Mandat Untuk Ayah: Delapan Tanggung Jawab Ayah

Mandat Untuk Ayah: Delapan Tanggung Jawab Ayah

Belum ada komentar 436 Views

Seperti telah banyak diketahui, para ayah sering terpisah dari mendidik anak-anak mereka. Hal ini lebih disebabkan oleh ketidakmampuan atau ketidaksadaran mereka membangun hubungan tahap ketiga, yakni hubungan yang menimbulkan rasa saling percaya antara ayah dan anak. Para ayah lebih banyak berkutat pada pola hubungan penyedia yang mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan bagi keluarganya. Mereka tidak beranjak dari pola kedua tanpa sempat mengembangkan pola hubungan tahap ketiga itu.

Ketika timbul kesadaran akan pentingnya mengembangkan hubungan yang menimbulkan rasa saling percaya itu, para ayah pun kebingungan. Bagaimana caranya dan bagaimana memulainya? Mereka dibebani pikiran tentang apa yang harus mereka lakukan agar anak-anak bisa mempercayai mereka dengan sepenuhnya. Ada berita baik bagi para ayah yang benar-benar rindu untuk membangun kepercayaan pada anak-anak mereka.

8 Tanggung Jawab Ayah

Ada delapan mandat untuk ayah yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bila dilaksanakan dengan penuh kerinduan, kesungguhan, tanggung jawab dan komitmen, maka kedelapan mandat ini akan menumbuhkan rasa saling percaya dalam hubungan ayah-anak dan mendukung timbulnya kepercayaan anak kepada kepemimpinan ayah.

Tanggung Jawab – 1: Memupuk Kesadaran Akan Identitas Keluarga

Proses membangun hubungan yang didasari rasa saling percaya antara ayah dan anak dimulai dengan memelihara sikap-sikap yang memupuk kesadaran yang kuat akan identitas keluarga, yaitu saling menerima satu sama lain sebagai anggota tim.

Pilihan pola pendidikan otoriter, permisif atau yang seimbang, secara alkitabiah akan menghasilkan pola identitas keluarga yang berbeda, yang bisa ditebak sebelumnya.

Pola otoriter lebih mengedepankan ‘pokoknya’. Ayah yang memutuskan apa yang bisa dan tidak bisa, boleh dan tidak boleh, baik atau buruknya segala hal yang dilakukan oleh si anak. Pola otoriter lebih mengutamakan hasil, agak tidak peduli pada proses, apalagi pembinaan dan pemberdayaan anak. Kepatuhan anak lebih sering didasarioleh rasa takut. Apabila rasa takut itu hilang, maka akan hilang pula ketaatannya. Penurut di rumah, pemberontak di luar. Identitas keluarga hanyalah untuk di rumah, diluar rumah urusan bisa sangat berbeda.

Sedang pola pendidikan permisif cenderung membiarkan dan memperbolehkan anak-anak memilih, menentukan dan melakukan apa pun yang mereka suka selama mereka senang, terhibur dan tidak mengacau. Pola permisif lebih mengedepankan kebahagiaan anak, dan mengorbankan pendidikan, pembelajaran, pengekangan serta disiplin. Pola pendidikan yang permisif menghasilkan anak yang egois, egosentris.Pola ini tidak menghasilkan sikap yang menguatkan ikatan dalam keluarga, tetapi cenderung menghasilkan insan yang independen.

Sering dipertentangkan di antara keduanya: mana yang lebih baik pola otoriter atau permisif? Tidak ada yang lebih baik di antara keduanya. Untuk hal-hal yang berkaitan dengan dosa, kita wajib bersikap otoriter untuk tidak membiarkan anak-anak sampai jatuh, bahkan sekadar mencoba masuk ke area itu. Namun demikian yang terpenting bukanlah pola otoriter atau permisif, tetapi apakah pola itu membawa anak-anak masuk dalam sikap yang meneladani Kristus? Jadi jangan jatuh ke dalam dikotomi otoriter atau permisif, tetapi kita harus fokus pada pola ‘Christ centered’, yakni pola pendidikan yang mengutamakan hubungan saling mengabdi di antara sesama anggota keluarga, seperti Kristus mengabdi kepada gereja-Nya. Pola ini akan menghasilkan hubungan di mana semua anggota keluarga saling percaya serta saling menerima, dan hal ini tidak hanya ditunjukkan dalam sikap saja, tetapi terlebih lagi dalam tindakan nyata. Kalau di dalam pola itu terkadang harus digunakan cara otoriter ataupun permisif, it’s no big deal.

Seorang ayah harus memupuk kesadaran akan identitas keluarga. Inilah yang membedakan ciri keluarga/anak-anak kita sebagai ‘anak Tuhan’ dengan keluarga/anak-anak lainnya. Para ayah harus membangun citra itu. Para ayah harus memutuskan bersama pasangan mereka, identitas apa yang akan menjadi ciri keluarga mereka. Anak-anak harus tahu, mengerti dan terlibat dalam membangun identitas keluarga.

Apa perlunya identitas keluarga? Mengikat anggota keluarga untuk melakukan dan terlibat dalam menunjukkan serta mewujudkan identitas itu.

Ayah harus memimpin keluarganya secara tegas untuk meyakinkan anak-anak bahwa ia berada di samping mereka. Ayah tidak boleh menjadi penonton yang menyaksikan ibu bersusah payah menjaga keutuhan keluarga. Ayah harus menjadi bagian yang aktif dari sebuah tim pengelolaan keluarga. Ayah harus menjadi orang pertama yang memprakarsai ucapan betapa senang dan bangganya ia dengan keluarganya.

Apabila ayah memperkokoh identitas keluarga, berarti ia juga sedang membangun kepercayaan antar anggota keluarga. Kedua unsur itu berjalan bersama.

Tanggung Jawab – 2 : Menunjukkan Kasih Sayang kepada Istrinya

  • Anak-anak bertumbuh dengan baik dalam atmosfer kasih yang diciptakan orangtua mereka.
  • Kebahagiaan tertinggi seorang anak adalah ketika ia melihat bahwa ayahnya mengasihi ibunya.
  • Mengasihi istri merupakan prasyarat bagi ayah untuk membangun kepercayaan dengan anak-anaknya.

Seorang ayah bisa saja aktif dan tersohor dalam aktivitas sosial maupun dalam kegiatan anak-anaknya, namun apabila ia tidak terus memelihara hubungan kasih dengan istrinya, maka anak-anaknya akan berpikir, sejauh mana mereka bisa memercayai ayah mereka yang tidak punya waktu untuk istrinya? Atau yang berbicara kasar serta tidak sabar terhadap istrinya? “Seberapa besar saya memercayai ayah yang tidak selalu mengasihi ibu saya?” Tidak begitu besar.

Bagaimana seorang ayah menunjukkan kasih kepada istrinya? Memuji, melayani, memberi hadiah, menyentuh, membantu… dan yang juga penting: kencan. Apa yang perlu diperhatikan dalam kencan? Tidak saling menyalahkan, namun membangun hubungan serta menunjukkan kasih sayang.

Tanggung Jawab – 3 : Memahami dan Menghargai Kehidupan Pribadi Anaknya

Kita hidup dalam 3 dunia: publik, personal dan pribadi. Dunia publik adalah dunia di luar rumah bersama orang-orang lain yang kita kenal maupun tidak. Dunia personal adalah tempat di mana kita hidup di antara teman-teman dan kaum kerabat. Dalam kedua dunia ini kita dapat lebih santai dan lebih terbuka. Dunia pribadi adalah sebuah tempat di mana kita menyimpan semua pemikiran pribadi, harapan serta impian. Dunia pribadi adalah tempat yang paling rahasia. Tak seorang pun biasa mengunjungi dunia pribadi kita tanpa diundang, karena dunia itu berada di dalam diri kita.

Demikian juga anak-anak memiliki dunia pribadi mereka masing-masing. Dunia pribadi anak-anak juga sangat pribadi. Para ayah harus menghormati hal itu. Perlu meminta izin untuk bisa masuk ke dalamnya. Ayah harus peka pada saat-saat di mana anak menyediakan diri untuk mengundangnya masuk ke dalam dunia pribadinya. Ketidakpekaan mengenali kebutuhan ini bisa merusak hubungan dan menimbulkan ketidakpercayaan anak pada ayahnya.

Mendekati anak yang bermasalah dengan emosi dalam upaya untuk bertanya/mengorek keterangan darinya, tidaklah terlalu mudah. Pendekatan harus dibalik dengan menceritakan pengalaman ayah yang serupa dengan anaknya pada usia waktu itu, atau mirroring.

Bagaimana seorang istri bisa menolong suaminya untuk menghormati dunia pribadi anak-anak, mengingat suaminya jarang berada/terlibat bersama dengan mereka? Sang istri hendaknya selalu menjelaskan perkembangan atau kondisi emosi anak-anak kepada suaminya.

Tanggung Jawab – 4: Menepati Janji

Anak-anak memegang erat setiap kata yang diucapkan ayah. Bila ayah pernah berjanji, sekecil apa pun arti janji itu, hendaknya ia menepatinya, karena mereka terus menunggu kapan janji itu direalisasikan. Kalau tidak, hati mereka akan menjadi tawar dan menganggap ayah tidak serius sehingga tidak perlu didengarkan. Hal ini merusak hubungan dan kepercayaan.

Janji seorang ayah bagi anak lelakinya amat sangat penting!! Pengingkaran janji ayah terhadap putranya akan menjadi trauma dan bisa dianggap sebagai menyepelekan peran.

Bisa saja ada saat tertentu di mana ayah tidak bisa memenuhi janjinya karena ada kepentingan yang lebih prioritas. Namun yang terpenting adalah: apakah Anda dinilai sebagai ayah yang selalu memenuhi janjinyadi hadapan anak-anak? Jika jawabannya ‘ya”, maka Anda tidak perlu khawatir bila kadang-kadang terjadi hal yang tidak terduga seperti itu.

Menepati janji merupakan hal yang sangat penting bagi upaya seorang ayah membangun kepercayaan anak-anaknya.

Tanggung Jawab – 5: Memberikan Kebebasan Kepada Anaknya untuk Gagal

Tidak ada seorang ayah pun yang senang apabila anaknya gagal. Namun obsesi yang berlebihan tentang kemenangan sering menjadikan orangtua kehilangan perspektif akan kekalahan, sehingga tidak mampu menghargai pelajaran yang dapat dipetik daripadanya.

Anak yang tertekan dengan tuntutan ayahnya untuk tidak gagal, akan kehilangan kreativitas dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru. Ia menahan diri dan bertindak ala kadarnya hanya demi tidak gagal serta menghindari ekspresi kekecewaan sang ayah kepadanya. Dengan demikian ia berpotensi kehilangan kesempatan mengejar segala kemungkinan yang Tuhan anugerahkan kepadanya.

Para ayah harus melihat kegagalan dengan pandangan ke depan seraya menyadari bahwa kesempatan untuk belajar sering kali muncul pada saat kita mengalami kegagalan. Selalu ada yang bisa dipelajari dari kegagalan. Tuhan mengizinkan pencobaan terjadi supaya kita semakin matang dan bertumbuh dalam hikmat.

Yang harus menjadi fokus dan dipandang penting bukanlah hasil akhirnya, tapi upaya/usaha/karakternya. Kegagalan yang dialami, setelah sungguh-sungguh berusaha keras, tetap layak/patut mendapat pujian. Kegagalan tidak untuk disesali, dihukum dan dimarahi. Kegagalan adalah untuk ditolong, dipahami dan dibangun lagi.

Anak-anak perlu tahu bahwa ayah juga pernah gagal, sehingga ayah dapat menghayati luka hati serta rasa kecewa mereka. Anak-anak perlu diyakinkan bahwa baik kesuksesan maupun kegagalan bukanlah landasan dari hubungan ayah dengan mereka. Ayah akan selalu berada di samping mereka untuk mendampingi ketika mereka gagal, dan untuk memuji ketika mereka berhasil.

Tanggung Jawab – 6: Menjadi Pendorong Semangat Keluarganya

Para ayah perlu menjadi pendorong semangat karena sikap ini akan membangun kepercayaan. Lebih dari sekadar kata-kata, mengomunikasikan dorongan dapat diwujudkan melalui kehadiran, senyum dan ekspresi wajah ayah. Raihlah kesempatan untuk mendorong semangat anak-anak melalui kesulitan mereka, dengan membagikan pengalaman ayah dan menanamkan hikmatnya kepada mereka.

Kalau ayah membiasakan diri untuk memuji anak-anaknya (karakter, proses dan usaha yang dilakukan, bukan hasilnya) maka mereka akan bertumbuh baik. Menulis sepucuk surat atau catatan kecil yang memberi dorongan akan sangat berarti bagi mereka. Hal ini benar-benar berdampak di hati mereka.Pujian yang datang dari ayah sangat istmewa buat anak-anak.

Seberapa banyak harus memberi pujian? Usahakan: 10 pujian : 1 kritikan.

Tanggung Jawab – 7: Secara Rutin Memeluk Anak-Anaknya

Sentuhan tangan yang lembut, pelukan hangat, usapan di punggung dan ciuman hangat mengomunikasikan keintiman. Anak-anak memerlukan hal-hal itu secara rutin dari orangtuanya untuk membentuk rasa saling memercayai. Demikian juga dengan menggandeng dan digandeng.

Ayah harus secara rutin memberikan pelukan kepada anak-anaknya, terutama yang perempuan. Pelukan ibu berbeda dengan pelukan ayah. Lengan ibu nyaman, tetapi lengan ayah menyiratkan kekuatan yang memberikan rasa aman/perlindungan. Ayah yang gagal melakukan hal ini akan membuat anak-anak mencarinya di tempat lain, yang biasanya salah/tidak tepat.

Memeluk anak memberi lebih dari sekadar perasaan aman. Pelukan memenuhi kebutuhan emosional anak-anak yang suatu hari kelak akan dilengkapi tatkala Tuhan sendiri mengirimkan orang-orang yang spesial di dalam kehidupan mereka.

Tanggung Jawab – 8: Membangun Hubungan Saling Percaya dengan Anaknya Berdasarkan Firman Tuhan

Apabila ayah melakukan tanggung jawab ke-8 ini dan tidak melakukan yang lain, masihlah ‘ok’. Namun semua petunjuk praktis yang disodorkan sejauh ini tidak akan berarti apa-apa apabila ayah menjadi seperti orang bodoh yang membangun rumahnya di atas pasir. Hal itu terjadi apabila ayah membangun kepercayaan dengan anak-anaknya di atas dasar hikmat manusia dan bukannya Firman Tuhan yang adalah kebenaran itu sendiri. Bagaimanapun juga, kepercayaan tidak dapat dipisahkan dari kebenaran.

Ayah boleh sekali-kali mendelegasikan fungsinya sebagai imam kepada istrinya, tapi jangan kebablasan. Karena dengan demikian ayah tidak memberi contoh kepada anak-anak untuk peduli kepada Tuhan, terutama bagi anak laki-laki. Apa yang dilakukan ayah secara moderat, akan dilakukan anaknya secara ekstrem.

Menjadi orangtua berarti membina hubungan pemuridan di mana kebenaran Firman Tuhan disampaikan dari generasi ke generasi. Tanpa Firman Tuhan, seorang anak memiliki potensi untuk memercayai ayah bulat-bulat sampai ke hal-hal yang dapat membawanya kepada neraka.

Jadi apa yang dimaksud dengan mandat untuk ayah? Seorang ayah harus mencerminkan kebenaran Tuhan dengan tepat dan membina hubungan saling percaya dengan anak-anaknya berdasarkan kebenaran itu.

christ-centered

Dasar dari setiap hubungan adalah kepercayaan. Kepercayaan bermula dan berakhir dengan Tuhan. Di antara kedua titik ini terletak keluarga.

Haruslah diperhatikan bahwa mandat untuk para ayah pertama-tama adalah tentang kuantitas dan kualitas kepercayaan anak-anak kepada ayahnya. Bukan soal waktu, tapi hubungan. Fokuskan pada hubungan saling percaya. Setelah itu, baru bisa memulai memimpin anak-anak dengan cara Kristus yang abadi.

Anak-anak tidak butuh fasilitas untuk mempermudah dan mempernyaman kehidupan mereka. Anak-anak butuh kehadiran/kebersamaan/waktu ayahnya.

Kesuksesan seorang ayah bisa menjadi faktor pemisah atau sumber kepahitan bagi anak-anaknya, karena hal itulah yang membuat ayahnya jauh dari mereka. Waktu adalah hal utama yang menyebabkan itu.

Bila masalah tersebut sedang Anda alami/hadapi saat ini, jangan pasrah dan menyerah manakala Anda menginginkan suatu perbaikan tapi merasa tidak bisa melaksanakannya. Berdoalah kepada Tuhan untuk meminta hal-hal yang ‘tidak mungkin’, jangan hanya yang mungkin-mungkin saja. Tuhan kita jauh melebihi ‘ketidakmungkinan’ kita. Hal-hal yang mungkin, hanya akan mempermudah pengingkaran kita pada peran Tuhan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan di atas.

 

Sujarwo

Reff:

  • Gary & Anne Marie Ezzo, Growing Kids GOD’s Way
  • Rizal Badudu, Mandat Untuk Ayah, Open Workshop -Parenting Class GKI-PI, 9 Desember 2012

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan