StoryTelling

Kekuatan dari StoryTelling

GrandParenting

Belum ada komentar 15 Views

“Waktu Oma kecil dulu, papanya Oma menjodohkan anak-anaknya. Nah, Opa adalah pegawai terbaik Papa. Dia pintar sekali berbahasa Belanda dan Inggris. Dia ganteng. Semua anak-anak Papa suka kepadanya. Tapi herannya, Opa memilih Oma. Padahal masih banyak kakak Oma yang belum menikah. Nah, karena itu barangkali, Oma ngga dapat warisan rumah dari Papa. Padahal semua anak dapat 2 rumah dan kami dapat 1 rumah besar untuk dibagi rata. Cuma Oma sendiri yang tidak kebagian 2 rumah itu. Mungkin karena semua kakak-kakak benci Oma ya?”

Kisah di atas adalah salah satu StoryTelling yang mengingatkan saya pada oma saya puluhan tahun yang lalu. Sambil duduk di kursi teras rumah dan saya bersimpuh di kakinya, Oma bercerita. Tampaknya sekadar bercerita, tapi membuat saya bertanya-tanya, “Kenapa ayahnya begitu tega, sehingga tidak memberikan warisan kepada Oma, hanya karena pegawainya memilih Oma sebagai istrinya?” atau “Apa sih kriteria sayang dari seorang ayah?” Selain bertanya-tanya, saya juga belajar sedikit banyak tentang nilai hidup dari Oma.

Jenis StoryTelling

1. Pengalaman Masa Lalu Keluarga
Pengalaman ini bisa berupa kisah ketika Opa bertemu dengan Oma. Atau apa pengalaman Opa-Oma dengan Papa atau Mama saat mereka kecil. Kisah ini bisa juga dibumbui dengan pendapat dan pikiran Opa-Oma pada waktu mengalaminya. Bukan itu saja, nilai-nilai yang baik bisa dimasukkan melalui pengalaman itu.

Permainan yang menarik di masa lalu juga bisa menjadi cerita yang berkesan bagi anak. Masukkan juga unsur perasaan yang dialami Opa-Oma saat mengalaminya. Misalnya, betapa tegangnya Opa saat Oma melahirkan Mama, karena itu merupakan pengalaman pertama. Ceritakan, naik kendaraan apa waktu Opa membawa Oma ke Rumah Sakit.

Saya jadi ingat bagaimana Oma saya bercerita bagaimana ia pergi mengungsi pada zaman penjajahan sambil membawa bayi dalam kandungannya. Kisah yang seru dan menegangkan sebagai seorang ibu muda pada zaman penjajahan Jepang di Indonesia saat itu.

2. Kisah Rakyat
Kisah rakyat bisa kita dapatkan dari buku-buku di toko buku. Namun Opa-Oma juga bisa menceritakan kisah yang diceritakan berulang-ulang pada waktu kecil. Tentu masih segar dalam ingatan kita tentang kisah si Malin Kundang, atau Bawang Merah–Bawang Putih. Selain melatih cucu untuk mengetahui cerita rakyat Indonesia atau cerita rakyat negara lain, ia juga belajar istilah-istilah Indonesia yang unik dan hanya bisa diperoleh dari kisah rakyat yang kita ceritakan. Misalnya, kita dapat menceritakan apa yang disebut ‘durhaka’.

Selain menceritakan kisah rakyat tersebut, Opa-Oma juga dapat menceritakan siapa yang pertama kali memberitahukan kisah itu kepada Oma-Opa. Cerita yang mengiringi kisah itu atau pelajaran moral dari kisah itu juga penting untuk diceritakan agar anak mengerti mengapa kisah itu ada.

3. Pengalaman Masa Kecil Anak
Salah satu kisah seru Opa-Oma kepada cucu adalah bagaimana Opa-Oma menghadapi orangtua si cucu pada waktu ia kecil. Permainan apa yang dimainkannya dan siapa saja teman-temannya. Kisah ini dapat dikemas sebagai kisah yang mengajarkan anak untuk melakukan sesuatu yang baik atau menghindari sesuatu yang tidak baik.

Pengalaman + Pelajaran Moral = Harta berharga buat cucu. Tidak semua cucu memiliki kesempatan untuk mengetahui sejarah hidup orangtua mereka. Apalagi jika orangtua saat ini sangat sibuk dengan pekerjaan mereka. Opa-Oma adalah sumber pertama yang dapat juga memperkenalkan kisah orangtua kepada anak dari pengalaman mereka sendiri.

4. Kisah Nyata
Kisah nyata dapat diambil dari majalah, internet, buku-buku atau film yang ditonton Opa-Oma. Kisah ini bukan sekadar dibacakan, melainkan juga disarikan. Misalnya, saat Opa-Oma menonton kisah Helen Keller.

Saya ingat bagaimana guru dari Helen Keller dengan sepenuh hati mengajar muridnya. Namun juga ada pengalaman-pengalaman yang mendorongnya untuk mengabdikan hidupnya bagi pendidikan Helen. Kisah ini bukan hanya berkesan, melainkan juga bermakna. Jika makna dari kisah itu juga didengar oleh anak, tentu anak akan belajar hal yang berharga dalam hidupnya.

5. Cerita Alkitab
Kisah ini sangat perlu diceritakan kepada anak setiap hari. Tiada hari tanpa cerita Alkitab! Itu prinsip pendidikan Kristen yang membuat anak mengenal siapa Tuhannya dan isi Alkitab sejak dini.

Cerita Alkitab sangat beragam, mulai dari kisah menakjubkan, kisah seru, sampai kisah yang mengharukan. Pemilihan cerita Alkitab yang sesuai dengan usia anak, dapat kita lihat dengan bantuan buku bergambar yang berisi cerita Alkitab di toko-toko buku. Namun secara umum, anak-anak balita suka sekali kisah kepahlawanan, sementara anak SD suka dengan cerita moral. Kronologi memang perlu, tetapi lebih penting lagi berdiskusi bersama anak mengenai pesan Tuhan melalui kisah-kisah tersebut.

Manfaat StoryTelling

Sebetulnya sebuah StoryTelling bermanfaat untuk pencerita maupun pendengarnya. Dalam hal ini, antara Opa-Oma dengan cucu mereka.

Adapun manfaat dari StoryTelling:
1. Bonding – Ikatan Emosional
Setiap kali ada kisah yang disertai dengan perasaan atau emosi, sesungguhnya Opa-Oma dan cucu-cucu sedang mengikat relasi mereka satu dengan lainnya. Besar kemungkinan anak-anak akan merindukan kehadiran Opa-Oma dengan segudang kisah mereka yang menarik. Apalagi jika saat Opa-Oma bercerita, si cucu bisa tertawa lucu, bahagia, senang dan bangga. Tentulah muncul ikatan cinta sedikit demi sedikit melalui pertemuan ini..

Cucu juga bisa belajar empati melalui kisah-kisah yang diungkapkan Opa-Oma dengan turut merasakan apa yang dirasakan oleh pencerita atau tokoh yang diceritakan. Misalnya, “Waktu kehilangan sepeda, Opa sedih… sekali. Karena sepeda itu hasil dari jerih lelah Opa menabung selama remaja.” Kalau kita mengajarkan si cucu untuk menirukan perasaan itu dan menunjukkan sikap peduli, alhasil ia akan semakin belajar bagaimana berempati kepada sesamanya.

2. Mengembangkan Imajinasi, Daya Pikir dan Daya Ingat
Saat Opa-Oma bercerita, para cucu sebetulnya sedang belajar untuk membayangkan bagaimana peristiwa itu menjadi nyata di dalam pikiran mereka. Apalagi jika mereka menambahkan dengan pertanyaan, itu berarti mereka tertarik dengan cerita itu. Termasuk jika mereka bisa mengekspresikan perasaan mereka akibat kisah yang diceritakan. Jika Opa-Oma secara rutin bercerita, maka si cucu suatu kali juga mulai belajar untuk bercerita kepada Opa-Oma.

Bukan hanya itu saja, saat Opa-Oma bercerita, cerita-cerita yang berkesan biasanya diingat oleh cucu. Kisah itu bisa diteruskan dari generasi ke generasi sebagai ikatan kekeluargaan yang berkelanjutan.

3. Media Pertumbuhan Iman
Siapa bilang sebuah cerita hanya sekadar cerita? Pertumbuhan iman seseorang juga bisa didukung oleh cerita-cerita yang menginspirasikan pendengarnya. Dalam hal ini, cucu yang mendengarkan kisah kasih, kisah kebaikan atau kisah haru dari Opa-Oma bisa belajar dari kisah-kisah itu. Caranya? Opa-Oma cukup bertanya, “Apa yang kamu pelajari dari kisah itu?” Biarkan si cucu mengungkapkan makna yang mereka dapatkan Jika mereka sudah mahir menangkap makna dan pelajaran berharganya, tanyakan sebuah kalimat lagi, “Apa ya yang Tuhan kira-kira ajarkan melalui kisah itu?” jika Opa-Oma menghargai setiap perenungan para cucu, maka mereka akan membiasakan diri menangkap pesan Tuhan melalui kisah-kisah yang mereka dengarkan.

Selamat melakukan StoryTelling dan merasakan manfaatnya!

>> Riani J. Suhardja

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
  • Grandparenting
    Meletakkan Dasar Iman Buat Cucu
    Sepasang oma dan opa memiliki 5 cucu. Cucu pertama suka sekali makan. Cucu kedua makan makanan sehat saja. Cucu...
  • Gawai untuk anak, Bijakkah?
    keluarga dan perkembangan teknologi
    Smartphone Belahan Jiwa Inovasi teknologi, khususnya di bidang komunikasi visual, sangatlah dahsyat, karena menghasilkan produk-produk perangkat komunikasi dengan kecanggihan...
  • Keluarga & Teknologi
    Ini terjadi pada suatu hari di keluarga saya. Pagi-pagi menjelang berangkat sekolah, anak saya Joshua mengatakan bahwa angin badai...
  • anggota keluarga
Kegiatan