Kerajaan Maut

Berdamai Dengan Saudara

Belum ada komentar 97 Views

Bapak Pendeta yang baik,

Di Matius 5:23-24 tertulis: Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Saya menghayatinya sebagai penjabaran Hukum Kasih yang ingin mengatakan bahwa jika engkau datang kepada Allah dengan sebuah maksud kebaikan maupun untuk kepentingan bakti apa pun, termasuk Perjamuan Kudus, maka engkau harus ‘tidak punya persoalan’ yang menggantung dengan saudaramu, supaya Alah berkenan atas maksud dan niatmu.

Yang ingin saya tanyakan, bagaimana sikap kita ketika akan menerima layanan Perjamuan Kudus atau membawa Persembahan Syukur, tetapi ada orang yang kita tahu sedang marah kepada kita? Kondisinya bisa seperti tiga kemungkinan berikut:

  1. Saya tahu ada yang marah atau sedang tidak senang dengan saya karena kesalahan yang pernah saya lakukan;
  2. Saya tidak tahu bahwa dia marah atau ‘terlukai’ oleh saya, karena saya memang tidak pernah merasa pernah melakukannya. Katakanlah saya tidak peka atau tidak menaruh perhatian pada hal itu (karena mungkin tidak penting);
  3. Dia marah karena memang ingin marah saja kepada saya tanpa melibatkan saya yang menjadi objek kemarahannya. Bisa jadi dia mendengar fitnah tentang saya. Bisa jadi dia mendengar kekesalan orang lain kepada saya lalu tertular. Dan saya tahu tentang hal itu.

Terima kasih atas kebaikan Bapak memberikan bimbingan kepada saya agar ibadah saya tidak terhalang oleh ketidakpahaman saya akan maksud Allah. (Morita Kf.)

Jawab:

Saudara Morita yang baik,

Coba perhatikan ayat yang Anda kutip tadi, kata kuncinya adalah ‘engkau teringat’. Jadi ya sederhana saja… kalau Anda tahu ada kekesalan di hati sesamamu, ya berdamailah terlebih dahulu sebelum Anda pergi mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan. Lalu bagaimana bila ada orang marah tanpa sebab yang jelas dan saya tidak tahu dia marah? Berarti Anda tidak mungkin ‘ingat’ kan? Bagaimana mungkin bisa ingat, tahu saja tidak. Kalau demikian ya lakukan saja ibadahmu seperti biasa.

Lalu bagaimana kalau diajak damai tidak mau? Yang penting, Anda sudah mau berdamai dan tentu Tuhan tahu niat baik Anda. Kita memang tidak bisa mengatur orang lain untuk mau berdamai dengan kita, tetapi kita bisa dan harus mengatur diri kita untuk berdamai dengan orang lain. Itu sudah cukup. Tuhan tahu…setelah itu ya lakukan ibadahmu seperti biasa. Begitu ya?

>> Pdt. Rudianto Djajakartika

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Pastoralia
  • Kerajaan Maut
    Tentang Baptisan Ulang
    Pak Pendeta yang baik, Bapak Pendeta yang baik, Mohon penjelasannya untuk beberapa hal yang masih membingungkan saya: Bukankah semua...
  • upacara gereja
    Pernikahan Beda Agama
    Pak Pendeta yang baik, Perkenankan saya bertanya: Apa dasar pertimbangan GKI Pondok Indah membuka diri untuk memberkati pernikahan pasangan...
  • Iman Tidak Bertumbuh?
    Iman Tidak Bertumbuh?
    Pak Pendeta yang budiman, Abraham sebagai bapak beriman, sangat taat kepada Elohim. Dialog-dialognya dengan Allah begitu jelas, entah itu...
  • Siapa Penghuni Surga?
    Pak Pendeta yang budiman, Kisah Para Rasul 10 mengisahkan seorang perwira Romawi yang saleh dan murah hati/bersedekah/dermawan. Perwira itu,...
  • Hindari Yang Hoax
    Salam sejahtera, Pada zaman milenium ini, teknologi modern mendominasi segala bidang kehidupan manusia, termasuk teknologi informasi. Kita bisa dengan...
Kegiatan