Gadget yang menggoda

Gadget yang menggoda

Belum ada komentar 193 Views

Peran orang tua sangat besar dalam pembentukan nilai dan norma pada diri anak. Dalam menanamkan kaidah mana yang baik mana yang tidak baik, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, porsi orangtua cukup besar. Pihak lain yang juga mempunyai andil dalam hal ini adalah sekolah, termasuk didalamnya adalah para guru, kurikulum dan sistem pendidikannya. Yang lain lagi adalah institusi agama, seperti Sekolah Minggu serta kebaktian yang sesuai dengan usia anak.

Pembentukan nilai dan norma tidak bisa sekadar diajarkan di dalam kelas, tetapi juga dalam praktik kehidupan sehari-hari. Apa yang diajarkan harus sejalan dengan apa yang dilakukan, baik oleh para orangtua maupun para guru. Bahkan, contoh perilaku akan lebih tertanam dalam diri anak ketimbang teori dan pengajaran di dalam kelas. Bukan hanya perilaku, tetapi ucapan, pendapat dan opini juga berdampak pada pembentukan nilai dan norma, khususnya bagi anak-anak.

Pihak lain lagi yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan nilai adalah media massa. Tayangan acara di televisi, surat kabar, majalah dan iklan juga punya andil yang cukup besar. Gadget yang semakin lama semakin canggih, juga berdampak pada pembentukan nilai dan norma anak. Ternyata, ada demikian banyak pihak yang berpengaruh pada pembentukan nilai dan norma pada anak-anak kita.

Nilai dan norma yang kita miliki, dapat tercermin dari apa yang kita ucapkan, ketika kita berpendapat atau menyampaikan opini dan juga telihat pada perilaku kita. Nilai dan norma ini akan lebih nyata terlihat apabila kita dalam kondisi tertekan. Seseorang yang dalam keadaan tertekan atau tersudut, sangat wajar apabila dia membela atau mempertahankan diri. Kalau dirinya memang salah, apakah bisa dengan tulus meminta maaf, atau malah menyalahkan orang lain. Kalau dirinya tidak bersalah, apakah bisa memaafkan orang lain atau malah menekan orang lain.

Adalah sangat mengkhawatirkan, ketika seorang public figure, dalam kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anaknya, menyampaikan bahwa kecelakaan itu bukan semata-mata kesalahan anaknya, walaupun baru berusia 13 tahun dan belum mempunyai SIM, tetapi juga merupakan tanggung jawab pengelola jalan raya dan unsur-unsur lainnya, bahkan ada juga sebagian kesalahan dari korban yang ditabraknya, padahal mobil yang ditabrak itu ada di lajur seberang. Dia sebetulnya hendak mengatakan, “Coba kalau mobil itu tidak ada disana, maka tabrakan tidak akan terjadi dan tidak akan ada korban jiwa. Coba kalau tidak ada pagar pembatas jalan, mungkin kecelakaan ini tidak terjadi”. Suatu logika yang aneh, nilai atau norma yang tidak umum. Dari sini kita bisa melihat nilai atau norma seperti apa yang ada pada dirinya. Luar biasa, bukan? Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika sang anak mendengar “pembelaan” ayahnya itu. Si anak akan menganggap bahwa itu adalah nilai yang benar dan itu akan tertanam dalam diri anak.

Kemajuan yang begitu cepat dalam bidang teknologi, tidak sempat dibarengi dengan pengajaran dan “pagar-pagar” tentang bagaimana menggunakan gadget dengan baik dan benar. Banyak kecelakaan terjadi yang disebabkan pengemudi sedang ber-sms atau ber-bbm. Demikian banyaknya sumber informasi yang dapat di akses melalui gadget dan sangat menggoda. Opini atau pendapat yang disampaikan media massa sangat mudah dapat di akses melalui gadget yang ada dalam genggaman tangan kita. Coba saja lihat di kafe, restoran, ruang tunggu, sampai di warung-warung rokok, lebih banyak orang “bergaul” dengan gadget-nya daripada dengan orang yang ada disekitarnya.

Tidak kalah menariknya ketika godaan dari gadget ini terjadi dalam kebaktian, baik itu di kebaktian umum, pemuda atau remaja. Awalnya memang membaca alkitab elektonik yang ada di gadget, hal itu masih sangat wajar. Tetapi kemudian, yang juga cukup wajar dan manusiawi, adalah melihat pesan-pesan yang masuk, “Siapa tahu ada yang penting?”, begitu pembenarannya. Kemudian mulai membalas pesan-pesan tersebut. Kelihatannya sih sedang mencatat khotbah. Ketika khotbah pendeta semakin “membosankan”, karena berita atau games yang di gadget lebih menarik, maka perhatian kita akan lebih tertuju kepada genggaman kita daripada ke mimbar.

Rupanya Majelis Jemaat harus berpikir keras bagaimana mencegah, mengurangi atau apapun agar hal ini tidak menjadi epidemi di kebaktian kita, yang kemudian menjadi nilai atau norma yang mewarnai jemaat GKI Pondok Indah… Salam damai…

Sindhu Sumargo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan