Berjuang, Tabah dan  Berserah

Berjuang, Tabah dan Berserah

Belum ada komentar 29 Views

Perjalanan hidup kita dapat dibandingkan dengan pelayaran sebuah bahtera atau kapal di laut lepas. Terkadang ia menikmati cuaca yang cerah, matahari yang memberikan kehangatan dan angin sepoi-sepoi yang menawarkan kenyamanan. Tetapi tidak jarang pula bahtera kita mesti berlayar dalam keadaan yang tidak ideal, dalam badai dan petir yang menyambar-nyambar. Dan memang seperti itulah hidup ini. Ia mempunyai pasang-surutnya sendiri.

Dalam kitab Kisah Para Rasul 27, kita membaca kisah perjalanan rasul Paulus ke Roma. Kisah yang bagi banyak orang mungkin tidaklah terlalu istimewa. Tetapi bila kita simak dengan baik, bahkan dengan “kacamata yang khusus,” niscaya kita akan menemukan butir-butir mutiara yang berharga bagi perjalanan hidup kita, khususnya di tahun 2012 yang relatif masih baru ini. Kita bahkan dapat mengidentifikasikan diri dengan perjalanan Paulus ini.

Pelayaran Paulus menuju ke kota Roma itu adalah sesuatu yang sejak lama sangat diidamkannya. Paulus ingin sekali ke sana untuk mengabarkan Injil kebenaran dan kasih Kristus. Sebab bila ia telah mencapai Roma, maka ia akan dapat melanjutkan misinya ke Spanyol dan ke segala “sudut dunia.” Kini, ia memang melakukan perjalanan ke Roma, namun dengan kondisi yang amat berbeda. Bersama beberapa tawanan lain, dengan dikawal oleh sebuah satuan militer di bawah pimpinan perwira Yulius, Paulus menuju ke Roma untuk diadili di hadapan Kaisar. Tetapi, bagaimana pun, ia menuju ke Roma. Bukankah memang demikian perjalanan hidup ini? Pada akhirnya bukan kitalah yang dapat menentukannya.

Kembali ke perjalanan Paulus, tak lama setelah meninggalkan pelabuhan terakhir, kapal yang ditumpangi Paulus dilanda angin badai (ayat 14). Sebenarnya Paulus sempat mengingatkan semua orang bahwa perjalanan mereka di musim badai pada waktu itu akan terlalu berbahaya. Tetapi para pengawal Paulus lebih memercayai para awak kapal yang tidak terlalu memerhatikan peringatan itu. Dan ternyata kapal itu tidak tahan dalam badai, dan tak dapat dikendalikan sesuai dengan arah angin, sehingga kemudian dibiarkan terombang-ambing. Akhirnya ia hanyut sampai di pulau Kauda, lalu dengan susah-payah ia dapat dikuasai kembali.

Ya, begitulah hidup ini bukan? Selalu ada “ups & downs.” Tidak bisa tidak. Hanya pertanyaannya: “Apakah yang lalu kita perbuat, ketika menghadapi keadaan serupa?” Menyerah, atau berupaya sebisa kita? Ini bukan pertanyaan sederhana, karena di baliknya terdapat berbagai pemikiran yang penting. Apakah kita menyerah atau pasrah saja, dengan alasan bahwa Tuhanlah yang menentukan segalanya? Atau justru kita harus berbuat sebisa kita untuk mengatasi persoalan-persoalan kita, entah bersama, entah tanpa Tuhan?

Bagaimanapun, awak kapal yang ditumpangi Paulus tidak menyerah! Mereka melakukan beberapa tindakan mutlak yang diperlukan dalam situasi semacam itu, agar dapat bertahan hidup. Di titik ini pun kita dapat dengan mudah mengidentifikasikan diri dengan semacam “manajemen krisis” ini. Tindakan yang belum tentu diinginkan, tetapi yang memang harus dilakukan. Namun yang dalam praktik tidaklah mudah.

Pertama-tama, tubuh kapal diperkokoh para awak kapal dengan cara melilitinya dengan tali (ayat 17). Memang, karena toh tidak dapat melawan kekuatan angin, maka satu-satunya yang bisa dilakukan adalah memperkuat daya tahan kapal. Sewaktu-waktu kapal dapat dihempaskan angin pada tebing karang. Dan tindakan itu adalah demi membatasi sebesar mungkin kerusakan yang dapat terjadi. Kita pun dalam situasi yang sama dapat mengamini tindakan ini.

Memang Tuhan yang menentukan segala sesuatu. Tetapi itu tidak berarti bahwa kita tidak berbuat apa pun, menyerah. Atau “atas nama ketaatan” justru membiarkan Tuhan yang berjuang untuk kita. Mestinya justru sebaliknya! Kalaupun harus terhempas oleh arus kehidupan yang terkadang amat ganas, mestinya kita perkuat daya tahan diri kita dengan mengokohkan motivasi dan kemauan untuk berjuang! Dan Tuhan telah memperlengkapi kita dengan berbagai hal untuk itu.

Tindakan berikut yang dilakukan para awak kapal adalah menurunkan layar dan membiarkan diri terapung-apung (ayat 17). Alasannya sederhana dan logis. Bila layar dikembangkan, kemungkinan kapal dihempaskan angin pada tebing karang akan lebih besar. Namun memang dengan demikian mereka hanya akan berputar-putar, tidak mengalami kemajuan. Tetapi paling tidak, lebih aman.

Terkadang dalam hidup kita pun, kita harus berani untuk “tidak melangkah” bahkan “melangkah surut ke belakang.” Banyak orang tidak setuju dengan cara ini. Menurut mereka, apapun yang terjadi, kita harus terus maju. Namun dalam praktik, tekad seperti ini tidak selalu mungkin. Bahkan cukup berbahaya. Contohnya adalah sebuah mesin yang tidak mungkin dinyalakan terus-menerus. Ada saat-saat ketika mesin itu harus diservis, yang berarti berhenti dioperasikan. Dan contoh yang lebih akrab dengan kita adalah tubuh kita sendiri, yang selalu butuh istirahat, bahkan terkadang sakit, agar bisa berfungsi kembali dengan lebih baik. Dan inilah makna positifnya. Berhenti atau melangkah surut, adalah agar mampu melangkah lagi ke depan, dan bukan sekadar menyerah.

Tindakan yang terakhir dilakukan para awak kapal adalah membuang muatan kapal, bahkan kemudian karena terpaksa, berbagai peralatan kapal (ayat 18-19). Sebab adalah lebih baik kehilangan muatan, bahkan segala peralatan daripada kehilangan kapal itu sendiri, atau kehilangan nyawa. Setiap orang niscaya sepakat dengan prinsip ini. Tetapi biasanya hal ini jauh lebih mudah dikatakan ketimbang dilaksanakan.

Tidak jarang dalam masa krisis, kita enggan melakukan tindakan penyelamatan yang terakhir ini. Begitu “terikatnya” kita dengan “berbagai muatan kapal” sehingga kita lebih cenderung menyelamatkan muatan daripada kapalnya. Keterikatan kita pada hal-hal yang sekunder, seperti materi, gengsi/harga diri, kedudukan dan seterusnya, dapat membuat kita keliru menentukan prioritas. Dan hal itu terjadi karena kita tidak lagi dapat melihat dan memahami apa yang hakiki dalam hidup kita.

Tindakan-tindakan yang diambil awak kapal Paulus, adalah tindakan-tindakan yang mutlak perlu untuk menyelamatkan kapal bahkan nyawa semua penumpangnya. Tindakan-tindakan yang juga perlu kita lakukan dalam keadaan krisis yang kurang lebih sama dalam hidup kita. Kita tak tahu apa yang akan kita hadapi di tahun 2012. Terutama bila kita memperhatikan berbagai isyarat atau pertanda yang mengawali tibanya tahun ini. Baik itu berbagai bencana alam, mau pun prediksi ekonomi yang tidaklah cerah. Mempertimbangkan itu semua, bisa jadi tindakan-tindakan itu akan perlu kita lakukan. Adalah selalu bijaksana untuk menyiapkan payung sebelum hujan.

Namun pada titik ini kita harus juga siap untuk menghadapi kenyataan bahwa walaupun segala tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan, bisa saja keadaan tidak membaik. Apalagi mengingat bahwa semuanya ini bukan di tangan kita. Sebab bagaimana pun, semua tindakan yang logis, yang perlu dan bagus tadi, bukanlah jaminan bahwa keadaan kita akan membaik, atau persoalan-persoalan kita pasti akan teratasi. Tetapi lalu bagaimana? Di sini, selain kita perlu belajar dari para awak kapal yang tidak gampang menyerah, kita juga mesti belajar dari Paulus sendiri.

Ketika semua tindakan yang perlu telah diambil dan kapal tetap dalam bahaya. Beberapa hari kapal yang ditumpangi Paulus terapung-apung diancam badai yang tak kunjung reda. Maka akhirnya putuslah segala harapan untuk selamat. Pada saat yang menentukan itu, Paulus tampil (ayat 22) dan menasihati mereka agar tetap tabah. Menurut Paulus, walau kapal akan hancur, semua penumpang tanpa kecuali, akan selamat. Maka Paulus menasihati semua orang untuk tetap tenang, jangan panik, tabah, bahkan tetap optimis. Inilah memang yang pada akhirnya diperlukan, dalam tiap situasi krisis.

Namun hal itu terdengar seperti nasihat murah yang biasa diberikan orang, atau yang pernah dengan mudah kita berikan kepada orang lain. Apakah dasar Paulus memberikan nasihatnya itu? Bagi Paulus sendiri dasarnya amat jelas, yaitu percayanya kepada TUHAN! Tetapi tidakkah ini kelewat sederhana? Tidakkah ini terlalu fatalistis? Memang amat sederhana: Paulus percaya! Tetapi kepercayaan Paulus di sini sama sekali tidak fatalistis.

Dalam situasi yang begitu sulit, Paulus tetap dapat tenang, tabah dan optimis, karena ia percaya kepada Tuhan, dan ia memegangi apa yang dikatakan serta dijanjikan TUHAN kepadanya (ayat 22-25). Paulus percaya bahwa bila TUHAN berjanji, IA niscaya akan mewujudkannya. Tetapi kapan? Entah. Ia tak dapat memastikannya, tetapi pada suatu saat ia yakin janji Tuhan itu pasti akan terlaksana. Sedikit pun ia tak ragu. Di sinilah kita dapat menyaksikan makna yang terdalam dan praktis–dalam praktik hidup–dari iman yang berarti memercayakan diri.

Semua usaha yang diperlukan harus dilakukan, tetapi semua usaha itu mesti dilandaskan pada kepasrahan atas janji-Nya. Namun di sini kita perlu berhati-hati. Janji-Nya tidaklah selalu identik dengan dambaan kita sendiri. Janji-Nya berdasar pada kehendak-Nya, karena Tuhanlah yang sungguh-sungguh tahu apa yang dibutuhkan anak-anak-Nya. Maka seninya adalah bagaimana menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya, dengan janji-Nya!

Biarlah ini menjadi pegangan kita menjalani tahun 2012 yang masih panjang ini. Tak ada yang pasti betapa pun kita memprediksikannya, baik secara ilmiah, mau pun secara emosional, bahkan dengan menggunakan jasa paranormal. Yang pasti hanyalah Tuhan dan janji-Nya.

Mari kita kuatkan diri dengan mengokohkan motivasi dan kemauan untuk berjuang. Lalu bila perlu kita berhenti di tempat, atau bahkan melangkah surut demi mempersiapkan langkah selanjutnya. Kemudian kita tetapkan prioritas yang tepat atas berbagai aspek hidup, serta sungguh-sungguh memegangi yang hakiki dalam hidup kita. Namun semua itu harus kita dasarkan pada janji-Nya semata-mata. Sehingga kiranya kita mampu serta berani, untuk berjuang, tabah dan berserah.

Pdt. Purboyo W. Susiloradeya

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Renungan
  • Bersyukur & Bersaksi
    Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa. (1 Tawarikh 16:8) Mengucap syukur sejatinya adalah sebuah kesaksian....
  • Menyongsong Fajar Kebangkitan
    Orang bilang bahwa dalam mempertimbangkan atau mengalami banyak hal, yang menentukan adalah “suasana hati.” Dalam pengalaman sehari-hari, memang kerap...
  • berbuah
    Pemimpin: Dari Hamba Ke Sahabat
    Kita sudah terlalu sering memakai kata “pelayan,” “pelayanan,” atau “melayani” untuk menunjuk pada karya dan kegiatan kristiani di dalam...
  • Walau Ditolak …
    Pernahkah Anda ditolak? Jelas bukan pengalaman yang menyenangkan. Ketika permintaan Anda ditolak oleh seseorang, Anda masih dapat mengatakan kepada...
  • GEREJA: Rumah Kita RUMAH: Gereja Kita
    Ketika kita berbicara tentang ‘gereja’ maka itu berarti kita sedang berbicara tentang ‘persekutuan’, dan bukan ‘gedung’. Sedangkan saya memahaminya...
Kegiatan