Buah dan Doa

Buah dan Doa

Belum ada komentar 27 Views

Baru-baru ini saya mengikuti retret Komisi Senior GKI Pondok Indah. Tulisan ini bukan merupakan laporan atas kegiatan tersebut, tetapi merupakan refleksi pribadi yang saya peroleh dari acara ini yang sungguh-sungguh memberkati hidup saya.

Saat ini saya mengikuti kegiatan kristiani di beberapa wadah. Partisipasi saya terbatas pada menghadiri persekutuan, memberi dukungan doa, menyampaikan pandangan/tukar pikiran, dan sesekali menyalurkan bantuan materiil. Saya merasa betapa minimnya saya memberi persembahan kepada Tuhan dibandingkan dengan berkat yang begitu berlimpah saya terima. Mohon dicatat bahwa berkat yang saya peroleh bukan semata-mata dalam bentuk materi, tetapi lebih merupakan pengendalian Roh Kudus yang menolong dan mencegah saya sekeluarga untuk melakukan hal-hal yang mendukakan hati Tuhan. Berkat itu memberi kecukupan dalam ekonomi keluarga, pertolongan dan jalan keluar pada saat tidak ada daya dan harapan, hikmat dalam melakukan tugas, perlindungan dari bahaya ranjau dunia bisnis, dan kesehatan serta pertumbuhan bagi anak-anak saya dalam kehidupan spiritual dan pendidikan umum mereka.

Masih segar dalam ingatan saya pengalaman sekian tahun yang lalu, ketika dalam situasi keuangan yang sangat terbatas, kedua anak saya yang tertua berhasil memasuki universitas melalui jalur PMDK–Penelusuran Minat dan Kemampuan–dan lulus pada saringan pertama, sedangkan anak saya yang bungsu berkesempatan menimba ilmu di Amerika Serikat dan kini sudah bekerja serta mendapat sertifikat profesi yang diperolehnya dengan susah payah. Sungguh, satu hal yang sangat membahagiakan saya dan istri saya ialah bahwa kini mereka telah melaksanakan tanggung jawab mereka sebagai kepala dan imam dalam keluarga mereka masing-masing.

Saat ini saya berumur 73 tahun dan masih aktif bekerja sebagai pimpinan perusahaan, meskipun saya merasa bahwa tenaga dan pikiran saya sudah tidak sebaik dulu lagi sehingga mau tak mau, suatu saat saya harus mengundurkan diri. Secara logika tentunya nanti saya akan lebih memiliki waktu luang sehingga salah satu tema retret “Panggilan Bukan Pilihan” menjadi sangat relevan bagi saya. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah saya sudah melakukan panggilan tersebut, karena selama ini waktu saya banyak tersita oleh kegiatan-kegiatan di tempat kerja saya. Nasihat dari Lee Kuan Yew di bawah ini menggugah hati saya.

Saya ingin terlebih dahulu menyisipkan sebuah artikel dari Business Indonesia yang berjudul “Tak Perlu Pensiun,” yang memuat sambutan yang disampaikan oleh Lee Kuan Yew, Perdana Menteri pertama Singapura, di hadapan Federasi Nasional Pekerja Singapura (SNEF). Lee Kuan Yew lahir pada tahun 1923 dan menjabat Perdana Menteri dari tahun 1959 sampai 1990. Kini beliau masih menjadi Menteri Senior/Penasihat Pemerintah. Saya hanya memetik beberapa perkataannya:

1. Anda bekerja selama Anda bisa bekerja. Oleh karena itu, Anda akan semakin sehat dan bahagia. Jika Anda tiba-tiba meminta saya berhenti bekerja, saya pikir saya akan menciut, menghadap dinding, hanya itu…

2. Kesempatan agar tetap tertarik untuk hidup adalah memiliki sesuatu yang harus dilakukan besok sehingga Anda tetap berjalan. Jika Anda mulai berkata “Oh, saya tua,” dan mulai membaca novel dan bermain golf atau catur, ya, Anda akan segera jatuh. Umur mungkin akan membuat saya sakit atau nyeri, tapi saya harus bisa terus maju.

3. Ketika seorang mencapai titik maksimum dalam usia dan posisinya, maka ia akan bergerak ke sisi lain untuk mengambil bayaran lebih sedikit.

4. Lee menekankan kebutuhan untuk terus belajar meskipun seseorang bertambah tua. Ia mengatakan “saya tetap belajar.”

Ada satu parameter/ukuran untuk menguji pergumulan saya di atas, yaitu firman Tuhan dalam Yohanes 15:1-17 tentang pokok anggur dan carang-carangnya serta pemilik kebun anggur. Saya yakin bahwa kita semua mengenal bagian Alkitab tersebut yang sangat sering dikhotbahkan. Menurut para ahli sejarah Alkitab, diperkirakan bahwa perkataan Tuhan Yesus itu diucapkan kepada para murid-Nya pada saat malam perjamuan terakhir, ketika mereka berjalan meninggalkan bilik atas rumah (upper room) dan melewati Bait Allah di mana terdapat hiasan pokok anggur lengkap dengan carang-carang dan buah-buah yang terbuat dari emas berukuran setinggi manusia.

Waktu itu merupakan momentum yang sangat penting bagi Tuhan Yesus untuk menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa Ia adalah Pokok Anggur dan para murid adalah carang-carangnya. Agar para murid berbuah, mereka harus terhubung dengan pokok anggur. Apakah yang dimaksud dengan buah?

Galatia 5:22-23 mengatakan, “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal ini.”

Tuhan Yesus juga menekankan pentingnya sukacita dan kasih dalam Yohanes 15:11 dan 17, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku kepadamu: kasihilah seorang akan yang lain.”

Marilah kita renungkan sejenak. Yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, bukan agar kita lebih produktif (dalam arti melakukan kegiatan yang lebih banyak lagi) tetapi agar kegiatan itu menghasilkan buah (kuantitatif >< kualitatif).

Yohanes 10:10 b mengatakan, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”

Di halaman rumah saya yang tidak luas terdapat beberapa jenis pohon buah-buahan. Setiap pergantian musim, saya menanti dengan harap-harap cemas apakah pohon-pohon itu akan menghasilkan buah. Sedari munculnya bunga sampai menjadi buah, hampir setiap hari saya memeriksanya. Betapa kecewa hati saya ketika melihat bahwa dari sekian banyak bunga, sebagian besar gugur ke tanah dan hanya tinggal beberapa saja yang menjadi bakal buah. Perkembangan bakal buah pun terus saya ikuti. Ternyata masih ada bakal buah yang gugur, sampai akhirnya hanya tersisa sedikit jumlahnya yang semakin hari semakin besar dan berwarna merah. Karena pohon yang berbuah hanya satu, saya tidak memetik buahnya sampai hampir semuanya masak dan berwarna merah mempesona. Akhirnya suatu hari datanglah cucu-cucu saya dan mereka melihat buah-buah yang ranum itu. Dengan penuh kegirangan mereka melompat-lompat untuk mencoba memetiknya dari pohon yang tidak tinggi itu. Melihat ulah mereka, dengan sukacita saya sediakan tangga sehingga mereka dapat menggapai dan memanennya.

Lukas 15:7, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

Kedudukan doa dalam proses pembuahan merupakan hal yang sangat menarik dan menakjubkan. Mungkin kita berpikir bahwa doalah yang menghasilkan buah. Namun ternyata Tuhan Yesus mengatakan bahwa buah itulah yang menggerakkan hati kita untuk berdoa.

Yohanes 15:16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku diberikan-Nya kepadamu. Kasihilah seorang akan yang lain.”

Sumber doa tidak berasal dari carang, tetapi dari pokok anggur. Kehidupan Tuhan Yesus-lah yang mengalir di dalam hidup kita dan yang menggerakkan hati kita untuk berseru “Abba, ya Bapa.”

Sejatinya doa adalah anugerah, dan bukan hasil usaha kita

Kita berdoa karena alasan yang sama yaitu kasih. 1 Yohanes 4:19 berkata bahwa ”kita mengasihi, karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita.”

Doa itu lebih daripada suatu kewajiban. Doa adalah kehidupan Tuhan Yesus yang mengalir di dalam hidup kita. Karena itu sebagai carang pokok anggur, kita mampu berdoa.

Yang mungkin menjadi pergumulan adalah bagaimana bentuk pelayanan yang dapat menghasilkan buah. Injil Matius 24:14-15 mengindikasikan bahwa Tuhan memberi talenta yang merupakan bagian tak terpisahkan dari diri kita. Talenta tersebut misalnya menyanyi, melukis, atau menulis, dan tetap kita miliki sepanjang hidup kita. Tidak semua orang mau mempergunakan talenta tersebut karena berbagai pertimbangan duniawi, antara lain merasa tidak cocok dengan kedudukan dan gaya hidupnya sekarang ini, harus menyesuaikan ritme kegiatannya, mungkin juga harus mengorbankan kenyamanannya (padahal Tuhan Yesus tak pernah membebani kita dengan pengorbanan yang tak dapat kita lakukan), harus mengikuti pembinaan/latihan, dan lain-lain.

Berbahagialah orang yang menyadari dan menerima talenta tersebut. Dari perumpamaan Tuhan Yesus dalam Injil Matius di atas, ternyata talenta yang tidak disertai dengan penyertaan Tuhan tidak akan berhasil dan tidak akan berbuah. Penyertaan Tuhan adalah anugerah yang akan memberi sukacita, daya tahan, pengharapan dan buah dalam hidup kita. Kerenggangan hubungan dengan Tuhan dan dosa yang dilakukan terus-menerus tanpa pertobatan dapat menyebabkan kemunduran dan pencabutan anugerah. Termasuk dalam kategori ini adalah kesombongan yang menganggap diri lebih superior daripada yang lain, lebih mengandalkan intelektualisme daripada suara Tuhan, meragukan bagian-bagian tertentu Alkitab, alergi terhadap kritik dan tidak mau meninggalkan kenyamanan walaupun itu dalam rangka pembentukan Tuhan.

Saya sangat terharu ketika mengikuti kebaktian dalam rangka budaya Papua. Saya teringat pernah membaca sebuah renungan berjudul “Church is for non member.” Renungan ini didasarkan pada bagian Alkitab ketika Tuhan Yesus mengusir para penukar uang di Bait Allah. Kita semua tahu bahwa keberadaan para penukar uang yang direstui oleh para imam dengan tujuan untuk memperkuat kas itu telah menjadi halangan bagi orang-orang miskin dan orang-orang asing.

Saya berdoa agar langkah GKI Pondok Indah yang bekerjasama dengan gereja daerah untuk membantu masyarakat setempat, menjadi tanda dari Tuhan dan nazar dari kita semua. Marilah kita berdoa agar Tuhan memberi iman, kemurahan hati, pengharapan dan sukacita di dalam proyek tersebut. Tuhan pasti akan menggantinya dengan berlimpah. Jadikanlah jemaat kita seperti danau Tiberias dan bukan laut mati.

Doa: Yesus, Engkaulah Pokok Anggur yang benar. Saya bersyukur menjadi carang-Mu. Mampukanlah saya untuk semakin tekun berdoa dan semakin berbuah.

Sola Gracia.

Salam pada teman-teman senior.

Nono Purnomo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan