Bersukacitalah Senantiasa dalam Tuhan

Bersukacitalah Senantiasa dalam Tuhan

2 Komentar 15 Views

“Ya Bapa, sembuhkanlah kaki kiri yang sakit ini.”
Terus-menerus aku memohon kepada Tuhan setiap kali
aku melangkah dan kesakitan itu mendera tubuhku
seperti sambaran listrik yang menjalar dari betis
ke paha terus ke ubun-ubun kepala.

Berawal dari tersandung waktu mendampingi murid mendaki Gua Maria dalam program Social Study di desa daerah Kuningan Jawa Barat pada akhir Oktober 2010, dua minggu kemudian aku merasakan kaki kiri kaku dan ngilu. Sebagai mantan atlet karate, aku tahu tidak ada yang salah dengan tulang, hanya ada masalah otot. Maka bulan November itu aku pergi ke seorang ahli urut. Namun sesudahnya kaki kiri ini masih sakit ditambah memar bekas cengkraman tangan Ibu yang mengurutku dengan keras.

Bulan Desember aku kembali minta tolong seorang rekan yang bisa memijat untuk datang ke rumah. Setelah satu jam dipijat, aku merasa agak enak–tidak begitu sakit lagi. Lalu akupun ikut retret guru di daerah Puncak. Seusai seharian mengikuti sesi demi sesi acara, kakiku terasa sangat sakit. Kucoba mengangkat kakiku dan menyandarkannya ke dinding. Sama sekali tidak berkurang rasa sakitnya. Hanya atas pertolongan Tuhan, aku bisa terlelap dalam kesakitan.

Libur Natal pun tiba. Kami mendapat kesempatan menengok orangtua di Cirebon. Dua kali kakiku diurut di sana. Hanya membaik beberapa hari saja, lalu rasa nyeri itu kembali bahkan lebih hebat.

Bulan Januari 2011 saat aku kembali ke sekolah Tirta Marta BPK Penabur tempat Tuhan mengutusku bekerja, aku tidak lagi bisa berjalan dengan normal. Kaki kiriku kaku seperti balok kayu. Biasanya naik turun tangga sekolah kuanggap sebagai olahraga ringan yang menyegarkan tubuh, kini menjadi hal yang menakutkan karena setiap gerakan mengirim gelombang kesakitan ke sekujur tubuh.

Padahal aku pasti bertemu dan berinteraksi dengan murid-murid. Aku tidak mau tampak kesakitan. Saat mereka memperhatikan jalanku yang tidak seperti biasanya, sambil tersenyum aku berkata “Sakit” dan aku minta mereka mendoakanku. Aku tetap mengajar mereka dengan penuh semangat karena aku mau mereka semua lulus dengan nilai gemilang.

Ditambah dengan sistem SKS untuk murid kelas X dan pemantapan untuk murid kelas XII, jam kerjaku menjadi lebih panjang–sampai pukul 05.15 sore. Saat tiba di rumah, dengan susah payah aku membersihkan tubuh dan menyeretnya ke tempat tidur. Nyaris tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk keluarga! Pekerjaan rumah tangga hanya mampu kukerjakan pada dini hari sebelum berangkat ke sekolah–setelah cukup beristirahat malamnya. Suami dengan sabar mengoles kakiku dengan Feldene Gel dan memijat telapak kakiku. Bahkan tengah malam dia sering terbangun karena teriak kesakitanku ketika tanpa sadar aku menggerakkan kaki kiri.

Akhirnya aku konsultasi dengan dokter. Segera kutebus obat dan meminumnya sesuai dosis. Sampai seminggu kemudian karena belum ada perubahan aku kembali ke dokter. Aku mendapatkan resep obat baru dan peringatan untuk mengistirahatkan kaki–tidak banyak bergerak, karena menurut beliau, cedera otot perlu waktu lama untuk bisa sembuh. Akupun harus cek darah: kadar asam urat dan gula darah.

Malam itu saat aku membaringkan tubuh, aku menangis diam-diam di hadapan Tuhan. Belum pernah aku mengalami keletihan seperti ini. Aku telah berjanji selama aku masih bisa berdiri di atas kedua kaki, aku akan tetap menunaikan tugas-tugasku sebaik-baiknya. Tapi kesakitan ini terlalu hebat menggangguku!

Malam itu aku berpuasa karena besok pagi aku mau cek darah. Dengan gelisah aku mengintropeksi diri dan sebuah pertanyaan menghantarku tidur: Apakah aku bisa terus bersyukur pada Tuhan dan bersukacita dalam Tuhan bila kakiku tetap sakit atau bahkan bertambah sakit?

Keesokan hari saat aku terbangun, aku menjadi sangat takut untuk menggerakkan kakiku. Aku takut dengan rasa sakit yang akan kembali menghantamku. Akhirnya aku berseru kepada Tuhan dengan segenap hatiku: “Ya Tuhan, aku mau terus bersyukur pada-Mu. Aku mau senantiasa bersukacita bersama-Mu. Bila kaki ini tetap sakit atau bertambah sakit sekalipun, aku percaya Kau akan memberi aku kekuatan untuk menanggungnya.”

Lalu aku memaksakan diri duduk. Dengan kedua tangan kuangkat kaki kiri turun dengan hati-hati. Saat aku berusaha berdiri, aku sungguh takjub! Tidak ada rasa sakit sama sekali! Ketika aku melangkahkan kaki, terasa ringan dan nyaman! Kemudian hasil cek darah setelah puasa dan dua jam setelah makan: kadar asam urat dan gula darah normal. Tekanan darah juga normal.

Selanjutnya setiap langkahku menjadi lebih bermakna yaitu sukacita dalam Tuhan, melimpah ruah dengan syukur. Siapakah yang dapat memisahkan kita dari Tuhan? Tidak ada! Kesakitan pun tidak.

Sungguh hidup dalam Tuhan adalah petualangan yang seru dan mengasyikkan. Seperti orang bilang: FAITH stands for Fantastic Adventures In Trusting Him!

Jakarta, 13 Februari 2011 – Eva Khalika Hamdani

2 Comments

  1. yusak sugiato

    saudaraku, trimakasih atas tulisan ini. Tetapi aku masih bergumul setiap bangun pergelangan tanganku terasa tidak bebas bergerak karena artriris, tapi saya yakin Tuhan memberikan yang terbaik

  2. manambos sitorus

    Tidak mudah bersukacita dalam hal kita menghadapi masalah atau penderitaan.Tapi bukti bahwa kita percaya kepada Tuhan maka kita harus berusaha mengucap syukur dalam segala hal, sambil terus berdoa disetiap waktu, karena melalui doalah kita memperoleh kekuatan dari Tuhan untuk bersukacita dan bersyukur.

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Sudut Hidup
  • Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah Nyata Kehidupan Sahabatku
    Kisah ini bermula pada tahun 1971, ketika tugasku beralih menjadi “eksekutif” salah satu organisasi komoditas tanaman keras yang baru...
  • BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    BAKSOS Katarak yang berkesan dalam
    Sejak kecil, aku dididik ayah untuk berdoa setiap pagi sebelum melakukan aktivitas hari itu. Sampai kini, doa pagi itu...
  • Mozaik Kehidupan
    Mozaik Kehidupan
    Salah satu kegemaran saya adalah bidang sejarah. Selain sejarah perkembangan peradaban dan sejarah politik, sejarah gereja menarik minat saya....
  • Lely simatupang: Fighting for My One Minute
  • Ruth K. Trijoso: Tantangan  Menghadapi  Transplantasi  Kornea
Kegiatan