Bekerja atau Melayani

Bekerja atau Melayani

Belum ada komentar 18 Views

Suatu hari Minggu beberapa waktu yang lalu, menjelang kebaktian kedua, ketika masuk ke lapangan parkir di samping gereja, mata saya langsung tertarik kepada sebuah mobil yang parkir persis di tengah-tengah gawang. Yang menarik bagi saya adalah caranya dia memarkir mobil tersebut, persis di tengah gawang bak seorang kiper yang sedang menghadapi eksekusi penalti. Dan yang lebih menarik atau mengherankan lagi adalah bahwa gawang tersebut sebetulnya cukup untuk dua buah mobil.

Anak saya langsung berkomentar, “Gimana sih orang ini, egois banget”. Saya yang mau ikut berkomentar, segera diingatkan oleh istri saya, “Sudah, sudah, kita ‘kan mau kebaktian, jangan mengotori pikiran kita dengan hal-hal seperti itu”. “Ya sudah”, kata saya, “kita anggap saja yang memarkir mobil ini adalah seorang kiper atau mantan kiper, sehingga ia terbiasa untuk berdiri di tengah-tengah gawang”.

Dari cara seseorang memarkir mobil, kita bisa menebak sifat-sifatnya, ini tidak ada kaitannya dengan ramal-meramal, tetapi bisa dianalisa dengan akal sehat saja. Tidak percaya? Contoh, kalau ada mobil yang diparkir tidak lurus dengan ban depan yang masih dalam posisi belok, sehingga mobil lain tidak mungkin parkir disebelahnya, maka kita bisa menganalisa bahwa yang memarkir mobil ini adalah orang yang kurang memiliki kepedulian terhadap sekitarnya, atau orangnya tidak rapi, atau orang ini mungkin terburu-buru atau bahkan baru belajar menyetir mobil. Sederhana, bukan? Perihal mana yang benar, itu soal lain.

Manusia adalah makhluk sosial (homo sapiens), tetapi juga sekaligus serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Manusia cenderung mempunyai sikap yang berbeda-beda dalam situasi yang berbeda. Contoh paling sederhana, bisa kita amati di kegiatan gereja. Kalau berada di lingkungan gereja, yang tampak adalah sopan santun, tidak ada kemarahan, senyuman terlihat di mana-mana, tetapi begitu berada di luar lingkungan gereja, kita sering mendengar anak-anak yang dibentak-bentak oleh orangtuanya, ada yang marah-marah karena mobilnya terhalang oleh mobil lain, ada yang bersitegang gara-gara saling serobot keluar parkiran, dan sebagainya. Aneh atau lucu, ya? Itulah manusia.

Dalam pelayanan, kita juga sering melihat hal serupa. Kalau berkenan dengan keinginan kita, atau ada hal yang tidak berhubungan dengan kita, kita cenderung untuk diam-diam saja, tetapi kalau ada hal yang menghambat kepentingan dan keinginan kita, kita bisa menjadi marah dan kemudian mutung, atau yang lebih buruk lagi adalah menyebar gosip, fitnah dan memengaruhi orang lain. Sering timbul pertanyaan, apakah ini pelayanan di gereja atau melakukan pekerjaan di gereja?

Xavier Quentin Pranata dalam bukunya “Berani Melompat Jauh”, mengutip tulisan tentang Pekerjaan atau Pelayanan dari Nova Nancy, sebagai berikut:

Bila Anda melakukannya untuk mendapatkan nafkah, itu Pekerjaan

Bila Anda melakukannya karena Tuhan, Pelayanan

Bila Anda keluar karena ada yang mengritik Anda, itu Pekerjaan

Bila Anda terus bekerja sekalipun dikritik habis-habisan, itu Pelayanan

Bila Anda berhenti karena tidak ada yang berterimakasih,

itu Pekerjaan

Bila Anda terus bekerja walaupun tidak pernah dikenal siapapun,

itu Pelayanan

Bila Anda merasa semakin sulit menikmati yang Anda kerjakan, itu Pekerjaan

Bila Anda semakin sulit untuk tidak menikmatinya, itu Pelayanan

Bila yang Anda pikirkan adalah kesuksesan, itu Pekerjaan

Bila yang Anda pikirkan adalah kesetiaan, itu Pelayanan

Gereja yang biasa-biasa saja, dipenuhi oleh jemaat yang Bekerja

Gereja yang luar biasa dipenuhi oleh orang-orang yang Melayani.

“Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23)

Jadi, kita mau pilih yang mana? Sangat sulit untuk mengetahui motivasi seseorang, hanya orang itu dan Tuhan saja yang tahu persis. Kalau kita mau memperlakukan pekerjaan dan pelayanan kita dengan sikap yang sama yaitu seperti sikap dalam melayani Tuhan, maka niscaya semua yang kita kerjakan akan terlihat baik, terlebih lagi karena kita akan terlihat sebagai orang Kristen yang memuliakan nama Tuhan melalui perbuatan kita.

“Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing akan tampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu” (1 Korintus 3:12,13). Semoga berkat Natal bisa mengubah sikap kita seperti yang tertulis dalam Kolose 3:23 di atas. Selamat Hari Natal.

Sindhu Sumargo

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan