Keluarga dan Media Informasi

Keluarga dan Media Informasi

Belum ada komentar 8 Views

De-Space

Dulu, dulu sekali, ketika semesta belum juga mengenal radio dan televisi, hari terasa sangat singkat. Keletihan tubuh seusai bekerja atau bermain di halaman dihabiskan dengan makan malam bersama dan ngobrol bersama anggota keluarga. Sepuasnya. Sampai akhirnya semua anggota keluarga tidur.

Lantas, ketika radio muncul, mereka masih berkumpul, menyekitari “kotak berbunyi” itu. Masih saling memandang. Lantas, kotak televisi muncul dan, sekalipun keluarga-keluarga masih duduk dalam satu ruangan, mereka tak lagi saling memandang, karena mata mereka masing-masing tertancap pada tabung kaca di depan.

Dan sekarang… internet. Setiap orang punya ruang dan dunianya sendiri. Sangat privat. Masing-masing dengan kata kunci (password) yang tak dikenali orang lain. Bahkan oleh isteri atau suaminya. Bahkan oleh anak atau orangtuanya.

Revolusi teknologi informasi-komunikasi pada saat bersamaan adalah revolusi penjarakan relasi. Jarak relasi antarmanusia makin lama makin lebar. Dan inilah ironi terbesar dari kemajuan teknologi informasi-komunikasi.

Media informasi-komunikasi, yang semula muncul sebagai penolong untuk menjembatani space atau ruang antarpribadi dan antarkelompok, sekarang malah menjadi penghalang relasi manusiawi. Ia tidak me-media-si hubungan dan malah memotongnya. Ruang kebersamaan yang tadinya akrab dan hangat, kini justru dibuat berjarak, makin lama makin jauh.

Dalam sebuah komunitas seperti keluarga, ruang yang tersedia mustinya menjadi ruang bersama (common space). Di sanalah seseorang menjadi pribadi (person). Dan person tidak pernah ada tanpa relasi dengan person lain.

Pemahaman ini sangat mendalam dijumpai akarnya dalam tradisi Kristen, yang meyakini nilai kemanusiaan sebagai person-in-relation (pribadi-dalam-relasi) atau person-in-community (pribadi-dalam-komunitas).

Media lantas gagal merekayasa relasi dan komunitas antarpribadi dan menciptakan ruang kosong (void) antara satu pribadi dan pribadi lainnya. Ia mengubah person menjadi individu. Sementara person mengandaikan adanya relasi, individu (Latin: in-divisa) menyiratkan bahwa seseorang itu otonom dan independen, tanpa memerlukan orang lain.

Lebih dari itu, kekuatan lain dari media informasi justru ketika ia tidak sekedar informing sebuah produk kepada kita dan keluarga kita, namun melakukan forming gaya hidup. Ia membentuk kita. Mengubah identitas kita. Ia membuat para bapak yakin bahwa hanya dengan membeli mobil anu maka ia menjadi perkasa. Ia membuat para ibu percaya bahwa mereka akan menjadi seorang perempuan ideal ketika mengonsumsi produk tertentu. Dan seterusnya. Ia menciptakan realitas baru–tepatnya: hiper-realitas.

Dekat-Jauh

Ironi media komunikasi, yang justru tidak me-media-si perjumpaan konkret antarpribadi di atas, tampak dalam banyak contoh.

Internet dan program-program canggih di dalamnya; mulai dari facebook hingga twitter. Semua kini bisa dilakukan di portable gadget seperti telepon genggam. Maka tak heran jika salah satu semboyan populer Blacberry adalah ”mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.” Seorang pengguna Blackberry bisa sangat berkonsentrasi dalam dialog dengan rekannya di negara asing dan sekaligus mengasingkan anaknya yang menangis di sampingnya.

Lihatlah ruang-ruang tunggu publik (rumah sakit, apotek, dokter, dan lain-lain.). Makin banyak anggota keluarga yang mengisi waktu tunggu itu bukan dengan bercakap-cakap, namun justru berfacebook-ria dan kegiatan sejenisnya.

Pada saat bersamaan dunia luas terbentang di latar kecil itu. Bayangkan seorang anak SD yang sangat ingin memiliki akun facebook namun terhalang usia yang masih jauh di bawah persyaratan. Maka dengan mudah ia memalsukan umurnya. Dan segera setelah ia masuk ke sana, ia menambah daftar teman dan berjumpa dengan teman-teman mayanya. Di sisi kanan layar facebooknya, muncul beribu kemungkinan iklan; mulai dari yang menjual ini-itu hingga yang situs-situs ”dewasa” (yang orang dewasa pun tak pantas melihatnya).

Re-Space

Ruang bersama itu makin senyap. Meja makan keluarga diisi lauk-pauk lezat, yang dinikmati semua anggota keluarga, namun masing-masing makan di sana di waktu yang berbeda. Ruang keluarga pun tiap hari diisi oleh sebuah kotak bernama televisi, entah yang tersambung ke cable atau video game console canggih. Mereka menjadi babby-sitter bagi anak-anak kita.

Tentu saja, sudah tak mungkin dan tak realistis lagi menolak semua kemajuan teknologi komunikasi yang sudah terlanjur meresapi kehidupan modern kita. Namun, yang perlu terus-menerus kita renungi dan siasati adalah desakan untuk kembali pada ruang bersama di mana semua anggota keluarga dapat berkumpul tanpa terhalang oleh ruang-ruang maya teknologi itu. Dan ini tentu saja membutuhkan komitmen, kesepakatan dan disiplin.

Hangatkanlah kembali meja makan keluarga Anda, obrolan santai sebelum tidur, waktu piknik bersama di alam bebas.

Saya sangat percaya bahwa media komunikasi–yang tak mediatif dan komunikatif itu–akan tiba pada sebuah titik buntu, sebuah cul-de-sac eksistensial, di mana manusia tak lagi memperoleh makna hidup yang otentik, karena tercerabut dari lahan kemanusiaan yang tadinya dihuninya bersama dengan orang lain yang dikasihinya. Jika manusia hanya dapat menjadi manusia dalam perjumpaan otentik dengan manusia lain, maka kita masih punya pengharapan.

Joas Adiprasetya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan