Christiano Ronaldo

Christiano Ronaldo

Belum ada komentar 26 Views

Pemain bintang klub Real Madrid, Christiano Ronaldo (26), dihujani kritik media dan penggemarnya di Guangzhou, China, saat tim yang dijuluki “Los Blancos” itu akan melakukan pertandingan persahabatan melawan klub Guangzhou Evergrande, pekan lalu. Penyebabnya, Ronaldo memberikan jawaban-jawaban singkat dan ketus kepada media yang mewawancarainya saat sesi jumpa pers. Dia (Ronaldo) seorang egois dan arogan, kelakuannya tidak bisa diterima, kata Yan Qiang, Wakil Presiden Titan Media, penerbit media olahraga terkemuka di China. Sikap Ronaldo itu menuai komentar pedas dari penggemarnya. Ronaldo pemain sepak bola yang sangat berbakat dan juga tampan, tetapi dia tidak rendah hati, tulis seorang penggemar Ronaldo di internet (Kompas, Selasa 9 Agustus 2011, hal 32.)

Tema Persekutuan Komunitas basis beberapa bulan yang lalu adalah “Belajar Hidup Dalam Kerendahan Hati”.

Yang menarik, di Persekutuan Kombas Bintaro yang saya hadiri, ketika memasuki sesi sharing dan diskusi, salah seorang peserta mengatakan bahwa salah satu ciri kerendahan hati dapat dilihat atau diketahui dari cara seseorang berbicara kepada orang lain. Orang yang memiliki kerendahan hati, antara lain sering menggunakan kata-kata: maaf, tolong dan terima kasih, bahkan kepada mereka yang memiliki status yang lebih rendah.

Ketika berbicara dengan orang-orang yang berstatus lebih tinggi, kita pasti sering menggunakan kata-kata tadi. Tidak mungkin kita tidak menggunakan kata, “maaf, tolong atau terima kasih” kepada boss atau atasan atau kepada orang-orang yang lebih tua dan yang kita hormati. Tetapi apakah kita juga menggunakan kata-kata itu kalau kita bicara kepada bawahan kita di kantor, kepada satpam atau office boy di kantor, kepada para asisten kita di rumah, bahkan kepada anak-anak kita sendiri.

Coba kita introspeksi, seberapa sering kita mengucapkan kata-kata tersebut kepada mereka. Kita sering kali terjebak untuk tidak mengatakan terima kasih karena itu sudah menjadi tugas dan kewajiban mereka. Kita sering merasa tidak perlu meminta tolong atau minta maaf karena kita adalah atasan atau orang tua dari mereka.

Mendidik anak yang paling efektif adalah dengan memberi contoh. Kalau kita tidak pernah mengucapkan kata-kata maaf, tolong dan terima kasih kepada mereka, maka jangan berharap anak-anak akan melakukannya kepada orang lain. Sebagai orangtua, kita harus melakukan apa yang kita katakan, kita tidak akan dicontoh oleh anak-anak kalau kita hanya bisa mengatakan saja tetapi tidak melakukan apa yang kita katakan. Kita sering mengajarkan kepada anak-anak bahwa kita harus rendah hati, tetapi kalau kita tidak memberi contoh, maka mereka pun tidak akan melakukannya.

Dalam beberapa hal, barangkali kita belum sepenuhnya berlaku seperti itu, masih ada sikap egois dan arogan dalam diri kita. Masih ada perasaan sombong atau tinggi hati untuk mengucapkan kata-kata tersebut dalam keseharian kita.

Kalau saya perhatikan di mall-mall, tidak banyak pengunjung yang mengucapkan terima kasih kepada Satpam ketika dibukakan pintu masuk. Demikian pula ketika dibukakan pintu toilet oleh petugas cleaning service. Kita tidak mengucapkan terima kasih apakah karena kita menganggap bahwa hal itu sudah menjadi tugas dan kewajiban mereka? Coba sesekali kita ucapkan terima kasih dan perhatikan wajahnya, pasti kita akan melihat wajah yang gembira, karena mereka merasa dihargai.

Istri saya selalu memuji dan mengucapkan terima kasih kepada asisten di rumah atas makanan yang disajikannya. Hasilnya, dia rajin memasak dengan berbagai variasi yang enak rasanya, sehingga kami sekeluarga menobatkannya sebagai master chef, karena memang dia satu-satunya yang bisa memasak di rumah kami.

Tidak ada kerugian yang kita derita hanya karena kita mengucapkan kata-kata maaf, tolong dan terima kasih, tetapi kita sering menyepelekan kata-kata ini, salah satunya karena kita masih belum rendah hati untuk mengatakannya. Ingatlah senantiasa akan nasihat Paulus kepada jemaat di Filipi dalam perikop Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus (Filipi 2:1-11).

Christiano Ronaldo mungkin menjadi lebih arogan setelah dia menjadi pemain yang sangat terkenal dan menjadi salah satu pemain sepak bola termahal di dunia. Dia menganggap negara China bukan kelasnya, tidak ada klub atau pemain yang sekelas dengan dirinya. Namun, kita juga masih sering melihat banyak “Ronaldo-Ronaldo” lain, bahkan yang ada di sekitar kita. Banyak orang yang menjadi lebih arogan ketika dia mendapatkan kedudukan, jabatan atau posisi yang hebat. Banyak juga yang menjadi lebih arogan karena kesuksesannya.

Untungnya kita tidak mengundang kesebelasan Real Madrid dan Ronaldo untuk bermain di Indonesia. Dengan kondisi persepakbolaan kita seperti ini, pastinya dia akan lebih arogan lagi.

Sindhu Sumargo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan