Membangun  POLA PIKIR

Membangun POLA PIKIR

Belum ada komentar 18 Views

Beberapa waktu yang lalu, banjir besar melanda Jakarta. Konon kabarnya lebih dahsyat dari banjir tahun 2007. Ada banyak komentar, pendapat, analisa tentang penyebab banjir tersebut. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Tuhan sedang marah kepada orang Jakarta. Ada juga pendapat bahwa di Jakarta banjir itu sudah takdir. Sejak zaman Belanda, Jakarta selalu banjir. Jadi untuk sebagian orang, banjir adalah biasa, “Kalau tidak banjir bukan Jakarta” atau “Kalau tidak macet bukan Jakarta”, begitu sering kita dengar. Bagi yang setuju dengan pernyataan itu, menurut hemat saya mereka adalah orang-orang yang apatis, pasrah dan tidak mau memperbaiki keadaan maupun diri sendiri.

Banjir sudah pasti menyangkut masalah cuaca dan infra-struktur, tetapi yang lebih penting, tidak terlepas dari manusianya. Tahun 2003, saya menulis tentang pembentukan nilai, norma kepada anak-anak kita. Menanamkan disiplin antara lain dengan tidak membuang sampah sembarangan. Sepuluh tahun kemudian saya mengamati tidak ada yang berubah, malah bertambah parah. Pola pikir manusia saat ini lebih mementingkan diri sendiri menjadi semakin kuat, kepedulian semakin rendah. Kita tahu bahwa membuang sampah sembarangan berdampak pada banjir, tetapi tetap saja kita lakukan dan tanpa merasa bersalah pula.

Manusia menjadi makin sulit berubah. Boro-boro peduli terhadap global warming, diri sendiri jauh lebih penting. Beberapa waktu yang lalu, sebuah supermarket yang besar, yang antara lain terdapat di dekat terminal Lebak Bulus, mengeluarkan pengumuman jauh-jauh hari sebelumnya bahwa mulai bulan Oktober 2012, tidak lagi disediakan kantong plastik. Tetapi, apa yang terjadi? Ketika kebijakan itu dijalankan, para pembeli protes, sedemikian hebat protes itu, sampai akhirnya pihak supermarket mengalah dan menyediakan kantong plastik lagi. Jadi, soal go green, global warming dan sebagainya saat ini masih menjadi slogan saja. Pola pikirnya masih tertuju kepada diri sendiri.

Bukan hanya banjir, masalah kemacetan dan lalu lintas yang semrawut juga bersumber pada pola pikir. Kalau bisa menyeberang di sini, kenapa harus jauh-jauh mencari jembatan penyeberangan atau zebra cross. Rambu dilarang berputar arah tampaknya sudah tidak dianggap sebagai larangan. Lihat saja larangan memutar di dekat sekolah Tirta Marta atau dekat bundaran Pondok Indah. Hampir tidak ada yang menganggap bahwa ada larangan tersebut dan ironisnya, polisi juga diam saja. Kalau bisa masuk jalur busway, kenapa harus susah-susah antre, walaupun risikonya ditangkap polisi atau ditabrak bus Trans Jakarta. Lampu lalu lintas (traffic light) juga sudah tidak dianggap sebagai lampu untuk mengatur lalulintas. Kalau bisa jalan pada saat lampu merah, kenapa harus menunggu lampu hijau menyala. Bagi sopir angkot, kalau bisa berhenti di sembarang tempat, kenapa harus berhenti di halte. Kalau bisa melakukan yang mudah, kenapa harus cari yang susah.Ini adalah masalah pola pikir.

Kasus pengusaha yang terlibat urusan suap-menyuap, kasus calon seorang Hakim Agung dan kasus seorang Bupati yang menghebohkan, juga masalah pola pikir. Pola pikir yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat adalah pola pikir yang mementingkan diri sendiri atau seenaknya sendiri, cenderung tidak mau ikut aturan, ketentuan dan norma-norma yang berlaku, selalu merasa benar sehingga kalau ditegur bisa marah. Keuntungan bagi orang lain dianggap sebagai kerugian bagi diri sendiri, walaupun tidak ada hubungannya. Jangan-jangan, kita pun masih sering mempunyai pola pikir seperti ini ketika kita berada di situasi yang serupa.

Kalau pola pikir kita bahwa mengatasi banjir adalah urusan pemerintah, Jokowi mau bikin gorong-gorong sebesar apa pun, banjir masih akan terus ada.

Bagaimana dengan anak-anak kita yang setiap hari melihat perilaku seperti ini, jangan sampai mereka menganggap bahwa inilah nilai-nilai yang benar dan yang berlaku umum.

 

Sindhu Sumargo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan