergumam dalam hati, “Caranya tentu dengan berulang-ulang mengajak mereka sejak kecil untuk melayani Tuhan!” Tentu saja hal itu tidak dilakukan oleh ibu yang pertama, sehingga anak-anaknya yang kini sudah beranjak dewasa, meninggalkan gereja.

Orangtua yang taat sesungguhnya merupakan kebanggaan bagi anak-anak mereka. Memang kita tidak akan tahu sekarang, apa yang ada di dalam hati seorang anak. Saya sering mendengar kesaksian spontan dari orang-orang yang berduka atas kematian orangtua mereka. Salah satu yang sering saya dengar adalah kebanggaan anak-anak almarhum atau almarhumah karena almarhum atau almarhumah mencintai Tuhan dan menunjukkan cinta itu dalam kesehariannya. “Ibu saya selalu berdoa!” atau “Ayah saya selalu mengajak kami ke Sekolah Minggu sejak kecil, sehingga saya pun tidak pernah melewatkan waktu untuk membawa anak-anak saya ke Sekolah Minggu.”

Tentu saja ketaatan orangtua kepada Tuhan bukanlah hasil rekayasa, karena anak-anak kita dapat melihat konsistensi antara apa yang kita ajarkan dengan apa yang kita lakukan. Mereka adalah saksi hidup yang paling dekat dengan kita. Itu sebabnya, dimensi yang tidak kalah penting dari semua dimensi saat mengajarkan ketaatan kepada anak adalah dimensi kesaksian. Kita adalah saksi bagi anak-anak kita, bagaimana cara hidup taat kepada Tuhan dalam keseharian. Pendeta, aktivis, guru Sekolah Minggu hanyalah pengajar-pengajar mereka. Terkadang mereka jatuh dalam pencobaan sehingga menjadi teladan ketidaktaatan. Tetapi justru pada saat para tokoh rohani itu tidak menjalankan tugas kesaksian mereka, orangtua diuji untuk meneladankan ketaatan kepada Tuhan dengan hikmat Tuhan. Dengan demikian anak-anak tetap bertahan taat, sekalipun orang-orang di gereja ataupun di lingkungan rohani mereka tidak menjadi saksi yang baik bagi mereka.

Sayang, banyak orangtua justru membuat anak ragu, apakah masih memerlukan ketaatan di zaman yang semakin rusak ini. Saat anak-anak memiliki kesempatan untuk mendapat bocoran soal ujian, justru orangtua yang mendukung untuk memperbanyak soal-soal itu. Atau saat seseorang menawarkan nilai dengan cara yang tidak sehat, orangtua menyetujui hal itu demi harga diri mereka dan nilai yang baik bagi anak-anak mereka. Atau saat tiket murah liburan tersedia, orangtua tidak lagi memikirkan pentingnya ibadah atau pelayanan di hari Minggu demi liburan bersama keluarga.

Lalu pertanyaannya, siapa lagi yang akan membentuk hati anak untuk taat kepada Tuhan dan kehendak-Nya? Biarlah kita menjadi orangtua-orangtua yang bijak karena waktu untuk mendidik anak sangatlah singkat. Berapa tahun waktu yang masih kita miliki sebelum hati anak-anak kita mengeras dan memiliki prinsip mereka sendiri?

Saya ingat sebuah minuman beberapa tahun yang lalu yang booming, dengan menawarkan minuman bak makanan, sehingga saat kita meminumnya kita sudah merasa kenyang. Minuman itu akan mengeras dalam waktu detik. Lalu saya bayangkan, waktu yang saya miliki untuk mengisi pikiran dan hati anak saya tidaklah lama. Sebentar lagi ia sudah dapat mengatakan, “Mami, Papi, aku sudah tahu dan aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan!”

Ya Tuhan, ajar kami menghitung hari-hari anak kami sedemikian, sehingga kami beroleh hati yang bijaksana untuk setia mendidik mereka dari sekarang.

Pdt. Riani Josephine

1 Comment

  1. Erwin Siregar

    Pastinya orang yang terluka susah untuk taat.Ketaatan dan penundukan diri adalah beban berat bagi orang yang terluka.Sehingga seharusnya gereja berfokus bagaimana mengenali dan menyembuhkan luka-luka yg dialami setiap orang dalam hidupnya.

    Semua orang pernah terlukai dan dilukai dan biasanya itu diawali dari kehidupan di keluarga inti.Orang tua yang melukai anaknya karena dia juga dilukai orang tuanya.Sehingga supaya tdk berkepanjangan , rantai itu harus diputuskan.

    Setiap orang juga perlu mengenali dalam hal mana dia pernah terluka dan terhadap siapa dan segera membereskannya.Sekali lagi orang yang terluka sulit hidup dalam ketaatan dan penundukan diri.Itu sudah merupakan rumus umum.
    Trims

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan