Di Mana Posisi Gki (Pondok Indah)?

6 Komentar 334 Views

POTRET KEKRISTENAN MASA KINI

Tak mudah pada masa kini untuk memosisikan diri sebagai sebuah gereja di tengah berdirinya begitu banyak gereja. Menurut World Christian Encyclopedia, edisi tahun 2001, terdapat 33.000 denominasi gereja di seluruh dunia. Namun, tentu, harus dipahami bahwa data tersebut dibuat berdasarkan jumlah denominasi gereja di setiap negara. Misalnya, sekali pun gereja Katolik Roma sesungguhnya mengaku diri sebagai satu gereja, namun dihitung sebagai 236 denominasi dari 238 negara di dunia. Namun, tetap saja, jumlah itu tergolong dahsyat. Khusus untuk Indonesia, ensiklopedi tersebut mencatat adanya 119 denominasi. Dengan asumsi bahwa Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks masing-masing dihitung satu denominasi, maka sisanya yang berjumlah 117 merupakan denominasi Protestan (termasuk gereja-gereja pentakostal, karismatik dan sebagainya). Menurut ensiklopedi yang sama, jika trend yang telah terjadi terus bertahan, maka pada tahun 2025 akan ada 55.000 denominasi, yang berarti akan muncul 22.000 denominasi baru.

Ada beberapa catatan yang menurut saya patut kita cermati dan renungi. Pertama, agaknya bagi kekristenan, persoalan kemajemukan intra-Kristen (di dalam kekristenan) tidak kalah rumitnya dibandingkan persoalan kemajemukan interreligius (antaragama). Banyak orang beranggapan bahwa kita lebih mudah bersahabat dengan mereka yang memiliki banyak kesamaan dengan kita daripada dengan mereka yang sama sekali berbeda dengan kita. Kini, anggapan itu agaknya harus dikoreksi. Ternyata, konflik keagamaan sangat sering muncul justru di antara mereka yang memiliki banyak kesamaan. Misalnya, konflik antara gereja A dan gereja B yang berada dalam satu arus tradisi, atau konflik antara Islam dan Kristen yang sama-sama mengaku diri agama Abrahamis. Sebaliknya, dua kelompok yang lebih sedikit persamaannya malah lebih mudah untuk bersahabat.

Catatan kedua, dari ribuan denominasi yang tercatat di atas, sebagian besar berasal dari denominasi-denominasi Protestan. Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks relatif menyatu dan homogen, sedang gereja-gereja Protestan secara ekstrim heterogen dan bervariasi. Tentu banyak penjelasan yang bisa diberikan untuk gejala ini. Misalnya, sistem pemerintahan gerejawi yang papal atau episkopal, sebagaimana dipertontonkan oleh Gereja Katolik Roma atau Gereja Ortodoks ternyata lebih menjamin kemanunggalan. Atau, kenyataan ini bisa juga dijelaskan dari perspektif Alkitab. Konsekuensi popularisasi pembacaan Alkitab oleh Luther berabad-abad silam membuat semua orang Kristen Protestan bisa membaca Alkitab mereka masing-masing dan dengan demikian memahaminya sesuai dengan penafsiran masing-masing. Perpecahan sangat mungkin muncul karena perbedaan penafsiran doktrinal tanpa adanya otoritas tertinggi (seperti Paus dalam Gereja Katolik Roma) sebagai penentu ajaran Gereja yang benar. Masing-masing pemimpin menentukan sendiri ajarannya. Dan semua mengklaim ajarannya alkitabiah dan yang lain tak alkitabiah, alias sesat. “Jika Gereja Katolik Roma memiliki satu paus, gereja-gereja Protestan memiliki ribuan paus,” demikian kata seorang teolog dalam mengritik kecenderungan ini.

Ketiga, yang terakhir, agaknya gerakan ekumene sungguh ditantang kesungguhannya untuk menegaskan visi dan mimpi keesaan gereja. Kecenderungan makin membanyaknya denominasi gereja tidak diimbangi dengan menguatnya kesatuan gereja-gereja. Yang dipertaruhkan di sini adalah dua elemen penting dalam kehidupan gereja Tuhan masa kini: kesatuan dan kepelbagaian, unity and diversity.

POSISI GKI, PADA UMUMNYA

Dengan tiga catatan ini, izinkan saya mengurai pengamatan saya tentang positioning GKI Pondok Indah di arena gereja-gereja yang makin majemuk ini. Menurut hemat saya, positioning merupakan tugas penting setiap gereja, untuk menegaskan identitasnya yang unik dibanding gereja-gereja lain, tanpa perlu kehilangan kesadaran akan kesatuan tubuh Kristus. Positioning yang hendak saya hadirkan bukanlah positioning GKI (secara umum), namun positioning GKI Pondok Indah (secara khusus), yang berarti juga positioning jemaat GKI Pondok Indah bukan hanya dari denominasi lain namun juga dari jemaat-jemaat GKI lainnya. Tulisan ini hendak menekankan positioning GKI Pondok Indah secara umum dibanding gereja-gereja non-GKI lain, sambil sesekali memperlihatkan keunikan GKI Pondok Indah dibanding jemaat-jemaat GKI lainnya. Kemungkinan untuk melihat kesamaan identitas antara GKI Pondok Indah dan jemaat-jemaat GKI pada umumnya dipermudah karena GKI sejauh ini sudah cukup advanced dalam menjaga kesatuan GKI pada umumnya, misalnya lewat Tata Gereja, perumusan visi dan misi sinodal, dan lain sebagainya.

Tidak mudah menemukan titik-titik unik GKI pada umumnya dan GKI Pondok Indah pada khususnya. Bukan karena saya tidak mengenal GKI namun, sebaliknya, karena saya tidak bisa mengenali semua yang bukan-GKI. Karena itu apa beberapa butir kekhasan GKI (Pondok Indah) di bawah ini saya hadirkan mungkin lebih berdasarkan pendekatan intuitif ketimbang riset yang menyeluruh dan mendalam.

  1. Pertama, GKI adalah sebuah gereja yang ekumenis, artinya, kita sangat menyadari doa Yesus dalam Yohanes 17:22, “supaya mereka semua menjadi satu” (ut omnes unum sint). Keberagaman gereja sebagaimana terpotret di atas dipandang dengan dua cara. Di satu sisi, kita memandang kemajemukan gereja dengan sikap prihatin, karena kita terus percaya pada keesaan gereja. Di sisi lain, kita juga memandangnya dengan penuh harapan, bahwa pada saatnya Kristus, Sang Kepala Gereja, akan menyatukan umat-Nya di bawah pemerintahan Allah. Akibat kedua sikap ini, GKI sangat menghargai kemajemukan sembari mengakui kesatuan di dalam kemajemukan tersebut. Gereja-gereja lain dipandang bukan sebagai pesaing, namun sahabat. GKI adalah sebuah gereja yang ingin belajar sedapat mungkin dari tradisi lain, tanpa menghilangkan sikap kritis terhadap perbedaan yang sering tak mudah untuk dijembatani. Kesatuan tiga GKI (Jabar, Jateng, Jatim) yang sudah berlangsung secara formal sejak tahun 1988 merupakan bukti karakter ekumenis GKI. Selain itu, kerjasama antara GKI dan banyak gereja lain juga menambah bukti di atas, selain juga keterlibatan aktif GKI dalam badan-badan ekumenis seperti PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), CCA (Christian Conference of Asia), REC (The Reformed Ecumenical Council), WARC (The World Alliance of Reformed Churches), WCC (The World Council of Churches). Di aras lokal, GKI Pondok Indah terlibat dalam banyak kerjasama dengan gereja-gereja setempat lainnya. Misalnya, kerjasama dengan GKJ Nehemia dan Gereja Katolik paroki St. Stefanus.
  2. Terkait dengan karakter ekumenis yang dimilikinya, GKI menegaskan diri sebagai sebuah gereja yang terbuka sekaligus kritis. Keterbukaan itu ditunjukkan lewat banyak cara, seperti pengakuan terhadap baptisan yang diterima oleh seorang Kristen yang hendak berpindah dari gereja non-GKI ke GKI, penyambutan anggota jemaat gereja lain ke dalam perjamuan kudus yang kita selenggarakan, pelayanan pernikahan bahwa pasangan beda gereja (bahkan beda iman), termasuk juga dengan anggota Gereja Katolik. Namun, sikap terbuka ini tidak serta-merta menghilangkan sikap kritis kita terhadap ajaran dan praktik yang berbeda dengan kita. Akan tetapi, sikap kritis ini tetap ditunjukkan dengan sikap terbuka, maksudnya, tanpa menyatakan bahwa mereka yang berbeda dengan kita adalah keliru atau malah sesat. Kita sekadar menandaskan bahwa kita berbeda. Ajaran-ajaran lain yang tidak seasas dengan ajaran GKI dihargai tanpa disetujui.
  3. GKI sangat menekankan misi Allah yang holistik. Saya percaya bahwa semua gereja memiliki pemahaman tentang dan praktik misi tertentu. Sebagian mengaku diri Injili dalam arti sangat menekankan pekabaran Injil pribadi. Tugas pelayanan sosial bersifat sekunder, sebagai pintu masuk bagi pekabaran Injil. GKI bersama beberapa gereja ekumenis memahami misi secara berbeda. Pekabaran Injil dinilai penting, namun bukan yang terpenting, karena pekabaran Injil atau penginjilan adalah satu dari banyak dimensi lain dari misi. Kata kunci yang selalu ditekankan adalah misi Allah (missio Dei), yang secara tegas dideklarasikan oleh gereja-gereja ekumenis di Willingen pada tahun 1952. Tidak ada misi-misi gereja yang terlepas dari satu misi tunggal Allah. Misi Allah itu berdimensi majemuk: keutuhan ciptaan, pembebasan, keadilan, kesejahteraan, pendamaian, dan sebagainya. Secara khusus pendamaian dihayati secara vertikal (antara Allah dan manusia) dan horisontal (antarmanusia). Pekabaran Injil adalah misi pendamaian vertikal tersebut. Bagi GKI, tidak ada dimensi misi yang lebih penting dari yang lain. Semuanya sama-sama penting. Namun, tentu ada dimensi misi yang lebih kontekstual daripada yang lain, untuk satu konteks partikular tertentu. Seluruh dimensi misi tersebut dibalut dalam sebuah konsep teologis-biblis yang jelas: shalom, damai sejahtera. Hal ini kentara sekali dalam rumusan visi GKI tahun 2002-2010: “Menjadi Mitra Allah dalam Mewujudkan Damai Sejahtera di Dunia.”
  4. Secara khusus, GKI Pondok Indah menerjemahkan semangat visioner GKI tersebut ke dalam visi dan misi jemaat lokal yang menekankan kepedulian keluar. Sejak beberapa tahun terakhir, tepatnya sejak visi GKI Pondok Indah dirumuskan pada tahun 2000, GKI Pondok Indah telah mengupayakan diri menjadi sebuah jemaat yang mengarahkan hati, pikiran dan karya bagi sesama yang dikasihi Allah, apa pun latar belakang mereka. Tekad ini agaknya menunjukkan buah yang cukup menggembirakan, misalnya dengan makin besarnya anggaran yang diarahkan untuk pelayanan keluar. Masih ada banyak kekurangan, namun banyak pula kemajuan yang perlu disyukuri.
  5. Sebagai gereja yang hidup bagi dunia, GKI secara umum menyadari pentingnya menata jemaat melalui konsep yang disebut pembangunan jemaat. Konsep ini sangat khas dalam Tata Gereja GKI, yang melaluinya, seluruh unsur jemaat dalam topangan kepemimpinan yang partisipatif berusaha untuk membangun jemaat Tuhan agar menjadi lebih misioner.
  6. Dalam rangka pembangunan jemaat itu, GKI sangat menyadari pentingnya pola kepemimpinan yang kolegial dan partisipatif. Kita tidak pernah menyukai ungkapan-ungkapan seperti, “Gereja si Anu,” atau “Gereja Pdt. X.” Prinsip kolegialitas ingin sungguh-sungguh ditunjukkan lewat tidak adanya prinsip senioritas dan yunioritas di kalangan pendeta, serta lewat konsep kepemimpinan bersama majelis jemaat yang sedapat mungkin memberi ruang pelayanan-kepemimpinan bagi setiap anggota jemaat yang terpanggil untuk ikut berkarya melalui gereja Tuhan di GKI Pondok Indah. Di GKI, kepemimpinan yang hendak dimunculkan bukan hanya kepemimpinan-pelayan (servant leadership), namun juga kepemimpinan-sahabat (collegial leadership).
  7. Akhirnya, menarik juga untuk dilihat bahwa GKI pada umumnya dan GKI Pondok Indah pada khususnya ingin sungguh-sungguh menyeimbangkan tiga elemen dasar kekristenan: spiritualitas, karya dan ajaran (atau: pietas, praksis dan doktrin). Bahwa akhirnya, karena keinginan menyeimbangkan ketiganya muncul kesan bahwa GKI serba “nanggung,” tentulah tak terelakkan. Akan tetapi, keyakinan kita adalah bahwa proses penyeimbangan ketiga elemen tersebut juga tak terelakkan, jika kita mau sungguh-sungguh menjadi sebuah gereja yang hidup sepenuhnya. Bahkan, dalam proses menyeimbangkan ketiganya, kita percaya bahwa ketiga elemen tersebut bukanlah barang mati dan statis, sebaliknya ketiganya berkembang dan dinamis. Artinya, gereja perlu berubah dan direformasi setiap saat dalam ketiga elemen dasar tersebut. Ecclesia reformata semper reformanda est, gereja yang sudah dibarui adalah gereja harus selalu dibarui.

POSISI GKI PONDOK INDAH

Ketujuh positioning di atas berlaku umum di GKI. Tidak hanya di GKI Pondok Indah. Tentu saja GKI Pondok Indah memiliki penekanan tersendiri pada aspek-aspek tertentu. Misalnya, di GKI Pondok Indah, kesadaran diri sebagai sebuah gereja komunitas sangat kuat. Keakraban antarwarga ingin ditingkatkan semaksimal mungkin, sekalipun potensi konflik juga menjadi konsekuensi tak terelakkan.

Juga, citra gereja yang secara finansial mampu melekat di GKI Pondok Indah dan kita tak berusaha menolaknya, malah kita ingin mengoptimalisasinya demi mengerjakan misi gereja yang inklusif dan peduli. Di kalangan gereja-gereja, jemaat kita kerap dikenal sebagai jemaat yang suka memberi dan membantu. Bahkan, ada kerinduan sangat besar untuk meningkatkan kepedulian keluar itu dalam bentuk-bentuk yang lebih transformatif (memberi kesempatan memancing) dan tidak sekadar reformatif (memberi pancing), apalagi karitatif (memberi ikan).

Selain itu, GKI Pondok Indah cukup dikenal sebagai jemaat yang progresif, kreatif dan inovatif. Artinya, ada banyak hal baru yang dengan penuh gairah ingin di(uji)coba. Sebagian tampak “norak,” namun sebagian lagi mengesankan dan diteruskan. Karena hal ini pulalah, potensi friksi pun juga besar, karena untuk setiap perubahan akan selalu ada mereka yang ingin memelihara apa yang sudah ada dan mereka yang ingin memberi kesempatan pada ide yang baru. Keduanya sama-sama dibutuhkan dan bisa saling melengkapi, namun juga bisa saling menggugurkan dan malah terjadi pergesekan yang tak perlu.

BLINDSPOTS

Sebuah blindspot (titik-buta) merupakan area yang luput dari daya cakup penglihatan kita, sama seperti area yang tak tertangkap oleh kaca spion kita sekaligus oleh mata telanjang kita. Ketidaksadaran pada titik-buta, ketika kita mengemudikan, dapat sungguh-sungguh mengancam keselamatan kita dalam mengemudi. Setiap gereja selalu memiliki titik-titik-buta yang merupakan kelemahan yang perlu diatasi. Demikian pula GKI pada umum dan GKI Pondok Indah pada khususnya. Kesadaran atas blindspots titik-titik-buta yang kita miliki menjadi awal dari koreksi dan pembaruan menuju masa depan. Dari banyak titik-buta yang pasti kita miliki, saya melihat empat yang penting.

  1. Partisipasi terencana merupakan titik-buta kita yang pertama. Kegiatan yang melibatkan partisipasi anggota jemaat kurang dikreasi secara optimal. Yang aktif melayani ya itu-itu saja. Berputar peran atau malah berperan ganda.
  2. Kurikulum yang komprehensif juga masih gagal dibuat. Kurikulum merupakan urat nadi sebuah gereja, karena melaluinya iman kita menjadi isi pembelajaran yang terstruktur.
  3. Titik-buta selanjutnya adalah sistem nilai atau value system yang mewarnai seluruh kegiatan bergereja kita agaknya belum terumus secara eksplisit. Beberapa nilai yang secara sporadis saya amati berlaku di dalam jemaat kita adalah: tepat waktu, accountability, moderate, keterbukaan, dan sebagainya. Yang kita butuhkan adalah sebuah perumusan sistem nilai yang disepakati bersama dan disosialisasikan agar terus-menerus menjadi milis bersama.
  4. Stewardship atau penatalayanan adalah titik-buta keempat. Yang saya maksud adalah kesadaran serta pemahaman mengenai pentingnya menata sumber-sumber daya yang kita miliki sebagai ekspresi pelayanan kita yang bertanggungjawab terhadap Tuhan, Sang Pemberi Berkat.

Empat hal ini menurut saya merupakan titik-titik-buta patut untuk ditangani segera di samping tentu banyak lainnya. Dengan kesadaran tersebut diharapkan GKI Pondok Indah dapat makin menghadirkan Injil Kerajaan Allah di konteks di mana Tuhan menempatkan dia. Biarlah ulang tahun ke-25 ini menjadi kesempatan bagi kita semua untuk menegaskan ulang tekad dan komitmen kita untuk menjadi gereja yang hidup, bersahabat, bersahaja dan bermakna bagi sesama.

Joas Adiprasetya

6 Comments

  1. timoty shores

    Membaca “Dimana posisi GKI (Pondok Indah) ”, tidak terlihat jelas posisi GKI PI yang sebenarnya,karena panjang lebar uraiannya dan terkesan sangat sulit menjabarkan posisi GKI sekarang ini ini juga dikarenakan teologi yang dianut GKI menganggap kekristenan merupakan ajaran moral saja tidak ada lagi hal-hal yang supranatural di dalamnya, dan dari tulisan tersebut saya berpendapat bahwa :

    Kepedulian GKI tentang posisnya di tengah-tengah gereja masa kini adalah respons dari “boomingnya” gerakan Kharismatik atau gereja-gereja beraliran Pentakosta yang membangkitkan gairah dalam dunia Kekristenan.
    Ini artinya bila tidak ada “booming” maka GKI tidak bingung memikirkan posisinya.

    Sangking “boomingnya”gerakan itu,maka GKI- banyak mengadopsi”buah-buah” dari Teologia Kharimatik
    Misalnya: memakai band dalam ibadah,adanya kesaksian (kalo tidak salah mohon koreksi, dua hal ini pernah ada sekatar tahun 1997-2000) bahkan sekarang memakai Infocus dalam ibadah Mingguan,sedangkan band dan kesaksian hanya dalam acara “malam puji dan doa”, semacam KKR ala GKI(PI)
    Bahkan seminar-seminar tentang dunia occulitisme, dunia mujizat dsb sudah beberapa kali diadakan dalam GKI.

    Maka kalo tampilan GKI(PI) seperti sekarang ini,itu hanya supaya GKI tidak dibilang Gereja yang pasip,gereja yang ketinggalan jaman,…dsb ,maka jalan adopsi “buah-buah” dari teologia pentakostal perlu dilakukan,jadi bukan karena teologia yang dianut GKI itu sendiri, atau lebih tepatnya karena gengsi semata.

    supaya jemaat lebih memahami tentang posisi GKI (PI) perlu diberitahukan kepada jemaat apa sebenarnya teologi yang dianut oleh GKI,yaitu teologia Calvinis,teologia ini menekankan intelengia (logika) yang utama dan yang terutama sebagai pemahaman firman Tuhan ketimbang iman,

    Jadi bagaimana posisi GKI sekarang ini?,
    GKI tidak katholik,tidak karismatik,tidak liberal,tidak fundamentalis, tidak literalis,dan masih banyak sederet kata “tidak” demi memposisikan GKI yang tepat , sederhananya GKI adalah gereja reformasi tradisional Calvinis

    Demikian komentar saya.

    Timoty Shores

  2. saputra rusli

    sepertinya GKI lebih mirip Methodist dech….
    bener gak ya…
    mohon penjelasanya???

  3. miya

    Posisi GKI dari paparan ini terlihat berndensi ke Liberal,dibanding dengan gereja-gereja reform lainnya
    ini bisa di lihat dari dari point.no.2 yaitu salah satunya bahwa GKI dapat melayani pernikahan beda agama(iman).
    sesuatu hal yang berlawanan dengan Firman Tuhan dan berlawanan dengan aturan nikah di Indonesia.
    Apakah satu saat nanti di GKI dapat dilakukan “Pemberkatan Cerai “?.. ..entahlah…blind spot.
    cuma Tuhan yang tahu.

  4. Joas Adiprasetya

    Thanks untuk ketiga Saudara yang sudah memberikan respon atas tulisan saya. Di dalam kesadaran bahwa tulisan tersebut masih sangat tak lengkap karena keterbatasan ruang di Majalah Kasut, saya berharap posting ini bisa memberi jawaban atas beberapa respons Anda.

    Prinsip utama yang menurut saya dianut oleh GKI adalah bahwa gereja harus selalu berubah. Prinsip ini tentu bermuara pada semangat Protestantisme yang selakiu muncul: ecclesia reformanda. Gereja harus terus diperbarui. Sdr. Timoty benar ketika mengatakan bahwa GKI (Setidaknya GKI Pondok Indah) pernah dan mungkin juga sedang mengalami proses uji-coba untuk merespons perubahan eksternal yang mau tidak mau mempengaruhi kehidupan gereja kita. Melalui proses itu kita baru bisa tahu apa yang sesungguhnya menjadi jatidiri kita yang dinamis, sambil terus berusaha setia pada Firman Allah. Tapi tidak terlalu tepat jika Anda katakan bahwa GKI adalah “gereja reformasi tradisional Calvinis”. Kita memang memiliki akar Calvinisme yang kuat. Dan memang kita adalah gereja reformasi. Namun, semangat Calvinisme dan semua reformator lain untuk selalau memperbarui diri membuat gereja-gereja yang mewarisi semangatnya untuk tidak bisa dengan mudah mengadopsi begitu saja pandangan Calvin tanpa ada discernment pada roh zaman yang selalu berubah.

    GKI juga adalah sebuah gereja ekumenis. Artinya, dalam semangat keterbukaan dan salib belajar dari tradisi lain, GKI mau merayakan perbedaan itu dengan cara keterbukaan-kritis pada tradisi lain. Saya sendiri secara pribadi tidak sepakat dengan pemakaian band dan cara-cara baru yang dipakai JIKA tidak dilandasi pemahaman teologis yang sangat kuat. Tokoh2 gereja Calvinis sendiri pada masa lalu menolak pemakaian alat-alat musik modern. Tapi sekarang tak seorang pun (termasuk Sdr. Timoty) yang memrotes pemakaian organ elektronik (walaupun memrotes pemakaian band).

    Apakah GKI lebih mirip Methodist (pertanyaan Sdr. saputra rusli)? Menurut saya tidak juga. Tidak ada garis historis yang menghubungkan GKI dengan Methodisme secara langsung. Bahwa akhirnya–khususnya di Indonesia–relasi antargereja, khususnya lewat keanggotaan di badan2 ekumenis (PGI, CCA, WCC) menghasilkan cross-fertilization, jelas tak bisa dipungkiri. Hanya saja saya belum melihat ada pengaruh langsung dari Methodisme terhadap GKI.

    Apakah GKI bertendensi ke liberalisme (Sdr. Miya), saya dengan tegas mengatakan TIDAK. Stigma “liberal” yang selalu dikenakan kepada GKI oleh kelompok-kelompok yang lebih konservatif menurut saya tidak pernah punya dasar yang kuat, selain bahwa tidak dilandasi pemahaman tentang apa itu liberalisme. Dalam kasus nikah antariman, justru arus pemikiran Calvinis yang menegaskan bahwa peresmian pernikahan antara urusan sipil, membuat GKI (bersama gereja-gereja Indonesia lainnya) menyikapi UU Pernikahan secara kritis. Menikah adalah hak asasi semua warga negara. Dan GKI Menghargainya. Dalam menyikapi nikah beda-iman, pendeta-pendeta GKI HARUS memberi penanganan pastoral yang ketat dan jelas, agar pasangan yang berbeda-iman mempertimbangkan dengan sangat serius seluruh konsekuensi yang harus mereka hadapi. Namun, pada akhirnya, setiap pasangan memiliki hak yang juga dihargai oleh gereja. Karena itu, jika mereka akhirnya memutuskan untuk melakukannya, gereja justru memahami bahwa mereka sangat-sangat membutuhkan peneguhan dan berkat Allah untuk keputusan yang sukar itu.

    Kira-kira itu yang bisa saya jawab. Tentu diskusi lebih lanjut saya nantikan. Terima kasih. [joas]

  5. Yo'el Hia

    Menurut hemat saya bukan letak posisinya ada dimana, tetapi bagaimana GKI menjadi mitra Tuhan Yesus di dunia ini untuk menjadi saluran berkat bagi ciptaan tanganNya.
    Trms.

  6. Joas Adiprasetya

    Sdr Yoel, saya setuju separuh dengan Anda. Memang benar bahwa akhir-akhirnya yang terpenting adalah menjadi mitra Allah di dunia dalam mengerjakan misi-Nya, sesuai dengan visi GKI. Namun, bukankah pada saat bersamaan, demi menjadi mitra yang baik kita perlu melakukan positioning … justru supaya karya dan reksa kita makin efektif dan baik. Positiong diperlukan juga untuk tidak melakukan semua hal yang bahkan di luar kapabilitas kita. Kita tidak bisa melakukan semua hal. Kita membutuhkan sobat lain.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan