Bersyukur karena Tuhan baik

Bersyukur karena Tuhan baik

Belum ada komentar 52 Views

Sudah lama aku memendam keinginanku untuk membagikan kesaksian ini. Entah kenapa, dorongan ini selalu terasa lebih kuat pada saat menjelang Hari Natal. Akhirnya, aku putuskan untuk melakukannya menjelang Natal tahun ini. Inilah tulisan mengenai apa yang aku rasakan dan aku alami.

Setiap kali memasuki bulan Desember, hatiku merasa senang dan bahagia, karena aku akan mulai disibukkan dengan menata rumah dan menghias pohon Natal. Tanggal 1 Desember yang lalu, pohon Natal telah selesai aku hias, aku merasa senang memandang pohon yang dipenuhi lampu dan hiasan yang cantik. Ini semua adalah ungkapan syukurku kepada Tuhan Yesus yang sangat baik kepadaku dan keluargaku. Kegiatan pelayananku di gereja juga cukup padat, mulai dari berlatih paduan suara untuk Kebaktian Natal sampai pelayananku bersama pasanganku di Komisi Dewasa.

Aku berasal dari keluarga yang bukan Kristen, tetapi sebelum menikah aku telah menjadi pengikut Tuhan Yesus. Keputusanku untuk masuk Kristen adalah didasarkan pada pertimbangan bahwa aku tidak mau ada dua agama dalam keluargaku. Ini semua aku lakukan dengan sukarela, tanpa paksaan dari pihak manapun juga. Bahkan sebelum aku melakukan rencana ini, aku meminta ijin kepada ibuku. Beliau mengijinkan dengan satu pesan, “Jadilah kamu seorang Kristen yang baik dan kamu harus jalani dengan sungguh-sungguh”. Pesan itu masih tetap aku ingat dan aku kenang sampai saat ini.

Walau ibuku telah mengijinkan aku untuk memeluk agama Kristen, masih banyak saudara-saudaraku yang tidak setuju. Keadaan ini sering membuatku goyah dan lemah. Akan tetapi, aku selalu berdoa minta kekuatan kepada Tuhan. Dalam perjalanannya, aku merasa senantiasa dikuatkan oleh Tuhan, melalui firman-Nya dalam Yohanes 14:6 yang mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”.

Aku dan Rudy, suamiku, memulai membangun mahligai rumah tangga dari nol, karena kami menikah dalam usia yang relatif muda. Semangat dan tanggung jawab Rudy dalam membina rumah tangga membuat kami dapat hidup berbahagia bersama anak-anak buah cinta kasih kami. Kami dikaruniai empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Sebagai orang tua, tentunya kamipun mulai menabung untuk persiapan masa depan anak-anak kami. Rencana dan impian yang ada di pikiran kami, ternyata lain dengan kehendak Tuhan.

Tahun 1996, ketika anak kedua kami menginjak masa remaja, dengan tujuan untuk memberikan pendidikan yang terbaik, kami menyekolahkannya ke Amerika. Namun, bukannya ilmu yang didapat, tetapi anak kami terlibat dalam narkoba. Keadaan ini membuat aku sebagai ibunya merasa terpuruk, sedih, malu bercampur menjadi satu. Keadaan ini menjadi lebih parah lagi ketika kami mengetahui bahwa anak kami yang ketiga juga terkena narkoba. Aku merasa semakin tidak berdaya.

Setelah beberapa lama, aku mencoba bangkit dari kesedihan dan keterpurukan ini. Aku harus menolong Rudy, membantunya membawa anak-anak kami berobat agar mereka terlepas dari jeratan narkoba. Segala macam cara dan upaya kami lakukan, kami juga berkonsultasi dengan banyak dokter, tetapi memang tidaklah mudah untuk menyembuhkan mereka.

Pada suatu hari, anak kedua kami yang masih dalam proses penyembuhan, menyampaikan keinginannya untuk menikah. Mendengar hal ini, aku bagaikan mendengar suara halilintar di siang hari. Bagaimana tidak, dia belum sembuh benar, bagaimana dia harus membina rumah tangga, aku kuatir kehidupan perkawinannya tidak akan lama, dan masih banyak lagi pertanyaan dan kekuatiran dalam benakku. Akhirnya, keinginannya tersebut kami kabulkan.

Pada saat kami sedang berjuang untuk menyembuhkan anak-anak, Rudy diminta untuk menjadi anggota Majelis Jemaat di gereja kami. Awalnya Rudy menolak karena kami masih mempunyai masalah dengan anak-anak. Rudy takut nantinya akan menjadi batu sandungan dalam pelayanannya. Akan tetapi, aku sebagai istrinya justru mendorong Rudy untuk menerima tugas mulia ini karena aku yakin betul dalam hal ini pasti Tuhan mempunyai maksud lain. Aku mendukung suamiku dengan sepenuh hatiku agar Rudy mau menerima tugas pelayanan ini.

Kami berdua menjalani masa-masa sulit dalam upaya kami mengobati anak-anak kami. Yang satu sembuh, yang satu lagi kumat, demikian berganti-ganti dalam waktu yang cukup lama. Kekuatiranku terhadap kehidupan perkawinan anakku menjadi kenyataan. Setelah dua tahun, di mana telah dikaruniai seorang anak, kehidupan rumahtangganya retak. Anakku masih tetap memakai narkoba dan istrinya tidak dapat mencegah dan tidak kuat menghadapi keadaan ini. Maka terjadilah hal yang tidak kuinginkan, yaitu perceraian.

Demikian keadaan ini terus berlanjut. Sampai di tahun 2001 kami menemukan tempat rehabilitasi bagi pemakai narkoba yang kami anggap baik. Kami membawa mereka ke sana walau tidak sedikit biaya untuk mengobati mereka, tetapi anak-anak kami lebih dari segala-galanya. Mereka adalah buah cinta kasih kami, mereka masih mempunyai masa depan yang panjang, mereka harus dapat hidup normal kembali bersama keluarga dan teman-temannya. Kami rangkul mereka dengan penuh kasih sayang, agar mereka mempunyai rasa percaya diri untuk sembuh dan kembali ke masyarakat.

Kami sudah berada dalam keadaan yang tidak berdaya, kami hanya dapat memohon kepada Tuhan saja. Kami berserah dan menyerahkan masalah kami ini kepada Tuhan. Kami berdua bersujud di hadapan Tuhan, memohon pertolongan-Nya, karena tanpa Tuhan kami tidak dapat berbuat apa-apa, seperti tertulis dalam 1 Korintus 10:13, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan-pencobaan biasa yg tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya”.

Bersandar dan berharap kepada Tuhan sajalah yang membuat kami dapat melampaui semua masalah ini. Pada saat ini anak-anak kami sudah disembuhkan dan mereka sudah dapat hidup normal kembali. Aku begitu bangga kepada kedua anak kami yang dengan penuh kesadaran mau sembuh dari ketergantungan obat. Tanpa ada kerjasama yang baik, semua itu akan sia-sia, karena aku dan Rudy hanya membantu mereka saja.

Puji Tuhan, anak kami yang kedua pada saat ini sudah bekerja di satu perusahaan, dan anak yang ketiga sekarang bekerja di tempat rehabilitasi. Ia tergerak untuk menolong anak-anak lain yang menderita seperti dia dahulu, sambil melanjutkan kuliahnya di Universitas Terbuka (UT). Anak kami yang pertama sudah menyelesaikan sarjananya, sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak.

Kini, aku dan Rudy dapat bernafas lega karena di usia kami yang ke 50, kami sudah memiliki tiga orang cucu dan satu menantu. Kami tetap melayani Tuhan di gereja kami dan kami merasakan dukungan dan doa dari teman-teman sepelayanan kami. Aku dan Rudy menjadi kuat dan tetap setia dengan pelayanan kami dan tetap setia menjadi anak Tuhan, yang artinya harus mau juga memikul salibnya.

Ibu Mieke R Tobing

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan