Apakah Natal Terjadi Pada  Tanggal 25 Desember?

Apakah Natal Terjadi Pada Tanggal 25 Desember?

2 Komentar 192 Views

“Natal” berasal dari bahasa Latin “Natalis,” bahasa Perancis “Noël” dan bahasa Italia “Il Natale” yang berarti peringatan kelahiran, dan bagi umat kristiani, peringatan Natal yang dilakukan setiap tanggal 25 Desember adalah peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus, Juru Selamat umat manusia.

Meskipun demikian, menurut berbagai sumber, walaupun akhirnya gereja menerima tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, tetapi hal itu terjadi melalui proses yang rumit. Belum lagi kalau kita hubungkan dengan ceramah Pdt. Joas Adiprasetya dalam Forum Diskusi Teologia yang lalu, yang menyadarkan kita bahwa sebenarnya Yesus, walaupun lahir dari perawan Maria, bukanlah makhluk ciptaan. “Lo, mengapa bukan ciptaan? Bukankah Dia dilahirkan oleh manusia, jadi sudah temasuk ciptaan Tuhan dong”, begitu kira-kira beberapa pemahaman sebelumnya. Lalu pertanyaan berkembang menjadi: “Benarkah Ia pernah dilahirkan pada tanggal 25 Desember? Bukankah Dia sudah ada sebelum dunia diciptakan, bahkan segala sesuatu diciptakan oleh-Nya? Ia telah ada terlebih dahulu dari segala sesuatu (termasuk manusia yang kemudian menetapkan siklus hari dan bulan, termasuk adanya tanggal 25 Desember).” Tetapi melalui ceramah Pdt. Joas, kita lalu diingatkan bahwa Dia sudah ada sebelum dunia diciptakan, bahkan Dialah yang menciptakan dunia ini, karena Sang Anak sepenuhnya adalah Allah. Aduh, ini makin rumit lagi, karena selain tanggal dan bulan, bahkan tahun kelahiran-Nya dipersoalkan. Pemahaman apakah Yesus memang pernah dilahirkan oleh manusia dan apakah dengan demikian Dia itu makhluk ciptaan Allah juga kadang masih tetap menjadi salah satu bahan persoalan manusia.

Dalam uraian ini penulis hanya ingin menyampaikan beberapa pemahaman tentang tanggal, bulan dan tahun kelahiran-Nya sedangkan yang lain sudah cukup banyak diulas oleh para ahli di bidang tersebut.

Hari Raya Natal 25 Desember yang dirayakan oleh gereja kita berasal dari tradisi Roma, dan menurut Pdt. Rasid Rahman (GKI Surya Utama), dalam bukunya “Hari Raya Liturgi” yang juga beliau kutip dari buku karangan Duchesne (BPK Gunung Mulia 2003, hal 105), sampai sejauh ini tidak diketahui pasti kapan kelahiran Yesus. Beliau menuliskan bahwa seorang teolog Yunani, Clemens dari Alexandria, dengan mengacu pada Luk.3:1 dan Luk.3 :23, memperkirakan bahwa kelahiran Yesus sekitar tanggal 18-19 April atau 29 Mei. Lalu beliau selanjutnya berkata bahwa menurut dokumen tahun 243, di Afrika dan Italia (Roma) kelahiran Yesus pernah dirayakan pada tanggal 28 Maret. Menurut ulasan beliau, perayaan Natal terkait dengan tradisi Mesir yang merayakan Hari Epifania. Epifania, yang berarti penampakan diri atau kelihatan, berasal dari perayaan musim salju yang dirayakan di Mesir setiap tanggal 6 Januari, dan perayaan itu telah dilakukan sebelum Yesus lahir. Tetapi sejak abad ke-3, gereja Mesir (yang kemudian diadopsi oleh gereja Timur, termasuk gereja Orthodoks), menjadikan tanggal tersebut sebagai perayaan hari kelahiran Yesus, dengan mendasarkan hal itu pada “penampakan diri Yesus” sejak pembaptisan-Nya di Sungai Yordan yang kemudian dilanjutkan dengan pelayanan-Nya kepada orang banyak. Namun di kemudian hari, gereja Timur juga menetapkan tanggal 6 Januari sebagai hari Epifania dan tanggal 25 Desember sebagai hari Natal.

Selanjutnya ada yang menghubungkan Natal dengan terang dan surya yang telah dikenal sejak lama di wilayah Roma, dengan memaknai Yesus sebagai Sang Surya Kebenaran. Sejak tahun 274 mulai dilaksanakan perayaan “Hari Kelahiran Matahari”, sebagai penutup “Festival Saturnalia” yang diadakan setiap tanggal 17 sampai 24 Desember. Pada perayaan itu semua orang bergembira, makan minum, bersorak-sorai sambil bernyanyi, saling memberi hadiah serta bersalaman. Tetapi umat Kristen yang semakin berkembang kemudian menyadari bahwa matahari adalah ciptaan Tuhan dan lalu meninggalkan perayaan yang dianggap kafir itu. Hal itu lalu mendorong pimpinan gereja Roma untuk mengalihkan perayaan itu sebagai perayaan Natal dan memperingati kelahiran Sang Surya Kebenaran, yaitu Yesus Kristus yang adalah Allah sendiri yang menjelma (berinkarnasi) sebagai manusia dan lahir melalui anak dara Maria.

Sejak tahun 336, menurut catatan kalender Romawi, perayaan yang kemudian dimaknai sebagai Natal itu dirayakan setiap tanggal 25 Desember sekaligus juga menggantikan Hari Natal yang tadinya dirayakan pada tanggal 6 Januari. Kemudian perayaan tanggal 25 Desember itu berkembang ke wilayah lain seperti Anthiokia sejak tahun 375, Konstantinopel sejak 380, Alexandria sejak 430 dan ke negara-negara lain di dunia ini. Gereja Mesir sendiri, walaupun ada yang tetap merayakan Natal pada tanggal 6 Januari, sekitar tahun 427 mulai merayakannya pada tanggal 25 Desember.

Ada sementara pemahaman bahwa sebenarnya umat kristiani tidak merayakan “harinya” tetapi “natalnya” karena “natal” berarti awal kehidupan, jadi kita merayakan Natal untuk mengenang “awal kehidupan bersama-Nya”. Dalam hubungan dengan Yesus Kristus, maka umat kristiani memahami Natal sebagai suatu kenangan terhadap kelahiran Sang Firman ke dunia. Perayaan Natal mengenang kehadiran Allah yang adalah Sang Pencipta yang tidak kelihatan itu, dalam diri Yesus Kristus, atau Sang Kebenaran dan Juru Selamat Dunia. Jadi dalam pemahaman ini maka Natal yang dirayakan umat kristiani setiap tanggal 25 Desember adalah peringatan akan “awal kehidupan bersama Yesus dengan kebenaran yang diajarkan-Nya.”

Inti Natal dengan demikian dapat merupakan perayaan untuk memperingatkan kita tentang perlunya kehidupan baru bersama Yesus, berperilaku seperti yang diteladankan-Nya. Umat kristiani mengakui bahwa Yesus benar pernah hidup di Yudea pada abad pertama dan lahir di kota Bethlehem. Para leluhur kita dahulu telah menyaksikan-Nya dan sebagian dari mereka, yaitu para nabi dan para rasul pilihan-Nya, telah menuliskannya dalam pelbagai tulisan yang sebagian terhimpun dalam Alkitab setelah melalui proses ratusan tahun yang kita kenal dengan istilah kanonisasi. Yoh.1:14 berbunyi: “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.” Kita sekarang, walaupun tidak melihat fisik Yesus dan segala perbuatan-Nya secara langsung, tetap percaya dan mengimani hal itu karena selain membaca dari Alkitab yang kita pahami sebagai firman Allah yang dituliskan oleh para nabi dan rasul pilihan-Nya atau mendengar dari para hamba-Nya, masing-masing kita juga dapat merasakan kuasa Allah itu di dalam perjalanan hidup kita setiap hari dengan segala suka-dukanya.

Peristiwa Natal yang kita imani antara lain seperti yang tertulis di dalam Injil Matius 1:18 sampai 2:15 dan Luk. 2:1-20. Yesus lahir di kota Bethlehem, provinsi Yudea, ketika kerajaan Romawi berada di bawah pemerintahan Kaisar Agustus. Ketika itu kerajaan Roma menguasai hampir seluruh daerah yang berada di sekitar Laut Tengah, mulai dari Palestina dan Siria di bagian Timur, sampai ke Spanyol Barat dan banyak wilayah di Afrika Utara dan Eropa (lihat keterangan menyangkut Kaisar Agustus dalam Alkitab edisi Study yang diterbitkan LAI. 2010, hal. 1663). Pada tahun 37 SM, pemerintah Romawi yang berkuasa menunjuk Herodes Agung menjadi raja di wilayah Palestina dan ia memerintah di sana sampai tahun 4 SM (sampai wafatnya). Tahun meninggalnya Herodes inilah (tahun 4 SM) juga merupakan salah satu rujukan tahun kelahiran Tuhan Yesus, sesuai petunjuk dalam Mat. 2:19.

Akan tetapi, menyangkut tanggal dan bulan kelahiran Yesus tetap terjadi banyak kontroversi, karena kalau ditetapkan sekitar bulan Desember sampai Januari, di tanah Palestina iklimnya cukup dingin, sehingga tidak mungkin ada bintang terang di langit dan para gembala pun sulit berada di padang Efrata dalam keadaan seperti itu, lagi pula orang sukar melakukan perjalanan jauh dalam cuaca dingin, apalagi Maria waktu itu sedang hamil tua, seperti yang kita pahami dari beberapa pemberitaan di kitab Injil.

Jadi dalam kaitan ini, maka perayaan Natal yang dilakukan umat kristiani setiap tanggal 25 Desember bukanlah untuk memperingati bahwa Tuhan Yesus benar lahir pada tanggal 25 Desember, tetapi hanya merupakan kenangan atas lahirnya Sang Surya Kebenaran itu ke dunia dan telah disaksikan oleh manusia serta diimani oleh umat-Nya sekarang ini.

Natal bagi umat kristiani juga bukan untuk memperingati Hari Kelahiran Matahari di bumi seperti yang pernah dilakukan manusia di kota Roma, tetapi memperingati Hari Kelahiran Sang Firman yang lahir ke dunia untuk disikapi oleh manusia yang menjalani kehidupannya di dunia ini. Tetapi perayaan Natal yang dilatarbelakangi perayaan “Saturnalia” dengan berbagai aktivitasnya, perlu mencerminkan suasana kegembiraan dan saling berbagi, tetapi diarahkan kepada kegembiraan atas hadirnya Yesus, yang diisi dengan semangat kasih dan perdamaian, berbagi kasih serta pertolongan kepada sesama manusia. Sebenarnya dengan pemahaman seperti itu, maka perayaan Natal tanggal 25 Desember tidaklah mengikat, tetapi setidaknya untuk memperingatkan umat kristiani agar selalu mengingat-Nya. Umat kristiani diminta untuk merayakannya dalam suatu persekutuan gereja dan demi ketertiban, para pemimpin gereja perlu sepakat untuk menyeragamkannya pada tanggal 25 Desember.

Merayakan Natal itu sungguh baik karena dapat menjadi suatu upaya untuk merayakan kehadiran-Nya dalam hati dan pikiran kita masing-masing, mengenang kasih dan kuasa-Nya yang memimpin perjalanan hidup kita. Juga mengingatkan kita agar terus memuji dan memuliakan-Nya serta memberitakan kabar baik itu kepada lingkungan kita.

Selamat Hari Natal dan kiranya Tuhan Yesus Kritus juga lahir di hati kita masing-masing. Amin.

 

R.Sihite

2 Comments

  1. Mickey Felder

    Terima kasih untuk artikel ini, sangat bermanfaat sekali. Saya sudah membaca beberapa artikel berkaitan dengan Natal, dan artikel ini semakin memperkaya pengetahuan saya. Tuhan berkati.

  2. yonatan

    Kepada bp R Sihite,tanggal kelahiran dilihat pada Yoh.1:14,…”Berdiam” (skenoo/pondok,
    Tabernacle/sukot) yaitu pada hari raya Pondok Daun/sukot yaitu 15 Tishri sekitar th.3700 yaitu sistim
    Penanggalan Ibrani,yang tertua di dunia dan kalendar gregorian/international belum ada saat itu.
    Jadi kalo dilihat kalendar sekarang jatuh sekitar akhir september dan awal oktober,
    Semua jejak langkah Yesus dapat dilihat pada semua hari raya yang ada di Imamat 23
    Sedangkan natal 25 Desember dan hari-hari raya kristen masa kini adalah keputusan
    Kaisar Romawi yaitu Constantine pada konsili Nicea skitar th.321 M.
    Tuhan berkati bp.R Sihite

Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom dengan tanda (**) wajib diisi.

Arsip kategori Artikel Lepas
  • toko perabot
    Belajar Dari Toko Perabot
    Pada bulan Oktober 2014, akhirnya toko perabot yang sangat terkenal membuka tokonya di Indonesia, tepatnya di daerah Alam Sutera,...
  • Simpati, Empati atau Peduli
    Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh curhatan di facebook seorang mahasiswi pengguna KRL yang tempat duduknya “direbut” oleh seorang...
  • kejahatan
  • Antara Pak Badu dan Yudas
    “Sungguh lebih baik jika Yudas tidak dilahirkan.” Kalimat ini sering muncul dari mulut orang-orang Kristen ketika dirundung kesedihan Jumat...
Kegiatan