Dengarkan Mereka!

Dengarkan Mereka!

Belum ada komentar 3 Views

Vira dengan mata penuh kebencian memandang marah kepada kakaknya ketika ia diusir, “Saya mau nonton, pergi sana!” Padahal jelas, siang itu Vira lebih dulu duduk nonton TV di ruang keluarga. Vira sangat kesal karena ia sedang asyik menonton acara kesayangannya di TV. Vira tahu, jika kakaknya Reny dilawan, ia akan lebih sakit hati lagi. Jadi dengan sangat terpaksa, Vira mengalah. Ia menjauhi kakaknya, masuk ke kamar dan menenangkan kemarahan dalam hatinya sambil mencoba tidur.

Di kamar, Vira mendapati kakak keduanya, Yanti, sedang duduk di depan komputer. Tanpa saling menyapa, keduanya sibuk dengan dunianya masing-masing.

Vira sadar betul, jika ia melaporkan kelakuan Reny kepada Mama, ia tidak akan pernah ditanggapi sementara papanya sedang sibuk di kantor dan tidak punya waktu untuk mendengarkan ceritanya. Jadi dengan hati masih kesal Vira berpikir, percuma saja mencari keadilan dan ketenangan di rumah ini.

Vira memeluk boneka kesayangannya di ranjang. Sambil menenangkan diri, ia melamun. Beberapa waktu yang lalu, keadaan di rumah jauh lebih baik daripada sekarang. Sejak kepulangan kakaknya Reny dari Australia, kondisi rumah menjadi buruk. Padahal ketika Reny 3 tahun bersekolah di Australia, rasanya ia masih bisa hidup damai dengan kakak keduanya, Yanti.

Ia dan Yanti masih bisa tawar-menawar urusan kesenangan di rumah. Jika ia perlu membuat PR/tugas atau ingin bermain di komputer, maka Yanti mau bersikap toleran dan keluar untuk nonton TV. Setelah sekian jam, mereka pun bergiliran: Yanti memakai komputer dan Vira menonton TV. Wah, jauh lebih enak jika Reny tidak ada di rumah.

Menurut Vira, Reny sangat egois. Apapun yang menjadi keinginannya lebih banyak dikabulkan oleh orangtua mereka. Heran, padahal Papa dan Mama selalu melindungi ketiga anak mereka. Namun, jika Reny yang meminta, mereka mengabulkannya. Jika Reny tiba-tiba ingin jalan-jalan ke mal, padahal semua anggota keluarga sedang berada di rumah dan mengatakan, “Pokoknya sekarang saya mau pergi ke mal, ga mau tahu. Harus diantar sama Pak Ade (supirnya),” maka orangtuanya akan mengizinkan Reny pergi. Coba jika Vira atau Yanti yang meminta, langsung dilarang dan tidak ada toleransi sama sekali.

Jangankan urusan pergi ke mal, Vira menelpon temannya saja di rumah, pasti Mama akan segera menyindirnya, “Telpon… terus aja telpon…” Atau, “Sms-an terus yah, bagus, terus deh sms-an.” Jika ia mendengar kata-kata sindiran seperti itu, Vira sudah harus mengerti bahwa itu tandanya ia harus berhenti menelpon atau mengirim sms. Jika tidak, Mama akan memutuskan telpon atau merampas hp-nya.

Pikiran Vira melayang jauh. Sambil membenamkan kepalanya ke bantal, Vira teringat akan masa kecilnya. Rasanya waktu itu ia baru berusia 3 tahun. Papa dan Mama bertengkar hebat. Sebenarnya pertengkaran seperti itu tidak satu-dua kali ia saksikan, sudah banyak kali. Namun kali itu, hebat benar. Barang-barang pecah-belah di dapur habis dibanting dan dilempar hingga hancur berantakan oleh papa dan mamanya. Vira bersama kedua kakaknya hanya bisa menyaksikan sambil menangis dan mencari perlindungan dengan memeluk babysitter masing-masing. Sejak itu, mereka berpisah. Mama membawa Reny dan Vira pergi mengungsi ke Batam dan tinggal di sana tanpa kontak dengan Papa selama beberapa waktu. Sementara Yanti tinggal di Bandung bersama Papa.

Perpisahan itu membuat suasana tenang sementara waktu. Vira tidak ingat berapa lama ketenangan seperti ini berlangsung, namun pada akhirnya Papa dan Mama rujuk dan seluruh keluarga berkumpul kembali di Bandung. Vira senang sekali.

Papa keras kepala, demikian juga Mama. Mereka berdua sulit untuk saling mengalah, sehingga pertengkaran masih saja terjadi namun tidak sehebat dulu. Kekerasan mereka berdua sepertinya menurun pada Reny dan sedikit juga kepada dirinya. Vira tahu benar bagaimana Reny sering menyiksa Yanti di mobil tanpa sepengetahuan kedua orangtua mereka. Dalam perjalanan ke sekolah, jika Reny meminta sesuatu ke Yanti dan Yanti tidak mengabulkannya, maka Reny akan melemparkan suatu barang ke muka Yanti sehingga Yanti terluka atau paling tidak lebam pipinya. Di rumah pun hal seperti ini sering terjadi. Namun, Papa dan Mama tidak pernah melihatnya.

Jika berada di rumah, Papa sibuk di ruang kerjanya, sedangkan Mama berada di kamarnya, nonton TV, DVD atau sibuk menelpon teman-temannya. Anak-anak dibiarkan sibuk sendiri dan tidak dipedulikan. Makan diatur oleh pembantu yang sudah dipercaya Mama. Tapi anak-anak tidak boleh keluar rumah.

Vira yang sekarang duduk di kelas 9 (SMP), sudah mulai dapat berpikir, keluarga macam apa yang dimilikinya. Ia tidak akur dengan kedua kakaknya. Reny egois dan bossy. Yanti jarang memedulikannya. Vira merasa sendirian. Ia sering kesal dan bertengkar dengan kakak-kakaknya. Namun, untung Reny tidak berani memukul atau menyiksanya. Vira sering iri melihat teman-temannya yang bisa begitu dekat dan bercanda mesra dengan orangtua mereka. Temannya sering bercerita bagaimana orangtuanya begitu baik, mau mendengarkan dan menanggapi cerita anak-anak mereka. Kenapa di rumahnya keharmonisan seperti itu tidak ada?

Bukan satu-dua kali mereka sekeluarga bepergian ke luar negeri, tapi Vira tidak merasakan kehangatan sebuah keluarga. Sekalipun semuanya pergi ke tempat yang sama, namun mereka masing-masing punya tujuan dan kesibukan sendiri-sendiri. Vira paling sering jalan bersama Yanti, sementara Reny pergi entah ke mana. Begitu pula Papa dan Mama. Buat Vira, bepergian ke luar negeri ataupun tidak, sama saja. Ia tetap kesepian dan sendirian.

Apa yang terjadi dengan keluarga Vira dalam sekelumit cerita di atas?

Menjadi ayah dan ibu tidaklah mudah. Kita perlu selalu “ada” bagi anak-anak kita. Kita perlu mendengarkan apa yang mereka katakan. Kita perlu menanggapi cerita, keluhan, celoteh, kegembiraan dan kesedihan mereka. Kita harus bersikap adil dan bijaksana terhadap mereka. Kita perlu mengajarkan pola pikir yang positif, agar mereka memandang dunia sekitar mereka dengan positif. Kita perlu memberi teladan dengan menyayangi, membelai, mengusap, memeluk, meraih mereka, terutama ketika mereka menghadapi masalah, agar mereka belajar bagaimana mereka juga dapat menyayangi orang lain, termasuk saudara-saudara kandung mereka.

Ayah dan ibu yang egois, yang hanya memikirkan kesenangan diri sendiri, akan menciptakan keluarga yang tidak harmonis. Ayah dan ibu Vira adalah orangtua yang kurang peduli pada anak-anak mereka. Mereka sibuk dengan dunia mereka masing-masing, sementara anak-anak mereka tidak mendapat perhatian yang cukup. Mereka tidak punya waktu untuk mendengarkan dan menanggapi anak-anak mereka. Orangtua yang egois, yang ingin menang sendiri, menciptakan kemarahan di hati anak-anak mereka. Anak-anak lalu saling bersaing untuk memenangkan perhatian dan kasih sayang orangtua. Tidak ada kedamaian di hati mereka. Setiap anggota keluarga jadi egois, tidak toleran, ingin menang sendiri dan tidak mau mengalah.

Ssstt… dengarkan mereka! Dengarkan anak-anak kita! Kita diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memelihara, membesarkan dan mendidik anak-anak kita dengan baik. Janganlah kita menyalahgunakan kepercayaan Tuhan itu dengan bersikap egois. Anak-anak lahir dalam keluarga kita dan hal itu patut kita syukuri. Mereka adalah anugerah Tuhan bagi kita. Mari kita jaga dan pelihara mereka dengan sebaik-baiknya. Mari kita tulus mengasihi mereka dan memberi contoh yang baik kepada mereka. Mari kita dengarkan mereka…

Jane Simon, MSi.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Keluarga
Kegiatan