Hadiah Terindah

Hadiah Terindah

Belum ada komentar 57 Views

Tom…” suara lembut itu menembus kesadaranku. Terang cahaya menyilaukan membangunkan aku dari mimpi panjang. “Ah!… Siapa… kau?” tanyaku lemah. Sudah lama sekali aku tidak mendengar namaku disapa! Sakit mataku mencerna kemilau terang di hadapanku. Terlalu silau. Rasanya seperti menatap matahari siang! Kupejamkan mataku. Sudah lama aku tidak melihat wajah orang–selain suster yang merawatku, itupun ditutupi masker!

“Tom, ketahuilah engkau berharga bagi-KU dan AKU mengasihimu!” tangan hangat itu menjamah wajahku. Ketika sebuah ciuman lembut menyentuh dahiku, bendungan air mataku pecah. Bertahun-tahun aku marah dan mempertanyakan kasih-Nya, “Mengapa Tuhan membiarkan aku menderita?”

Sebagai anak tunggal Papa, karena Mama meninggal saat melahirkanku, aku dilimpahi segala fasilitas hidup yang sangat baik. Tapi aku tidak manja. Sebaliknya aku bertumbuh sebagai anak yang manis, selalu berusaha menyenangkan hati Papa dan semua orang. Aku sadar aku sering dimanfaatkan oleh teman-temanku untuk menjadi penyandang dana dalam acara-acara sekolah baik resmi maupun tidak resmi, namun aku dan Papa sama sekali tidak keberatan akan hal itu.

Akupun lulus dengan nilai-nilai yang baik dan melanjutkan belajar di luar negeri. Di negeri Paman Sam aku berteman dengan banyak orang dari berbagai suku bangsa. Singkat cerita, aku telah mengalami beberapa kali hubungan cinta. Yang terakhir sebelum aku kembali ke Jakarta adalah hubungan intim tanpa ikatan dengan ibu dosen yang cantik.

Sejak aku sepenuhnya menggantikan posisi Papa menjalankan roda perusahaan keluarga–karena stroke membuat Papa harus teratur menjalani terapi untuk mengembalikan kemampuan motoriknya, aku tidak memiliki teman dekat lagi. Setiap pulang kerja aku merasa sangat lelah dan enggan keluar rumah. Aku hanya ingin tidur. Kadang aku langsung tertidur lelap tanpa sempat makan atau mandi.

Suatu hari aku melakukan general check-up sebab aku sendiri heran dengan stamina tubuhku yang melemah. Malam hari aku sering terbangun dengan tubuh penuh keringat padahal AC kamar berfungsi dengan baik. Aku sering merasa demam, mual dan pusing tapi setiap pagi aku bangun dengan tubuh segar dan sarapan bersama Papa dengan lahap sebelum berangkat bekerja. Papa belum bisa berbicara dengan lancar tapi aku selalu melaporkan dengan rinci segala sesuatu yang terjadi di perusahaan dan Papa akan tersenyum menatapku.

Ternyata aku sudah terinfeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Aku tidak mau menjalani perawatan HAART (Highly Active Anti Retroviral Therapy). Aku takut. Sangat takut. Kenyataan ini tidak bisa kuterima! Bagaimana bila Papa mengetahui hal ini? Pasti hancur hatinya! Padahal Papa sedang menjalani terapi pemulihan. Bagaimana kata orang bila mereka tahu? Pasti mereka menganggap aku telah berbuat hal-hal yang tidak senonoh!

Aku menjadi marah kepada Tuhan yang membiarkan semua hal buruk ini terjadi pada diriku.”Tuhan, jika Engkau sungguh peduli dan mengerti, mengapa Kau biarkan hal-hal buruk terjadi?” “Mengapa dari lahir aku harus kehilangan Mama padahal aku sangat membutuhkan kehadirannya? Tidakkah Kaulihat luka di hatiku setiap aku melihat anak-anak lain dijemput oleh mamanya sementara aku dijemput hanya oleh supir?”

“Dan mengapa sekarang aku terkena infeksi HIV? Bukankah aku tidak pernah terlibat narkoba? Bukankah aku tidak ikut pergaulan bebas dan dugem? Aku pria normal, bukan homoseksual. Aku menjalin hubungan cinta dengan wanita-wanita yang baik dan hanya sekali aku berhubungan intim dengan seseorang. Sekali! Itupun dengan menggunakan kondom! Padahal mereka yang kukenal menjalani seks bebas dan gonta-ganti pasangan… tetap sehat. Sungguh… tidak adil!”
Aku benci dan tidak mau lagi menyimak berita-berita buruk di media massa: gempa bumi, gunung meletus, banjir, kebakaran, perang, korupsi, perselingkuhan, politik kotor, penutupan gereja-gereja!

“Di manakah Kau, Tuhan ketika umat-Mu menderita? Apakah telinga-Mu tidak mampu mendengar jerit tangis kami dan tangan-Mu kurang panjang untuk menolong? Apakah Engkau sungguh-sungguh ada, Tuhan? Apakah benar Engkau mengasihi kami?”

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, sebulan kemudian Papa meninggal dunia dalam tidurnya. Seperti mimpi aku mengurus upacara pemakamannya. Saat aku menerima ungkapan belasungkawa dari sanak saudara, teman-teman dan kenalan, aku merasakan kekosongan yang mengerikan… Apakah artinya hidup ini? Suatu saat setiap orang akan mati, baik karena penyakit maupun tanpa sakit apapun!

Aku memutuskan cuti kerja setahun dan menyerahkan tampuk kekuasaan pada adik Papa. Aku terbang menemui mantan kekasihku. Seorang wanita yang jauh lebih tua dariku tapi begitu cantik memesona. Seandainya saja dia belum berkeluarga… Kuceritakan keadaanku yang terinfeksi HIV dan kekhawatiranku bahwa aku tertular dari hubungan seksual dengannya. Segera dia juga memeriksakan kesehatan tubuhnya. Ternyata dia bersih dari HIV!

Jadi bagaimana aku bisa terinfeksi HIV? Bukankah HIV dan virus-virus sejenisnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam atau aliran darah dengan cairan tubuh yang mengandung HIV seperti darah, air mani, cairan vagina, air susu ibu?

Atas desakannya, aku bersedia menjalani perawatan antiretrovirus di sebuah rumah sakit swasta. Awalnya dia menengokku setiap hari namun pengobatan itu membuat aku sering kehilangan kesadaran. Semuanya seperti berkabut. Saat-saat aku sadar, aku sangat merindukan kehadirannya. Aku sendirian dan sangat kesepian.

“Mengapa aku bisa terinfeksi HIV, Tuhan?” dengan lemah aku mengajukan pertanyaan yang telah lama mengusik hatiku. Sekelebat di benakku terlihat sebuah peristiwa yang terjadi ketika aku diajak teman-temanku membuat tatoo perpisahan. Walaupun enggan, aku menuruti keinginan mereka. Sebetulnya dari kecil aku takut jarum suntik. Bagiku jarum suntik identik dengan dokter dan dokter sama dengan penyakit atau rasa sakit! Karena takut sakit, aku memilih rajah paling kecil dan sederhana yaitu burung elang. Aku ingat kesakitan yang merobek kulitku saat jarum itu beraksi merajah pundak kananku. “Ya, kau tertular melalui rajah.”

“Oh,Tuhan! Jika Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku,” dengan terisak-isak aku memohon kepada-Nya. “Aku mau, jadilah engkau sembuh!”

Dalam dekapan-Nya akupun tertidur pulas. Saat terbangun, aku ingin mandi. Maka akupun segera melangkah dengan ringan ke kamar mandi dan berendam di air hangat yang terasa sangat nikmat. Kugosok gigiku berlama-lama. Kupandang wajahku yang kurus, mataku terlihat besar dan cekung tapi tak ada lagi ratapan di sana. Kusisir rambutku. Suster terpana melihat aku yang berpakaian rapih dan wangi. Apalagi melihat betapa lebarnya senyumanku.

“Selamat pagi, Suster! Aku lapar sekali, bolehkah aku makan sekarang?” Terima kasih, Tuhan. Aku akan terus berjuang untuk hidup karena aku mengerti sekarang hidup adalah pemberian-Mu. Inilah hadiah terindah!

Eva Khaliska Hamdani

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan