Komitmen Pasutri

Komitmen Pasutri

4 Komentar 134 Views

Banyak di antara kita sebagai pasangan suami-isteri, walaupun sudah lama menikah dan mempunyai anak-anak yang sudah beranjak dewasa, namun masih belum dapat melakukan perintah Tuhan, seperti dalam Kolose 3:18-19 yang mengatakan, “Hai Istri-istri tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia”. Saya bersama pasangan juga pernah mengalami kesulitan bertumbuh untuk melakukan perintah Tuhan itu. Terlebih dalam Efesus 5:25 yang mengatakan, “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”. Wow…! Jadi, saya harus mengasihi pasangan, seperti Kristus mengasihi gereja? Dapatkah saya melakukannya? Karena apa yang dikatakan ayat itu merupakan standar kasih yang sempurna, kasih tanpa pamrih, bahkan kasih yang rela berkorban.

Komitmen Bertumbuh dalam Yesus

Sampai pada suatu ketika, Tuhan menuntun kami berdua sewaktu bersaat teduh bersama, untuk menghayati firman-Nya dalam Efesus 4:22-24 yang mengatakan, (22) “Berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaan oleh nafsumu yang menyesatkan, (23) supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu (24) dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”.

Kami sangat tersentuh dan segera datang ke hadirat Tuhan, mohon pengampunan dan bimbingan-Nya. Kemudian kami diberi hikmat untuk dapat mengerti dan menghayati ayat-ayat tersebut. Ketiga ayat tersebut mengandung prinsip yang sangat tepat sebagai pegangan bagi setiap pasangan suami-istri untuk bertumbuh saling mengasihi dan peduli. Paulus menjelaskan tanggung jawab yang harus kita lakukan untuk bertumbuh menjadi serupa Kristus, melalui tiga tahap, yaitu:

  1. Memiliki komitmen yang kuat untuk melepas cara-cara lama dalam bertindak. Kita sebagai suami-istri harus sudah dilahirkan kembali dalam roh (Be Reborn in Our Spirit), yaitu: percaya (believe) kepada Yesus Anak Allah yang telah mati di Kayu Salib untuk menyelamatkan kita semua; mempercayakan (trust) setiap celah kehidupan kita kepada-Nya; dan menerima (receive) Roh Kudus agar mengendalikan dan memberdayakan kehidupan kita. Oleh karena itu, kita perlu menyadari dan mengucapkan komitmen bersama di hadapan Tuhan, untuk meletakkan fondasi yang kokoh sebelum mulai melangkah pada tahap berikutnya, karena komitmen adalah “Kekuatan Kehidupan”. Dengan komitmen yang kuat, maka pasangan suami-istri memiliki kekuatan untuk melepas kebiasaan lama dalam bertindak. Suami mengasihi istrinya dengan tulus dan juga istri tunduk dan hormat kepada suami, seperti yang Tuhan perintahkan.
  2. Memperbaharui pikiran kita, sejalan dengan pembaharuan manusia batiniah kita. Dalam New King James Version, Efesus 4:23 dikatakan, “be renewed in the spirit of your mind”. Membaharui pikiran kita di dalam roh (manusia batiniah) yang terlebih dulu telah dibaharui. Apabila dipadukan dengan Filipi 2:5 yang mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”, maka kita mendapat pengertian bahwa pikiran dan perasaan kita harus dikuasai oleh manusia batiniah kita yang sudah diterangi oleh Roh Kudus, dengan menggunakan pikiran dan perasaan Kristus. Untuk itu, baik suami, maupun istri harus bersama-sama memperbaharui pola pikir yang didahului dengan pembaharuan manusia batiniah. Mengapa perlu memperbaharui pola pikir? Karena Pola Pikir (the way to think) dapat menentukan Pola Rasa (the way to feel) dan Pola Rasa itu akan membangun Pola Tindak (the way to act), sehingga kita dapat bertindak dengan benar. Tuhan mencipta manusia yang dikaruniai akal budi dan kesadaran moral yang dapat membedakan benar dan salah, sehingga kita dapat bertanggung jawab kepada Allah. Dengan pola pikir yang benar sesuai kehendak Allah, maka kita dapat memiliki pola rasa dan pola tindak yang benar yang berkenan kepada Allah. Apabila kita sudah memiliki pikiran dan perasaan Kristus, maka kita juga akan dapat bertindak seperti Kristus.
  3. Mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru dalam kebenaran dan hidup kudus. Pasangan suami-istri harus mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru dalam kebenaran dan hidup kudus, dengan mengenakan karakter Kristus. Karakter Kristus yang menonjol adalah KASIH dan PEDULI. Pengorbanan Tuhan Yesus di Kayu salib adalah wujud nyata dari kasih yang sempurna yang dikaruniakan-Nya kepada kita. Kasih itu bukan hasil usaha kita, tetapi “Anugerah” dari Tuhan Allah melalui pengorbanan Yesus. Kita perlu memiliki pengalaman merasakan kasih Yesus dalam kehidupan kita, dan apabila kita sudah dapat merasakan kasih Kristus, maka kita pasti dapat meresponi kasih-Nya dengan mengasihi Dia dan sesama termasuk pasangan kita. Dalam Galatia 5:14, Yesus mengajarkan kasih kepada kita: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.

Kita perlu menyadari bahwa proses untuk dapat mengasihi dan peduli pada istri, serta tunduk dan hormat kepada suami, harus diawali dengan suatu keputusan, yang diwujudkan dalam komitmen bersama di hadapan Tuhan: “Tuhan, aku mau mengasihi dan peduli pada istri (aku mau tunduk dan hormat kepada suami), dan mewujudkan pernikahan yang kudus”. Dengan komitmen tersebut, Tuhan akan memampukan kita untuk saling mengasihi dan peduli pada pasangan, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki hasrat untuk dikasihi serta bergaul intim dengan orang lain, dan pernikahan memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan dikasihi dan keintiman itu.

Komitmen Mewujudkan Ikatan Spiritual

Kesatuan hati dan tumbuh bersama perlu diwujud-nyatakan dalam kesatuan suami-istri dengan menegakkan Ikatan Spiritual dalam pernikahan yang menjanjikan keintiman sejati bagi Pasutri dalam kehidupan keluarga. Pasutri yang memiliki Ikatan Spiritual, menghasilkan gairah dan energi yang luar biasa yang tidak tertandingi oleh seluruh pengalaman Pasutri yang hanya mengandalkan “ikatan emosional” dan “ikatan phisik” dalam pernikahan mereka.

Jika Pasutri ingin saling mengasihi dengan Kasih Allah, mereka harus memandang Allah sebagai “Inti Kehidupan”, dengan mendasarkan setiap tindakan mereka hanya untuk kemuliaan Allah, serta memiliki komunikasi yang merupakan “Dasar Kehidupan” untuk mengasihi serta melayani Allah dan sesama (Matius 22:37-38; Markus 12:30-31; dan Lukas 10:27-28). Dengan menempatkan Kristus sebagai “Pusat Hubungan”, mereka akan bersatu secara rohani, memiliki keintiman sejati dan akan menjadi satu daging.

Ketika anda dan pasangan sudah terikat secara spiritual, maka bukan lagi Anda dan pasangan yang saling mengasihi, namun Allah sendirilah yang melakukannya, Allah mengasihi Anda melalui pasangan Anda. Dengan demikian, Pasutri mampu memahami dan menerapkan konsep pemenuhan kebutuhan yang bersumber dari Kasih Kristus dan mengalami kasih-Nya dalam kehidupan mereka, sehingga tidak lagi saling menuntut, akan tetapi justru saling memberi. Maka kualitas komunikasi menjadi semakin meningkat dan pernikahan mereka berkenan kepada Allah serta memenuhi rancangan-Nya.

Kalau pernikahan kita ilustrasikan sebagai mobil, maka body mobil itu adalah “ikatan fisik” dalam pernikahan, dan mesin mobil itu merupakan “ikatan emosional”, sedangkan bahan bakar sebagai “ikatan spiritual”. Ikatan spiritual dalam pernikahan adalah sebagai “bahan bakar penggerak yang tangguh” untuk memfungsikan ikatan emosional dan ikatan fisik, maka “tangki cinta” spiritual itu harus dijaga agar tetap penuh.

Namun ikatan emosional dan ikatan phisik tetap membutuhkan perhatian dan tidak boleh diabaikan, agar terjadi suatu keseimbangan. Kebutuhan “perawatan” ikatan emosional dapat dipenuhi dengan melakukan dialog pasangan yang berkualitas. Dialog adalah bagian dari komunikasi untuk memahami perasaan dan apabila Pasutri dapat merasakan dan menghayati apa yang dirasakan oleh pasangan, maka hubungan pernikahan akan menjadi lebih baik dan hamonis. Namun yang terpenting, Pasutri harus mencermati kondisi “tangki cinta” ikatan spiritual mereka agar tetap penuh, karena ikatan spiritual merupakan faktor utama untuk mendorong pemenuhan keintiman emosional dan fisik, serta meningkatkan kualitas komunikasi pasangan.

Kami mengajak Anda bersama pasangan, menjalani pernikahan yang dilandasi oleh “Ikatan Spiritual” yang terikat oleh darah dan tubuh Kristus (1 Korintus 10:16-18). Ikatan ini memang sesuatu yang unik karena Anda dan pasangan memiliki hubungan yang dekat dengan Yesus Kristus, Anda dan pasangan bukan hanya menyertakan Allah dalam segala hal dan mengundang-Nya ke dalam setiap sudut dan celah hubungan Anda, tetapi juga memahami dan menggunakan pikiran dan perasaan Kristus serta mengenakan karakter-Nya, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5). Pola pikir, pola rasa dan pola tindak Kristus yang diajarkan oleh Paulus dalam Filipi 2:6-8 merupakan “model” yang perlu diterapkan dalam pola pikir, pola rasa dan pola tindak Pasutri untuk mengasihi dan peduli pada istri serta tunduk dan hormat kepada suami:

  1. Pola Pikir Kristus (ayat 6) Yesus menyangkal diri: “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan”,
  2. Pola Rasa Kristus (ayat 7) Yesus mengosongkan diri: “melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.
  3. Pola Tindak Kristus (ayat 8 ) Yesus rela berkorban: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib”.

Tuhan Yesus memiliki gambar diri ‘’Congruent”, suatu kesempurnaan yang dapat memperhitungkan diri sendiri, memperhitungkan orang lain, dan memperhitungkan keadaan. Dalam kondisi dapat memperhitungkan diri sendiri, Yesus mengenali diri sendiri dan menyangkal diri: “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” (Filipi 2:6).

Ketika Yesus menyangkal diri, Dia mampu memberi penghargaan yang patut pada diri-Nya, untuk memperhitungkan manusia, dan demi keselamatan manusia, sejalan dengan kehendak Bapa yang mengutus Dia. Maka Dia sanggup: “mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”. (Filipi 2:7). Menghargai diri identik dengan menyangkal diri, semakin tinggi tingkat penghargaan diri seseorang terhadap dirinya, maka dia dapat melakukan tindakan yang semakin efektif dan bermanfaat dalam hidupnya dan mendatangkan berkat bagi orang lain, Yesus rela berkorban: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8).

Karena itu Yesus mengatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23). Menyangkal diri adalah kebebasan untuk mengutamakan orang lain lebih dari kepentingan diri sendiri, agar tidak berpusat untuk memikirkan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan orang lain juga. Menyangkal diri bukan menghilangkan identitas diri atau menghina diri sendiri, melainkan bermegah atas kasih karunia Tuhan dalam hidup kita.

Dengan menggunakan Filipi 2:6-8 sebagai “model”, Pasutri dapat membangun pola pikir, memusatkan pola rasa, dan mengarahkan pola tindak, agar suami belajar mengasihi dan peduli pada istri dan istri belajar tunduk dan hormat kepada suami (Kolose3:18-19 dan Efesus 5:25), yaitu:

  • Pola Pikir Pasutri: Menyangkal diri dan tidak mempertahankan status duniawi, tetapi menjaga status sebagai pengikut Kristus, yang diciptakan menurut gambar-Nya, sebagai anak-anak tebusan Allah yang menjadi pewaris Kerajaan Surga, dan sebagai anak-anak yang mentaati Firman-Nya. Masing-masing individu menyadari sepenuhnya bahwa setiap orang, termasuk diri sendiri pasti memiliki kekurangan, kelemahan dan dosa. Namun di sisi lain juga menyadari bahwa setiap orang yang dihadapi, termasuk diri pasangan, memiliki masalah dan sedang berjuang dalam peperangan sulit. Baik suami, maupun istri tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan kepentingan pasangan dan keluarga.
  • Pola Rasa Pasutri: Mengosongkan diri dan mengisi dengan rasa belas kasih dan lambat untuk menuntut keadilan, serta tidak menghakimi pasangan. Tidak ada cara yang lebih baik untuk hidup bagi Tuhan, selain melalui tanggapan spiritual dan membiarkan manusia batiniah yang bekerja.
  • Pola Tindak Pasutri: Rela berkorban dan merendahkan diri dengan sikap positif, penuh kasih dan memenangkan pasangan. Tidak cepat untuk membela diri atau berusaha untuk menutupi kesalahan dengan menciptakan berbagai dalih. Membuang kesombongan, keangkuhan dan kecongkakan dari dalam diri kita, yang dapat ditunggangi Iblis untuk menghancurkan kehidupan pernikahan.

Apabila kita sudah membangun pola pikir kita dengan pola pikir Kristus, maka kita dapat melakukan perintah Allah dalam Kolose 3:18-19 dan Efesus 5:25, suami mengasihi dan peduli pada istri, istri tunduk dan hormat kepada suami. Ini merupakan keseimbangan yang harus dilakukan oleh setiap Pasutri. Ketika Anda dan pasangan sudah melakukan keseimbangan ini, berarti Anda sudah memiliki “kunci kehidupan” yang dapat membuka persahabatan dengan pasangan, baik sahabat dalam pelayanan, sahabat di ruang tamu, sahabat di dapur dan sahabat di tempat tidur. Amsal 17:17 mengatakan, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”. Yesus juga mengajak kita untuk menikmati persahabatan (1 Petrus 3:7), kita pun dapat menikmati persahabatan dengan pasangan, agar dapat saling memberi cinta kasih yang sejati.

Pasutri Tjuk – Maureen

4 Comments

  1. Chandra

    Saya merasakan “cinta yang tidak sejati” dalam rumah tangga saya, Walaupun telah diberkahi seorang putri yang lucu dan sehat. Saya merasakan ada syarat tertentu untuk bisa berhubungan dekat dengan istri. Syarat demi syarat membuat saya muak dan kehilangan rasa percaya pada istri sebagai sahabat sejati. Rumah tangga yang kami bina serasa timpang sebelah. Tidak ada ikatan emosional, fisik apalagi spiritual. Istri memang seorang penurut dan secara sadar melaksanakan fungsi rutinitas pengelolaan pangan. Namun dalam ketidaksiapan yang sering muncul mengindikasikan penolakan keberadaan suami dalam ikatan emosional, fisik maupun spiritual. Istri selalu memunculkan syarat yang membuat saya tidak menjadi diri sendiri. Dengan kata lain, tidak ada terjadi kualitas keintiman sebagai suami istri. Saya tidak kuat lagi dan berserah karena rasa penolakan ini. Saya merasa diri yang selalu memaksakan kehendak, tidak bersedia menyesuaikan diri dan sebagainya yang ber image negatif. Saya sungguh tidak kuat. saya tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Bahkan minta tolong pun tak terpikirkan lagi. Sia-sia berkarir dan tanpa kualitas rumah tangga. Dari kesaksian pribadi saya, ingin sampaikan bahwa artikel komitmen pasutri ini secara berkala penting untuk terus dikembangkan dan sampai kepada rumah tangga (khususnya di Indonesia). Terima kasih atas artikel yang berkualitas

  2. Jan Tanumihardja

    Yang terkasih Sdr Chandra,
    entah apakah kita pernah bertemu di Gereja. tetapi dalam artikel yang anda tulis, m,embuat hati saya tergelitik dan ingin sekali bisa dekat dan memberikan masukan kepada anda berdua bersama istri.
    Suasana seperti yang anda alami sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga, terutama pada pasangan yang masih muda.
    Kami dalam usia pernikahan sekitar 5-8 tahun, juga dulu mengalami hal yang mirip dengan anda. saya mersa bosan dengan perkawinan saya, mungkin demikian juga dengan istri saya. Dan kami bersyukur karena sat itu Tuhan beri kami jalan dengan mengenal beberapa pasutri yang menolong kami dengan memberikan konsultasi.
    Bila anda berkenan, bolehkan kita berkenalan dan kita bertemu ber 4, maksud saya, anda bersama istri demikian juga saya bersama istri.
    Silahkan kirim apa saja ke email saya.
    Salam dalam Kristus yang mengasihi anda berdua dan kami.
    Selamat merenungkan kaih Tuhan dalam penderitaannnya dalam Jum’at Agung ini.
    JanAmi

  3. Harry Wirjadi

    Pak Jan,
    Terimakasih atas sharing pasutri di GKI Taman Cibunut, Saya Harry Wirjadi ( Katolik) orang Cirebon juga, dulu SMA di Santa Maria Cirebon, apakah pak Jan juga lulusan San Mar. Istri saya Mariyam, GKI Taman Cibunut.Riwayat latar belakang sama ya, tapi saya tetap Katolik, anak 2 saya aja yang GKI
    Salam kenal,
    Harry Wirjadi

  4. Jenny Karuh

    tq sharing nya, sangat menolong kita semua u/ber-refleksi sejauh n sedalam apa komitmen pasutri dalam menjalani hidup pernikahan. Salam.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan