Hindari Yang Hoax

Belum ada komentar 511 Views

Salam sejahtera,
Pada zaman milenium ini, teknologi modern mendominasi segala bidang kehidupan manusia, termasuk teknologi informasi. Kita bisa dengan mudah dan cepat mendapat kabar, berita atau apapun yang berkaitan dengan informasi, melalui internet. Tidak luput juga renungan harian, baik dari luar/internasional atau lokal, dan dari berbagai gereja denominasi dan aliran, yang tentu-nya dibuat untuk membangun masing-masing jemaat. Di lain pihak, kemudahan ini juga bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang menyebarkan kebohongan, seperti berita hoax.

Menurut Pak Pendeta, adakah renungan harian di internet yang menyesatkan dan sebaiknya kita hindari? Dan sebaliknya, adakah renungan harian yang membuka wawasan kita sehingga kita terhindar dari pepatah “seperti katak dalam tempurung?” (merasa paling benar sendiri). Lalu, bagaimana kita/gereja/jemaat bersama-sama mempersiapkan diri dan mengantisipasi gelombang teknologi informasi tersebut? Terima kasih.
Salam hormat, bibits

Pak Bibit,
Kemajuan teknologi informasi pasti diikuti dengan ‘efek samping’nya, yaitu munculnya banyak ‘hoax’. Berita palsu, termasuk ya renungan harian yang menyesatkan bisa saja muncul. Kalaupun sekarang belum ada, saya tidak bisa menjamin di masa depan tidak akan ada. Lalu bagaimana? Ya pakailah sikap kritis kita. Jangan mudah ‘menelan mentah-mentah’ semua informasi. Carilah informasi dari situs yang baik dan dapat dipercaya.

Termasuk ketika kita mencari bahan ‘renungan harian’, ya masuk saja ke situs-situs yang baik dan dapat dipertanggung-jawabkan. Selain itu, kita sendiri harus menciptakan ‘filter iman’ di dalam diri kita. Caranya ya belajar dari apa yang diajarkan gereja kita sendiri, entah dalam bentuk katekisasi, khotbah minggu. PA dan banyak lainnya. Nah, kalau ‘filter’ itu sudah terbentuk maka ketika kita berjumpa dengan tulisan yang ‘menyesatkan’ alarm dalam diri kita yang akan mengingatkan kita.

Jadi kita memang harus membentengi diri kita sendiri terhadap berbagai hal yang menyesatkan yang bisa muncul di media sosial. Nah, jawaban saya ini biasanya ‘tidak disukai’ jemaat karena maunya jemaat adalah ‘instan’. Tunjukkan saja situs mana yang baik, beres dan saya akan ke situ. Masalahnya, situs yang baik pun saya tidak bisa menjamin akan selamanya baik. Di era teknologi informasi ini, segala sesuatu bisa berubah dengan cepat. Apa yang baik sekarang belum tentu tetap baik di masa depan. Jadi kalau mau aman yang belajarlah di tempat sendiri, bangunlah filter yang baik dengan pengajaran-pengajaran yang diajarkan para pendeta kita. Semoga jawaban ini cukup memuaskan.•

>> Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Iman Tidak Bertumbuh?
    Iman Tidak Bertumbuh?
    Pak Pendeta yang budiman, Abraham sebagai bapak beriman, sangat taat kepada Elohim. Dialog-dialognya dengan Allah begitu jelas, entah itu...
  • Siapa Penghuni Surga?
    Pak Pendeta yang budiman, Kisah Para Rasul 10 mengisahkan seorang perwira Romawi yang saleh dan murah hati/bersedekah/dermawan. Perwira itu,...
  • BARCODE 666
    Pak Pendeta yang diberkati Tuhan, Saya memendam kegelisahan manakala mengamati perkembangan teknologi dan sistem pembayaran masyarakat global. Setelah menggunakan...
  • upacara gereja
  • Kerajaan Maut
    Samakah Arti Neraka dan Kerajaan Maut?
    Pak Pendeta yang budiman, Mohon pencerahan mengenai beberapa hal: Samakah arti Neraka dan Kerajaan Maut; dan siapakah yang menciptakannya,...
Kegiatan